
Leighton University.
Kompetisi martabat hampir tiba. Sebagai tuan rumah tahun ini, para mahasiswa Leighton saat ini sibuk mempersiapkan diri dan mendekor kampus. Semuanya terlihat sedang bekerja saat ini, beberapa dari mereka sedang memotong pagar taman dan membentuknya menjadi tulisan indah 'Welcome to Leighton.' Ada juga yang sibuk menghiasi setiap gedung di Leighton dengan bendera warna-warni.
Seluruh mahasiswa tampak sangat antusias untuk menyambut kompetisi martabat tahun ini. Mereka begitu semangat dan tidak sabar untuk melihat para mahasiswa dari berbagai Universitas bersaing memperebutkan gelar King of School. Tim yang memenangkan kompetisi ini akan mengharumkan nama universitasnya dan menaikan derajat mereka.
Itu lah sebabnya setiap mahasiswa yang mengikuti kompetisi harus mempersiapkan diri agar bisa menampilkan yang terbaik.
Tak terkecuali Brian, saat ini dia juga harus segera latihan bersama dengan timnya yang sudah resmi ia bentuk. Sebelum itu, Brian perlu berbicara dengan Rektor untuk memasukan Frans ke Leighton lagi.
Di kantor Rektor.
"Apa ini Brian?" tanya Abraham dengan heran.
Tiba-tiba saja Brian muncul di hadapannya dan melempar lembaran data ke meja Abraham.
"Itu adalah data mahasiswa yang bernama Frans. Aku ingin kau memasukannya lagi ke Leighton." jawab Brian dengan nada datar.
Abraham mulai mengeceknya dengan hati-hati, sebelah alisnya naik keatas saat dia berkata, "Aku tidak bisa begitu saja memasukkan mahasiswa yang sudah di DO, Brian. Leighton memiliki ketentuan yang harus diikuti, kau harus tahu itu."
Tampaknya Abraham sedang mempersulit Brian saat ini, dan Brian segera menyadari itu.
Seketika Brian kemudian dengan santai duduk di kursi dan meletakkan kedua kakinya di atas meja. Dia secara tak terduga bersikap tidak sopan dihadapan Abraham saat berkata, "Paman, bukankah peraturan dibuat untuk di langgar? Kau sudah beberapa kali melanggar peraturan yang kau buat sendiri, lantas kenapa sangat berat bagimu untuk melanggar yang satu ini."
__ADS_1
Hal itu membuat Abraham langsung murka, dia meraung, "Apa-apaan ini Brian, beraninya kau bersikap tidak sopan padaku?"
Melihat raut wajah yang marah itu, akhirnya Brian bisa membaca sifat asli Abraham. Dia sama sekali tidak berbeda dengan putranya, Marcell, begitu banyak tipu muslihat yang tertulis di wajah Abraham. Pada awalnya Brian mengira kalau pamannya yang satu ini bakal berbeda dengan Cody yang lain. Namun setelah insiden pesta Marcell kemarin, Brian akhirnya berhasil membuka topeng pamannya itu.
Ternyata selama ini, Abraham juga terlibat dengan berbagai insiden yang Brian alami semenjak ia menginjakkan kaki di Leighton. Dia diam-diam mendukung Vince dalam setiap rencana untuk menyingkirkan Brian.
Memikirkan itu membuat Brian sedikit kesal, dia dengan dingin berkata, "Paman, aku punya prinsip perlakukan lah seseorang sebagaimana orang tersebut memperlakukanmu. Aku selalu bersikap sopan pada orang yang benar-benar layak mendapatkannya, tapi untuk bersikap sopan pada seseorang yang berulang kali ingin menyingkirkan ku, bukankah itu terdengar aneh?"
Abraham mengernyitkan dahinya seraya berkata, "Apa maksudmu? Aku adalah pamanmu Brian, tentu saja kau harus bersikap sopan dan hormat padaku."
Brian tersenyum sinis saat dia berkata, "Seorang paman tidak akan menyerang keponakannya sendiri. Aku sudah tahu semua rencana busuk mu, paman. Sejak awal aku menginjakkan kaki di Leighton, kau berusaha untuk menyingkirkan aku dengan memulai perselisihan antara aku dan Vince, kan?"
Brian melanjutkan, "Kalau aku tidak salah, kau jugalah yang meminta Vince dan seluruh mahasiswa Leighton untuk menyerangku waktu itu."
"Apa kau sedang menuduhku Brian? Untuk apa aku melakukan hal itu?" Abraham mencoba untuk mengelak.
