King Of School

King Of School
Bab 28


__ADS_3

Brian dan Edi pun segera menuju studio dansa, ekspresi Brian begitu datar sama seperti aspal yang sedang ia tatap sambil mengemudikan mobilnya. Dia tahu kalau saat ini Jhony pasti merencanakan sesuatu terhadap Zoya, mengingat kemarin Brian sudah memporak-porandakan klub judo milik Jhony.


"Brian tindakan apa yang akan kau ambil jika bertemu dengan Jhony nanti." tanya Edi dengan ekspresi wajah penuh arti. Edi bisa menebak mungkin Brian akan melakukan hal yang sama pada saat anak buah Jhony datang untuk menagih hutang waktu itu.


"Aku akan melakukan apa yang perlu aku lakukan." jawab Brian dengan acuh tak acuh.


Mendengar jawaban itu Edi kembali meneguk ludahnya, memang dia baru saja mengenal Brian. Akan tetapi, dia tahu kalau Brian bukanlah tipe orang yang bisa disinggung. Setelah dia tahu Zoya saat ini pergi dengan Jhony, Brian mungkin akan sangat murka dan menghajar Jhony.


Disisi lain tepatnya di dalam studio dansa, Zoya terlihat sedang duduk terikat di kursi. Dia meronta mencoba melepaskan ikatan itu. Tak disangka Jhony ternyata telah menipunya.


Tadinya Jhony mengatakan pada Zoya, kalau dia mau menyelesaikan soal hutang klub dansa Zoya. Asalkan Zoya mau berkencan dengannya sekali saja. Zoya dengan polosnya mau menerima tawaran itu, walaupun dia tahu kalau Jhony adalah seorang penipu ulung. Namun ternyata ini hanyalah sebuah jebakan untuk Zoya, Jhony sengaja menjadikan Zoya sebagai sandera.


"Jhony lepaskan aku, kau keterlaluan!"


"Kau memang seorang penipu, seharusnya aku tidak pernah percaya denganmu." pekik Zoya pada Jhony dengan penuh rasa kesal.


"Jhony apa perlu kita sumpal mulutnya dengan kain." ujar Max.


"Tidak perlu, biarkan saja dia menggonggong seperti itu sampai pangerannya datang." ucap Jhony sembari memetik korek untuk menyalakan rokoknya.


"Aku penasaran, seperti apa wujud bocah yang bernama Brian itu. Beraninya dia mengacaukan klub judo kita."


Jhony menghisap rokoknya kemudian dia menghembuskan asapnya ke wajah Max.


"Dia tidak lebih tampan dari dirimu, ahaha."


"Benarkah, kalau begitu dia pasti tidak akan keberatan jika aku memoles sedikit wajahnya kan, hahaha."


"Kau benar, mungkin kita bisa sekalian melakukan operasi plastik padanya nanti, hahaha." Jhony mengambil kantong plastik dan menunjukannya pada Zoya, seolah-olah dia sengaja mengejek Brian dihadapan Zoya.


Zoya yang melihat itu hanya bisa memasang ekspresi aneh di wajahnya. Dua orang ini pasti sudah mabuk, pikirnya.


"Jokes, kalian itu garing tahu. Asalkan kalian tahu tuan mudaku itu jauh lebih tampan dari pada kalian berdua."


"Jhony lihat, pacarnya marah, hahaha."


Begitu dua orang itu asik tertawa tiba-tiba saja pintu studio ditendang hingga hancur. Sontak Jhony dan Max langsung terkejut melihat itu.


"Hei siapa itu?" teriak Max.

__ADS_1


Terlihat sosok yang menendang pintu itu ternyata tidak lain adalah Brian. Dia kemudian berjalan santai memasuki studio dengan kedua tangan terlipat di belakang dan ekspresi wajah datar.


Zoya yang melihat itu langsung merasa sangat senang. Tak disangka tuan muda arogan itu ternyata benar-benar datang untuk menyelamatkannya.


Ini sudah seperti adegan di film-film action saja, dia benar-benar datang untuk diriku, sungguh so cute....


Zoya menggigit bibirnya sambil menatap siluet Brian yang berjalan mendekat. Wajahnya juga seketika langsung merona karena membayangkan hal-hal yang aneh.


"Dasar nona cerewet kau benar-benar telah menyusahkan diriku, aku menunggumu dari tadi di kampus ternyata kau malah duduk santai disana."


Seketika ekspresi Zoya langsung berubah saat mendengar Brian berkata seperti itu. Wajahnya yang tadi berseri-seri langsung menjadi masam seperti jeruk purut.


"Kalau kamu hanya ingin mengatakan itu, mending gak usah datang tadi. Apa kau tidak lihat ini, apa kau kira aku menikmati saat duduk terikat seperti ini." ucap Zoya yang sedikit kesal.


"Salahmu sendiri karena terlalu bodoh mau percaya dengan perkataan mereka." Brian menunjuk kearah Jhony dan Max.


Jhony dan Max saling bertukar pandang saat Brian menunjuk mereka. Mereka tak menyangka, kalau Brian memiliki nyali yang sangat besar juga dengan datang seorang diri.


