King Of School

King Of School
Bab 113


__ADS_3

Brian membuka pintu rumahnya secara perlahan, saat dia hendak melangkah masuk, Zoya sudah berdiri tepat di depannya.


"Bagaimana tuan muda? Apa kau berhasil membawa Ayah ku." tanya Zoya dengan buru-buru, dia tidak melirik Brian sedikit pun karena dari tadi sibuk menelisik ke luar untuk memastikan kalau Ayahnya pulang bersama dengan Brian.


Namun ternyata Brian hanya pulang seorang diri.


Brian pun hanya bisa menghela nafas sejenak, dia lalu menjawab, "Maaf kan aku nona cerewet, sepertinya butuh waktu agar Ayah mu bisa keluar. Tapi kau jangan khawatir, aku akan berusaha dengan keras agar Ayah mu segera bebas. Aku janji." untuk pertama kalinya Brian merasa sedikit tidak berdaya.


Brian mengakui, Marcell ternyata cukup licik karena telah memilih untuk menyerang pak Siman, dia tahu jika menyerang Zoya secara langsung pasti tidak bisa. Karena sudah pasti Brian akan selalu melindunginya, 24 jam penuh, tapi apakah itu berlaku untuk orang terdekat Zoya juga seperti pak Siman?


Kelemahan Brian adalah Zoya, sedangkan kelemahan Zoya adalah orang tuanya dan sekarang Marcell telah berhasil melumpuhkan kelemahan Zoya. Dengan begini, Brian tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Menghancurkan hati Zoya sama saja dengan menghancurkan hati Brian.


"Tuan muda..." lirih Zoya dengan penuh kekecewaan, dia sudah menaruh harapan besar pada Brian tadinya, namun sekarang harapan itu lambat laun pudar. Ditambah lagi karena Alex sedari tadi terus memprovokasi Zoya, membuat kepercayaan wanita itu terhadap Brian hilang seutuhnya.


"Zoya, aku janji akan membereskan semua masalah ini. Percayalah kepadaku." bujuk Brian sembari memegangi bahu Zoya yang lesu. Dia sadar saat ini wanitanya pasti sangat kecewa padanya, dan itu membuat hati Brian ikut merasa bersalah. Seharusnya, jika Brian ingin menjadi pelindung untuk Zoya, maka dia juga harus bersedia melindungi semua orang yang Zoya cintai. Ini adalah salah Brian yang sejak awal tidak sadar kalau Marcell bakal mengincar orang tua Zoya.


Zoya menurunkan kedua tangan Brian dari bahunya, dengan nada pelan dia berkata, "Kau tidak perlu melakukan apapun lagi tuan muda, kau sudah cukup banyak membantu ku selama ini. Terima kasih untuk semuanya, kali ini aku akan berusaha sendiri."


Setelah mengatakan itu, Zoya pergi menuju kamarnya dengan ekspresi yang sangat melankolis. Air matanya mengalir jatuh, namun ia sembunyikan agar Brian tidak melihatnya.


Brian yang ditinggal hanya menatap punggung wanitanya dengan penuh arti, entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak. Kenapa Zoya jadi kehilangan semangat seperti ini?


"Apa pak tua itu mengatakan sesuatu pada Zoya?" tukas Brian. Dia menebak pasti Alex sudah memprovokasi Zoya saat dia pergi.

__ADS_1


Seketika gelombang amarah mulai merasuki kepala Brian, dia harus menemui ayahnya itu. Jika Alex sudah sengaja membuat kerenggangan diantaranya dan Zoya. Brian tidak akan memaafkan Alex, dia akan membuat perhitungan. Tidak peduli sekalipun Alexander adalah ayahnya.


Namun saat Brian hendak menaiki tangga, Kiara tiba-tiba menghadang langkah Brian.


"Minggir roti isi, aku tidak ingin bercanda dengan mu saat ini." ketus Brian dengan ekspresi yang sangat menyeramkan.


"Kau mau kemana, kak? Ingin menemui ayah? Apa kau akan bertengkar dengannya lagi seperti waktu itu?"


Sontak Brian terhenti saat mendengar Kiara berbicara.


"Aku akan membuat perhitungan dengannya, jadi minggir lah, dia harus tahu kalau dia tidak berhak mencampuri urusan pribadi ku." ucap Brian tegas.


"Tidak ada gunanya jika kau memarahi pak tua itu, jika ternyata ibunya kak Zoya tetap tidak merestui kalian." ujar Kiara ketika Brian melewatinya.


Seketika Brian membeku, dia pun berbalik dan kembali menatap adiknya itu dengan penuh pertanyaan, "Apa maksudmu, Kia?"


Kiara menghela nafas lesu, "Saat kau tidak ada, Ayah terus-terusan menyalahkan kak Zoya dan ibunya karena pak Siman telah membuat malu kita di Restoran. Banyak perkataan buruk yang telah keluar dari mulut ayah saat dia memarahi kedua orang itu. Akibatnya, mbok Ratih merasa sangat sakit hati, jadi dia enggan menerima bantuan dari mu lagi kak. Dia juga meminta kak Zoya agar menjauhi dirimu. Bahkan aku dengar mereka berencana akan pergi dari rumah ini. Mereka merasa sangat bersalah dan tidak layak terus menumpang hidup pada keluarga kita."


