
┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah🤍❀◆•✾••┈
"Jika kita berbuat baik kepada penduduk Bumi.
Maka penduduk langit akan mendoakan kebaikan pada kita.
So, luruskan niat, sempurnakan ikhtiar.
Dan serahkan hasilnya kepada Allah yang mengetahui takdir terindah untuk kita"
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
Di ARS Grup.
Setelah memberikan berbagai rayuan dan alasan pada istri kecilnya. Akhirnya Adnan, mendapatkan izinnya untuk berkerja, dan kini Adnan sudah berada didalam perusahaannya. Namun tetap saja, hatinya masih mengkhawatirkan istrinya. Apalagi saat ia mengatakan, tidak ingin seperti Mamanya yang selalu kesepian. Membuat ia jadi selalu kepikiran pada istri manjanya itu.
Sehingga Adnan tak menyadari, ada seorang pria paruh baya telah memasuki ruangannya. Bahkan pria tersebut, sudah duduk, tepat didepan meja kerjanya. Sang pria paruh itupun mengerenyit saat melihat Adnan yang nampak sedang hanyut dalam lamunannya.
"Hem..Hem..!" Pria tersebut sengaja berdehem, agar Adnan tersadar dari lamunannya. Dan benar saja, Adnan langsung tersadar setelah mendengar deheman Pria tersebut.
"Eh, Papa!" sentak Adnan kaget. Saat ia melihat Pria paru baya tersebut, yang ternyata ia adalah Rizwan, Ayahnya sendiri. "Sejak kapan Papa disini? Anan kok nggak tahu Papa masuk?" tanyanya terlihat heran.
"Bagaimana mau tahu! Orang kamu sejak Papa masuk bengong Mulu gitu!" cetus Rizwan, dengan wajah datarnya. "Lagian apa sih yang kamu pikirkan? Sampai-sampai Papa ngetuk pintu kamu tidak dengar hm?" tanyanya lagi terlihat begitu penasaran.
"Eh, nggak ada kok Pah, hanya mikirin perkerjaan, kayaknya semakin lama semakin menumpuk ya?" dalih Adnan yang sepertinya ia tak ingin, mengungkapkan apa yang sedang ia pikirkan.
__ADS_1
"Pekerjaan mulu sih? Bukankah kamu mau mempersiapkan acara ulang tahun Kana Nak? Bagaimana bisa kamu terlihat santai-santai saja, dan hanya memikirkan pekerjaan yang memang tidak ada habisnya itu! Kalau kamu terus begini kapan Papa dan Mama akan memiliki cucu hah?" tegur Rizwan, karena ia mengetahuinya sifat Anak yang sangat mencintai pekerjaannya.
"Eh, kenapa jadi protes sih? Pekerjaan ini juga dari Papakan?"
"Iya sih! Tapikan kamu bisa minta tolong dulu sama Fadhil untuk menghandle pekerjaan kamu. Untuk sementara waktukan? Untuk apa coba ada Fadhil disisi kamu hm?" Pokoknya Papa nggak mau tahu, cepat kamu persiapkan acara kejutan untuk mantu kesayangan Papa dan setelah Acara selesai kamu harus bawa dia pergi berbulan madu!" tegas Rizwan.
Mendengar kata bulan madu, mata Adnan langsung membulat. "Apa bulan madu Pah?" tanyanya terlihat kaget.
"Iya pergi berbulan madu, dan pastikan saat kamu pulang, Papa dan Mama mendengar kabar baik dari kamu, apa kamu Paham Nak?" ujar Rizwan lagi, membuat Adnan, semakin heran dengan sikap Papanya yang terlihat Aneh.
Kenapa tidak, karena setahunya, saat ini perusahaan mereka, sedang sedikit goyah. Sehingga Adnan harus ekstra kerja keras dikantor cabang mereka yang ada diluar negeri. Dan goyahnya kantor cabang, berdampak juga pada kantor pusat. Makanya tadi ia harus tetap pergi walaupun Kirana merengek tak ingin ditinggal olehnya.
"Tapi Pah, bukankah perusahaan kita saat ini lagi genting? Tapi kenapa Papa, malah memikirkan, hal bulan madu Adnan dan Kana sih?" balas Adnan terlihat bingung dengan keputusan sang Ayah.
