
Beberapa hari kemudian, nampak Kirana sedang duduk termenung di ruang tamu Apartemennya Adnan. Dan wajahnya terlihat sedang sedih serta bingung. Karena ternyata, Adnan sudah berhari-hari tidak pulang. Membuat ia semakin merasa bersalah. karena kepergiannya Adnan disebabkan oleh kergoisnya. Karenanya ia merasa kesepian apartemennya Adnan.
"Sudah tiga hari Pak Guru nggak pulang, apakah malam ini dia juga nggak akan pulang?" gumam Kirana, dengan tatapan kosong kearah telivisi yang sedang menyalah. Bila dilihat sekilas ia sedang menonton televisi. Namun sebenarnya tatapan kosong, karena memikirkan Adnan.
"Aku harus bagaimana sih? Aku ingin meminta maaf, tapi aku nggak tahu dia dimana? Mau tanya Mama nggak tahu nomer HPnya, mau kerumahnya juga nggak tahu. Haiiis.. apa yang harus aku lakukan?" batin Kirana lagi dengan wajah terlihat kebingung.
Disaat ia sedang hayut tiba-tiba perutnya berbunyi. Menandakan perutnya sedang lapar, Kirana menghelakan nafasnya.
"Huuft.. kangen masakan Pak Guru," gumamnya lagi sembari ia beranjak menuju kedapur. Sesampainya di dapur ia kebayang lagi saat Adnan sedang memasak untuk mereka. Kirana terlihat semakin sedih. hingga akhirnya, ia memutuskan tidak jadi memasak dan Kirana memilih pergi keluar dari apartemen.
"Haiiis.. kenapa aku jadi seperti ini sih? Apa yang terjadi pada diriku sebenarnya? Mengapa tiba-tiba perasaanku jadi seperti ini?" batin Kirana sambil mengacak rambutnya.
"Huh! Daripada aku seperti ini lebih baik aku pergi sajalah dari sini, apartemen ini seakan menjadi beban untukku! lebih baik aku menenangkan diri dulu deh di rumah Bunda," batinnya lagi, dan ia pun langsung menuju kamarnya untuk bersiap-siap pergi.
Setelah selesai ia bermaksud keluar dari apartemennya. Namun saat ia membuka pintu apartemen. Ia dikejutkan oleh keberadaan seorang pria, yang sedang berdiri tepat di depannya dengan membawa kantongan plastik berwarna putih.
"Assalamu'alaikum Nyonya?" ucap pria itu sambil menyunggingkan senyumanya pada Kirana.
"Eh, Pak Fadhil? Eh maaf Wa'alaikumus salam Pak" bales Kirana sedikit gugup. "Ada perlu apa ya, bapak datang kemari?" tanya Kirana terlihat penasaran.
"Ini nyonya. Saya hanya disuruh Pak Adnan untuk memberikan ini pada ada nyonya." kata pria itu yang ternyata Ia adalah asisten Adnan yaitu Fadhil. Sembari ia menyerahkan kantongan plastik berwarna putih yang ada di tangannya, pada Kirana.
Kirana tidak langsung menerima kantongan yang disodorkan oleh Fadhil. Bahkan ia mengabaikan kantong plastik tersebut, karena kembali hanyut dalam pemikirannya.
"Apakah Pak Guru, tidak ingin bertemu denganku lagi? Sehingga ia hanya mengutus Pak Fadhil? Pokoknya aku harus bertemu dengannya dan meminta maaf langsung padanya. Mungkin Pak Fadhil tahu keberadaan Pak guru. Sebaiknya aku minta tolong saja padanya." batin Kirana.
Fadhil yang melihat Kirana berdiam saja, tanpa mau menerima kantongan yang ia sodorkan. Membuat ia mengerutkan keningnya yang terlihat penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh istri bosnya itu.
"Maaf Nyonya, apakah ada sesuatu yang sedang Anda pikirkan? Sehingga Anda mengambaikan saya yang dari tadi menyerahkan ini?" tanyanya dengan tangan yang masih menyodorkan kantongan plastik pada Kirana.
"Eh, tidak ada Pak!" sentak Kirana sedikit kaget.
"Ooh baiklah, kalau begitu terimalah ini Nyonya."
__ADS_1
Kirana pun langsung mengambil kantongan tersebut seraya berkata. "Terima kasih Pak."
"Sama-sama Nyonya, kalau begitu saya permisi," pamit Fadhil dan ia langsung membalikkan tubuhnya bermaksud pergi.
"Pak tunggu sebentar!," sergah Kirana, menghentikan langkah Fadhil.
Fadhil kembali menoleh kearahnya. "Ada apa Nyonya? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sambil ia membalikkan tubuhnya lagi dan menghadap Kirana.
"Pak bolehkah saya ikut? Saya ingin bertemu sama Pak Guru Adnan, karena ada yang ingin saya bicarakan pada Pak Guru. Bolehkah Pak?" kata Kirana, dengan memasang wajah penuh pengharapan pada Fadhil.
"Maaf Nyonya saya tidak bisa memutuskannya tanpa seizin Pak Adnan. Tapi saya akan tanyakan pada beliau terlebih dahulu. Jadi bisakan Anda tunggu sebentar?" kata Fadhli, sembari ia merogoh kantongnya. Sedangkan Kirana langsung mengangguk penuh semangat.
Fadhil sedikit menjauh dari Kirana setelah, ia mendapatkan benda pipihnya dari kantong jasnya. Dan ia pun melakukan panggilan, yang entah sama siapa. Tak berapa lama panggilan tersebut tersambung.
"Ada apa?!" tanya seorang pria dari seberang dengan nada ketus.
