King Of School

King Of School
Bab 80


__ADS_3

Leo yang tersandar di kursi roda memegangi wajahnya yang bengkak sambil menahan sakit. Bekas telapak tangan yang memerah itu menandakan betapa kerasnya tamparan Brian tadi.


Brian bisa menjadi sangat kejam jika hal itu menyangkut keselamatan orang-orang terdekatnya.


"Aku mohon maafkan aku pangeran, jangan bunuh aku, aku masih ingin hidup." ucap Leo yang memohon dengan kedua tangannya.


"Heh, apa yang akan aku dapatkan dengan memaafkan orang yang mencoba ingin membunuhku?" wajah Brian terlihat sedang memberi cemoohan.


"Aku akan melakukan apapun untukmu, aku bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupku hanya untukmu pangeran." Leo yang sudah sangat putus asa, mencoba menyelamatkan dirinya dengan bersumpah pada Brian.


"Mmm... menarik sekali, tapi aku tidak membutuhkan seorang gangster cabul sepertimu. Kau sama sekali tidak berguna!" tolak Brian secara mentah-mentah.


Tapi Leo pun tidak berhenti untuk meyakinkan Brian, "Pangeran, aku bisa membuktikan kalau diriku berguna untukmu."


"Bagaimana caranya?" sebelah alis Brian terangkat keatas, minatnya mulai sedikit terusik.


"Pangeran, aku bisa mencari tahu siapa sebenarnya orang yang sudah mengirim Ted kepadamu." ucap Leo yang dipenuhi keringat dingin.


Brian menyipitkan matanya dengan tajam menatap Leo. Sejenak dia berpikir, aku sudah tahu siapa yang mengirim Raven itu, tapi informasi yang diberikan Darwin memang masih minim. Sepertinya tidak salah juga kalau aku menggunakan orang ini agar bisa mendapatkan informasi lebih dalam lagi. Lagi pula saat ini aku harus fokus dulu dengan masalah Leighton University.


Leo masih menunggu jawaban Brian, keringat mulai bercucuran seperti derasnya air hujan.


'Menunggu jawaban pangeran Brian bahkan lebih menegangkan dari pada menunggu hasil ujian kelulusan.'


"Baiklah, aku beri kau kesempatan, jika kau bisa memberi informasi yang menarik tentang orang yang mengirim Ted. Maka aku akan memaafkanmu." ucap Brian dengan nada datar.


Seketika wajah Leo kembali mendapatkan warnanya, seolah ruh tertiup kembali ke raganya, Leo berkata dengan penuh semangat, "Terima kasih pangeran, anda bisa mengandalkan saya, saya akan menjadi informan anda mulai sekarang dan seterusnya..."


"Tapi..." sebelum Leo melanjutkan pidatonya, Brian langsung menyela, "Jika kau tidak bisa mendapatkan informasi apapun dalam waktu tiga hari, maka aku akan datang lagi kesini, aku akan mematahkan tangan dan kakimu sebagai hukuman karena telah berani berniat buruk pada Zoya."


Gluk.

__ADS_1


Dengan susah payah Leo menelan salivanya saat mendengar Brian berkata seperti itu. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan berkahir seperti ini. Seharusnya tadi dialah yang mengendalikan hidup Brian bukan sebaliknya.


Setelah itu Brian dan kedua pengawalnya langsung beranjak pergi dari sana, namun sejenak Brian terhenti, "Oh ya, jika kau berani mengekspos identitas asliku ke seluruh Golden Sea, maka kau akan mendapatkan konsekuensinya nanti."


Kemudian Brian lanjut melangkah meninggalkan Leo yang masih gemetaran di kursi rodanya.


Setelah menyelesaikan masalah dengan geng Crimson, Brian akhirnya sampai ke rumah. Dia tidak menyangka kalau pengawal elit Cody yang ditinggalkan ibunya cukup berguna juga disaat-saat seperti tadi.


Dengan kondisinya yang belum pulih total Brian mungkin akan sedikit kewalahan menghadapi seluruh geng Crimson tadi. Ternyata keputusannya untuk membawa pengawal elit kesana adalah keputusan yang tepat.


Saat Brian mulai mengetuk pintu, dalam hitungan detik pintu langsung terbuka seperti pintu otomatis.


