King Of School

King Of School
Bab 57


__ADS_3

Sean yang masih tercengang dengan pergantian peristiwa yang begitu cepat, sampai tidak sadar kalau dirinya ingin ditinggal oleh Brian.


"Teruslah berdiri disana, karena sebentar lagi polisi pasti akan datang, jadi kau bisa meminta tumpangan pada mereka saja!" Brian berseru pada Sean dengan acuh tak acuh.


Sean pun tersentak kembali sadar dari lamunannya, dengan cepat dia berlari terbirit-birit mengejar Brian yang hendak masuk ke dalam mobil.


Saat berada di dalam mobil, Sean hanya diam membeku tak berani berkicau lagi di depan Brian seperti sebelumnya. Sesekali dia melirik ke samping untuk melihat wajah tampan itu dengan tatapan ngeri. Bahkan sedari tadi kakinya tidak bisa berhenti gemetaran saat mengingat adegan dimana Brian menghajar Raven hanya dengan satu pukulan.


Kalau memang Brian memang sehebat ini. Tidak heran semua anak buahnya bisa mengalami kekalahan telak tadi siang.


Brian terlalu tangguh untuk dilawan!


"Aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada mobilmu!" tiba-tiba Brian mengeluarkan kata-kata untuk memecahkan ketegangan.


"Kau tidak perlu mengasihani diriku, aku masih bisa membeli sepuluh mobil seperti itu!" Sean berkata dengan ekspresi yang tampak seperti jeruk purut.


"Benarkah? Jika kau membeli mobil seperti itu sekarang, lalu bagaimana dengan hutangmu!?" Brian melontarkan pertanyaan main-main pada Sean.


Deg.


Seketika Sean membeku sebelum akhirnya menaruh seluruh minatnya untuk menatap Brian.


"Dari mana kau tahu tentang hal itu?" tanya Sean yang begitu terlihat serius. Dia tidak mengira kalau Brian mengetahui soal masalah hutangnya.


"Dari mana aku mengetahuinya itu tidaklah penting, sekarang yang jadi pertanyaannya bagaimana kau akan melunasi hutangmu itu!?"


"Ck... itu bukan urusanmu, aku bisa menangani masalahku sendiri!"


"Memang bukan urusanku, tapi masalahnya. Kekasihmu itu sangat polos, dia berniat ingin membantumu, tapi malah aku yang terkena dampaknya, seperti yang terjadi barusan tadi!"


Brian terus berbicara dengan santai sambil mengemudikan mobilnya. Bmw itu melaju dengan kecepatan tinggi, mereka sudah hampir sampai ke garis finis. Terlihat di depan sana sudah banyak orang menanti mereka.


Sementara Sean tidak bisa menahan dirinya tidak terheran saat mendengar perkataan Brian barusan.


"Apa maksudmu Brian? Apa kau kira, pria yang ingin membunuhmu tadi ada hubungannya dengan Kimberly!?" Sean semakin penasaran.

__ADS_1


"Tentu saja! Jika kau tidak percaya tanyakan saja padanya!" seru Brian sambil ngedrift saat mobilnya sampai di garis finis.


Semua orang tadinya bersorak riuh saat menyambut sang pemenang, tapi seketika mereka langsung tersenyap begitu saja. Mereka tidak menduga kalau ternyata Brian tidak turun sendirian dari mobilnya, ada Sean juga yang ikut turun bersamanya.


Sontak semua anak buah Sean langsung datang menghampirinya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Boss, kenapa anda bisa bersama dengannya? Dimana mobil mu Boss? Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Sekarang aku tidak bisa menjelaskannya pada kalian, lebih baik suruh semua orang-orang ini untuk bubar, balapan sudah berakhir!"


"Tapi boss siapa pemenangnya?"


"Apa kau tidak mendengarkan ku?"


"Ba-baik boss!"


Sean malah menyuruh semua anak buahnya untuk membubarkan orang-orang. Saat ini balapan antara Sean dan Brian sudah berakhir.


Sementara itu Brian duduk santai di kap depan mobilnya dengan tangan bersilang, dia menatap Sean yang memarahi anak buahnya dengan acuh tak acuh. Namun tiba-tiba Brian tersentak kaget saat menoleh ke samping. "Zoya!?"


Benar-benar sebuah kejutan, Brian sama sekali tidak menyangka kalau ternyata tiba-tiba saja Zoya juga ada disini.


