King Of School

King Of School
Bab 23


__ADS_3

Apa dia sudah tahu kebiasaan ku saat tidur, aku kan sering mengigau. Atau jangan-jangan tadi malam aku..., dia kan yang memindahkan ku tadi malam, huh pantas saja mimpiku terasa begitu nyata. Tapi aku pura-pura tidak tahu aja.


Zoya benar-benar bertempur dengan perasaanya saat ini. Dia yakin Brian pasti sudah tahu seperti apa kebiasaan buruk Zoya saat tidur. Itu benar-benar memalukan bagi Zoya. Maksudku dia bukanlah anak umur lima tahun lagi yang tidur mengigau di sepanjang malam.


Tapi Zoya pura-pura tidak tahu, dan segera membuang muka dari Brian. Lebih baik begitu dari pada nanti Brian mengejeknya karena tidur mengigau.


Saat mereka sampai di kampus, tatapan sinis dan jijik tertuju pada Zoya dan Brian. Zoya tahu kalau Vince pasti sudah menyebarkan berita tentang dirinya dengan Brian ke seluruh kampus.


"Lihat si tuan muda dan pembantunya itu, mereka sangat menempel seperti magnet."


"Ya menurut aku sih wanita itu yang kegatelan, dia pasti sengaja menggoda Brian dan menyodorkan dirinya."


"Kau benar Brian itu kan dari keluarga kaya, pasti Zoya sudah memberikan sesuatu sehingga mereka sedekat itu."


Para mahasiswi itu tak berhenti bergosip tentang Zoya. Jujur, mereka juga tidak sudi jika melihat Zoya sangat dekat dengan pria se-keren Brian.


Zoya sama sekali tidak layak, dia hanya anak pembantu. Seharusnya Brian mendapatkan wanita yang statusnya setara.


"Kau tampak murung, bukankah tadi pagi sangat ceria." Brian bertanya pada Zoya sembari menyesap kopi hangat.


Saat ini mereka sedang duduk di kafetaria. Terlihat sedari tadi Zoya sangat murung, dia seperti orang yang sudah kehilangan semangat hidup. Gosip tentang dirinya yang beredar di kampus itu telah menghancurkan mental Zoya sepenuhnya.


"Hei cerewet, biasanya kau melampiaskan amarahmu dengan makan, kenapa kau gak melakukannya sekarang." tanya Brian.


"Apa kau sama sekali tidak terusik dengan ucapan mereka?" lirih Zoya, wajahnya bagaikan bunga layu.


"Heh, masih banyak hal yang lebih penting dari memikirkan para penggosip itu." jawab Brian dengan tampang acuh tak acuh.


Mendengar Brian berkata seperti itu, Zoya memanyunkan bibirnya berlagak sok imut. Apa yang dikatakan Brian mungkin ada benarnya, kenapa dia mesti repot-repot memikirkan para penggosip itu.


Tidak lama waktu berselang tiba-tiba saja Edi temannya Zoya muncul dari belakang Brian. Dia tampak sangat terengah-engah seperti habis lari maraton.


"Zoya gawat!" ucap Edi sembari memperbaiki ritme aliran nafasnya.


"Edi, kau ini kenapa?" tanya Zoya.


"Lihat ini!"


Edi memberikan ponselnya pada Zoya dan menunjukan sebuah status sosmed milik Vince. Terlihat status itu berisi foto Zoya dengan Jhony sedang berpelukan.


"A-apa ini?" tanya Zoya dengan ekspresi tidak percaya.


"Itulah yang ingin aku tanyakan padamu?" ucap Edi. "Kenapa kau bisa ada di foto ini. Apa kau bertemu dengan Jhony kemarin?"

__ADS_1


"I-iya, aku menemui Jhony kemarin untuk membahas masalah hutang kita, tapi bagaimana bisa..."