"Apa?" sontak Brian berteriak tidak percaya, darahnya sekarang benar-benar mendidih, Ayahnya benar-benar sangat kelewatan. "Pak tua itu..."


"Kak tenangkan dirimu, jika kau bertengkar dengan ayah sekarang, maka itu akan memperburuk keadaan saja. Apa yang akan dipikirkan oleh kak Zoya dan mbok Ratih nanti? Mereka pasti akan semakin merasa bersalah, karena mereka kau malah jadi bertengkar dengan Ayah." tukas Kiara yang menahan lengan kakaknya agar tidak pergi menjumpai Alex.


Brian pun membatu untuk waktu yang lama sembari memijat kedua alisnya, dia tidak menyangka ternyata Marcell benar-benar mampu memanfaatkan keadaan dengan baik. Marcell tahu kalau Brian dan Alex memang tidak pernah akur, jadi dia sengaja memanipulasi acara makan malam tadi menjadi sebuah percikan api untuk membakar hubungan di dalam keluarga Brian.

__ADS_1


Dengan begini pikiran Brian akan semakin kacau, tapi itu hanyalah sebagian kecil dari niat Marcell yang Brian ketahui saat ini. Dia tidak tahu kalau target Marcell selanjutnya adalah Zoya. Setelah dia mendapatkan Zoya, di situlah kehancuran Brian di mulai. Dengan begitu, mudah baginya untuk menyingkirkan Brian nantinya.


Di dalam kamar, terlihat Zoya dan ibunya mengemasi barang-barang mereka. Niat Ratih yang ingin pergi dari rumah Brian ternyata bukan main-main. Sepertinya kata-kata Alexander terlalu menyakitkan, sehingga membuat Ratih mengambil keputusan ini.


Akan tetapi, tidak ada yang tahu kalau sebenarnya mereka memutuskan pergi dari rumah Brian bukan murni dari keinginan mereka. Mereka terpaksa.


"Bu, apa kita benar-benar akan pergi dengan cara seperti ini?" tanya Zoya, memegangi pundak ibunya yang tengah menyusun pakaian mereka.


"Tidak ada pilihan lain nak, kita hanyalah kaum kalangan bawah. Kita tidak memiliki status yang kuat untuk melawan mereka." ucap Mbok ratih yang sejak tadi tersedu-sedu, baginya rumah ini sangat berarti, banyak kenangan yang tersimpan di sini. Jujur saja sebenarnya Ratih juga enggan untuk memutuskan pergi dari rumah yang sudah menjadi saksi terukir nya sejarah keluarga mereka.


"Jika kita pergi dari sini, lalu dimana kita tinggal?" tanya Zoya lagi, yang mulai menjatuhkan air mata.


"Entahlah ibu juga tidak tahu, tapi yang pasti, kita harus membebaskan ayahmu terlebih dahulu. Kita tidak bisa terus-terusan meminta bantuan dari keluarga Brian, tuan Alexander benar. Keluarga kita ini hanyalah benalu bagi mereka, kita sudah mempermalukan mereka."


"Tapi ibu, tuan muda selalu bersikap baik pada ku belakangan ini. Kenapa kita tidak meminta bantuannya saja."


"Zoya, apa kau tidak dengar yang dikatakan tuan Alex tadi. Brian itu adalah putra mahkota Cody, sedangkan kita hanyalah pelayan mereka. Jika Brian bersikap baik padamu bukan berarti dia menyukai mu, berhentilah memimpikan hal yang tidak mungkin. Wanita yang pantas untuk tuan muda Brian harus lah yang memiliki status sosial yang setara dengannya, seperti yang dikatakan oleh tuan Alex."


Ratih menjelaskan kembali kepada Zoya, tentang perbedaan antara dirinya dengan Brian. Dan tentu saja itu membuat Zoya sadar akan statusnya. Walaupun Brian memiliki perasaan cinta terhadap Zoya, apa mungkin mereka di terima di keluarga Brian? Mereka pasti akan menjadi bahan olok-olokan saja, dan Zoya tidak mau sampai itu terjadi kepada kedua orang tuanya. Biarlah perasaannya terhadap Brian ia kubur, dari pada harus melihat ayah dan ibunya di permalukan.


"Ibu, aku takut setelah kita pergi dari sini, nasib kita akan semakin buruk." ucap Zoya memeluk tubuh ibunya dengan erat.


"Ibu juga takut nak, tapi percayalah... setiap kesulitan pasti ada kemudahan." mbok Ratih menegarkan hati putrinya itu, memang terasa berat mengambil keputusan ini. Namun ini semua mereka lakukan demi keselamatan pak Siman.

__ADS_1


__ADS_2