KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI

KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI
PINGIN PUNYA ANAK LIMA.


__ADS_3

┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah🤍❀◆•✾••┈


"Gembok tidak pernah dibuat tanpa kunci .


Demikian Allah tidak pernah memberikan masalah tanpa solusi."


So tetap berusaha, berdo'a dan bersabar in shaa Allah, setiap ujian dan masalah kita pasti ada jalan keluarnya. Semangat!


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•


Keesokan harinya, nampak sudah lebih tenang, pasalnya istri kecilnya, sudah terlihat lebih baik. Namun tetap, saja manja, bahkan semakin manja, yang makan harus disuapin, mandi harus dimandiin, yang kemana-mana harus digendong. Membuat Adnan, sudah seperti seorang ayah yang sedang memanjakan anaknya.


Melihat kemanjaan istrinya, membuat Adnan justru senang, karena itu artinya Kirana tidak mengalami trauma. Karena yang dia tahu apabila seseorang mengalami trauma. Ia akan ketakutan bila melihat seseorang yang telah menjadi penyebab traumanya. Sedangkan Kirana, tidak seperti itu, ia justru selalu ingin berada didekatnya. Dan selalu ingin bermanja-manja padanya.


"Sayang, hari ini Mas kekantor dulu ya? Kamu nggak papakan kalau Mas tinggal?" tanya Adnan yang terlihat ia telah rapi dengan setelan jas kerjanya. Sembari ia mendengar istrinya yang masih berada di atas ranjangnya.


"Humm.. Nggak mau Pak Guru, Kana nggak suka sendirian dikamar besar ini? Sebenarnya ini kamar siapa sih kok beda sama kamar yang dirumahnya Mama?" tanya Kirana yang memang ia belum mengetahui, kalau Adnan sudah membelikan rumah untuk mereka tempati sendiri. Karena memang saat memasuki rumah tersebut ia dalam keadaan tidur, di tambah ia sakit makanya ia tak begitu memperhatikan sekitarnya.


"Ini kama kita sayang, makanya kamu turun dong, biar kamu tahu, gimana isi rumah kita yang baru," balas Adnan yang terlihat masih membenarkan dasinya.


"Rumah kita?"


"Iya Sayang. Sekarang kita punya rumah sendiri, kamu mau lihat-lihat hm?"


"Nanti aja akh, takut sakit kalau jalan."


"Dicoba dulu dong sayang, kan sudah dua hari," rayu Adnan, yang kemudian ia menghampiri istrinya, yang sedang duduk bersandar di dipan ranjangnya.


"Kalau sakit gimana?"


"Yaa Mas gendong lagi, Sayang" ucap Adnan dengan lembut penuh kesabaran.


"Ya udah, tapi bantu Kana turun," balas Kirana terdengar manja.


"Iyaa sini Mas bantu" kata Adnan yang kemudian, ia membantu istrinya turun dari tempat tidurnya. "Sekarang coba jalan dengan perlahan yaa," lanjutnya sembari ia memegang tangannya Kirana, setelah ia turun dari ranjangnya.


"Hu'um," ucapnya seraya ia mulai melangkahkan kakinya dengan perlahan-lahan.


"Gimana Sayang? Apakah masih sakit hm?" tanya Adnan masih terlihat cemas.


"Eh, udah nggak sakit kok Pak Guru," ucap Kirana dengan wajah terlihat senang.


"Alhamdulillah, Mas senang dengarnya, ya sudah sekalian kita sarapan dibawah ya sayang," ajak Adnan yang masih memegang tangan istri kecilnya.


"Hu'um" Kirana pun mengikuti langkah suaminya, namun masih dengan perlahan, karena walau bagaimanapun, masih sedikit ngilu bila ia berjalan agak, cepat sedikit.


"Hah? Ini benaran rumah kita Pak Guru?" tanya Kirana saat mereka, sedang menuruni anak tangga. Ia terlihat begitu takjub, saat melihat sekeliling rumah rumah barunya.