Tiba-tiba Zoya langsung teringat kejadian kemarin. Dia kemarin memang menemui Jhony di ruang kelasnya. Zoya ingin meminta penjelasan dari Jhony, kenapa dia menagih hutang Zoya secepat ini.


Tapi bukannya mendapatkan penjelasan Jhony, Zoya hampir saja dilecehkan olehnya. Jhony tiba-tiba saja memaksa Zoya. Beruntung seketika perhatian Jhony teralihkan ke jendela kelas saat itu. Matanya tak sengaja melirik sebuah keributan yang sedang terjadi di lapangan. Itu adalah pertarungan Brian dengan Vince dan seluruh isi kampus.


Melihat perhatian Jhony teralihkan, Zoya segera menginjak kaki Jhony dan akhirnya berhasil melarikan diri.


Tapi anehnya siapa yang telah mengambil gambarnya dengan Jhony, sedangkan pada saat itu hanya ada Zoya dan Jhony di ruangan kelas.


Setelah mendengar penjelasan panjang dari Zoya tadi. Brian mengernyitkan keningnya, kemarin dia ingin mencari Zoya yang menghilang entah kemana. Ternyata Zoya menemui Jhony seorang diri.


"Zoya, karena foto ini, sekarang kau sudah di cap sebagai gadis murahan di seluruh kampus. Karena foto ini juga, semua semua orang semakin yakin dengan perkataan Vince kemarin, kalau kau telah menjual diri pada dia." jelas Edi dengan panjang lebar sembari menunjuk kearah Brian.


Brian pun langsung memberi tatapan setajam pedang pada Edi.


"Maaf," ucap Edi dan langsung membuang muka karena takut melihat tatapan mata Brian.


"Jadi kemarin kau menemui Jhony sendirian?" tanya Brian dengan serius.


"Yah," lirih Zoya, ekspresinya bertambah semakin murung.


"Aku tidak mengerti, kenapa kau begitu polos ingin menemui Jhony sendirian. Bukankah kau yang mengatakan padaku kalau Jhony itu berbahaya."


"Dia benar," sambar Edi, "eee, tidakkah kau mencurigai Vince, kemungkinan besar semua ini adalah rencana Vince. Dia sengaja meminta Jhony untuk melecehkan Zoya. Kemudian dia mengambil gambarnya, dan menyebarkannya di sosmed."


Setelah mendengar penjelasan Edi tadi, Zoya menundukan kepalanya ke bawah dan langsung menangis. Dia benar-benar tak mengira kalau ini akan menimpa dirinya, mengapa Vince sebegitu bencinya pada Zoya.


Melihat Zoya yang menangis, Brian menggenggam gelas kopinya dengan sangat erat. Dia mulai merasa geram sekarang.


"Katakan padaku di mana Jhony."


"Kenapa kau menanyakan Jhony, lebih baik kau datangi langsung Vince, kan dia yang..."


Sebelum Edi menyelesaikan ocehannya, genggaman Brian pada gelas itu semakin kuat hingga akhirnya gelas itu pecah. Kemudian dia langsung menarik kerah baju Edi dengan kasar.


Zoya tersentak kaget melihat Brian tiba-tiba saja bersikap impulsif pada Edi. Dengan segera dia berdiri dan meminta Brian agar melepaskan Edi.


"Tuan muda cukup!"


Dengan segera Brian melepaskan Edi, saat ini dia tampak begitu kesal. Bisa di rasakan saat ini aura gelap menyelimuti tubuhnya. Sementara Edi tampak sangat syok dan tidak berani berkata lagi.


"Zoya tuan muda mu itu kelihatannya sangat marah sekali, dia seperti tidak terima kalau kau di hampir di lecehkan oleh Jhony."

__ADS_1


Zoya hanya bisa termenung mendengar Edi mengatakan itu. Dia juga sangat sulit untuk mengerti tuan mudanya selama ini, kenapa Brian mau melibatkan dirinya kedalam masalah hanya untuk pembantu seperti Zoya.