"Nak, dari dulu perusahaan kita, memang selalu terterpa ujian, tetapi in shaa Allah, kita bisa melewatinyakan? Jadi bagi Papa itu sudah hal biasa. Jadi Papa harap kamu jangan terlalu memikirkan perusahaan ini dulu oke!" ujar Rizwan, yang sepertinya ia masih berusaha merayu anaknya agar memenuhi keinginannya.
"Bagaimana caranya kamu bisa mengerti Nak?" ujar Rizwan, yang wajahnya kini terlihat berubah menjadi sendu. Adnan menjadi semakin penasaran, saat melihat wajah sang Ayah, ia juga menangkap sesuatu yang berbeda, seperti ada yang disembunyikan oleh orang tuanya itu.
"Ada apa sebenarnya Pah? Kenapa Adnan merasa Papa sedang menyembunyikan sesuatu pada Adnan, katakan apa yang terjadi?" tanya Adnan terlihat amat serius menatap wajah Rizwan.
"Eh, ti-tidak ada kok Nak, ya sudah kalau begitu Papa pergi, dan sebaiknya kamu pikirkan tentang yang Papa katakan tadi," balas Rizwan terlihat gugup, lalu ia segera bangkit dari duduknya, dan hendak pergi. Namun langkahnya langsung terhenti, tatkala mendengar pertanyaannya Adnan.
"Apakah ini berhubungan dengan kesehatan Mama?" tanya Adnan yang kini ia ikut bangkit dari kursi kebesarannya. Adnan semakin curiga saat ia melontarkan pertanyaan, seketika wajah Rizwan semakin terlihat sedih.
"Apa yang telah terjadi, pada Mama, Pah? Katakan pada Adnan, jangan Papah sembunyikan apapun tentang Mama," ujar Adnan, sembari ia berjalan mendekati, Rizwan yang sudah mendekati pintu ruangannya.
Mendengar pertanyaan Adnan, Rizwan terlihat bingung, untuk menjawabnya. Alhasil ia hanya diam dan terpaku sembari menatap wajah anaknya yang kini berdiri di hadapannya. Dengan wajah yang terlihat begitu penasaran.
__ADS_1
"Pah, katakan ada apa Pah? Jangan diam seperti ini!" desak Adnan, sambil memegang lengan Sang Ayah. Rizwan melepaskan tangannya Adnan dari lengannya, lalu dengan langkah gontai ia berjalan menuju sebuah sofa, yang berada di ruangan Adnan, dan kemudian ia langsung duduk disalah satu sofa tersebut.
Adnan yang begitu penasaran akhirnya, ikutan duduk tepat didepan Sang Ayah. Sejenak ruangan tersebut, menjadi hening, dan Adnan masih menunggu jawaban dari Rizwan, yang terlihat ia mengeluarkan nafas keterpaksaannya.
"Huuft! Nak, Mama kalian saat ini sedang sakit," ujar Rizwan memecahkan keheningan.
"Mama sakit apa Pah?" tanya Adnan lagi terlihat tidak sabaran.
"Mama terkena kanker hati, Nak," jawab Rizwan, yang kini suaranya terdengar bergetar.
"Apa!! Bagaimana bisa Pah?" sentak Adnan ia begitu kaget setelah mendengar perkataan sang ayah.
"Papa juga baru tahu, tadi malam, saat Papa sedang mencari baju dilemari Mama kamu dan Papa lihat sebuah surat yang isinya menyatakan Mama terkena penyakit kangker hati, masih stadium awal, dan yang membuat Papa sedih Mama tidak mau di ajak berobat keluar negeri. Makanya Papa, mendesak kamu berbulan madu, berharap saat Mama mendengar kabar baik darimu, ia mau diajak berobat," jelas Rizwan, yang kini matanya terlihat sudah berkaca-kaca.
"Apa alasan Mama tidak ingin berobat Pah?" tanya Adnan yang kini wajahnya juga sudah terlihat sedih.
"Papa juga tidak tahu Nak, Mama selalu diam. Sampai tadi pagi Papa masih mendesak Mama, tapi tetap ia tidak mau. Maka dari itu. Papa mohon pertimbangkanlah keinginan Papa tadi, karena yakin, setelah kepulangan kalian nanti akan membawa keberkahan untuk kalian dan juga Mama. Jadi putuskanlah segera." ucap Rizwan yang kemudian ia pun bangkit dari sofa, dan langsung melangkah meninggalkan ruangan Adnan.
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏
__ADS_1