
┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah.🤍❀◆•✾••┈
"Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang
kamu inginkan. Tetapi, tentang menghargai apa yang kamu miliki. Sudahkah kita bersyukur? Atau hanya keluhan saja, yang selalu tersirat dimulut kita?
Padahal, ada lebih banyak hal yang patut disyukuri
Dari pada di keluhkan. Alhamdulillah 'ala kuli hal.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
Billa, amat kaget sekali, saat mendengar perkataan Fadhil. Ditambah lagi saat ia tanpa basa-basi langsung meraih bibirnya. Pada awalnya ia terlihat kesal akan kelancang Fadhil. Namun lama-kelamaan ia pun mulai terhanyut akan permainan Fadhil yang begitu lembut. Tetapi itu hanya sesaat, karena Fadhil langsung melepaskan tautannya secara tiba-tiba. Membuat Billa tersentak seakan ia tak rela bila tautannya terlepas begitu saja.
"Aakh..!" sentaknya sambil menatap wajah Fadhil dengan tatapan bingun, membuat Fadhil melihatnya tersenyum tipis. Apalagi saat melihat reaksi diwajah istrinya yang seakan tak rela ia melepaskan tautan bibirnya.
"Pergilah mandi sana, tubuhmu bau sekali!" goda Fadhil,
Mendengar perkataan suaminya, sontak mata Billa membulat kaget. "Apa! Enak saja Bapak bilang badan saya bau! Asal Bapak tahu saja ya, walaupun saya tidak mandi tapi badan saya masih tetap wangi tahu!" cetus Billa kesal, karena dikatain bau oleh suaminya.
"Oh iya? Coba saya cium dulu, apakah perkataanmu benar adanya? Tapi tunggu dulu, bukankah tadi saya sudah bilang jangan memandang Bapak lagi hm?" balas Fadhil kembali memasang wajah datarnya.
__ADS_1
"Bodo amat! Siapa suruh ngatain saya bau!" cetus Billa, sambil ia mengerucutkan bibirnya, karena kesal pada suaminya itu.
Melihat hal itu Fadhil menjadi gemas pada Billa. Hingga ia kembali meraih tengkuk Billa, dan kembali lagi ia meraup bibirnya Billa, tanpa memberi aba-aba lagi. Membuat mata Billa kembali membulat kaget, karena perlakuan suaminya itu.
"Uumm!" teriaknya, sambil memukul-mukul dada bidang suaminya. Karena ternyata kali ini Fadhil mencium dirinya agak sedikit kasar. Hingga rasanya ia kehabisan nafas dibuatnya.
"Hah..ha..ha.. Apa Bapak sudah gila hah..? Ha..ha...." ucap bila dengan nafasnya terlihat tersengal-sengal, saat Fadhil kembali melepaskan tautannya.
"Iya aku akan semakin gila kalau kamu masih memanggilku Bapak! Dan ini adalah hukumannya, jadi kalau kamu tidak ingin, saya menjadi semakin gila, ubah panggilan kamu terhadap saya! Apa kamu paham hm?" balas Fadhil dengan tatapan begitu dingin membuat Billa bergidik karena sedikit takut.
"Sekarang cepatlah kamu mandi, karena setelah itu kita akan makan diluar!" katanya, sembari ia beranjak dari ranjang mereka, lalu ia berjalan menuju ke kopernya.
Sementara Billa yang masih terlihat takut pada Fadhil langsung berlari kekamar mandi, tanpa membawa apapun. Sesampainya dikamar mandi.
"Huh! Dasar Pria es nggak punya perasaan! Untung wajahnya ganteng, kalau tidak, gue sudah kabur kali!" gumam Billa, sembari ia membuka bajunya satu persatu, dan mencampakkannya kelantai, karena kekesalannya.
"Astaghfirullah! Gua lupa bawa handuk! Aduh gimana ini? Mana baju yang tadi basah lagi!" gumamnya yang terlihat kebingungan. Dengan mata mencari-cari sesuatu dan disaat ia melihat sebuah box kaca disudut kamar mandi tersebut.
Billa langsung bergegas untuk menghampirinya. Dan ternyata didalamnya ada Handuk putih, yang sama persis dengan yang dipakai oleh Fadhil tadi. Billa pun langsung mengambilnya.
