King Of School

King Of School
Bab 105


__ADS_3

Setelah pertikaian dengan Vince tadi selesai, Brian membawa Zoya ke kafetaria untuk makan siang. Di belakang mereka terlihat Jhony dan Sean mengikuti layaknya bodyguard yang patuh. Hal itu pun mengundang perhatian publik. Orang-orang pada akhirnya tidak bisa menahan diri mereka untuk tidak bergosip. Namun Brian tidak mau terlalu memikirkannya, karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada satu hal.


Brian melirik Zoya.


Di kafetaria.


Brian dan Zoya mengambil posisi duduk di meja paling sudut. Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa Brian selalu memilih meja yang berada di sudut. Karena dia sangat benci menjadi pusat perhatian, Brian selalu menjadi orang yang penyendiri dan sulit bergaul. Dengan melihatnya duduk di kafetaria ini saja, itu sudah menjadi sebuah anugrah. Jika bukan karena Zoya, Brian mungkin akan selalu menjadi pria introvert yang dingin dan sangat sulit didekati.


Sementara itu, Jhony dan Sean juga ikutan duduk bersebelahan dengan meja Brian. Meja-meja di kafetaria itu di desain untuk empat orang, tadinya mereka ingin duduk bersama dengan Brian dan Zoya di meja yang sama. Namun seketika Brian menembakkan tatapan dinginnya yang mematikan, Sean dan Jhony pun langsung menggigil ketakutan. Akhirnya mereka memilih untuk duduk di meja sebelahnya.


Suasana berlangsung dengan hening, Brian dan Zoya tampak sedang asik melahap makanan mereka. Terkadang keduanya tampak saling melirik satu sama lain, seperti sepasang kekasih yang sedang main mata.


Jhony yang melihat betapa bosan dan menggelikannya pemandangan itu, mulai berinisiatif untuk memulai pembicaraan agar suasana menjadi lebih hidup, Jhony bertanya, "Brian, kompetisi akan dimulai lusa. Kita harus segera latihan kan?"


Brian saat ini sedang sibuk menyesap tehnya dan hanya merespon dengan acuh, "Mm."


Jhony tidak menduga kalau Brian akan meresponnya seperti itu, wajahnya pun berubah masam, kemudian dia melanjutkan, "Anggota tim kita saat ini baru empat orang, Brian. Bagaimana kita bisa memulai latihan kita jika masih tidak lengkap begini. Untuk membentuk tim basket setidaknya dalam satu tim itu harus terdiri dari 5 orang, minimal. Sementara di tim kita baru ada Kau, Aku, Sean dan juga Frans. Siapa yang ke lima?"


Sambil meletakkan tehnya ke meja Brian berkata, "Kau tidak perlu memikirkan siapa anggota yang ke lima, aku sudah punya kandidatnya. Yang kau harus kau perhatikan adalah, siapa diantara kalian yang cocok menjadi kapten dalam tim ini?"


Sean dan Jhony sontak saling bertukar pandang. Mereka sangat bingung dengan ucapan Brian barusan, Sean pun bertanya, "Bukankah kau yang akan menjadi kapten kita, Brian? Kau yang membentuk tim ini, siapa lagi yang cocok menjadi Kapten selain kau?"


"Aku tidak mau, menjadi kapten itu sangat merepotkan. Belakangan ini aku terlalu sering menggunakan otakku untuk menghadapi berbagai masalah, aku lelah berpikir terus. Lagi pula pikiranku saat ini sedang fokus ke satu hal." jawab Brian acuh tak acuh.


Sean dan Jhony menganga dan tak bisa berkata-kata, bagaimana bisa Brian berkata seperti itu? Brian adalah orang yang membentuk tim ini, selain itu, dia juga sangat bijak dan berwibawa. Menurut Jhony dan Sean, Brian adalah orang yang paling cocok untuk menjadi kapten.


"Apa kau yakin Brian?" tanya Sean sekali lagi.

__ADS_1


Brian mengangguk tanpa keraguan sedikitpun, "Hmm."


"Baiklah, jika kau tidak ingin menjadi kapten, setidaknya kau harus menunjuk salah satu diantara kita sebagai gantinya." ujar Jhony.


"Apa kau tidak mendengar perkataanku tadi Jhoni? Aku sudah lelah untuk berpikir, jadi kalian saja yang putuskan sendiri?" ucap Brian.


Jhoni dan Sean benar-benar tidak mengerti dengan sikap Brian ini. Sebelumnya Brian lah yang tampak sangat bersemangat untuk merekrut mereka. Dan sekarang setelah mereka bergabung, Brian malah ingin lari dari tanggung jawabnya begitu saja? Sean dan Jhony mulai menjadi sedikit ragu sekarang.


Zoya pun juga ikut bingung, kenapa Brian tiba-tiba ingin lari dari tanggung jawabnya itu. Ini bukan seperti Brian yang ia kenal. Walaupun tampak dingin dan cuek, Brian biasanya selalu menjadi pria yang paling bijak dan bertanggung jawab dalam segala hal. Lantas kenapa sekarang dia berubah?


