
Pria yang baru saja turun dari truk container itu mulai berjalan ke arah Brian. Penampilannya memang terlihat biasa saja, namun katana yang ada di tangannya itu membuatnya tampak sangat menakutkan. Aura membunuh pun bisa terlihat jelas keluar dari tubuhnya.
Sementara itu Sean yang tadinya nyungsep ke dalam parit, berusaha bangkit untuk keluar dari sana. Dia benar-benar beruntung karena masih bisa selamat berkat airbag yang menahan tubuhnya untuk tidak remuk, akibat kecelakaan tadi.
"Dasar sialan, siapa yang terlalu ceroboh meletakkan drum-drum sialan ini di jalanan!?" umpat Sean dengan penuh kekesalan, dia melihat Brian dan mulai berjalan ke arahnya dengan kaki terpincang-pincang.
Brian pun melirik sebentar ke samping melihat Sean dengan acuh tak acuh, sebelum menjatuhkan pandangannya ke pria asing tadi. Brian tidak tahu apa yang diinginkan pria itu, tapi sepertinya pria itulah yang telah menjatuhkan drum-drum tadi dari truk kontainernya.
"Kau masih hidup? Ku kira kau akan mati konyol tadi." ucap Brian pada Sean dengan acuh tak acuh.
"Apa kau bilang?" Sean memekik kesal karena mendapat cemoohan dari Brian, "Kau pasti sangat senang melihat keadaanku saat ini, kan? Jika aku mati, maka tidak ada lagi halangan bagimu untuk bisa memiliki Kimberly seutuhnya."
Sean masih saja berfikir kalau Brian ingin merebut gadisnya. Dia tidak tahu kalau balapan ini hanyalah sebuah permainan saja bagi Brian.
"Aku sama sekali tidak tertarik dengan Kim, apa kau tidak mengerti juga!?" Brian mulai bosan dengan hal itu.
"Heh, jika memang begitu mengapa kau sampai bermain curang, ha!?" Sean membentak Brian sembari mengacungkan jari telunjuknya ke hidung Brian. Dia mengira kalau Brian telah menguranginya dalam balapan ini.
"Apa maksudmu?" Brian bertanya, sebelah alisnya naik keatas karena heran mendengar tuduhan Sean.
"Jangan pura-pura lagi Brian, pasti kau yang sengaja merencanakan semua ini, kan?" Sean menunjuk drum-drum yang menghalangi jalanan.
Brian hanya bisa menyunggingkan senyum tipis sebelum berkata, "Kau menuduhku? Sebaiknya kau lihat ke belakang dulu?"
Sontak Sean pun langsung berbalik badan, dan betapa terkejutnya dia saat melihat pria berbadan tinggi sudah berdiri dihadapannya.
Mata pria itu berwarna coklat, kulitnya putih dan bersih. Wajahnya juga terbilang tampan, penampilannya sama sekali tidak mencerminkan sosok seorang pembunuh.
Namun Sean masih bisa merasakan, aura menakutkan yang tak terhingga menyelimuti pria itu.
"Siapa lagi kau ini? Kenapa kau tiba-tiba muncul disini!?" Sean yang sudah sangat emosi, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membentak pria itu.
"Aku kemari untuk menyelesaikan tugasku!" ucap pria itu dengan nada datar.
"Apa maksudmu, tugas apa yang ingin kau selesaikan!? Brian apa kau mengenalnya, jangan bilang dia adalah pesuruh mu!?"
Plak.
__ADS_1
Tiba-tiba Sean langsung dikirim terbang dengan satu tamparan oleh pria tadi. Dia pun terhempas di aspal tepat di sebelah Brian. Sean meringis kesakitan dan tidak berdaya untuk bangkit kagi, tak pernah ia merasakan tamparan yang begitu kuat seperti itu. Dia merasa rahangnya hampir copot.
"Aku benci orang yang banyak bicara!" ucapnya dengan santai.
Sementara itu Brian hanya bisa menyipitkan kedua matanya melihat hal itu. Dia tidak menyangka pria yang ada di hadapannya saat ini ternyata cukup cakap juga.
Dia mampu mengalahkan Sean hanya dengan satu tamparan.
"Sekarang giliran mu, berlututlah dan aku akan memberikan kematian yang mudah untukmu!" seru pria itu kepada Brian dengan tatapannya yang mematikan.
"Berlutut? Aku tidak tahu maksud dari semua ini, tapi. Maaf aku tidak bisa melakukan itu!" ucap Brian dengan santai.
