
Setelah menghabiskan segelas Wine putih, Hani merasakan kepalanya pusing. Bahkan ia juga merasakan hal yang aneh pada tubuhnya. Seketika Hani langsung menatap Dalton, yang terlihat sedang senyum seringai, kearahnya membuat Hani jadi curiga.
"Brengsek! Sepertinya ada yang nggak beres dengan minuman itu! Dasar laki-laki sialan!" batin Hani seraya ia menatap Dalton, dengan tatapan ingin menghabiskannya.
Mendapatkan tatapan yang begitu tajam, membuat Dalton kembali tersenyum tipis. Karena dipandanganya Hani begitu menggemaskan, sehingga ingin rasanya ia segera membawanya. Namun, ia tetap harus sabar menunggu, karena ia tahu, kalau masih berusaha agar tetap tersadar.
"Mengapa kamu menatapku seperti itu Honey? Apakah aku tampak tampan di matamu hm?" tanya Dalton, terlihat begitu santai.
"Cih sungguh memuakkan! Sekarang katakan! Apa yang Anda berikan di minuman saya hah?!" tanya Hani, dengan tatapan penuh kemarahan. Dan terlihat juga ia sesekali menggigit bibirnya, nampak sekali ia sedang berusaha agar tetap tersadar.
"Hehe.. bukan apa-apa Honey, itu hanya pil kenikmatan saja. Apakah kamu, sudah ingin merasakan kenikmatan itu Honey? Jangan ditahan seperti itu Honey, nanti bibir kamu akan terluka," balas Dalton, sembari ia mendekati tubuhnya dengan Hani.
"Jangan coba-coba Kau menyentuhku! Atau aku akan membatalkan kerjasama kita!" ancam Hani, seraya ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan Dalton yang terlihat masih memandang kepergiannya.
__ADS_1
Hani terlihat berjalan sedikit terhuyung-huyung. Dan terlihat juga ia masih menggigit bibir. Bahkan bukan hanya bibirnya saja, yang ia lukai agar dia tak hilang kesadarannya. Namun ia juga meremas tangannya dengan kuat. Sehingga kuku-kuku panjangnya melukai tangannya sendiri, agar ia tetap tersadar.
Dalton yang melihat itu semakin gemas, bahkan saat Hani ingin pergi meninggalkannya ia nampak tidak rela. Sehingga saat Hani sudah beranjak pergi, tanpa sepengetahuannya Hani, Dalton mengikutinya dari belakang. Sampai pada akhirnya ia berada di luar klub malam tersebut. Ia melihat Hani, berdiri di pinggir jalan, karena sepertinya ia sedang menunggu taksi.
Dalton kembali menyunggingkan senyum seringainya. "Huh! Dasar wanita yang keras kepala! Ugh..tapi gue sangat suka itu!" gumamnya dengan tatapan, mata mesumnya mengarah ke tubuh Hani.
Karena tidak ingin mangsanya pergi, Dalton, terlihat memberikan isyarat, pada seorang pria yang tak berapa jauh dari tempatnya berdiri. Seperti paham dengan isyarat Dalton, Pria itupun bergegas menuju ke perparkiran klub malam.
Sedangkan Dalton terlihat berjalan menghampiri Hani, yang terlihat masih berdiri di pinggir jalan. "Mari saya antar Nona, karena disini bukan tempat lalu lalangnya taksi!" ujarnya saat ia sudah berdiri tepat di belakangnya Hani. Dengan spontan Hani menoleh kepadanya.
Namun baru beberapa langkah Hani berjalan, sebuah mobil Mercedes Benz berwarna hitam langsung berhenti di depannya. Membuat ia sedikit terkejut, dan belum habis rasa keterkejutannya, tiba-tiba seseorang merangkul pundaknya, sembari orang tersebut membuka pintu mobil tersebut, lalu memaksa maksa Hani masuk kedalam mobil Mercedes Benz hitam tersebut.
"Aakh! Apa yang Anda lakukan tuan Dalton!" pekik Hani, saking kagetnya ia dipaksa masuk ke dalam mobil hitam itu, yang ternyata mobil itu miliknya Dalton.
__ADS_1
"Cepat jalankan mobilnya! Langsung ke mansion!" ujar Dalton pada supirnya, mengabaikan pertanyaan Hani.
"Baiklah Tuan!" balas sang supir, dan ia pun langsung melajukan mobilnya, mengikuti titah dari tuannya.
"Hai hentikan mobilnya! Turunkan saya Tuan! pekik Hani, dengan bibir yang kini sudah berdarah akibat ia menggigitnya. Sembari ia memukuli Dalton. Namun langsung ditangkap oleh Dalton dan langsung mendorong tubuh Hani, kekursi mobilnya. Sehingga tubuh Hani terbaring di kursi mobil tersebut.
"Tenanglah Nona! Saya hanya ingin menolong kamu Nona, lepaskanlah jangan seperti ini! Kamu akan melukai bibir kamu yang cantik ini!" kata Dalton lagi, yang kini ia sudah berada di atas tubuhnya Hani. Lalu ia langsung meraih bibir Hani, yang terlihat sudah bengkak.
Hani yang memang sudah tidak bisa menahan panas ditubuhnya. Mendapatkan serangan itu membuat ia ikut terhanyut, bahkan ia terlihat lebih ganas dibandingkan Dalton.
Melihat Hani begitu gencar, Dalton, langsung melampiaskan nafsunya terhadap Hani, tanpa perduli mereka sedang berada ada di mana, yang penting pelampiasannya berhasil. Untung saja, mobil itu memiliki tirai pembatas sehingga supir pribadi Dalton tidak dapat melihat pertempuran panas Antara Dalton dan Hani
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit yaa😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.