
Saat Brian berjalan menuruni tangga menuju loby tiba-tiba dia dihadang oleh Vince dan beberapa mahasiswa yang ada di kampus itu.
Brian sampai menyipitkan kedua matanya menatap area sekitar, dia tahu ini semua pasti ulah Vince yang mengumpulkan semua orang disini hanya untuk memperolok dirinya.
"Ini dia sang jagoan Leighton, Brian."
Semua orang menatap Brian dengan sinis, mereka tidak menyangka kalau pria se-keren Brian akan menghancurkan reputasinya. Sepertinya mereka semua sudah termakan omong kosong Vince yang menjelekkan Brian dengan Zoya.
Tidak lama kemudian Zoya pun muncul dan berlari mendekati Brian. Terlihat ekspresi wajahnya sangat khawatir dan juga sekaligus malu. Tapi dia juga merasa sangat kesal karena tidak bisa menerima tuduhan keji Vince yang mengatakan dirinya sudah dikotori oleh Brian.
"Lihatlah sepasang kekasih ini, mereka benar-benar menjadi pasangan serasi, hahaha."
Semua orang mulai menyoraki Brian dan Zoya. Yang satu Brian dari keluarga kaya sudah menghancurkan reputasinya, dan yang satu lagi Zoya sebagai pelayan telah menjual dirinya untuk Brian. Begitulah anggapan mereka semua pada Zoya dan Brian.
"Inilah akibat dari menentang diriku Brian."
"Sebaiknya kau segera pergi dari kampus ini dengan harga dirimu yang masih tersisa. Dan jangan pernah kembali lagi kesini dasar pecundang, hahaha." Vince terus memperolok Brian, dia kira akhirnya berhasil juga menyingkirkan saingan barunya itu.
Brian tidak memperdulikan orang-orang yang menyorakinya dan malah berjalan dengan santai kearah Vince. Mereka kemudian saling bertatap muka, bisa terlihat kilatan petir saling menyambar diantara mata mereka.
"Bagaimana aku bisa pergi tanpa membawa piala King of School."
Nada bicara Brian terdengar sangat pelan dan santai namun seketika semua orang langsung terdiam.
"Kau pasti mengira aku telah dikeluarkan?"
"Sayang sekali rencana mu ini gagal."
"Ini adalah kekalahan pertamamu."
Vince kemudian menyunggingkan sudut bibirnya dan tertawa dengan getir. Dia tidak menyangka ternyata Brian masih belum di keluarkan dari kampus ini.
"Hahaha, begitu ya, menarik tampaknya aku terlalu menemukanmu." ucap Vince dengan ekspresi yang penuh percaya diri.
"Tapi dengar ini baik-biak Brian, Leighton hanya memiliki satu raja."
"Kau tidak akan pernah bisa merebutnya dariku, aku sudah memenangkan piala itu dua kali. Dan dengan kekalahan mu nanti, maka aku akan mendapatkan hattrick juga."
Brian tersenyum tipis dan mulai menatap Vince dengan tajam.
"Kalau begitu dengarkan aku, kau terlahir sebagai pemenang, kan? Maka aku terlahir untuk mengalahkan mu!"
__ADS_1
"Teruslah tertawa dan nikmati saat-saat terakhirmu di kampus ini!"
"Karena sebentar lagi sang raja baru akan terlahir."
Vine dan semua orang yang ada di sana langsung terdiam mendengar kata-kata Brian. Baru kali ini Vince menemukan lawan yang mampu membuat nyalinya semakin terpompa.
Brian kemudian segera melangkah pergi meninggalkan tempat. Zoya pun juga mengikutinya dari belakang.
Orang-orang yang mengejek dan menghina Brian tadi tidak bisa berkata-kata lagi. Brian memang memiliki karisma yang luar biasa. Bahkan setelah Vince mencoba menghancurkannya, tetap saja karisma Brian tidak bisa hilang dari dirinya.
...
"Kau tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil es batu."
Setelah sampai dan masuk ke dalam rumah, Zoya meminta Brian duduk di sofa ruang tamu dan segera pergi ke dapur.
"Untuk apa es batu itu." tanya Brian sembari menaiki salah satu alisnya.
"Sudah cepat sini." seru Zoya.
Zoya kemudian duduk di sebelah Brian dan dengan segera hendak menempelkan es batu itu ke sudut bibir Brian yang lebam.
