
┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah.🤍❀◆•✾••┈
"Kesabaran itu ibarat payung. Meski tak membuat hujan berhenti. Namun bisa membuat kita terus melangkahkan kaki
Terkadang lisan sangat mudah mengucapkan Sabar namun hati berkata lain. Tetapi tak mengapa! Setidaknya ada usaha yang dilakukan untuk menuju sabar yang benar-benar sabar, baik dihati, lisan, dan perbuatan
So, jangan lelah menjadi baik, berbuat baik, dan menebar kebaikan.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
"Kenapa? Karena Kana Sekarang sudah menjadi Calon Ibu!" tegas Adnan, membuat Billa langsung memandang sahabatnya, seperti ingin mencari kebenarannya.
"Iya Billa. Sekarang diperut gue ada tiga bayi," ujar Kirana, menjawab tatapan Billa, dengan antusias.
"Aaah, benarkah? Gue mau jadi tante dong!" teriak Billa, sembari ia bermaksud ingin memeluk Kirana. Namun, dengan sigap Adnan langsung memeluk istrinya terlebih dahulu.
"Stop disitu! Pelukan kamu sudah saya wakili!" kata Adnan dengan wajah datarnya.
"Iiiss! Pak Guruuu! Pelit banget sih! Sayakan, cuma ingin memberikan selamat pada Dhita!" protes Billa, dengan memasang wajah kesalnya pada Adnan.
"Terimakasih, atas ucapannya! Tapi saya rasa tidak perlu berlebihan, karena bisa membahayakan anak kami!" balas Adnan dingin. "Tapi tunggu dulu! Mengapa kalian bisa datang secara bersamaan? Dan Lo Fadhil, mengapa kamu kesini? Bagaimana bisa kamu meninggalkan perusahaan, selagi gue nggak ada hah?" tanya Adnan dengan wajah yang terlihat penasaran.
__ADS_1
"Emangnya kenapa kami datang kesini! Emang hanya Pak guru saja yang boleh Honeymoon disini? Kamikan juga punya hak untuk honeymoon, pak!" kata Billa, dengan lantangnya, karena ia memang masih terlihat kesal sama Adnan, karena ia tidak dibolehkan memeluk Kirana.
"Apa! Honeymoon?!" sentak Adnan dan Kirana secara bersamaan dan dengan spontan wajah keduanya mengarah ke wajah Fadhil, dengan tatapan tajam, yang sudah pasti keduanya seperti meminta penjelasan darinya.
Fadhil langsung tersentak tatkala ia mendapatkan tatapan yang tajam dari pasutri itu. "Eh! Kenapa kalian berdua menatap gue seperti itu sih?" tanyanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatel tersebut. Sebenarnya ia tahu kalau sebenarnya Adnan dan Kirana meminta penjelasan darinya. Namun Ia sengaja berpura-pura tidak tahu.
"Haruskah, gue cari tahu sendiri hah?!" tanya Adnan dengan memasang wajah yang amat dingin pada Fadhil, membuat Fadhil langsung bergidik, karena itu tahu kalau perkataan Adnan bukan hanya perkataan yang biasa saja. Yaa sudah pasti itu adalah sebuah ancaman juga bagi Fadhil.
"Eh, santai bro! Iya gue ngaku, kalau bocah rese ingusan ini sekarang sudah menjadi bini gue!" ujar Fadhil, yang akhirnya mengakui, tentang hubungannya dengan Billa.
"Apa! Kok bisa?" sentak Adnan dan Kirana yang lagi-lagi, terdengar serentak.
"Cerita panjang, nanti saja gue ceritainnya, soalnya gue capek, sepuluh jam tanpa tidur, jadi gue ngantuk banget,'' balas Fadhil, yang memang wajah terlihat amat lelah.
"Enak aja kalian berdua bilangin gue bocah rese! Hei Bapak-bapak tua yang terhormat! Saya punya nama yaa! Dan Nama saya Salsabillah!" cetus Billa terlihat kesal pada kedua laki-laki dihadapannya dan juga yang ada di sampingnya.
Mendengar perkataan Billa yang mengatakan, Bapak-bapak tua, dengan spontan Fadhil maupun Adnan langsung berpandangan.
"Huh! Tahu, nih para lelaki! Sembarangan aja ya mengatain orang, dan kamu Biby, ingat! Kalau istrinya Biby ini berumur sama dengan Billa! Jadi Bibiy mengata-ngatai Billa, sama saja Biby mengatain Kana tahu!" tegur Kirana, yang sepertinya ia juga tak suka saat mendengar Fadhil maupun Adnan mencela sahabatnya.
"Ayo Billa, kita tinggalkan kedua lelaki tua ini Disini!" lanjut Kirana, yang kemudian ia langsung menarik tangan Billa, yang kemudian ia membawanya ke kamar miliknya dan Adnan.
"Loh Sayang, kok Byby, ditinggal sih! Maafin Byby Sayang," ujar Adnan yang bermaksud mengikuti Kirana dan Billa. Namun dengan cepat, Kirana langsung mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
"Sayang, buka dong pintunya! Byby minta maaf Sayang!" teriak Adnan sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar hotel mereka. Namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Haiis...Celaka! Ini semua gara-gara Lo lelaki tua!" tuding Adnan, terlihat kesal.
"Eh, kok gue sih? Perasaan yang paling tua juga Lokan!" protes Fadhil yang sepertinya tidak terima dituding oleh Adnan.
"Diam Lo! Ini juga gara-gara lokan? Ngapain coba Lo ikutan honeymoon di sini hah? Kan banyak tuh tempat yang lainnyakan!" ujar Adnan terlihat begitu kesal.
"Lah kok jadi nyalain gue! Asal Lo tahu ya, gue tadinya juga nggak mau, tapi Bokap Lo yang maksa bro! Ya mau nggak mau ya harus maukan?" jelas Fadhil yang terlihat nggak mau disalahkan oleh Adnan.
"Hah, Sudahlah! Biarkan saja mereka bersama! Tapi setelah ini, Lo bawa Bini Lo jauh-jauh dari bini gue, paham!" seru Adnan masih kesal. Tapi ngomong-ngomong dimana dimana kamar Lo?" tanyanya lagi.
"Ya ini kamar gue!" kata Fadhil sembari menunjuk sebuah pintu kamar hotel tepat di sebelah kamarnya.
"Apa kamar pun bersebelahan? Tambah gawat dong nih!" sentak Adnan sambil ia menepukkan keningnya.
"Ya mana gue tahu! Lo tanya sana sama bokap Lo, mengapa beliau ngasih faucer hotel yang sama, dan bahkan dengan kamar bersebelahan." balas Fadhil, Sembari ia membuka pintu kamarnya. Lalu ia pun langsung masuk, dan bermaksud ingin menutupnya kembali.
"Woy! Enak aja Lo mau ninggalin gue diluar hah! Setelah Lo dan bini lo bikin ulah!"
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dengan VOTEnya Dong biar semangat nih. 😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah serta komentarnya ya guys 😉.
__ADS_1