"Zoya, apa yang kau lakukan disini?" Brian pun langsung berdiri tegak dan menatap gadisnya yang sudah berdiri dihadapannya.


Sejenak Zoya terdiam dan memperhatikan Brian dari ujung rambutnya sampa ke ujung kaki.


"Kenapa kau berbohong!? Kalau kau ingin pergi berkencan dengan wanita lain maka pergilah, tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi jika untuk mendatangi maut!"


"Apa?" Brian keheranan.


Deg.


Seketika Zoya malah memeluk tubuh Brian dengan erat. Tampak dia sangat begitu mengkhawatirkan tuan mudanya itu. Entah kenapa saat dia mendengar kalau nyawa Brian sedang dalam bahaya, dirinya merasa sangat ketakutan.


Takut akan kehilangan tuan mudanya yang arogan itu!

__ADS_1


Sementara Brian yang sedang di peluk oleh Zoya, hanya bisa menautkan kedua alisnya keheranan. Dia tidak mengerti apa yang terjadi pada si nona cerewet ini. Kenapa tiba-tiba saja Zoya ada disini dan datang memeluknya begitu saja.


"Kau tidak tahu betapa aku sangat takut saat mendengar ada yang mencoba membunuhmu tadi?" ucap Zoya yang masih memeluk Brian, wajahnya menempel sempurna ke dada bidang itu. Sesekali dia juga meneteskan kristal bening dari matanya.


Kenapa dengan si cerewet ini? Apa dia tahu masalah yang ku alami tadi? batin Brian bertanya-tanya.


"Jadi pemenangnya adalah Brian? Selamat ya." tiba-tiba Kimberly muncul.


Sontak Zoya yang mendengar suara itu langsung menyudahi pelukannya tadi, dan langsung berbalik untuk menatap Kimberly.


"Pemenang kau bilang?" Zoya terlihat sangat marah sekali, tatapan matanya bahkan lebih mematikan dibanding Brian.


Apakah ini yang dinamakan aura api kecemburuan!


"Kau sudah membuat nyawa tuan mudaku dalam bahaya, dan kau masih mengucapkan selamat, dasar kau ini!"


Zoya yang memang tidak menyukai Kimberly sejak awal, merasa sangat kesal. Dia ingin mengambil tindakan, tapi seketika bahunya di tahan oleh telapak tangan Brian. Zoya pun langsung terhenti dan melirik telapak tangan Brian yang ada di bahunya.


"Maafkan aku Zoya, tapi sangat sulit bagiku untuk menjelaskannya padamu!" lirih Kimberly ekspresinya terlihat sedih.


"Kalau begitu jelaskan saja padaku!"


Deg.


Seketika Sean langsung berbicara, dia mulai berjalan dan mendekati Kimberly. Tatapannya sangat tajam saat menatap wajah cantik nan polos itu.


"Kim, katakan padaku kenapa kau memintaku mengadakan balapan ini? Apa balapan ini memang untuk memperebutkan dirimu atau hanya sebuah jebakan untuk Brian?" Sean bertanya sembari memegang dagu Kimberly dan menatapnya secara dalam.


"Sean aku~" Kimberly tidak bisa berkata-kata, sejujurnya dia masih sangat mencintai Sean. Saat dirinya ditatap oleh manik pria itu, jantung Kimberly langsung berdebar-debar.


"Kenapa kau masih bertanya, sudah jelas-jelas kalau dia~" Zoya yang tidak bisa menahan umpatannya tiba-tiba saja mulutnya langsung di tutup oleh telapak tangan Brian dari belakang.


"Ssst... diam lah cerewet, biarkan mereka mengurus masalah rumah tangga mereka. Dan kita cukup menonton saja dari sini, mengerti!" Brian berbisik ke telinga Zoya dengan sangat lembut.


Zoya menganggukkan kepalanya, dan seketika dia langsung diam membeku. Entah mengapa Brian suka sekali berbisik di telinganya, sehingga membuat pikirannya menjadi linglung tidak karuan seketika.

__ADS_1


"Ehem, kalian berempat terlihat sangat romantis sekali disaat seperti ini, tapi tidak bisakah kita pindah dan membicarakannya di tempat lain, karena sebentar lagi polisi pasti akan muncul!?" Jhony akhirnya angkat bicara juga.


Mendengar hal itu, sontak mereka semua langsung menatap Jhony yang berdiri sendirian tanpa pasangan. Jhony telah membuyarkan situasi yang bisa terbilang romantis dibalik ketegangan.


__ADS_2