"Kau yang namanya Brian?" Max berjalan maju selangkah. Max memiliki tubuh yang lumayan berisi, tinggi badannya juga sama dengan Brian.


"Aku tidak percaya kalau orang sepertimu yang telah menghajar semua anggota kami kemarin?"


"Aku ingin tahu apa alasanmu mengacaukan klub judo kami kemarin?" Max bertanya dengan ekspresi mencemooh.


"Tidak ada alasan yang kuat, aku hanya ingin menjawab tantangan dari Jhony itu saja." Brian menjawab dengan acuh tak acuh sembari mengangkat kedua bahunya.


"Apa kau bilang? Aku bahkan baru pertama kali ini bertemu denganmu, kau lah yang telah menantang ku dengan menghajar semua teman-temanku." pekik Jhony dengan sangat kesal.


"Tidak hanya itu, kau juga telah ikut campur dalam masalah antara aku dan Zoya. Jadi siapa sekarang yang memulai perkara duluan."


Brian menyipitkan kedua matanya saat mendengar perkataan Jhony. Bukankah kemarin dia memang menerima sebuah pesan yang berisi tantangan dari Jhony. Lantas kenapa Jhony tidak mengaku?


"Heh, biar aku beri dia pelajaran Jhony. Aku adalah juara seni bela diri judo, aku akan remukkan seluruh tulangnya." ujar Max sembari menunjukan kepalan tangan pada Brian.


"Tidak akan ada api jika tidak ada arang, aku punya satu pertanyaan, apa alasanmu menipu Zoya."


Tatapan Brian sedingin es, bahkan Max yang berdiri di depannya mulai merasa terintimidasi dengan mata Brian.


"Memangnya kenapa kalau kami menipu Zoya, apa hubungannya denganmu? Jangan-jangan rumor yang beredar tentang kalian itu benar, kalau kalian memang memiliki hubungan gelap, hahaha."

__ADS_1


Jhony tertawa lepas karena puas menghina Brian dan Zoya. Sementara itu Brian sama sekali tidak terpengaruh dengan perkataan Jhony. Ekspresinya masih terlihat sangat tenang.


Tapi tidak dengan Zoya, kepalanya tertunduk kebawah dan wajahnya mulai murung seketika mendengar hal itu. Dia merasa sangat sedih sekarang, fitnah yang telah disebarkan oleh Vince membuatnya dirinya dicap sebagai gadis murahan.


Melihat Zoya yang mulai sedih, Brian pun mulai menjadi geram. Dia langsung bergerak dengan sangat cepat kearah depan dan melayangkan punggung telapak tangannya ke wajah Jhony.


Plak.


Seketika Jhony terbang ke udara dan menabrak dinding, terlihat darah merembes dari sudut bibirnya. Sontak Zoya dan Max langsung terkesiap melihat aksi Brian yang begitu cepat.


"Kau... beraninya kau," Jhony mencoba untuk bangkit kembali dan menyeka darah yang ada di sudut bibirnya dengan tangan, "Max, hajar dia."


Max pun langsung mulai hendak melancarkan pukulan pada Brian dari belakang. Dia yakin dengan menggunakan teknik bela diri judo yang selama ini dia pelajari Brian akan langsung tumbang. "Rasakan ini dasar brengs*k."


"Brian awas!" sontak Zoya berteriak memperingati Brian.


Tapi Brian tidak bereaksi dan dengan santai mengayunkan telapak tangannya ke wajah Max hingga melayang jauh dan jatuh terseret di lantai.


Seketika mulut Jhony menganga melihat itu, dia tidak menyangka kalau Brian ternyata sehebat ini. Sekarang dia mulai mengerti kenapa Brian berani melawan Vince dan seluruh mahasiswa kampus waktu itu.


"Juara judo apanya, sangat mengecewakan." ucapnya sembari menyeka telapak tangannya dengan sapu tangan yang selalu iya bawa.


Kemudian dia berjalan dengan santai menuju Zoya.


"Mulai sekarang kau harus memberitahu diriku jika mau pergi, mengerti!" seru Brian dengan sedikit membentak Zoya.


Zoya hanya bisa menganggukkan kepalanya dan tak mau lagi berkata-kata. Lagi pula dia memang salah karena telah pergi sendirian.


"Sekarang pergi masuk ke dalam mobil! Edi akan mengantarkanmu pulang."


"Lalu kamu?"


"Tentu saja aku juga akan pulang, hanya saja aku ingin berbincang sebentar dengan mereka."


"Tuan muda tapi..."


Brian langsung menutup bibir mungil Zoya dengan jari telunjuknya. "Jangan banyak tanya, pergilah pulang sekarang dan jangan lupa siapkan makan malam untukku, mengerti!?"


Zoya kemudian mengangguk ringan dan langsung berlari menuju pintu keluar, dia juga melangkahi tubuh Max yang merintih kesakitan di lantai pintu depan.

__ADS_1


"Nah sekarang mari kita bicara sebentar Jhony!"


__ADS_2