
Tidak lama Zoya menunggu, sebuah Roll Royce hitam berhenti di seberang jalan. Zoya menatap mobil itu sambil mengernyitkan dahinya.
"Cepat juga sampainya, tapi kenapa ayah malah berhenti disitu sih." gumamnya.
Srettt...
Kaca mobil itu perlahan turun dan mulai memperlihatkan sosok Brian yang sedang duduk di balik setir. Zoya terkejut, dia pikir yang datang untuk menjemputnya tadi adalah ayahnya. Tapi ternyata dia malah dijemput langsung oleh tuan mudanya sendiri. Benar-benar diluar dugaannya, padahal saat di telfon tadi Brian terdengar sangat sensi.
"Cepat masuk!" seru Brian dengan ekspresi sedingin es.
Melihat Brian yang menjemputnya, Zoya pun bergegas berlari menuju mobil sambil mengangkat tasnya di atas kepala, sebagai payung.
"Huff, hujannya sangat lebat sekali." lirih Zoya sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena terpaan air hujan.
Brian memiringkan kepalanya dan memperhatikan Zoya dengan seksama. Pakaian Zoya saat ini cukup terbilang ketat dari biasanya, air hujan itu membuat bajunya sedikit basah sehingga memperlihatkan tank topnya secara transparan.
Sontak Zoya kemudian melirik Brian yang sedari tadi memperhatikannya, dia kemudian sadar dan langsung memeluk tas untuk menutupi tubuhnya. Seketika Brian juga langsung membuang pandangannya.
"Ehem," Brian pura-pura berdeham dan mulai menginjak pedal gas mobilnya.
Untuk beberapa saat suasana terasa begitu hening di dalam mobil.
"Tuan muda, kenapa kamu yang menjemput ku?" tanya Zoya, dia hanya mencoba untuk menghilangkan kecanggungan.
"Ayah dan ibumu sedang keluar untuk belanja keperluan rumah." jawab Brian dengan singkat padat dan jelas.
Zoya pun menganggukkan kepalanya, pantas saja dia menelpon dari tadi tidak ada yang mengangkat.
"Aku juga mau tanya, kenapa kau menunggu untuk di jemput. Padahal kau juga bisa memesan taksi online tadi?"
Sejenak Zoya diam membeku, "Oh iya, mengapa aku tidak kepikiran yah. " Zoya menepuk jidatnya sambil tersenyum malu.
Brian hanya bisa memutar kedua bola matanya. Tapi dia juga tidak merasa keberatan sama sekali untuk menjemput Zoya. Lagi pula dia kan habis dari klub judo
nya Jhony tadi, jadi sekalian saja kan?
"Oh iya tuan muda, tadi di kampus terjadi kehebohan lho." tiba-tiba Zoya teringat kejadian di kampus tadi.
__ADS_1
"Apa kau tahu, Jhony telah mengekspos kebusukan yang dilakukan Vince terhadap diriku selama ini. Aku sangat senang sekali akhirnya satu kampus itu tahu kalau Vince itu pria yang buruk."
"Tapi aku heran kenapa Jhony melakukan ini? Apa ini ada hubungannya denganmu tuan muda?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu, sudah jelas kan kalau Jhony yang melakukannya." jawab Brian dengan acuh tak acuh.
"Maksudku bukan begitu, kemarin kan kau memang berhadapan langsung dengannya. Aku rasa kau pasti melakukan sesuatu padanya, jika tidak bagaimana mungkin dia berani melawan Vince, apa kau menghajarnya habis-habisan." Zoya dipenuhi dengan rasa penasaran, karena yang dia tahu Jhony tidak mungkin berani melawan Vince jika bukan karena suatu alasan.
"Aku hanya memberinya pelajaran ringan saja. Mungkin dia juga sudah muak dengan Vince, karena itu dia berani untuk melawan."
"Apa kau tahu tuan muda terlalu banyak berkelahi itu tidak baik." ucap Zoya, dia lupa kalau karena dirinyalah Brian bertarung melawan Jhony kemarin.
Tapi Brian tidak mau membahas hal itu lagi, yang lalu biarlah berlalu. Itu masih awalnya saja, saat ini dia masih harus berurusan dengan dua orang lagi.
...
"Kenapa kita kesini?" tanya Zoya yang heran karena Brian tiba-tiba saja berhenti di tempat parkir sebuah Mall. Entah kenapa Brian tidak membawanya langsung pulang ke rumah dan malah singgah ke Mall.
Brian kemudian melepas sabuk pengamannya sambil berkata, "Aku ingin membeli beberapa pakaian baru, aku tidak membawa banyak pakaian saat aku tiba disini."
"Tapi tuan muda aku tidak bisa keluar dengan keadaan basah begini?" lirih Zoya, dia pun juga merasa malu kalau harus keluar dengan pakaian basah, yang ada dia akan jadi bahan tontonan orang nanti.
