
Melihat istrinya, ikut menikmati tautan bibirnya, Adnan semakin semangat, bahkan tangannya sudah mulai membuka resleting bajunya Kirana, yang terlihat ia masih menikmati permainan bibir suaminya, hingga ia tak menyadari kalau bajunya satu persatu sudah terlepas dari tubuhnya.
Sedangkan Kirana, yang awalnya, masih bingung dengan apa yang terjadi, kini mulai merasakan aneh pada tubuhnya. Apalagi saat Adnan mulai menelusuri leher jenjangnya. membuat tubuhnya semakin memanas hingga tanpa terasa ia mengeluarkan lenguhan, yang membuat Adnan semakin bersemangat.
Pertualangan Adnan masih berlanjut kini ia mulai memasuki area perbukitan kembar, tuk sesaat ia bermain-main disana, sesekali ia meninggal jejak hak kepemilikannya. Sedangkan Kirana yang merasakan keanehan pada tubuhnya, hanya memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya menguasai dirinya.
Namun disaat Adnan mulai meng*mut dua permen miliknya, tiba-tiba tubuh Kirana mengejang, dan ia juga merasakan sesuatu yang ingin keluar dibagian intimnya.
"Aakh..Pak Guru..hum..Kanaa...ah.. Kana mau hah..mau pipis...! Uhm.." ucap Kirana dengan suara yang terdengar bergetar, dengan tubuh yang terlihat sudah mengejang, seperti sedang menahan sesuatu.
Adnan, tersenyum tipis setelah mendengar perkataan Kirana. Karena sepertinya ia paham kalau istrinya sudah mencapai puncak pertama.
"Uhmm.. lepaskanlah sayang, jangan ditahan..umm.." balas Adnan, yang kemudian ia kembali meng*mut permen Kojeknya Kirana, membuat Kirana terpekik nikmat.
"Aakh..ah..ah..!" Kirana pun terbuai dalam pelepasan pertamanya, Adnan tersenyum puas.
Baru saja Kirana, ingin membuka matanya, Adnan, sudah kembali meraih bibir ranumnya Kirana, membuat Kirana kembali terlena dengan permainan bibir suaminya yang begitu lembut, hingga ia tak menyadari kalau pedangnya Adnan sudah mulai, mencari sarangnya.
Dengan perlahan-lahan pedang Adnan, mulai masuk kedalam sarangnya, namun saat pedang mulai hendak menerobos selaput dara Kirana. Dengan spontan Kirana berteriak, karena ia merasakan sakit di bagian intimnya.
"Kyaaa! Sakit Pak Guruuu!" pekiknya sambil mendorong tubuh Adnan dengan sekuat tenaganya. Sehingga tubuh Adnan terdorong kebelakang dan hampir saja ia terjatuh kebawah ranjangnya.
__ADS_1
Melihat tubuh Adnan terhempas kebelakang dengan spontan Kirana langsung menduduki tubuhnya, dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. "Hiks.. Sakit Pak Guru.. Kana nggak mau itu, hiks.." ucapnya sambil ia memeluk kedua lututnya.
"Maaf Kana, tapi ini sudah ditengah jalan tanggung sedikit lagi Kana," balas Adnan, yang dengan perlahan ia kembali mendekati istrinya.
"Nggak mau Pak Guru! Sakit tahu! Hiks hiks.." seru Kirana masih terisak, seraya ia menggeser tubuhnya, menghindari kedekatan Adnan.
"Mas juga merasakan sakit Sayang, tapi kita harus tetap melakukannya agar ibadah kita sempurna," balas Adnan dengan lembut, sambil ia membelai rambut Kirana. Namun langsung ditepis oleh Kirana.
"Kenapa sih Pak Guru melakukan itu hah? Biar apa coba?!" tanya Kirana terlihat begitu polos.
"Karena Mas sangat mencintai kamu Kana. Makanya itu Mas ingin memiliki kamu seutuhnya," jelas Adnan begitu lembut. Seraya ia mendekati wajahnya, kewajah Kirana, lalu ia menjilati air matanya Kirana yang membasahi pipinya. Lalu ia menyatukan dahinya ke dahi Kirana.
"Sayang, bukankah tadi kamu juga bilang, kalau kamu punya Emaskan? Jadi ayolah Sayang, kita sempurnakan pernikahan kita," lanjut Adnan lagi dengan lembut. Namun dibalas Kirana dengan gelengan kepalanya. Adnan mengusap kasar wajahnya. Ia mulai frustasi melihat penolakan istri kecilnya itu, ditambah lagi saat ia melirik kearah juniornya yang masih menegang, seperti ingin meledak.
