
"Brian, Vince benar-benar sudah gila, dia sangat ingin melenyapkan mu. Karena itu dia akan melakukan apapun, bahkan walau harus melalukan pembantaian massal." terdengar Sean yang di seberang telepon begitu cemas, suaranya gemetar tidak karuan.
Sementara Brian hanya sedikit terkejut namun masih tampak sangat santai seperti biasanya. "Dengarkan aku Sean, tidak peduli seberapa keras Vince ingin melenyapkan aku. Pada akhirnya semua yang dia lakukan akan sia-sia, kau jangan khawatir dan ikuti saja perkataanku..." Setelah memberikan beberapa instruksi pada Sean, Brian langsung menutup panggilan itu dan melirik kearah Zoya.
Seringai muncul di kedua sudut bibir Brian, gadis itu benar-benar melakukan apa yang dia suruh tadi. Zoya terlihat sangat berusaha membersihkan rompi Brian. Dia menggosoknya dengan tisu, dan menghembusnya juga dengan bibirnya yang merah muda untuk mengeringkan rompi Brian.
Brian kemudian berjalan mendekati Zoya sambil berkata, "Apa kau sudah selesai?"
Dengan ekspresi yang tidak enak Zoya menjawab, "Tuan muda cepat sekali kau selesai telponan, berikan aku waktu sebentar lagi, tolong."
Brian hanya menatap Zoya dengan kosong, sambil berkata, "Kenapa kau begitu penurut belakangan ini nona cerewet. Ini tidak seperti dirimu yang biasanya."
Memang Brian menyadari belakangan ini, Zoya tampak sedikit lebih penurut dan tidak banyak bicara dalam melaksanakan tugas aneh yang selalu di berikan Brian. Walaupun Brian suka versi Zoya yang suka mengomel, tapi dia lebih senang melihat Zoya seperti ini, yaitu gadis lugu polos yang lemah. Itu membuat jiwa kesatria Brian semakin tumbuh untuk melindungi Zoya di masa depan kelak.
Zoya tersentak sejenak dan menatap mata Brian yang indah, sambil mengibaskan rompi Brian ke udara Zoya berkata, "Kupikir, aku sudah muak mendengar panggilan cerewet dari mulutmu itu, jadi aku mencoba menurunkan intensitas kata-kata yang aku ucapkan."
Brian terdiam.
"Logika macam apa itu?"
Zoya tersenyum manis seperti matahari hangat sebelum pandangannya tertuju pada sebuah benda yang baru saja jatuh dari saku rompi Brian. "Apa ini?" Zoya mengambil benda itu.
Kedua alis Brian menyatu melihat Zoya menemukan suatu benda yang seharusnya tidak ada di dalam saku rompinya.
Wajahnya yang mempesona tampak dingin saat merebut benda itu dari tangan Zoya, "Kenapa benda ini bisa ada di sakuku?" tanyanya.
__ADS_1
Zoya langsung menjawab, "Bagaimana aku tahu? Bukankah benda itu keluar dari sakumu, berarti kau yang menaruhnya disana."
Mata elang Brian tampak semakin tajam saat menyadari benda yang ada di tangannya ini ternyata sebuah remote control untuk memicu sebuah bomb.
Tidak lama kemudian, terdengar suara berisik dari bawah. Sontak Brian langsung menarik tangan Zoya dan membawanya pergi.
"Tuan muda..." teriak Zoya tampak kebingungan.
Saat mereka menuruni tangga, betapa terkejutnya Brian melihat ruangan itu sudah di penuhi oleh beberapa orang dengan seragam intel yang sedang melakukan geledah besar-besaran.
Itu membuat suasana ruangan menjadi tegang, semua orang mulai menjadi cemas.
Para tim intel itu berseru pada semua orang, "Tetaplah di tempat kalian dan jangan coba-coba berani keluar dari sini. Kami akan memeriksa kalian semua."
"Hei tuan, aku tahu kalian adalah orang-orang dari intel. Tapi apa yang kalian lakukan disini, kenapa kalian tiba-tiba menerobos masuk dan menimbulkan kegaduhan." Kiara tiba-tiba angkat bicara. Keberanian Kiara sama besarnya dengan Brian, dia tidak suka dengan kehadiran para tim intel itu yang mengacaukan acara pesta.
