King Of School

King Of School
Bab 89


__ADS_3

"Kakak ipar, kenapa itu bisa terjadi? Aku tahu seseorang pasti sudah mengganggumu kan?" tanya Kiara dengan suara pelan sembari terus mengelap rambut Zoya yang basah dengan handuk.


Saat ini mereka sedang berada di kamar yang ada di lantai dua. Kiara membersihkan Zoya dan mulai meriasnya kembali. Kiara benar-benar memperlakukan Zoya dengan penuh kasih sayang seperti anak kecil. Membuat Zoya semakin terheran dengan sikap adik Brian ini.


'Apa yang di herankan? Kiara itu hanya ingin memiliki seorang kakak perempuan sejak dulu.'


'Karena kakak laki-lakinya sangat kaku dan dingin.'


"Kiara bisa kah kau berhenti memanggilku dengan kakak ipar?" akhirnya Zoya mengatakan itu juga, sebelumnya dia membiarkan Kiara memanggilnya seperti itu karena menganggapnya hanyalah sebuah candaan Kiara saja.


"Memangnya kenapa kak..." tanya Kiara dengan lemah lembut.


"Aku merasa tidak enak kau memanggilku seperti itu terus, maksudku, kau itu adalah majikanku seharusnya kau tidak memperlakukanku seperti ini." jawab Zoya dengan wajah sendu.


Kiara menghela nafas, kemudian dia bertanya sekali lagi, "Apa kakak menyukai kak Brian?"


Sontak Zoya langsung terdiam sejenak sebelum menjawab, "Kenapa kau menanyakan hal itu lagi, aku kan sudah bilang..."


Seketika Kiara langsung menutup mulut Zoya dengan telapak tangannya sembari berkata, "Kau menyukainya, dan dia juga menyukaimu, lantas apa yang salah. Aku hanya ingin membantu kalian untuk bersatu, itu saja?"


Zoya hanya menatap Kiara dengan penuh arti, kemudian dia menurunkan telapak tangan Kiara, dia tidak bisa menyangkal lagi, kalau dia memang menyukai Brian. "Kenapa kau sebegitu kerasnya ingin menjodohkan aku dengan Brian?"


"Tidak ada, aku hanya ingin melihat kakakku bahagia saja, jika dia bisa bahagia denganmu, maka aku akan melakukan apapun untuk membantunya mencapai kebahagiaannya itu." jawab Kiara dengan santai sambil tersenyum manis.


"Tapi Kia, bagaimana kau tahu dia juga menyukaiku?"


"Tidak ada yang lebih mengenal kakakku dari pada aku, aku bisa melihat dari matanya saat dia memandang mu. Apa kakak tahu, kak Brian itu seorang mysophobia. Dia tidak pernah mau dekat-dekat dengan orang lain karena merasa jijik. Jika pun dia dia dekat dengan seseorang pasti orang itu sudah dia anggap akrab dan berarti baginya. Dan jika dia sudah menganggap orang itu berarti, maka dia tidak akan pernah melepaskannya, dia pasti akan melindunginya dengan segala cara, apapun resikonya." jelas Kia.


Wajah Zoya membeku ketika mendengar semua yang dikatakan Kiara barusan, tiba-tiba Zoya mengingat setiap kejadian dimana Brian terus-terusan menyelamatkannya. 'Benarkah Brian memiliki perasaan terhadapku?'

__ADS_1


Wajah Zoya langsung memerah, mendengar Kiara mengatakan itu membuat jantung Zoya berdegup kencang. Dia sangat senang kalau Kiara ternyata begitu mendukungnya.


"Tapi Kia, aku tidak yakin." lirih Zoya, wajahnya sedikit memerah.


"Kakak jangan khawatir, aku akan membantumu agar kak Brian menyatakan perasaannya padamu. Malam ini juga, setelah kalian menari bersama, kau akan tahu betapa dia mencintaimu kak." ujar Kiara dengan penuh semangat.


"Apa, kau ingin aku menari dengannya?" Zoya tersentak kaget sekali lagi mendengar Kiara yang ingin membuat Brian menari dengannya.


"Kenapa kak? Apa kau tidak bisa menari? Atau malu, jangan khawatir, kakakku itu sangat hebat menari. Jika menari dengannya, orang yang tidak bisa menari pun juga akan terlihat sangat lihai nantinya." ucap Kiara dengan penuh percaya diri.