"Alhamdulillah, ternyata disini ada handuk, tapi kok kayaknya kecil ya?" gumamnya lalu ia mencoba memakainya. "Haiis, kecil banget sih nih handuk," gumamnya lagi, masih terlihat bingung. Karena ternyata handuk tersebut hanya bisa menutupi bagian dada hingga pertengahan pahanya saja. Hingga bagian paha bawahnya masih terekspos.
Disaat ia masih kebingungan, tiba-tiba terdengar ketukan pintu kamar mandinya. Membuat Billa tersentak kaget, dan nampak ia semakin kebingungan. "Aduh bagaimana ini? Gue nggak mungkin keluar seperti inikan?" gumamnya semakin bingung karena ketukan pintu semakin keras.
__ADS_1
"Billa! Kamu baik-baik saja didalam? Kenapa tidak menjawab aku hah?" teriak Fadhil dari luar. Namun panggilan tidak direspon oleh Billa. "Aku hitung sampai tiga, kalau kamu tidak keluar juga, aku akan mendobrak pintu ini! Satu!."
Mendengar perkataan Fadhil, Billa semakin panik, dan ia juga tak mau apa bila pintu kamar mandi itu didobrak oleh Fadhil. "Ya ampun, gue harus gimana ini? Nggak mungkin gue keluar dalam keadaan seperti inikan?" gumamnya, terlihat semakin panik.
"Dua! Ti.." teriak Fadhil lagi, membuat Billa semakin panik, hingga akhirnya ia pun membuka pintu kamar mandinya.
"Iya iya, saya buka!" balas Billa yang akhirnya pintu pun langsung terkuak. Fadhil amat kaget saat melihat Billa, yang hanya memakai handuk yang melilit tubuhnya bagian dada hingga sebatas pertengahan pahanya saja. Hingga bagian atas dan bawah handuk terekspos menampakkan kulit putihnya.
Sehingga Fadhil yang melihatnya, seperti tertantang, bahkan ia juga merasakan hal yang aneh pada tubuhnya, setelah melihat tubuh istrinya. "Kamu tidak apa-apakan Billa?" tanyanya terdengar lembut membuat Billa sedikit heran mendengarnya. Karena baru kali ini ia berkata lembut pada dirinya.
"Sa-saya, ti-tidak apa-apa Pak, eh Kak," balas Billa sedikit canggung, karena ia teringat akan ancaman Fadhil, membuat ia merubah panggilannya yang biasanya Pak, kini menjadi Kak. Ia juga terlihat sangat kedinginan karena, ia sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi.
Melihat tubuh Billa yang terlihat menggigil, Fadhil pun langsung mendekatinya. Dan tanpa memberi aba-aba ia pun langsung menggendong tubuh Billa. Sehingga membuat Billa langsung terpekik karena kaget.
"Kyaak...! Kak turunkan saya, sa-saya bisa berjalan sendiri Kak!" katanya sambil ia memegang erat leher Fadhil. Sehingga tubuhnya yang kini sudah wangi tercium oleh Fadhil.
"Sssth, diamlah!" balasnya, sembari ia berjalan menuju ke tempat tidur mereka dengan mata mereka yang saling bertatapan. Perasaan aneh, pada tubuh Fadhil juga semakin menguat, seakan ada sebuah tuntutan pada tubuhnya, untuk melakukan hal yang ia tak mengerti.
Sesampainya ditempat tidur Fadhil membaringkan tubuh Billa dengan perlahan. Dengan mata mereka yang masih saling bertatapan. Hingga tanpa terasa bibir Fadhil, kini sudah mendarat kebibirnya Billa. Billa yang merasakan kelembutan bibirnya Fadhil. Akhirnya ikut terhanyut. Fadhil yang mendapatkan respon dari istrinya, membuat hasratnya semakin meningkat.
"Billa? Bolehkah aku memilikimu?" tanya Fadhil dengan suara lembutnya, namun terdengar berat. Karena sepertinya ia sudah dikuasai oleh hasratnya.
"Maksudnya Kakak?"
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dengan VOTEnya Dong biar semangat nih. 😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah serta komentarnya ya guys 😉.