"Ketus banget sih Lo Nan?"
"Jangan banyak omong! Cepat katakan ada apa?!" bentak pria dari sebrang yang ternyata dia Adnan.
"Kalau nggak ada hal yang penting gua matiin nih!" bentak Adnan lagi.
"Eh, tunggu nggak sabar banget sih Lo! Ini tentang bini Lo tau!"
"Kenapa sama bini gue hah?"
"Bini Lo ingin ketemu sama Lo nih. Katanya dia ingin ngomong sama Lo. Gue sampai nggak tega dia pakai pasang wajah melas gitu bro. Jadi gimana nih? Apa gue bawa dia ke kantor, atau Lo saja yang datang kesini bro?"
"Ya sudah kalau begitu bawa saja dia ke kantor!" kata Adnan yang kemudian ia langsung memutuskan sambungannya.
"Huh! Dasar Bos nggak punya akhlak! Main putuskan saja tanpa ngasih basa basi!" umpat Fadhil, sambil ia mengantongkan kembali handphonenya ke dalam kantong jasnya. Lalu ia kembali menghampiri Kirana.
Melihat Fadhil menghampirinya, Kirana langsung bertanya dengan antusias. "Bagaimana Pak? Apakah Pak Guru akan datang?"
__ADS_1
"Tidak Nyonya," jawab Fadhil, dan spontan wajah Kirana berubah pias. "Tapi saya diminta Pak Adnan untuk membawa Anda ke kantornya" lanjut Fadhil. Dan spontan wajah Kirana kembali sumringah.
"Oh baik pak saya mau, tapi tunggu sebentar ya Pak, saya menaruh ini dulu kedalam," kata Kirana penuh semangat.
"Silahkan Nyonya," balas Fadhil sambil tersenyum tipis melihat wajah istri Bosnya yang berubah-ubah begitu cepat. Setelah mendapatkan jawaban Kirana langsung masuk ke dalam apartemennya. Dan tak berapa lama ia kembali lagi.
"Saya sudah siap Pak!" katanya dengan penuh semangat.
"Semangat banget, bini Bos, wah sepertinya dia sudah mulai kenak penyakit bucin nih," batin Fadhil sambil tersenyum tipis melihat Kirana.
Melihat Fadhil belum bergeming, Kirana mengernyit heran. Karena Fadhil begitu serius memandang dirinya. "Ada apa Pak? Apakah ada yang salah didiri saya?" tanyanya yang terlihat penasaran.
"Eh, tidak Nyonya, kalau begitu mari kita pergi sekarang," balas Fadhil sedikit canggung. Dan Kirana hanya mengangguk saja. Lalu mereka pun beranjak dari sana dan langsung memasuki pintu lift. Dan setelah mereka dibawah, Fadhil langsung membawa Kirana ketempat mobilnya terpakir.a
Setelah mereka berada di dalam mobil, Fadhil langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Didalam perjalanannya menuju ke kantor, Fadhil sering melirik Istri Bosnya itu lewat kaca spion tengahnya. Terkadang ia tersenyum tipis melihat Istri Bosnya itu, yang wajahnya terlihat berubah-ubah. Terkadang ia terlihat tersenyum, terkadang ia terlihat tegang. Membuat Fadhil berinsiatif mengirimkan pesan pada Adnan, saat mereka sedang berada di lampu merah.
Setelah menempuh jarak empat puluh menit, Akhirnya mobil Fadhil memasuki kawasan gedung bertingkat delapan, yang di depannya bertuliskan. Perusahaan ARS grup. Kirana terlihat tercengang melihat gedung tersebut.
"Mari kita turun Nyonya, karena kita sudah sampai," kata Fadhil setelah ia memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Kirana langsung mengangguk, dan ia pun langsung turun dari mobil Fadhil.
Setelah Kirana turun, Fadhil langsung membawanya memasuki gedung tersebut. Kirana langsung gugup saat ia memasuki lobby kantornya Adnan. Karena ia merasa seisi lobby tersebut sedang memperhatikan dirinya. Dan ia terlihat bernafas lega setelah mereka berada di dalam Lift.
Begitu pintu lift terbuka, tiba-tiba jantung Kirana berdetak begitu kencang. Saat melihat seorang Pria dan Seorang wanita berdiri berdampingan tepat didepan pintu lift yang dia naiki. Mulutnya seakan terkunci. Karena ia merasakan ada yang sakit di dalam hatinya.
"Sudah datang?" kata Pria tersebut dengan wajah datarnya. Kirana tak memberikan respon apapun, karena tubuhnya seketika membeku. "Ya sudah tunggulah sebentar diruangan saya. Fadhil antarkan dia!" Kata Adnan masih dengan wajah datarnya.
"Baik Bos!," balas Fadhil pada Adnan. "Ayo Nyonya ikut dengan saya," katanya lagi pada Kirana. Dan Kirana langsung keluar dari lift tersebut tanpa berkata apapun. Namun saat ia mendengar Adnan mengeluarkan suaranya yang berbeda pada wanita di samping spontan Kirana meliriknya.
"Ayo Hani kita pergi sekarang," ajak Adnan pada wanita tersebut dengan suara lembutnya.
DEGH!!
_____________
__ADS_1
Nggak Semangat para Readersnya sepertinya pada pelit 🙄Sama novel ini, makanya Votenya nggak tambah-tambah. hmm apa mungkin ceritanya nggak bagus kali yaa🤔🤔. Hah sudahlah.. cepat tamatkan saja, memang sebenarnya Author tidak begitu semangat sama novel ini.
Abaikan saja ya guys, sorry 🙏🙏🥰