Semua orang tampak semakin ketakutan, mereka tidak mengira acara pesta penyambutan Marcell akan menjadi menyeramkan seperti ini. Seseorang bahkan tidak tahan lagi untuk tetap berada di tempat mencekam itu dan mencoba melarikan diri.
Namun dengan mudahnya dia di lumpuhkan dan jatuh ke lantai.
"Apa kau tidak dengar, tidak ada yang boleh keluar dari sini. Apa kau ingin aku mematahkan kakimu!?"
Melihat para intel itu melakukan seseorang tadi dengan sangat kejam, Kiara semakin marah dan meraung. "Apa yang kalian inginkan?" Kiara sama sekali tidak tampak gentar, walaupun senjata api sedang diarahkan ke wajahnya.
"Dengar nak, kau terlalu banyak bicara, apa kau ingin aku membungkam mulutmu itu."
__ADS_1
"Sangat tidak masuk akal seorang intel seperti kalian bertindak kasar seperti ini di depan publik, apa kalian mencoba melakukan penindasan?"
"Kau tidak mengerti, yang kami lakukan saat ini adalah untuk kepentingan publik itu sendiri. Seorang ******* telah menyelinap ke tempat ini dan memasang banyak bomb, dia pasti sedang bersembunyi diantara kalian. Jadi, bekerja samalah denganku jika kau bukan ******* itu."
Mata Kiara terbelalak mendengar apa yang dikatakan orang intel itu, dia sungguh tidak percaya dan mulai merinding. Sambil menelan salivanya dia berkata, "Itu tidak mungkin, penjaga keamanan Cody Famili sangat ketat. Bagaimana bisa seorang ******* berhasil menyusup?"
Pada saat yang bersamaan seorang dari intel itu menemukan salah satu bom yang terpasang didalam sebuah guci.
Betapa terkesiapnya semua orang melihat itu, mereka semua semakin panik dan berteriak karena ketakutan. Suasana penyambutan Marcell yang tadinya meriah tiba-tiba berubah menjadi arena maut yang berbahaya.
"Apa yang kau tahu nak, bahkan keluarga besar seperti Cody pun bisa mendapatkan teror juga. Kau dari tadi terlalu percaya diri dan tidak mau bekerjasama dengan kami. Sekarang aku mulai menaruh curiga padamu, hei cepat periksa dia."
Dua petugas intel wanita mulai mendekati Kiara dan ingin menggeledahnya secara paksa.
Tentu saja Kiara tidak terima dengan hal itu dan mencoba untuk melawan, bagaimana mungkin gadis cantik sepertinya di tuduh menjadi seorang *******?
"Berhenti, aku bukan ******* yang kalian cari, apa kalian tahu siapa aku. Aku adalah Kiara Stefani Cody, putri bungsu Alexander Cody dari ibu kota pemerintahan. Apa kalian masih berani menuduhku sebagai *******?" Kiara akhirnya mengumumkan identitasnya di depan semua orang karena sangking kesalnya di tuduh sebagai *******.
Kedua wanita intel tadi berhenti sejenak setelah mendengar hal itu, bahkan semua orang yang ada di ruangan itu juga ikut terkejut. Siapa sangka kalau ternyata Kiara memiliki identitas yang sangat luar biasa, semua orang tahu siapa Alexander Cody. Siapa yang berani melawan pria yang menguasai seluruh ibu kota sepertinya?
Sementara itu, Brian hanya bisa memijat kedua alisnya melihat adiknya mengungkapkan identitas mereka di depan umum. "Dasar roti isi, dia terlalu banyak sama bicara sepertimu." ucap Brian sambil meledek Zoya yang berdiri di sampingnya.
"Apa?" Zoya memasang ekspresi kaget.
"Aku harus menghentikannya sebelum dia banyak mengatakan hal yang tidak perlu." gumam Brian.
__ADS_1
Kemudian dia berjalan kearah Kiara dan meraung dengan kesal sambil mengangkat remote control yang ia temukan tadi di sakunya, "Hei, apa kalian sedang mencari ini?"
Perhatian semua orang pun langsung tertuju pada Brian.