
┈••✾•◆❀🤍 Kalam Habaib.🤍❀◆•✾••┈
❝Jika kamu Mencintai seseorang Karena الله Dan kamu Tidak tahu Alasannya, ketahuilah Bahwa الله mencintainya Dan memerintahkan Hatimu untuk Mencintai nya❝.
__Habib Muhammad Luthfi bin Yahya__
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
Karena kelakuan istrinya, otomatis tubuh Adnan bereaksi sangat pesat. Membuat ia sulit untuk menahan hasratnya. Namun ia masih berusaha menghindari, karena ia ingin melakukan sesuatu yang spesial dulu buat Kirana.
"Kana jangan seperti ini!" kata Adnan, sembari ia mendorong kaki Kirana yang berada diatas bagian sensitifnya, dan setelah itu ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari kakinya Kirana.
Kirana yang sepertinya tak terima kakinya dijauhi oleh Adnan, langsung mengigau sambil ia mendekati kembali kakinya ke Adnan. "Iiikh.. jangan dijauhi Pak Guru!" rancaunya manja, dengan bibir yang terlihat memanjang membuat Adnan gemas. Namun saat ia sedang memperhatikan bibir istrinya, ia tak memperhatikan Kaki Kirana yang kini kembali mendarat diatas bagian sensitifnya lagi, yang saat ini masih mengeras akibat ulahnya yang tadi.
Alhasil, Adnan langsung terpekik karena yang menimpa adeknya bukan kaki Kirana, melainkan pahanya yang lumayan besar dari kakinya.
"Aakh..! Dasar Gadis nakal!" pekik Adnan, sambil menepuk paha Kirana yang berada di atas adiknya. Membuat Kirana otomatis terbangun, karena Adnan memang memukul pahanya sedikit kuat. Dengan wajah polosnya khas orang bangun tidur, Ia nampak bingung mengapa ia di pukul ditambah lagi ia melihat Adnan dengan wajah meringisnya sambil memegangi bagian sensitifnya.
"Kenapa Pak Guru memukul Kana sih? Sakit tau Pak Guru!" protes Kirana dengan wajah polosnya, sambil ia mengelus bagian pahanya, yang tadi dipukul oleh Kirana.
"Itu karena kamu sudah menyiksa adikku Kana!" balas Adnan dengan suara yang tertahan, seperti ia sedang menahan sesuatu.
Kirana mengerenyit, ia terlihat semakin bingung. "Adik?" ucapnya, dengan wajah polosnya ia melihat sekeliling kamar yang nampak asing olehnya. "Mana Adiknya Pak Guru?" tanyanya lagi masih dengan wajah polosnya.
Mendengar pertanyaan Kirana, yang polos Adnan langsung menepuk jidatnya. "Alamaaaak...! Adnaaan..mengapa kamu punya bini terlalu polos siiih!" gerutu Adnan dengan gigi yang menyatu gemas, dengan suara geremengn geram pada istri kecilnya itu.
__ADS_1
Kirana yang melihat wajah suaminya yang terlihat aneh dimatanya, membuat ia semakin penasaran. "Pak Guru kenapa? Dan itu, Adiknya Pak Guru mana Kana kok nggak lihat?" tanyanya masih polos.
"Saya nggak papa! Sudah lupakan saja!" jawab Adnan ketus, sambil ia bangkit dan bermaksud pergi ke kamar mandi untuk meredamkan gejolak hasrat yang masih ada. Dengan tangan masih memegang bagian sensitifnya yang masih mengeras dan juga masih terasa sakit ia mulai berjalan ke kamar mandi.
"Pak Guru marah yaa sama Kana?" tanya Kirana terdengar sedih. Membuat Adnan mengehentikan langkahnya sambil menoleh kearah istrinya yang terlihat sudah berkaca-kaca.
"Tidak Kana, Mas tidak marah kok, Mas cuma ingin kekamar mandi doang," balas Adnan terdengar datar, yang kini posisi sudah berada didepan pintu kamar mandi.
"Iya Pak Guru marah! Kelihatan mah Pak Guru lagi marah sama Kana. Pak Guru benci Kanakan?" tanya Kirana dengan suara terdengar sedih. Hingga tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja.
Adnan yang melihat itu langsung mengusap kasar wajahnya. "Haiis! mengapa jadi begini sih!" batin Adnan. Karena ia memang tidak bisa melihat Kirana menangis akhirnya ia kembali menghampiri istri manjanya itu.
"Sayang, nggak ada yang marah sama kamu, apalagi membenci kamu, itu nggak mungkin Kana" jelas Adnan yang kini ia sudah kembali duduk di atas ranjang mereka, sembari ia mengusap air mata Kirana.
