King Of School

King Of School
Bab 38


__ADS_3

Di kamarnya Zoya terlihat sedang tersedu-sedu sambil memeluk boneka Teddy miliknya. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat berada di kampus tadi.


Pria yang mulai membuat dirinya jatuh hati, tak disangka ternyata sudah memiliki hubungan dengan wanita lain.


"Kenapa? Kenapa aku begitu bodoh, aku mengira kebaikan yang kau lakukan terhadap diriku selama ini memiliki sebuah arti?"


Zoya terus menangis pilu sambil berbicara dengan boneka Teddy nya. Hatinya terasa seperti di tusuk oleh ribuan pedang.


"Seharusnya aku tahu, kalau status kita memanglah sangat berbeda jauh. Kau tidak mungkin akan menyukai pembantu seperti aku, akulah jugalah yang salah karena sudah berharap terlalu jauh." lirih Zoya dalam tangisnya.


Sementara Zoya menangis, di luar kamarnya Ratih terlihat berdiri dan terus mengetuk pintu. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan putrinya saat ini, dia sangat kaget saat melihat Zoya pulang dari kampus dengan keadaan berlinang air mata.


"Zoya, ada apa nak? Apa orang-orang di kampus mengejek dirimu lagi?" tanya Ratih yang sangat mengkhawatirkan putrinya itu.


Tapi Zoya tidak menjawab dan terus menangis tersedu-sedu. Bayangan kejadian yang dilihatnya saat di kampus tadi terus terlintas di pikirannya.


"Brian kenapa kau terus berbuat baik padaku belakangan ini, kau sudah membuatku terlena dengan perhatianmu itu. Kalau kau memang sudah punya pacar kenapa kau mempermainkan perasaanku seperti ini, kau benar-benar keterlaluan!"


Zoya memukul boneka Teddy itu dan juga meremasnya sebagai pelampiasan. Saat ini dia benar-benar sangat sakit hati pada tuan mudanya itu. Zoya adalah gadis lugu yang tak pernah jatuh cinta, dulu dia pernah menyukai Vince tapi dia tidak pernah merasakan perasaan yang teramat kuat seperti sekarang. Ini merupakan pertama kali bagi dirinya merasakan cinta yang sesungguhnya, tapi ternyata cintanya ini hanya bertepuk sebelah tangan.


Drrrtttt...


Tiba-tiba ponselnya berdering dan Zoya pun menengoknya, ternyata itu adalah panggilan dari si tuan muda arogan.


"Kenapa kau menelpon ku, ha? Nikmati saja momen mesramu itu." ketus Zoya, tapi dia masih belum mengangkat panggilan itu, malahan dia langsung menolak dan membuang ponselnya ke bantal.


Sementara itu disisi lain Brian yang sedang mengemudi hanya bisa menyipitkan matanya, karena panggilannya tadi di tolak oleh Zoya. Dia sebenarnya masih belum paham kalau saat ini Zoya sedang cemburu, yang dia tahu saat ini Zoya sedang marah besar padanya.


Tapi Brian tipe pria yang memang sangat cuek, dia tidak akan mau untuk membujuk Zoya. Menurutnya, palingan besok Zoya bakal balik seperti biasanya, dia hanya butuh waktu untu sendiri saja.


...


Malamnya Brian dan kedua orang tua Zoya terlihat sedang menyantap makan malam di meja. Tapi sedari tadi mereka tidak melihat Zoya turun bergabung untuk makan malam.


Brian pun mulai memperhatikan wajah kedua orang tua Zoya. Seolah-olah ingin menanyakan sesuatu. Tapi dia enggan untuk melakukannya.


Tidak lama kemudian, akhirnya Zoya pun turun juga. Tapi mereka semua begitu terkesiap saat melihat penampilan Zoya yang begitu teramat cantik.

__ADS_1


Bahkan Brian yang sedang menyendok nasi langsung menghentikan aksinya dan tak bisa melepaskan pandangannya dari Zoya.


Jadi dia tetap ingin pergi juga? ucap Brian dalam hatinya.


"Zoya? Kenapa kau berpenampilan sangat cantik malam-malam begini?" tanya Ratih yang keheranan melihat putrinya, tidak biasanya Zoya seperti ini.


"Aku ingin pergi ke pesta ibu." jawab Zoya dengan nada yang sangat datar.


"Apa? Pesta apa maksudmu?" tanya Ratih lagi, kali ini dia tampak mulai sangat serius.


"Pesta ulang tahunnya Trish ibu, bukankah setiap tahu kami merayakannya."


Tiba-tiba bel pun berbunyi, Zoya langsung menuju pintu dan membukanya. Ratih pun juga ikut tergerak mengikuti putrinya sampai meninggalkan makanannya.


Terlihat saat pintu dibuka ternya sudah ada Edi yang berpenampilan rapi berdiri menunggu Zoya.


"Malam bibi." sapa Edi dengan ramah pada ibu Zoya.