__ADS_1


"Iya Sayang ini rumah kita, kenapa hm?"


"Nggak papa sih, tapi kok besar banget Pak?"


"Emang kenapa kalau besar hm? Apakah kamu tidak suka?"


"Suka kok, tapi Kitakan cuma berdua, kenapa rumahnya sebesar ini sih Pak?" protes Kirana, yang terlihat heran, dengan pemikiran suaminya.


"Sayang, saat ini kita memang hanya berdua. Tapikan suatu saat kita juga akan memiliki anak Sayang. Emangnya kamu tidak ingin merasakan menjadi ibu hm?"


Mendengar perkataan suaminya, tiba-tiba jantung Kirana berdetak kencang, saat Suaminya menyebutkan Anak, dan apalagi saat ia mendengar pertanyaannya yang terakhir. Sehingga ia tak mampu membalas pertanyaan sang Suami.


Melihat istrinya yang hanya terdiam, sambil memandang dirinya. Membuat Adnan jadi penasaran. "Kenapa diam Kana? Jawab dong pertanyaan Mas. Apakah kamu tidak ingin menjadi seorang Ibu hm?" tanyanya lagi mengulangi pertanyaannya yang tadi.


"Eh, hmm.. emangnya Kana bisa jadi ibu pak?" tanya Kirana balik, dengan wajah terlihat begitu polos.


"Bisa dong Sayang, asalkan kita selalu berusaha dan berdoa, in shaa Allah, kamu juga akan bisa menjadi ibu juga," ucap Adnan dengan lembut sembari ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Kirana.


"Benarkah Pak?" tanya Kirana lagi, yang sepertinya belum begitu yakin kalau ia bisa menjadi seorang ibu.


"Benar dong sayang, emangnya kalau Allah mengizinkan kita punya anak, kamu ingin minta berapa Sayang?" tanya Adnan kembali.


"Kana pingin punya anak lima Pak," ucap Kirana semangat hingga matanya terlihat begitu berbinar.


Mendengar jawaban dari Istri kecilnya, membuat Adnan sedikit kaget. soalnya ia tak menyaka karena saat ia memberikan pertanyaan pertama kalinya, wajah Kirana, terlihat kaget, dan seakan ia tak suka dengan pertanyaannya.


"Eh, kok banyak banget Sayang? Dua sajakan sudah cukup Sayang," balas Adnan.


"Ay! Tegas banget sih? Oke, tapi kasih dong alasannya kenapa kamu ingin memiliki anak lima hm?" tanya Adnan yang begitu penasaran.


"Sepi Pak kalau cuma dua, lihat aja tuh Mama, kalau Papa kerja, Astrid pergi, terus Pak Guru juga nggak ada, Mama jadi kesepian Pak. Kana juga jadi ingat Bunda, yang cuma ada Kana pasti lebih sepi. Pokoknya nggak enak jadi anak tunggal!" jelas Kirana. Membuat Adnan kaget, Ia tak pernah berpikir kesana, karena ia memang tak pernah tahu perasaan Mamanya selama ini.


"Dari mana kamu tahu kalau Mama kesepian Kana?" tanya Adnan jadi penasaran.


"Ya tahulah Pak! Karena Kana juga sering merasa kesepian, apalagi setelah Bunda pergi Kana jadi benar-benar kesepian" jawab Kirana, dengan spontan wajahnya langsung berubah sendu.


Adnan yang melihat itu langsung memeluk istrinya. "Jangan, berkata seperti itu Sayang, masih ada Mas disisinya kamu, yang akan selalu menemanin kamu kok," ucapnya didalam pelukannya.


"Hum, apaan? Bohong pun ini aja Pak Guru mau ninggalin Kanakan?" protes Kirana sambil mencibirkan mulutnya.


