
Seminggu telah berlalu.
Satu Minggu sudah Kirana berada satu apartemen dengan Adnan. Ia juga sudah mulai terbiasa dengan keberadaan Adnan. Namun tetap setiap dekat dengan Adnan, jantung Kirana semakin berdetak tidak menentu. Apalagi saat Adnan yang selalu rutin mengontrolnya dalam pelajarannya. Membuat Kirana malah tak fokus dalam belajar. Makanya setiap ada PR ia lebih memilih mengerjakannya di sekolah.
Sudah satu Minggu juga Kepsek TB, merayu Kirana agar ia mau mengikuti olimpiade bela diri antar sekolah. Namun selalu saja di tolak olehnya. karena Kirana tetap pada pendiriannya yang tak ingin mengikuti lagi, turnamen tersebut. Karena sudah bingung Kepsek pun memanggil Adnan selaku walinya Kirana. Dan Adnan pun datang ke sekolahnya Kirana untuk memenuhi panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum Pak Baskoro," salam Adnan saat ia memasuki ruangan Kepsek.
"Wa'alaikumus salam Pak Adnan syukurlah ada langsung datang, ketika saya memintanya" balas Kepsek yang bernama Baskoro itu, sembari ia menjabat tangannya Adnan. " Ayo, silakan duduk Pak," lanjut Baskoro sambil tangannya mempersilakan Adnan untuk duduk di sofa yang ada diruang Kepsek tersebut.
"Terima kasih Pak," balas Adnan, yang kemudian ia pun duduk di sofa tersebut.
"Oh iya, sebenarnya ada apa Pak Baskoro memanggil saya ya? Apakah Dhita berbuat onar lagi Pak?" tanyanya setelah ia duduk. Nampak Adnan begitu penasaran, karena ia juga berpikir kalau Kirana berulah lagi.
"Oh tidak Pak! Belakangan Dhita tidak berbuat ulah lagi kok," kata Baskoro apa adanya.
"Lalu apakah sekertaris saya belum mentransfer uang bulanannya Dhita?" tanya Adnan lagi.
"Tidak Pak, sekretaris anda membayar uang bulanan tepat waktu kok. Bahkan untuk bulan depan beliau juga sudah dilunasinya." jelas Baskoro. Membuat Adnan bingung atas Panggilan Kepsek padanya.
Adnan mengerenyit bingung. "Lalu ada apa ya Bapak memanggil saya?" tanyanya lagi sangat penasaran.
"Begini Pak Adnan, Dhitakan memiliki kemampuan seni bela diri yang cukup bagus. Bahkan ia sering mengharumkan nama sekolah ini. Nah nanti tanggal sepuluh bulan ini ada turnamen seni beladiri antar sekolah lagi pak. Dan saya bermaksud mengutus Dhita kembali sebagai perwakilan sekolah ini. Tetapi dia menolaknya Pak, makanya saya mau minta tolong pada Pak Adnan selaku walinya untuk membujuk Dhita agar Ia mau mengikuti turnamen tersebut," tutur Baskoro, yang terlihat sekali ia sangat mengharapkan kesediaan Adnan untuk bisa membujuk istrinya.
"Apakah Bapak sudah bertanya pada Dhita apa alasannya ia tak mau mengikuti turnamen itu?"
"Sudah Pak, tapi dia tak mau menjawabnya."
"Baiklah kalau begitu, nanti saya akan bantu membujuknya. Namun saya tidak bisa menjanjikan ini akan berhasil Pak, tapi in shaa Allah, tetap akan saya usahakan" kata Adnan.
__ADS_1
"Baiklah pak saya paham kok. Dan terima kasih karena Pak Adnan sudah bersedia datang kesini, dan itu sudah membuat saya senang Pak, sekali lagi terimakasih" ucap Baskoro, kembali mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan pada Adnan.
"Sama-sama Pak. Saya juga senang karena Pak Baskoro masih mau melibatkan saya, dalam kepentingan sekolah ini, ya sudah kalau begitu saya permisi ya Pak, masih ada yang harus saya kerjakan" kata Adnan sembari ia bangkit dari duduknya.
"Oh iya Pak silakan, maaf karena saya sudah mengganggu pekerjaan Pak Adnan."