"Malam, jadi Zoya akan pergi denganmu Edi, apa kalian akan benar-benar pergi ke pesta?" Ratih masih tidak percaya juga.


"Ya bibi, kami ingin pergi ke pesta ulang tahun sahabat kami, Trisha." jawab Edi dengan lemah lembut.


"Ibu kalau begitu, aku izin keluar dengan Edi dulu ya,"


"Baiklah nak jangan lama-lama tapi, eh iya apa kau tidak mengajak tuan muda Brian untu ikut bersama dengan kalian?"


"Tidak ibu, dia tidak mau."


Zoya langsung membantah saat ibunya menyebut nama Brian. Dia pun mulai berpamitan dengan ibunya dan berjalan keluar.


"Aku izin membawa Zoya sebentar ya bibi." ucap Edi sambil tersenyum, tapi saat dia hendak berbalik tak sengaja dia menatap mata Brian yang baru saja muncul di belakang ibunya Zoya.


Edi sampai menelan kembali salivanya saat melihat tatapan itu. Dia bisa merasakan, kalau saat ini Brian tampak sangat tidak senang melihat dirinya akan membawa Zoya pergi ke pesta.


Matilah kau Edi, kenapa kau berani membawa pergi pasangan seekor Harimau, sekarang dia pasti akan segera menerkammu.


"Edi ayo!" seru Zoya yang sudah berdiri di halaman.

__ADS_1


Sontak Edi pun langsung pergi mengejar Zoya. "Zoya sebaiknya kita ajak Brian juga ya."


"Kau kenapa sih, apa kau takut kalau dia nanti marah, emangnya dia siapa berhak marah-marah melihat aku pergi denganmu." ucap Zoya sambil menoleh ke belakang dan menatap Brian yang berdiri di dalam rumah.


Baiklah kalau kau tidak mendengarkan aku, maka aku juga tidak akan mau peduli juga padamu. gumam Brian sambil menatap punggung Zoya dari kejauhan. Jujur saja, Brian juga masih marah pada Zoya mengenai masalah Trisha tadi. Saat ini mereka saling ngambekan, mereka tidak sadar kalau sebenarnya mereka begini karena memang memiliki perasaan satu sama lain.


Kemudian Zoya dan Edi segera masuk kedalam taxi dan langsung pergi meninggalkan mansion kediaman Cody.


Setelah melihat kepergian putrinya Ratih segera menutup pintu rumah, tapi seketika dia langsung terkaget saat melihat Brian yang ternyata sudah berdiri aja di belakangnya.


"Eh, tuan muda... kenapa anda berdiri di sana?" tanya Ratih dengan ekspresi sedikit kaget.


"Bibi, aku ingin bertanya satu hal padamu?" Brian pun tiba-tiba mulai mendekati Ratih dengan ekspresi sedingin es.


Sontak Ratih pun mulai merasa sedikit panik saat melihat cara Brian menatap dirinyapun . "A... ada apa tuan muda?" tanya Ratih yang terbata-bata.


"Aku ingin tahu apa Zoya memang sangat naif sejak dulu?"


"T... tuan muda kenapa anda menanyakan itu. Zoya adalah gadis yang baik, dia memang sedikit bawel dan juga agak keras kepala. Tapi sebenarnya dia memiliki hati yang sangat lembut."


Ratih menjelaskan karakter putrinya pada Brian dengan gemetaran. Dia bingung, entah kenapa tuan mudanya tiba-tiba saja menanyakan karakter putrinya.


Setelah mendengar penjelasan itu, Brian pun mengangguk ringan dan langsung berbalik pergi.


"Fiuh, kenapa tuan muda bertanya seperti itu tentang Zoya ya?" ucap Ratih sembari menghela nafas lega.


Saat berada di kamarnya, Brian terlihat duduk santai di sofa sambil memutar-mutar ponsel di tangannya.


"Aku tidak akan pergi kesana untuk menyusul mu, bukankah kau yang mau cari masalah sendiri. Biarkan saja, biar kau tahu kebenarannya, kalau kau sudah dibodohi oleh orang yang kau anggap sahabat itu."


Brian terus mengumpat tentang Zoya, dia saat ini sedang mencoba untuk tidak peduli dengannya. Lagi pula kan, dia sudah memperingati Zoya. Jika terjadi sesuatu nanti, maka Brian sama sekali tidak mau bertanggung jawab.


Tapi tiba-tiba saja sebuah pesan masuk ke ponselnya, sontak Brian mengernyitkan dahinya dan membuka pesan itu. Seketika dia langsung terkaget saat membacanya.


Kau sangat tidak suka bermain-main dengan waktu kan? Sekarang kita lihat seberapa cepat kau bisa sampai kesini untuk menyelamatkan kekasihmu, hahaha!


"Sial! Zoya...!?"

__ADS_1


Brak!


Brian langsung melompat dari sofa setelah membaca pesan itu. Dia kemudian mengambil jaketnya, dan langsung bergerak pergi keluar kamar.


__ADS_2