Mendengar ucapan suaminya, Kirana melirik kearah juniornya Adnan, lalu ia melirik kearah wajahnya Adnan, yang terlihat wajahnya sudah memerah dengan dahi yang terlihat mengeluarkan uratnya, nampak sekali ia sedang menahan sesuatu. Kirana menjadi iba melihatnya.
"Tapi itu sakit banget Pak Guru," keluh Kirana lirih.
"Emas janji, akan melakukannya pelan-pelan Sayang, biar kamu nggak kesakitan lagi yaa?" rayu Adnan begitu lembut, yang kemudian ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Kirana, lalu ia kembali meraih bibir Kirana menyesapnya dengan lembut. Sembari ia kembali membaringkan tubuhnya Kirana, tatkala Kirana mulai terbuai akan permainan bibir suaminya.
Setelah dilihatnya Kirana mulai menikmati ciuman lembutnya, junior Adnan kembali mencari mahkota milik istrinya dengan perlahan. Namun masih belum sampai ia menuju si mahkota Kirana kembali terpekik.
__ADS_1
"Kyaaa...! Nggak jadi! Nggak jadi pak Guru! Sakiiit!" teriaknya sembari ia kembali mendorong tubuh Adnan. Namun dengan sigap Adnan menangkap kedua tangannya Kirana dan menahannya dengan kedua tangannya.
"Maaf sayang, ini harus tetap dilakukan biar kedepannya kamu tidak merasakan sakit lagi, malahan akan berganti kenikmatan," balas Adnan menatap lembut pada Kirana yang terlihat kesakitan, hingga ia kembali menangis. Lalu Adnan memulai kembali memaksa juniornya masuk semakin dalam membuat Kirana kembali berteriak untuk kedua kalinya.
"Aaakh! Sakiiit Pak Guru! KELUARKAN! heuhuhu.. sakiit..!" teriak Kirana sekuatnya dengan air mata yang mengalir deras dipipinya. Namun Adnan tak menghiraukan jeritan Kirana.
Kali ini Adnan membiarkan dirinya egois untuk sementara waktu. Karena didalam pemikirannya, apabila ia tak berusaha meraih mahkota Kirana sekarang. Maka nanti akan jadi trauma pada istrinya. Jadi yang ia lakukan sekarang, sebenarnya untuk kebaikan Kirana juga. Agar nantinya menjadi ladang pahala untuk dirinya juga.
Makanya saat ini ia masih berusaha membobolkan selaput dara Kirana, yang sepertinya begitu tebal. Sehingga begitu sulit untuk meraih mahkotanya Kirana. Namun Adnan tak putus asa ia masih berusaha mendorong juniornya, hingga ia merasakan, sesuatu yang robek didalam bagian intimnya Kirana, dengan dibarengi jeritan ketiganya Kirana yang semakin kencang.
"KYAAA! Umm..umm..umm.." teriaknya Kirana, namun dengan cepat Adnan menghentikan teriaknya dengan bibirnya. Ada perasaan lega dan kepuasan dihatinya Adnan Karena akhirnya, Kirana telah menjadi miliknya yang seutuhnya. Setelah ia meraih mahkotanya Kirana yang amat berharga
Setelah ia melakukan pelepasan, Adnan melepaskan tautan tubuhnya dari Kirana, dan menjatuhkan tubuhnya disisinya Kirana yang masih menangis, karena ia masih merasakan sakit yang teramat sangat dibagian intimnya.
"Terimakasih Sayang, karena kamu telah menjaga mahkota berhargamu untuk Emas. Dan maaf Mas sudah membuat kamu kesakitan," ucap Adnan dengan nafas yang masih tersengal-sengal, sembari ia bermaksud mengecup dahinya Kirana. Namun Kirana langsung mendorong wajah suaminya, dengan tatapan kemarahan pada Adnan.
"Sanaaa! Kana benci Pak Guru! huhuhu..hiks..hiks..!"
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
Haiis... gara-gara Kana Author jadi sedikit Nakal di novel ini 😔 maaf ya guys diepisode ini author sedikit lari dari kebiasaannya Author. Semoga kalian jangan salah kaprah sama author ya, Author melakukan ini karena ingin menggambarkan setiap wanita memiliki sifat yang berbeda. Jadi jangan berburuk sangka ya akan perubahan karakternya Author oke.😉
__ADS_1
SO, JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰 Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author. Dan LIKE Bila inggin memberikan semangat. "KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