Wajah Brian yang sedari tadi dipenuhi bongkahan es langsung meleleh, saat mendapati Zoya sudah berada dihadapannya. Wajah lugu, polos dan imut itu benar-benar tidak membosankan untuk dipandang.


"Tuan muda, akhirnya kau pulang juga, kau baik-baik saja kan, apa mereka melukaimu?" sambil memegang kedua bahu Brian, Zoya terus menelisik seluruh tubuh Brian memastikan tidak ada yang lecet sedikitpun. Dia memperlakukan Brian seperti barang antik yang sangat berharga dan tak ternilai harganya.


"Kau mengkhawatirkan ku?" tanya Brian sambil menyembunyikan ekspresinya.


"Ehem...." Seketika Kiara muncul dan melirik pasangan kekasih itu dengan tatapan mengejek. "Maaf karena mengganggu keromantisan kalian, tapi makanan yang sudah disiapkan mbok Ratih bisa dingin jika dibiarkan terlalu lama." kemudian Kiara berlalu begitu saja sambil melenggak-lenggokkan pinggulnya yang ramping itu.


Zoya pun langsung melepaskan tangannya dari bahu Brian dan segera mengejar Kiara, "Tunggu Kia..."


Brian hanya tersenyum tipis melihat kedua wanita itu pergi meninggalkannya, entah mengapa ada perasaan yang tak bisa dijelaskan di hati Brian saat ini. Seperti inilah keluarga yang selalu diimpikannya.


"Zoya, tunggulah sebentar lagi, setelah semua ini selesai, maka aku akan mengungkapkan seluruh perasaanku padamu. Dan setelah itu, tidak akan ada yang bisa menghalangi kita untuk bersama." gumam Brian sambil tersenyum.


...****************...


Kediaman keluarga Laurence.


Terlihat Vince sedang duduk santai dihalaman belakang sambil *******-***** dua buah dadu di telapak tangannya. Ekspresinya terlihat sangat suram saat ini, jika mungkin tatapan bisa membunuh, maka Vince pasti sudah membunuh puluhan orang setiap kali dia melangkah.

__ADS_1


Kekalahan yang bertubi-tubi ini membuatnya semakin tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayang-bayang Brian yang ingin menggulingkan kekuasaannya, terus menghantui pikiran Vince. Dia hampir gila karena memikirkan itu. Obsesi Vince untuk selalu unggul dari yang lain terlalu besar.


"Vince, mereka sudah sampai." tiba-tiba Jullyan muncul, dan berbisik ke telinga Vince.


Sontak Vince pun tersadar dari lamunannya, dan segera bangkit sambil berseru, "Bawa mereka masuk!"


Jullyan mengangguk dan langsung membawa lima orang berseragam elit kehadapan Vince.


Kelima orang itu tampak sangat meyakinkan dalam bentuk fisik, tubuh mereka tidak terlalu berotot namun sangat proporsional. Ekspresi wajah mereka semua sangat datar dan tatapan mata mereka bagaikan elang. Begitu tajam sehingga bisa dipastikan, bahkan seekor lalat pun tidak berani melintas di mata mereka.


Masing-masing dari mereka membawa pedang panjang yang menggantung di pinggang mereka.


Inilah The Guardian Noble Of Cody.


Prok, prok, prok.


Vince bertepuk tangan sambil berjalan mengelilingi kelima guardian itu, ada ekspresi puas diwajahnya saat ini. Akhirnya bala bantuan yang ia pinta dari teman lamanya sudah datang.


"Hahaha, sangat meyakinkan, sepertinya 'dia' masih menganggap ku sebagai teman dengan mengirimkan kalian kesini." ujar Vince sambil tertawa puas.


"Tentu saja, bagaimanapun akulah yang sudah menyelamatkan nyawanya waktu itu. Jika tidak di pasti sudah tewas di jalanan waktu itu."


"Ternyata memiliki pertemanan dengan salah satu keluarga Legendaris, benar-benar sangat menguntungkan."


"Kali ini si brengsek itu pasti akan tiada, tepat sebelum acara lomba dimulai aku akan membuat dia menemui ajalnya, tunggu saja!"


"Kami siap menuruti perintahmu tuan." ucap kelima guardian itu dengan serentak, sambil menundukkan badan.


Vince akhirnya kembali tersenyum jahat, dia berpikir kalau rencananya kali ini pasti tidak akan gagal. Brian pasti akan segera menemui akhirnya tidak lama lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2