"Eh, tapikan mas pergi karena kerja sayang, dan itu semua untuk kamu jugakan, apalagi, kamu menginginkan anak kita lima, berati Ayahnya harus bekerja keras sayang untuk mereka nanti. Terkecuali kamu mau menguranginya, sayang," ujar Adnan, yang sebenarnya ia ingin menguji keteguhannya yang menginginkan anak lima.


"Nggak mau! Pokoknya Kana mau Anaknya lima titik!" tegas Kirana. Membuat Adnan langsung menepuk jidatnya.


"Alamak! Harus lebih ekstra nih kayaknya!"


┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰

__ADS_1


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏


•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•


Oh iya, selagi menunggu Author update, kunjungi yuk, Novelnya Author 💓Rini Sya💓 temannya Author, yang In shaa Allah ceritanya seru loh guys. Lihat aja dari covernya bikin penasarankan...?



Biar tambah penasaran author kasih deh Cuplikannya cus cekidot! 😉👇


┈••✾•◆❀MANTAN TERINDAH❀◆•✾••┈


Cuplikan di Bab: PENYESALAN.


Zein menangis dalam diam. Nyatanya perpisahan ini sungguh menyakitkan baginya.


Zi, wanita yang ia nikahi, lalu ia ceraikan itu ternyata telah pergi meninggalkan kota ini, sesaat setelah menerima akte cerai darinya.


Zein terlambat.....


Semua teman-teman kerja sang istri yang ia kenal, bungkam. Tak ada satu pun di antara mereka yang mau memberi tahu ke mana wanita itu pergi. Karena mereka memang tidak tahu ke mana Zi pindah.


Zein tidak semudah itu percaya.


ia pun langsung pergi ke bagian administrasi. Bertanya pada bagian tersebut.


Namun lagi-lagi mereka juga tidak bisa membantunya. Karena menurut info, kepindahan Zi tidak ada sangkut pautnya dengan pihak rumah sakit, yang artinya Zi mengundurkan diri. Bukan dipindah tugaskan. Atau, mereka berbohong. Entahlah.... nyatanya, info yang Zein dapatkan memang demikian.


"Ke mana kamu, Zi?" tanya Zein dalam diamnya. Zein kembali berlari menuju mobilnya, ia yakin kalau Zi pasti pergi ke rumah keluarganya yang ada di kampung. Zein pun berniat menyusul wanita itu ke sana.


Sayangnya, setelah sampai di sana, Ia tak menemukan wanita yang ia cari. Zi tidak ada. Mereka malah menjamu Zein dengan sangat baik. Membuat Zein semakin merasa bersalah.


Zein tidak berani bertanya kepada mereka, karena mereka pasti akan menghakiminya. Menangih janji yang telah ia ikrarkan saat ijab qobul itu. Kali ini Zein benar-benar merasa seperti pecundang bodoh yang mengingkari janjinya. Janji untuk menjaga Zi, janji untuk melindungi Zi, janji untuk membahagiakan Zi. Semua ia ingkari.


Tak ingin berlama-lama di kampung keluarga, Zi. Zein pun memutuskan kembali ke Jakarta. Kembali ke rumah. Rumah di mana ia dan Zi pernah tinggal.


Perlahan, Zein masuk ke dalam kamar tersebut. Kamar yang biasanya di penuhi oleh aroma Zi selepas mandi. Aroma yang bisa membuatnya sangat-sangat tenang. Tak dipungkiri, bahwa Zein sangat merindukan aroma itu.


"Zi, aku rindu," gumam Zein sembari memeluk bantal yang biasanya Zi gunakan untuk tidur. Beberapa kali Zein terlihat mencium bantal tersebut.


Zein lagi-lagi menangis. Merindukan kebersamaan dengan Zi di kamar ini.


┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈


Hayooo pasti penasarankan 🤭

__ADS_1


cus Akh kepoin yuk, dan jangan lupa berikan dukungannya juga yaa 🥰 Syukron 🙏🥰


__ADS_2