Sementara itu Brian berjalan cepat di lorong kampus, ekspresinya saat ini sangat garang. Dia ingin sekali menemui orang yang bernama Jhony itu dan memberinya pelajaran karena telah berani menyentuh Zoya.


Tapi tiba-tiba langkah Brian terhenti saat melihat kerumunan di depannya. Dia pun mendekati kerumunan itu sambil menyipitkan matanya. Sepertinya di sana sedang terjadi keributan.


Tak di sangka, ternyata keributan itu disebabkan oleh Vince dan juga teman-temannya. Mereka terlihat sedang mengepung seorang pemuda yang berpenampilan seperti kaum bangsawan.


"Santai lah Jhony, tenangkan pikiranmu." ucap Vince yang sedang duduk santai di kursi.


Pria yang saat ini berdiri di hadapan Vince memilik postur tubuh tinggi dan berkulit putih. Tampaknya dia sedang menuntut sesuatu dari Vince.


"Kalau kau tidak senang denganku, maka kita bisa menyelesaikannya sekarang lagi pula aku sudah pernah mengalahkan dirimu." ucap Vince dengan ekspresi merendahkan.


"Tutup mulutmu Vince, kenapa kau mencemarkan nama baikku." teriak Jhony, wajahnya memerah karena sangat marah.


"Aku sudah bilang, bukan aku yang mengambil foto itu," jawab Vince dengan santainya, "kau juga tahu kemarin aku sedang mengurus si bodoh Brian itu, lalu kapan aku punya waktu untuk mengambil fotomu"


"Lantas kenapa foto itu bisa sampai kepadamu." tanya Jhony dengan suara membentak.


Vince kemudian berdiri dan membisikan sesuatu ke telinga Jhony.


"Sean!"


Setelah mendapat bisikan dari Vince tadi Jhony langsung pergi dari sana dengan ekspresi yang sangat marah. Dia merasa sangat tidak terima karena Vince menyebarkan fotonya dengan Zoya kemarin.


Kemarin Jhony sengaja ingin melecehkan Zoya karena kemauannya sendiri, bukan karena perintah dari Vince. Tapi dia tak menyangka ada seseorang yang berani mengambil foto itu dan menjualnya pada Vince.


"Kau benar-benar luar biasa Vince, dengan satu lemparan kau mengenai semua targetmu, sekarang mereka akan saling bertarung satu sama lain." ucap salah satu teman Vince.


"Tentu saja, siapa pun yang berani menentang diriku maka aku akan menyingkirkan mereka semua, sekarang kita lihat bagaimana si jagoan itu menghadapi Jhony dan Sean." ujar Vince.


Tidak lama kemudian Zoya dan Edi tiba-tiba muncul dari belakang Brian. Zoya dengan cepat mengejar Brian untuk menghentikannya bertemu dengan Jhony. Karena takutnya nanti Brian akan berkelahi dengan Jhony.


"Tuan muda, ternyata kau disini. Aku mohon lupakan saja masalah yang menimpaku kemarin, aku tidak ingin kau berkelahi dengan Jhony." Zoya mencoba membujuk Brian, dia kemudian menarik lengan kanan Brian untuk beranjak dari sana.


Tapi seketika Zoya terkejut saat melihat telapak tangan Brian berlumuran darah. Tampaknya gelas yang di pecahkan Brian tadi sudah melukai telapak tangannya. Namun Zoya semakin bingung saat melihat ekspresi wajah Brian, dia tampak merasa sakit sama sekali.


"Tuan muda tanganmu terluka," seru Zoya khawatir.


"Jhony dan Vince juga bermusuhan!?" ucap Brian sambil menatap Vince yang beranjak pergi.


"Apa kau baru tahu? Kau bukan satu-satunya, masih ada tiga orang lagi di kampus ini yang tidak menyukai Vince." celetuk Edi.

__ADS_1


"Apa?" sontak Brian langsung mengalihkan pandangannya kearah Edi.


...****************...


__ADS_2