Brian langsung segera turun dari mobil dan pergi meninggalkan Zoya sendiri di area parkir itu dengan acuh tak acuh.
Dasar, di satu sisi dia memiliki sifat seperti pahlawan tapi di sisi lain sikap tak acuhnya itu benar-benar menjengkelkan, tapi jika aku sendirian disini ngeri juga, lebih baik aku ikut.
"Tunggu tuan muda, aku juga ikut!" Zoya kemudian berlari mengejar Brian yang sudah mulai berjalan jauh. Melihat Zoya yang mau ikut, Brian kemudian melepas jaketnya dan memberikannya pada Zoya.
"Pakai ini!"
Seketika wajah gadis itu memerah seperti strawberry, Huu..walaupun dia tidak memakaikannya secara langsung padaku tapi tetap saja ini sangat romantis. ucap batin Zoya.
Kemudian mereka berdua mulai berjalan bersama memasuki Mall itu. Terlihat saat ini Zoya dan Brian berdiri menunggu di depan lift. Begitu pintu lift terbuka, Brian langsung berjalan masuk diikuti juga oleh Zoya dari belakang. Mereka sudah bagaikan wortel dan buncis saja, kemana-mana selalu bersama.
Di dalam lift itu juga sudah ada tiga orang pria berbadan tegap dengan penuh tato di bahu mereka. Tampak seperti seorang preman, jika anak kecil melihat mereka pasti langsung lari.
Brian kemudian memencet tombol lift dengan santai tanpa menghiraukan kehadiran ketiga orang itu. Sementara Zoya dia merasa sangat tidak nyaman karena di kelilingi oleh mereka.
__ADS_1
Melihat hal itu, Brian sengaja menggeser Zoya untuk berdiri di belakangnya agar tidak diganggu oleh ketiga preman itu.
Namun tiba-tiba saja lift itu berhenti. Zoya tersentak kaget dan reflek memegang erat lengan Brian. Sekarang dia mulai merasa sedikit panik. Terlebih lagi saat ini ketiga orang asing itu terus saja memandanginya.
"Hei tuan-tuan, apa kau bisa jauhkan matamu itu dari gadisku." ucap Brian dengan nada dingin.
Ketiga pria itu saling memandang dan mulai tersenyum lucu karena mendengar ancaman dari Brian. Sementara Zoya terus mempererat pelukannya ke lengan Brian, tapi dia juga merasa sedikit kaget karena Brian mengatakan gadisku tadi.
"Hahaha lihat bro dia melarang kita untuk tidak menatap gadisnya. Tampaknya bocah ini adalah seorang pria sejati." ucap salah satu dari mereka dengan tatapan mengejek.
"Kau benar, lihatlah gadis kecil ini begitu menempel padanya seperti prangko saja."
"Hei anak muda," ucap yang satunya lagi sambil menjentikkan jari ke wajah Brian, "kami tidak menginginkan gadismu itu, tapi kami menginginkan tasnya dan juga semua isi yang ada di kantong kalian, cepat keluarkan!" Bentaknya dengan suara keras, kemudian dia mengeluarkan sebilah pisau.
Melihat pisau di keluarkan Zoya mulai sangat ketakutan, "Brian!" lirihnya sembari menyembunyikan wajah di balik ketiak Brian.
Namun Brian sama sekali tidak terlihat panik dan terus menyipitkan mata menatap mereka. Dia hanya tidak menyangka saja kalau tiga orang ini melakukan aksi kejahatan di dalam lift di waktu yang sangat tepat.
"Jika kalian berani menyentuhnya, akan aku pastikan tangan kalian patah saat keluar dari lift ini." Brian malah memberi ancaman yang lebih mematikan lagi.
Ketiga preman itu langsung tertawa terbahak-bahak saat mendengar ancaman Brian. Merekat terlihat sangat meremehkan dirinya.
"Hei nak, bocah sepertimu mau mengancam kami?"
"Kami sama sekali tidak takut, saat ini kalian tidak bisa kemana-mana, kamilah yang akan mematahkan tulang mu nanti."
"Benar, lihatlah bahkan CCTV ini tidak akan bisa menjadi bukti jika kami menghajar mu."
Sontak Brian langsung menaiki salah satu alisnya saat mendengar hal itu.
"Benarkah? Kalau begitu bagus." ucapnya dengan santai sambil tertawa kecil.
"Hah apanya yang bagus." bentak preman itu lagi.
Tapi Brian tidak menjawab dan menyuruh Zoya untuk mundur ke sudut. Setelah itu dia langsung bergerak secepat kilat dan memelintir pergelangan tangan preman yang mengacungkan pisau.
"Arrrgghhhh... bocah tengik sialan." teriaknya kesakitan.
__ADS_1
"Beraninya kau, rasakan ini!"
"Brian!" teriak Zoya.