"Heh... kau cukup memiliki nyali juga ternyata, tapi kau harus tahu, saat ini kau tidak bisa lari kemanapun, aku akan mengakhiri hidupmu disini sekarang juga."
"Kenapa harus lari? Aku tidak punya waktu untuk itu!"
Pria tadi pun mulai merasa sedikit geram melihat sikap Brian. Dia tidak pernah bertemu dengan orang seperti Brian.
Benar-benar terlalu arogan!
...
Tapi tampaknya mereka sudah sangat terlambat, tidak ada lagi satupun orang terlihat di sana. Tempat itu benar-benar sudah sepi, yang tersisa hanyalah jejak ban mobil saja yang membekas di aspal.
"Zoya sepertinya mereka sudah memulai balapannya, kita terlambat!" lirih Jhony, wajahnya terlihat murung.
"Tidak Jhony, kita harus menghentikan Brian. Kita tidak bisa membiarkan dia melakukan balapan ini!?" Zoya terlihat sangat panik dan cemas, dia mengguncang tubuh Jhony dengan hebat.
"Zoya aku tahu, kau sangat mengkhawatirkan Brian, tapi apa yang bisa kita lakukan sekarang? Tidak mungkin kita menyusul mereka dengan mobil rongsokan ini." ucap Jhony sembari menunjuk kearah mobilnya yang setengah hancur.
Ya, Jhony dan Zoya datang kesana dengan menggunakan Roll Royce bekas milik Brian. Dia sepertinya masih belum memperbaiki mobil itu secara sempurna. Pantas saja mereka membutuhkan waktu yang lama untuk sampai tadi.
"Jhony, tapi kita juga tidak bisa berdiam diri saja, ayo pikirkan sesuatu!" Zoya meminta Jhony agar memberikan solusi untuk menyelamatkan tuan mudanya.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang Zoya, lagi pula jika kita mengejarnya, kita sama sekali tidak bisa membantunya untuk menghadapi pembunuh bayaran itu, kan?" pujuk Jhony untuk menenangkan Zoya.
"Kita hanya bisa berharap agar Brian tidak kenapa-napa."
__ADS_1
"Aku tidak peduli, pokoknya aku akan pergi untuk menyelamatkan tuan mudaku!?"
Zoya sangat keras kepala, dia tetap bersikeras ingin menyusul Brian. Bahkan Jhony sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, karena melihat sikap Zoya.
"Hei, kau mau kemana Zoya?" tanya Jhony yang keheranan melihat Zoya malah pergi berjalan ke arah garis start.
"Menyelamatkan tuan mudaku!" jawabnya dengan tegas.
Apa? Apa dia sudah gila? umpat Jhony dalam hatinya.
"Hei tunggu, lebih baik kita pergi ke garis finis saja, mungkin saja Brian sudah ada disana!" seru Jhony sembari menunjuk ke arah jalan pintas menuju tempat garis finis berada.
Sontak Zoya pun terhenti dan berbalik, "Kalau begitu apa lagi yang kau tunggu, ayo kita kesana!" Zoya menarik paksa kerah baju Jhony ke dalam mobil.
Jhony pun hanya bisa menurut seperti anjing yang jinak, dia benar-benar tidak menyangka kalau Zoya memiliki watak yang hampir mirip dengan Brian.
...
Sesampainya mereka di lokasi garis finis, Zoya begitu terkejut melihat keadaan sekitarnya. Tempat itu sudah dipenuhi para muda-mudi yang sedang menikmati pesta malam hari mereka.
Ini pertama kalinya Zoya merasakan lingkungan yang tidak begitu menyenangkan baginya. Kenapa setiap anak muda menikmati kebebasan mereka dengan hal seperti ini.
Apakah mereka tidak pernah berpikir untuk mempersiapkan masa depan mereka?
"Jhony, dimana Brian? Kau bilang dia disini?" Zoya menuntut Jhony dengan tatapan tajam.
Jhony tidak menjawab Zoya dan malah menatap langit sambil bersiul-siul, seolah tidak mendengarkan Zoya.
Dia tahu, pasti saat ini Brian dan Sean masih melangsungkan balapan mereka.
"Jhony kau..."
Zoya sangat kesal dan ingin sekali memukul Jhony, tapi tiba-tiba saja Kimberly muncul dan menghampiri mereka.
"Zoya, Jhony? Kalian ada disini?"
"Kimberly!?"
__ADS_1
Ucap Zoya dan Jhony bersamaan.