"Tuan muda, kenapa kau tidak mau menjadi kapten mereka? Bukankah sebelumnya, membentuk tim ini adalah idemu?" bisik Zoya ke telinga Brian.


Brian hanya tersenyum tipis sambil berkata dengan pelan, "Nona cerewet, apa kau juga tidak mendengarkan ku tadi? Otakku sudah terlalu sering digunakan, dan itu semua juga karena kau. Menjadi kapten itu berarti kau harus bekerja dua kali lipat lebih keras dari tim dan itu sangat merepotkan. Aku bukan robot, karena itu lah aku juga harus mengasihani otakku. Apa kau mengerti?"


Brian mulai mencubit gemas pipi Zoya lagi, tidak tahu entah mengapa tangannya bergerak begitu saja tanpa ia sadari.


"Karena gemas." jawab Brian dengan santainya.


Zoya, "..."


"Aku ini bukan bonekamu tahu. Enak saja main cubit-cubit." Zoya ketika marah, dia sering kali menggembungkan kedua pipinya sehingga terlihat sangat menggemaskan dan itulah kenapa Brian betah melihat Zoya ketika sedang marah begini.


Detik berikutnya Brian berkata secara blak-blakan, "Ini hanya permulaan nona cerewet, kelak di masa depan aku akan lebih sering mencubit pipimu. Bahkan mungkin aku juga akan mencubit bagian tubuhmu yang lainnya. Kau harus mempersiapkan diri."


Seringai pun terlihat di wajah Brian.


Seketika Zoya terdiam dan merenung, 'Apa maksud dari perkataannya itu?' memikirkan apa yang baru saja dikatakan Brian barusan, membuat Zoya menjadi sangat malu, wajahnya pun menjadi lebih merah dari tomat matang.

__ADS_1


Melihat Zoya dan Brian malah bermesraan dihadapan mereka, Sean pun mendengus kesal. Dia menjentikkan jarinya seraya berkata, "Kita saat ini sedang berdiskusi Brian, apa kau tidak bisa menunda kencan kalian untuk sementara?"


Brian menjawab, "Tidak!"


Pffft.


Tiba-tiba Jhony menyemburkan minumannya keluar dari mulut. Hal itu mengundang perhatian orang sekitar, dan mereka pun mengutuk Jhony.


"Dasar menjijikan!"


Jhony sebenarnya juga tidak ingin ini terjadi, namun dia terus di buat terkejut dengan sikap Brian yang tak biasa. Jhony tahu Brian adalah pria yang sangat cuek dan dingin seperti balok es. Akan tetapi kenapa hari ini dia tampak sedikit berbeda. Dari awal Brian tak mengizinkan Jhony dan Sean untuk duduk berempat di satu meja. Kemudian sekarang Brian mengatakan, bahwa saat ini kencannya dan Zoya tidak bisa di ganggu. Apa yang dipikirkan Brian sebenarnya?


Sebelumnya Jhony mengira kalau Brian itu adalah pria yang memiliki ambisi tinggi terhadap kehormatan, bukannya cinta.


"Brian, sebentar lagi kompetisi perebutan martabat. Singkirkan dulu masalah cinta mu ini, dan fokus pada pembahasan awal kita tadi." ujar Jhony mencoba untuk meluruskan Brian lagi.


"Apa harus aku ulangi lagi Jhony? Kau masih tidak mengerti maksudku dari kata-kataku tadi?" Brian balik bertanya.


"Sial, kau ini kenapa? Jika kau dari tadi hanya ingin bermesraan dengan Zoya, seharusnya bilang sejak awal. Lebih baik kami tidak mengikuti kalian tadi?" raung Jhony dengan penuh kekesalan.


"Bahkan tidak ada yang meminta kalian untuk mengikuti ku. Jadi berhentilah bertingkah seolah aku menganiaya dirimu, hanya karena kau jomblo bukan berarti kau bisa memaksa semua orang menjadi seperti mu." cibir Brian dengan ekspresi yang merendahkan. Menurut Brian, saat ini Jhony sedang cemburu karena sampai sekarang Jhony belum punya pasangan.


Jhony, "..."


"Aku menyerah, Sean. Sepertinya tidak berguna mengajak orang yang sedang mabuk cinta bicara."


Melihat perdebatan tuan mudanya ini dengan Jhony, Zoya tidak tahu harus menangis atau tertawa. Yang ada di benaknya saat ini hanyalah pertanyaan, mengapa Brian tiba-tiba mendadak menjadi seperti ini? Apa Brian sungguh-sungguh dalam perkataanya barusan? Apa benar selama ini Brian memiliki perasaan terhadapnya?

__ADS_1


'Tidak, kau tidak boleh salting Zoya. Kau masih belum mendengar Brian mengatakan hal itu, sebelum dia menyatakannya secara langsung kau jangan sampai salah paham dulu. Lihat dan tunggu saja kelanjutannya.' gumam Zoya.


__ADS_2