
*═══❉্͜͡💓Mutiara Hikmah.💓❉্͜͡═══*
Sebenarnya kesulitan yang kita alami sejatinya adalah jalan untuk mendapatkan kemudahan yang jauh lebih besar. Dibutuhkan kelapangan hati agar kita bisa melewati berbagai kesulitan dan cobaan yang menimpa.
Libatkanlah Allah dalam setiap urusan
Karena Allah mampu mengubah MUSTAHIL menjadi MUNGKIN
"Hasbunallah wanikmal wakill..
Hanya kepada Allah aku berharap"
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•═══════•❉্᭄͜͡💕❉্᭄͜͡•═══════•
Semenjak Adnan, berada di kepulauan kecil KA, karena harus menjaga istri dan anak-anaknya. Membuat Fadhil harus menggantikan pekerjaan Adnan selama ia masih berada di kepulauan kecil tersebut. Dan itu Artinya, kesibukannya menjadi doubel. Sehingga ia tidak punya waktu untuk istrinya.
Yaa karena perkerjaannya begitu banyak. Fadhil harus berangkat pagi sekali dan akan pulang disaat istrinya sudah tertidur. Bahkan terkadang ia tak sempat pulang, karena terlalu capek bila harus mondar mandir pulang. Karena memang posisi kantor dan rumahnya amatlah jauh butuh waktu satu jam lebih untuk menepuhnya bila menaiki mobil.
Karena merasa terabaikan, membuat Billa menjadi sensitif. Apalagi saat ini kehamilannya yang sudah memasuki usia enam bulan. Usia yang biasanya membutuhkan perhatian dari sang Suami. Namun tak ia dapatkan, karena memang kesibukannya Fadhil. Sehingga ia tidak sempat memberikan perhatiannya kepada istrinya.
"Loh, Neng Billa mau kemana? Tumben pagi-pagi sudah terlihat rapih Neng?" tanya Mbok Inah, saat melihat Billa yang terlihat sudah rapih dan dilengkapi juga dengan tas sandangnya, yang sudah berada di bahunya.
__ADS_1
"Billa, mau kerumah sakit Mbok, mau periksa kehamilan," balas Billa, sambil ia mengambil segelas susu yang memang sudah disediakan oleh Mbok Inah. Dan kemudian ia pun meneguk susu tersebut.
"Ooh, apakah Eneng sudah ngomong sama Den Adhil?" tanya Inah, terlihat penasaran karena setahunya, setiap Billa memeriksa kehamilannya, maka Fadhil akan selalu menemaninya.
"Gimana mau ngomong Mbok, orang dia saja seperti tidak punya waktu untuk Billa, atau mungkin dia sudah melupakan Billa kali Mbok!" balas Billa, dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.
"Hus, jangan ngomong gitu akh Neng, kan Den Adhil, kerja keras juga buat Neng dan si kecil nantinya Neng. Lagian dia seperti itu, karena menggantikan Den Adnan Neng," ujar Inah memberikan pengertian pada Billa.
"Humm.. tapi Billa tidak butuh itu Mbok! Sudah ya Mbok, Billa mau langsung berangkat saja," ujar sembari ia bangkit dari duduknya.
"Eh, Enengkan belum sarapan Neng?" sentak Inah saat melihat Billa yang sudah mulai berjalan menuju pintu.
"Billa sudah kenyang minum susu Mbok, ya Billa pergi ya, Assalamu'alaikum Mbok," ucap Billa yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban salamnya dari Inah.
"Eh, Astaghfirullah Neng, tunggu Neng, Mang Ujangkan lagi kepasar jadi mobilnya belum pulang Neng!" seru Inah yang terlihat, sedikit mengejar Billa, yang terlihat sudah berjalan menuju pintu gerbang rumahnya.
"Astaghfirullah Neng, jangan nekat, nanti Den Adhil marah sama si Mbok Neng!" seru Inah yang terlihat ingin menahan kepergian Billa.
"Tidak akan Mbok, ya sudah Billa pergi ya Assalamu'alaikum" pamit Billa yang ternyata ia sudah menyetop taksi yang lewat, dan ia langsung menaikinya. Tak berapa lama mobil taksi pun melaju pergi. Membuat Inah tak bisa mencegah kepergian Billa lagi.
"Yaa Allah, Neng Billa, nekat banget sih! Semoga Allah melindungi Neng Billa, Aamiin. Sekarang sebaiknya aku telpon Den Adhil saja! Karena neng Billa begitukan gara-gara dia!" gerutu Inah, sembari ia mengambil telpon genggamnya. Setelah itu ia pun langsung menghubungi Fadhil.
...*****...
__ADS_1
Sementara dikantornya Adnan, terlihat Fadhil begitu fokus dengan layar laptopnya. Ia memang terlihat begitu sibuk, pada pekerjaan. Di saat ia masih fokus bekerja, tiba-tiba terdengar bunyi suara ponselnya. "Haiis, siapa lagi sih! Ganggu konsentrasiku aja sih!" gerutunya sambil ia mengambil benda pipihnya yang berada dimeja.
"Mbok Inah? Ada apa dia meneleponku?" gumamnya, yang kemudian ia langsung menerima pesanan Inah.
"Assalamu'alaikum Mbok, ada apa?" tanya Fadhil setelah sambungan terhubung.
"Wa'alaikumus salam Den, itu Den neng Billa, katanya pergi kerumah sakit untuk periksa kehamilannya. Tapi dia pergi naik taksi Den, juga tadi dia nggak mau sarapan," balas Inah di sebrang menceritakan semuanya pada Fadhil.
"Apa! Kenapa Mbok tidak mencegahnya sih! Emangnya mang Ujang kemana Bi? Sampai istriku naik taksi!" tanya Fadhil, dari nada bicaranya terdengar marah.
"Mang Ujang tadi si Mbok suruh belanja den, karena, si Mbok pikir Neng Billa nggak akan pergi," jelas Inah merasa bersalah.
"Ya sudah Mbok, biar Aku saja yang menyusulnya kerumah sakit tempat biasanya dia priksa deh. Kalau begitu aku tutup ya Mbok, Assalamu'alaikum!" ucap Fadhil, dan langsung ditutup tanpa menunggu jawaban dari Inah.
"Haiis.. kenapa bocah itu nggak ngomong sama aku sih? Kalau hari ini adalah jadwal periksanya!" gerutu Fadhil, sembari ia bangkit dari kursi kebesarannya. Setelah itu ia langsung mengambil jasnya yang ia sampiri di sandaran kursinya. Setelah itu pun langsung bergegas pergi. Terlihat juga ia berjalan begitu terburu-buru.
Bahkan, ia juga membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nampak jelas, ada kecemasan dari raut wajahnya. Apalagi peristiwa Kirana masih melekat dalam ingatannya. Jadi otomatis perasaan cemas, khawatir serta rasa ketakutan Fadhil, semakin besar.
Sehingga, saat mobil telah terparkir, ia langsung berlari, menuju ruang dokter spesialis kandungan. Setibanya diruangan tersebut, ternyata yang di carinya tidak ada. Karena penasaran akhirnya ia pun bertanya pada sang dokter.
"Permisi Dok, apakah pasien yang bernama Salsabila, sudah memperiksakan kandungannya Dok? tanya Fadhil terlihat penasaran.
"Sepertinya belum datang Pak, hari ini memang waktunya jadwal dia priksa Pak," balas sang Dokter. membuat Fadhil semakin cemas.
__ADS_1
"Eh, Kemana si Billa? Apa dia masih dijalan ya?"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...