"Tunggu!" Brian memundurkan wajahnya sedikit.
Akhirnya Brian menurut juga dan membiarkan Zoya mengompresnya. Dia duduk diam seperti anak yang baik saat dikompres oleh Zoya. Selama hidupnya, Brian tidak mau diobati orang lain jika terluka, terkecuali ibunya.
Brian terus memandangi wajah Zoya yang begitu dekat dengan wajahnya. Sesekali Zoya meniup luka itu sehingga membuat jantung Brian berdegup dengan kencang seketika.
"Sudah cukup!"
Karena tidak tahan lagi, Brian segera berdiri dan menjauhkan dirinya dari Zoya.
"Hei aku belum membalut lukamu tuan muda arogan."
"Tidak perlu!"
Brian kembali bersikap dingin dan segera pergi menaiki tangga menuju ke kamarnya. Sementara itu Zoya hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya karena heran melihat Brian yang tiba-tiba pergi. Padahal dia berniat baik tadi.
"Dasar aneh," gerutu Zoya, "tapi sudahlah dia kan memang seperti itu.
Zoya yang sudah mulai terbiasa dengan sikap Brian pun tidak mau ambil pusing. Dia juga segera pergi dan masuk ke kamarnya untuk istirahat. Semua yang terjadi di kampus tadi sudah membuat Zoya cukup pusing.
__ADS_1
...
Pada malam hari, tiba-tiba perut Brian berbunyi saat ia tidur. Sepertinya penyakit lamanya kumat lagi.
Dari semenjak kecil Brian memang sudah di latih dalam seni bela diri. Dia juga cukup berbakat, tapi efek dari latihannya itu membuat metabolisme tubuh Brian bekerja lebih cepat.
Dia sudah pergi ke kamar mandi dua kali tadi, tapi kali ini bunyi perut itu bukanlah panggilan alam melainkan cacingnya yang meronta-ronta minta makan.
Brian pun segera keluar dari kamar, dia melihat-lihat sekeliling rumahnya. Dan memang sudah tidak ada orang lagi yang bangun di jam 2 malam begini.
"Ah sial, perkelahian tadi telah memancing penyakit lama ku kembali lagi."
"Sekarang aku sangat lapar."
"Apa aku bangunkan saja dia."
Brian kemudian pergi ke pintu kamarnya Zoya, dia berniat ingin membangunkan Zoya agar memasak sesuatu untuknya. Brian juga tahu kalau skill memasaknya sangat buruk. Karena itulah dia tidak punya pilihan selain membangunkan Zoya. Jika dia membangunkan mpok Ratih, Brian merasa sangat segan.
Tok, tok, tok.
Zoya yang tengah tertidur pulas merasa terganggu dengan suara ketukan pintu itu. Akhirnya dia pun bangkit dan berjalan ke arah pintu dengan sempoyongan karena masih dalam keadaan separuh sadar.
"Huh, siapa sih malam-malam begini."
Zoya membuka menghidupkan lampu kamarnya dan langsung membuka pintu.
"Heeeh, tuan muda," pekik Zoya karena kaget saat melihat wajah Brian.
Dengan sigap Brian langsung menutup mulut Zoya agar dia tidak berteriak. "Sssst."
"Lepas! Kenapa kau mengetuk pintuku malam-malam begini." seru Zoya sambil menepis telapak tangan Brian yang menutupi bibirnya.
"Cepat turun, kau harus memasak untukku." seru Brian dengan nada datar.
"Hah, malam-malam begini!?"
Zoya langsung tercengang mendengar Brian memintanya memasak di jam dua malam. Bagaimana Brian bisa memaksanya begitu, Zoya juga pun butuh waktu untuk beristirahat.
"Jangan banyak tanya, aku sangat lapar. Atau kau mau aku memasak sendiri, yaudah kalau begitu."
Brian tidak memberikan Zoya bereaksi dan langsung turun kebawah. Mengingat apa yang di lakukan Brian pagi itu saat berada di dapur. Mau tak mau, Zoya akhirnya segera berlari mengejar Brian.
__ADS_1
Dia tidak akan pernah membiarkan Brian menginjakkan kaki di dapur lagi. Yang ada Brian hanya membuat kekacauan nantinya. Dan ujung-ujungnya ibunya Zoya juga yang akan membereskan kekacauan itu.