Zoya menganga mendengar itu, kemudian dengan sedikit tergagap dia berkata, "A-apa kau bilang, Brian sangat bisa menari?"


"Yah, dia tidak hanya bisa, tapi itu adalah bakatnya sejak lahir. Tidakkah kakak pernah melihatnya menari selama ini?" tanya Kiara.


Zoya tidak menjawab dan malah hanyut kedalam pikirannya, "Dia mengatakan padaku kalau dia tidak bisa menari, kenapa dia berbohong? Uh, aku memang tidak mengerti apa isi otak tuan muda arogan itu."


Tidak lama kemudian suara ketukan pintu pun terdengar dan memecahkan suasana. Kiara langsung bergerak dan membukanya, ternyata itu seorang pelayan wanita yang sedang membawakan sebuah gaun indah. Kiara mengambil gaun itu dan langsung menunjukkannya pada Zoya.


Sekali lagi mulut Zoya menganga dan kehabisan kata-kata. Darimana Kiara mendapatkan gaun indah ini dengan sangat cepat.


"Kiara, dari mana kau mendapatkannya?" tanya Zoya, keningnya mulai berkedut penasaran.


"Keluarga kami pasti menyimpan gaun-gaun indah untuk pesta. Marcell tidak akan keberatan jika kita meminjamnya satu, bukan?" jawab Kiara dengan santai dan mulai hendak melepas pakaian Zoya untuk segera diganti dengan gaun indah itu.


"Tunggu Kia, apa maksudmu? Marcell, kau dan keluargamu, aku tidak mengerti. Sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Marcell." tanya Zoya yang semakin penasaran.


"Biarkan aku menyiapkan mu terlebih dahulu, lalu setelah itu aku akan menceritakan semuanya padamu nanti, oke kak."


Zoya yang dipenuhi kebingungan hanya bisa mengangguk nurut dan membiarkan Kiara mulai melucuti pakaiannya satu persatu. Begitu banyak pertanyaan yang ada di benaknya saat ini.

__ADS_1


...


Di satu sisi Brian yang masih berada di area parkir terlihat sedang menelpon. Setelah selesai dia pun juga mulai bergegas masuk kedalam gedung Ballroom.


Seperti akan menerima sebuah kejutan, saat ini wajah Brian benar-benar terlihat sedikit aneh. Ada ketegangan di wajah tampannya yang tak biasa. Sepertinya seseorang yang sudah menelponnya tadi, sudah memberikan sesuatu informasi yang begitu serius, sehingga membuat Brian terlihat begitu tegang.


"Aku harus menghentikan pesta ini!" ucapnya.


Di dalam Ballroom.


Mata elang Brian mulai menyapu seluruh ruangan untuk mencari keberadaan adiknya dan juga Zoya. Tapi dia tidak menemukannya, yang di lihat malah wajah menjengkelkan.


"Vince."


Brian menyipitkan kedua matanya menatap Vince yang ada di hadapannya.


Vince yang tersadar akan kehadiran Brian pun segera berjalan mendekatinya. "Wah, benar-benar sebuah kejutan. Si jagoan Leighton ada disini." sapa Vince dengan penuh ejekan.


Namun Brian tidak menghiraukan Vince dan lebih memilih untuk terus mencari Zoya dan Kiara.


Melihat sikap Brian, Vince bergidik kesal dan spontan mengeluarkan kata-kata yang membuat langkah Brian terhenti. "Kau tidak akan lolos kali ini."


Sontak Brian berbalik, "Apa maksudmu?"


"Bukankah kau menginginkan permainan yang lebih dewasa, aku sudah mempersiapkannya untukmu, bahkan permainan ini lebih bagus dari yang kau bayangkan." ujar Vince, ekspresi terlihat sangat puas.


"Selama ini aku bertanya kenapa begitu sulit menyingkirkan satu orang sepertimu. Ternyata aku lah yang salah, seharusnya aku tidak meremehkan mu. Tapi, seperti yang kau bilang, permainan anak-anak tidak akan berpengaruh padamu. Itulah sebabnya aku sudah mempersiapkan permainan yang lebih menantang." Vince melanjutkan ocehannya.


"Permainan apa yang kau maksud Vince." kedua sudut mata Brian mulai berkedut.

__ADS_1


Dia tahu kalau saat ini Vince sedang merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya. Hanya saja, siapa sangka kalau Vince akan senekat ini.


Vince tersenyum jahat saat dia mulai berjalan mendekati Brian, kemudian dia berbisik, "Permainan militer."


__ADS_2