"Kalau tidak marah hiks.. kenapa tadi Pak Guru memukul paha Kana? Lihat nih paha Kana merah karena dipukul sama Pak Guru," balas Kirana, yang dengan polosnya ia menunjukkan paha putih nan mulusnya pada Adnan tanpa malu sedikit pun, membuat Adnan yang melihatnya langsung menelan silvanya dengan paksa.
"Pak Guru bohong! Orang disini cuma kita berdua kok! Nggak ada Astrid poin disini!" balas Kirana polos, sembari matanya juga melihat sekeliling kamar saat ia menyebutkan nama adik perempuannya Adnan.
"Bukan Adikku yang itu karena..!" geram Adnan yang kembali ia berkata sembari menyatukan giginya, yang menandakan ia sangat gemas pada istrinya yang amat polos itu.
"Hah? Emang pak guru punya adik yang lain lagi?" tanya Kirana lagi, dengan wajah terlihat kaget.
"Tidak ada! Hayaa..Apa yang katakan padamu Kana? Bukan adik manusia yang aku maksud Kana," balas Adnan, sembari ia menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal itu dengan kedua tangannya. ia nampak frustasi dengan kepolosan istrinya itu.
"Hah? Lalu adik yang mana Pak Guru?" tanya Kirana lagi, masih dengan wajah polosnya. yang kini wajah itu terlihat sangat bingung.
__ADS_1
"Adik yang ini Kana!" kata Adnan sembari ia menunjukkan bagian bawahnya yang nampak masih mengeras, sehingga terlihat seakan ingin menembus kain yang menutupinya.
Melihat itu, rasa penasaran Kirana semakin besar, sehingga dengan polosnya ia langsung memegang bagian sensitifnya Adnan seraya bertanya polos. "Eh, mengapa jadi bengkak begini Pak Guru? Maafkan paha Kana ya karena, membuat adik pak Guru jadi bengkak" ucapnya polos.
Mata Adnan langsung terbelalak saat, Kirana tanpa ragu memegang adiknya. Namun saat Kirana mulai mengelus serta memberikan pijitan kecil membuat Adnan tidak bisa lagi mengendalikan tubuhnya.
"Uugh...Kanaaa akuu.. sudah tidak bisa.. hum... menahannya..! Jadi kamu harus bertanggung jawab!" ujar Adnan, dengan suara yang terdengar berat, dan dengan spontan ia langsung mendorong tubuh Kirana, sehingga Kirana langsung terlentang dengan wajah yang terlihat polos. lalu ia merangkak diatas tubuhnya Kirana
"Pak Guru kenapa?" tanya Kirana bingung.
"Kana, aku ingin memiliki kamu seutuhnya, bolehkah Kana?" tanya Adnan dengan mata yang sudah memerah menahan hasratnya.
"Ya boleh dong Pak Guru, Kanakan memang miliknya Pak Guru," balas Kirana polos tanpa memahami perkataan arti memiliki seutuhnya.
Setelah mendengar jawaban Kirana, Adnan terlihat senang, dan ia pun bermaksud memulai perpetualangannya. "Assalamu'alaikum istriku" ucap Adnan dengan suara yang masih terdengar berat.
Walaupun sedikit bingung, namun Kirana tetap membalas salam suaminya. "Wa'alaikumus salam Pak Guru" balas karena Kirana yang wajahnya terlihat bingung melihat suaminya dengan posisi di atas tubuhnya dengan tangan tertahan sehingga tubuh mereka masih berjarak.
Setelah mendapatkan jawaban salamnya, Adnan mulai mengecup lembut dahi Kirana, turun ke kedua matanya lalu berpindah ke kedua pipinya, lalu pindah kepucuk hidungnya Kirana. Setelah itu ia pun meraih bibir ranum kirana. Jantung keduanya berdegup kencang. Terutama Kirana yang sedikit kaget, namun karena Adnan pandai membimbingnya membuat ia ikut menikmati tautan yang diciptakan oleh suaminya. hingga tanpa terasa tangannya kini sudah melingkar di lehernya Adnan, Lalu.....
Bersambung akh..😜 🤭
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
Sebenarnya Author mau doubel up. Tapi author perhatikan, setiap doubel, yang up pertama selalu dilangkahi mah🙄🙄 tanpa meninggalkan jejak 🙄 Makanya like di up pertama lebih sedikit dari pada Up yang terakhir. Jadi membuat author males deh Dauble updated.🙄🙄
__ADS_1
Tapi lihat nanti deh kalau author lihat Vote nambah dan banyak like dan komentar, author akan up lagi nanti.
Jadi terus dukung author yaaa😉🥰 Syukron 🙏🥰.