"Agar Marcell bisa naik ke tampuk kekuasaan tanpa ada halangan." jawab Brian acuh tak acuh. "Sudahlah paman, kau tidak perlu menyembunyikannya lagi. Sejak kau tahu aku diasingkan oleh ayahku, kau mengambil kesempatan ini untuk segera menyingkirkan aku dari Cody Famili. Kau menjadikan Vince sebagai pionnya. Namun karena dia berulang kali gagal, akhirnya kau terpaksa meminta bantuan dari putramu. Kau menyuruhnya kembali ke Golden Sea dan sama-sama menciptakan pesta itu untuk menjebak ku."
Sekali lagi Abraham memasang ekspresi tercengang, dia benar-benar tidak menyangka Brian bakal mengetahui kalau selama ini, dialah yang sudah telah mendukung Vince selama ini.
......................
Memang sejak awal Brian sudah curiga, tidak mungkin Vince memiliki kekuasaan yang sangat besar di Golden Sea dengan status ayahnya sebagai Dekan. Kecurigaan Brian pun mulai semakin kuat saat Vince mengirim Raven waktu itu. Seorang yang bukan berasal dari keluarga legendaris tidak akan bisa berhubungan dengan organisasi pembunuh bayaran seperti Raven.
__ADS_1
Saat itu Brian sangat yakin kalau Vince memang memiliki seseorang yang berdiri di belakangnya selama ini. Dan begitu dia mendapat informasi dari Darwin, Brian langsung bisa menebak yang mendukung Vince. Dia adalah Marcell, tapi ternyata itu tidak sepenuhnya akurat ketika Brian mendapatkan informasi lagi dari geng Crimson.
Setelah melakukan penyelidikan selama tiga hari akhirnya geng Crimson mendapatkan informasi yang sangat penting. Ketua mereka Leo berkata pada Brian, 'Marcell adalah orang yang mengirim Raven untuk membunuhmu waktu itu, tapi dia tidak tahu kalau targetnya adalah kau, karena itu dia mengirim yang amatiran seperti sepupuku, Ted. Ted baru saja bergabung dalam organisasi itu dan masih tidak terlalu berpengalaman. Aku pikir jika Marcell tahu kalau targetnya adalah kau maka dia akan mengirim Raven yang lebih profesional, dengan begitu nyawa sepupuku tidak akan sia-sia seperti ini.'
Saat Brian mendengar Leo berkata, 'tapi Marcell tidak tahu kalau targetnya itu adalah kau' , seketika Brian langsung tercerahkan. Jika memang Marcell tahu targetnya adalah Brian, kemungkinan terbesar yang akan Marcell lakukan bukanlah mengirim Raven profesional untuk menangani Brian. Melainkan Marcell bakal batal mengirimkan Raven. Karena resiko saat menggunakan Raven itu juga sangat tinggi, jika Raven gagal menjalankan misinya. Hal itu bakal berdampak negatif juga pada orang yang telah menyewanya.
Jika tebakan Brian benar, Marcell tidak akan mengambil resiko seperti itu kalau memang mau berhadapan langsung dengan Brian. Bagaimanapun Marcell tidak pernah meremehkan kemampuan seni bela diri Brian, seluruh Cody memliki kemampuan tempur yang setingkat militer. Itulah sebabnya mengirim Raven untuk membunuh Brian hanyalah sia-sia.
Dengan semua logika yang berhasil Brian kumpulkan saat itu. Timbul satu pertanyaan di benak Brian, jika memang Marcel tidak tahu kalau sejak awal lawannya Vince itu adalah Brian. Lantas siapa yang membantu Vince sebelum-sebelumnya?
Brian tiba-tiba teringat bentuk pisau yang ditemukan Leo pada mayat Ted. Itu bukan pisau biasa, pisau itu terbuat dari platina murni yang biasa di gunakan oleh Cody Famili. Dari sini Brian menarik satu kesimpulan lagi. Orang yang telah membunuh Ted bukanlah Vince, melainkan Cody Famili.
Tapi Marcell saat itu belum tahu kalau dia sedang berurusan dengan Brian, dan satu-satunya Cody Famili yang ada di Golden Sea saat ini hanyalah Brian dan pamannya Abraham.
Brian menduga pamannya lah yang telah menghabisi Ted, dengan alasan untuk melenyapkan semua bukti kalau Marcell telah mengirim Raven untuk melenyapkan Brian.
Akhirnya, spekulasi Brian terbukti di insiden pesta Marcell. Cody Famili selalu memiliki pengamanan ketat di mansion mereka. Seorang tidak mungkin bisa menyelundupkan bom palsu ke dalam pesta dengan sangat mudah.
Ternyata dalang dari semua ini adalah Abraham Cody, dialah orang yang berada di belakang Vince selama ini.
Akhirnya Brian menemukan titik terangnya.
......................
__ADS_1