KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI

KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI
PUNYA SUAMI TUA.


__ADS_3

Keesokan harinya, Kirana bermaksud pergi sekolah pagi sekali. Agar ia tidak berjumpa dengan Adnan. Namun ternyata Adnan sudah lebih dahulu bangun bahkan ia juga sudah menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Sudah bangun? Ayo sini kita sarapan dulu," ajak Adnan saat melihat Kirana yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Saya sarapannya di kantin saja nanti Pak Guru, soalnya, sekolah dari sini jauh, jadi saya harus cepat berangkat biar nggak terlambat Pak" balas Kirana memberikan alasan agar ia tak ikut sarapan dengan Adnan.


"Jangan membantah! Cepat kemari sarapan dulu, nanti saya yang akan mengantar kamu kesekolah," titah Adnan terdengar tegas.


"Tapi Pak.."


"Tidak ada tapi-tapian! Cepatan kemari!" tegas Adnan. Membuat Kirana mendengus kesal. Dan akhirnya mau tak mau ia pun duduk di depan Adnan. Dengan memasang wajah juteknya.


"Kalau tidak mau terlambat cepat habiskan ini" kata Adnan sambil meletakkan sepiring nasi goreng, yang di atasnya terdapat telur mata sapi, ke meja dihadapan Kirana.


"Baik Pak Guru," balas Kirana, dan mau tak mau Kirana pun akhirnya memakan nasi goreng buat Adnan tersebut. Lagi-lagi Kirana terbuai dengan masakan Adnan yang terasa enak di mulut Kirana. Hingga tanpa disadarinya ia memakannya dengan lahap.


Adnan tersenyum tipis, melihat Kirana yang makan begitu bersemangat. Dan bahkan ia lupa dengan makanannya karena asik melihat Kirana yang sedang makan.


Kirana menyadari kalau dirinya sedang dilihat oleh suaminya, membuat ia menjadi risih. "Pak Guru kok tidak makan? Apakah Bapak tidak lapar?" tanyanya sambil melirik nasi goreng milik Adnan yang masih utuh.


"Kenapa kamu mau lagi? Nih makanlah, saya sudah kenyang karena minum kopi" kata Adnan sembari ia menyerahkan piring berisi nasi goreng itu kehadapan Kirana.


"Eh.. tapi saya sudah kenyang juga Pak Guru" balas Kirana namun matanya masih mengarah kenasi goyang tersebut.


"Ooh, ya sudah kalau begitu, saya buang sajalah," kata Adnan yang kemudian ia bermaksud bangkit dari duduknya, sembari tangannya meraih piring nasi gorengnya.


"Jangan Pak!" teriak Kirana dengan spontan.


Adnan tersenyum miring, lalu ia pun menatap Kirana. "Katanya kamu sudah kenyangkan?"


"Memang iya Pak! Tapi tetap ajakan kita nggak boleh membuang makanan. Asal Pak Guru tahu saja, banyak diluar sana, yang tidak makan. Karena mereka tidak memiliki makanan. Nah Pak Guru udah dikasih nikmat yang lebih, malah seenaknya saja membuang-buang makanan," kata Kirana panjang lebar.


"Terus bagaimana dong? Sayakan sudah kenyang."


"Hmm... Ya sudah sini biar saya jadikan bekal kesekolah, siapa tahu aja ada anak-anak yang mau" kata Kirana beralasan. Padahal sebenarnya ia yang ingin lagi, tetapi karena gengsi, akhirnya ia memberi alasan seperti itu.

__ADS_1


Adnan tersenyum, sebenarnya ia tahu, apa yang dipikirkan Kirana. "Ooh ya sudah kalau begitu, ambillah disana kotak bekalnya, kamu bisa sendirikan memasukinya?"


"Bisa kok Pak."


"Ya sudah cepat lakukan, saya akan menunggu kamu di mobil, jangan lupa dikunci pintu apartemennya ya," kata Adnan, sembari ia bangkit dari duduknya, lalu ia pun melangkah pergi meninggalkan Kirana yang masih memasukkan nasi gorengnya kedalam kotak bekal.


"Huh, begitu ya orang kaya? Main seenaknya saja membuang makanan, tidak ada rasa sayang sedikitpun. Padahal dia sendiri juga yang capek memasaknya, giliran sudah masak, main buang aja." gumam Kirana yang kini ia sudah selesai memasuki makanannya, lalu setelah itu langsung ia masukkan kedalam tasnya. "Lumayan kan bisa hemat uang jajan." gumamnya lagi yang kemudian ia langsung menyandangkan tas ranselnya.


Setelah selesai Kirana langsung beranjak keluar dari apartemen Adnan. Dan langsung menuju ke lobby apartemen, Karena sudah pasti Adnan sudah menunggunya disana. Dan benar saja, mobil Adnan sudah berada disana, menunggu dirinya. Kirana pun langsung menaiki mobil tersebut dan duduk di kursi belakang mobil.