"Tidak apa-apa Pak, justru saya senang. Ya sudah kalau begitu saya pamit Assalamu'alaikum" kata Adnan kembali ia menjabat tangan Kepsek tersebut.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu"
Setelah mendapatkan jawaban dari salamnya Adnan langsung bergegas meninggalkan ruangan Kepsek tersebut. Dan ternyata saat ia keluar, bertepatan waktu jam pulang murid-murid sekolah TB. Karena memang hari itu adalah hari Jum'at, makanya mereka pulang lebih cepat.
Adnan kini sudah berada di dalam mobilnya, ia sengaja tak langsung pergi, karena ia ingin menunggu Kirana keluar dari kelasnya.
"Fadhil, pergilah susul bini gue! Heran gue kenapa lama sekali dia keluar dari kelasnya sih? Padahal teman-temannya sudah banyak yang pulang," titah Adnan, yang terlihat mulai kesal karena istrinya tak kunjung juga keluar dari kelasnya.
"Bos, kayaknya bini Lo lagi ngerjain tugasnya, dia masih bergelut sama buku tadi gue lihat," ujar Fadhil saat ia sudah berada di dalam mobil.
"Kerjain ktugas? Hmm... pantasan saja dia tidak pernah belajar lagi dirumah. Rupanya dia selalu mengerjakannya disini yaa?" gumam Adnan. Lalu ia pun turun dari mobilnya.
"Eh, Lo mau kemana Bos?" tanya Fadhil, saat melihat Adnan turun mobil.
"Mau lihat dia!" balas Adnan sembari ia berjalan menuju kekelas istrinya. Sesampainya sana, Adnan langsung masuk. Tanpa disadari oleh Kirana yang terlihat ia sedang fokus dalam belajar.
"Kenapa tidak dikerjakan di rumah saja?"
Mendengar pertanyaan Adnan, spontan Kirana tersentak kaget, dan ia pun langsung melihat ke Adnan yang terlihat sedang berjalan mendekatinya.
"Pak Guru!" sentaknya dengan matanya yang terlihat terbelalak kaget. "Pak Guru kenapa kesini sih? Kalau ada yang lihat gimana hayo?" tanyanya lagi. Dan ia pun langsung memasuki buku-bukunya kedalam tas.
__ADS_1
"Emang kenapa kalau ada yang lihat hm? Apakah ada peraturannya dilarang melihat istr..."
Mendengar perkataan Adnan spontan Kirana langsung menutup mulutnya Adnan. "Sssth..! Iiss Pak Guru! Sembarang aja sih ngomongnya! Saya nggak mau yaa, ada yang tahu tentang kita!" protes Kirana terlihat ia sangat kesal sekali pada Adnan. Sambil matanya melihat sekelilingnya, karena ia takut ada yang mendengarnya.
Setelah dirasanya aman Kirana pun melepaskan tangannya dari mulut Adnan, lalu ia pun langsung menarik tangan Adnan, keluar dari kelasnya. Adnan tersenyum saat tangannya ditarik istri kecilnya, dan ia hanya mengikuti langkah Kirana yang menggandengnya. Hingga akhirnya Kirana tersadar dengan perbuatannya.
"Eh! Kenapa gue jadi menggandeng tangan Pak Guru sih!" gumamnya sembari ia melepaskan tangannya Adnan.
"Kenapa dilepaskan? Apakah sudah terpuaskan memegang tangan suami kamu yang tampan ini hm?" tanya Adnan sambil mendekati wajahnya ke wajahnya Kirana.
"Iikh.. apaan sih Pak? Narsis banget sih jadi orang!" ketus Kirana. Sambil melangkah mundur, dan kini raut wajahnya juga terlihat sudah memerah.
"Kenapa sayang? Kan memang faktanya seperti itu. Kalau suami kamu ini memang tampankan?"
"Iiis..Au akh! Emang gue pikirin! Udah akh saya mau naik taksi saja pulangnya!" ketus Kirana yang terlihat ia hendak melangkah pergi. Namun tangannya langsung di tarik Adnan.
"Enak saja kamu mau pergi begitu saja! Kamu nggak tau apa kalau Saya sejak tadi menunggu kamu. Ayo ikut saya sekarang!" kata Adnan yang langsung membawa Kirana kemobilnya.
"Huh! Dasar Guru killer tukang narsis! menyebalkan!"
**********
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..ππ₯°
Jangan pelit juga dong untuk Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya Authorπ.
Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys ππ Syukron π.
__ADS_1