"Apakah saya supir kamu hm?" tanya Adnan dengan wajah terlihat dingin.


"Eh, bukan Pak."


"Lalu mau sampai kapan duduk disitu hah?"


"Eh, tapi kemarin saya duduk disinikan?"


"Itu kalau supirnya adalah Fadhil! Kamu paham? Sekarang turun dari sana dan pindah kesini, cepat!" tegas Adnan, terdengar membentak.


"Bisa cepat tidak hah?! Apa kamu sengaja ingin terlambat ke sekolah seperti kebiasaannya kamu, iya?!" bentak Adnan dari dalam mobilnya.


"Enggak kok Pak, ini juga saya sudah masuk pun!" balas Kirana yang kemudian ia masuk dan duduk di samping kursi kemudinya Adnan.


Melihat Kirana sudah memasang sabuk pengaman, Adnan pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Suasana untuk seseat suasana mobil begitu hening. Hingga mobil Adnan sudah hampir mendekati area sekolah TB, tempat Kirana menimbah ilmu.


"Stop Pak Guru! Saya turun disini saja!" teriak Kirana, mengagetkan Adnan, hingga mobil pun terhenti secara mendadak.


"Dhita! Kamu bikin kaget saya saja! Mau ngapain kamu turun disini hah? Sekolah kamukan masih lumayan jauh dari sini!" tegur Adnan terlihat kesal karena mendengar teriakkan Kirana.


"Maaf Pak sudah bikin Pak Guru kaget, tapi saya ingin turun disini saja Pak, karena saya nggak mau teman-teman melihat saya turun dari mobilnya Pak Guru."


Adnan mengerenyitkan dahinya, setelah mendengar perkataan Kirana. "Kenapa emangnya kalau mereka tahu hm? Apakah kamu malu, turun dari mobilnya saya hm?"


"Bukan malu Pak, saya hanya males saja, menjawab pertanyaan mereka, kalau mereka tahu saya turun dari mobilnya Pak Guru," jelas Kirana, yang sebenarnya ia memang tak ingin teman-temannya tahu kalau sebenarnya ia telah menikah dengan idolanya mereka.

__ADS_1


"Ya kamu tinggal jawab saja kok susah sih! Bilang sama mereka, kalau kamu diantar oleh suami kamu, bereskan?"


"Tidak, tidak, tidak! Pokoknya Saya tidak mau mereka tahu kalau saya istrinya Pak Guru titik!"


"Kenapa emangnya kalau kamu istrinya saya hm?"


"Malulah Pak, masa saya menikah sama orang yang sudah tua sih! Apa kata mereka nanti? Pasti mereka akan meledek saya, punya suami tua!" jawab Kirana dengan spontan. Tanpa memikirkan perasaan Adnan.


Adnan tersenyum miris mendengar perkataan Kirana, lalu ia mendekatkan wajahnya tepat didepan wajahnya Kirana seraya berkata.


"Apakah wajahku sudah terlihat tua dimatamu hm?"


Kirana amat kaget, saat melihat wajah tampan Adnan yang begitu dekat dengannya. Dan dengan spontan jantungnya berdetak begitu kencang. Membuat tubuhnya seketika membeku, bahkan nafasnya seakan ikut berhenti. Dan tatapan matanya terkunci pada wajah Adnan yang begitu dekat dengannya, yang hanya terpisah beberapa senti saja dari wajahnya.


"Kenapa Diam hm? Apakah Suami kamu ini sudah terlihat tua Kana?" tanya Adnan kembali. Dan seketika Kirana pun tersadar, wajahnya langsung memerah saat menyadari mereka begitu dekat. Dan dengan spontan ia mendorong wajahnya Adnan.


"Aaaah..! Pak Guru! Sanaaa!" pekik Kirana sambil menyorong wajah Adnan dengan lima jarinya. Lalu dengan cepat ia pun keluar dari mobilnya Adnan dan langsung berlari tunggang langgang, menuju ke sekolahnya yang masih lumayan jauh dari tempat mobil Adnan terparkir.


"Hahahaha.. lucu sekali sih, wajah Istri kecilku kalau sudah memerah begitu, bikin gemas saja, hahaha,"


____________


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..πŸ™πŸ₯°


Jangan pelit juga dong untuk Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya AuthorπŸ˜‰.


Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys πŸ™πŸ˜‰ Syukron 😊.


Oh iya guys, sambil menunggu author update kembali. Yuk kepoin novel kakaknya Author. Yang Ceritanya in shaa Allah tak jauh beda dari novel-novelnya Author, pokoknya keren abis deh. cus akh kunjungi, dan jangan lupa berikan dukungannya juga oke πŸ˜‰



Jangan lupa ya guys πŸ™πŸ˜˜ SYUKRON πŸ™πŸ₯°.

__ADS_1


__ADS_2