KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI

KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI
KERAGUAN FADHIL.


__ADS_3

┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah.🤍❀◆•✾••┈


"Saat takdir menyapa..


Syukur langsung terucap, ketika bahagia yang hadir dalam jiwa. Saat duka melanda, tetes air mata tak terasa ikut serta. Namun sesungguhnya bahagia dan duka adalah bentuk cinta dari Sang Pencipta.


Dia Maha Tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.


Dia tidak ingin melepas kita dengan bergelimang dosa. Dia ingatkan kita agar segera kembali ke jalan yang diridhai-Nya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•


Keesokan harinya.


Di rumah Rizwan, terlihat telah bersiap-siap untuk mengantar Fadhil, keacara pernikahannya. Setelah kemarin, Rizwan telah mendatangi keluarganya Billa, untuk memastikan, perkataan Fadhil. Bahkan ia juga memberikan uang antaran untuk mereka mempersiapkan acara pesta pernikahannya.


Dan hari pernikahan pun tiba dimana hari ini yang akan mengukir sejarah baru bagi Fadhil. Makanya ini dikeluarga Rizwan terlihat riweh karena Rizwan tidak ingin mereka terlambat oleh waktu yang sudah ditentukan.


"Kalian sudah siap semuanya?" tanya Rizwan pada keluarganya.


"Sudah Pah," jawab sari, yang memang ia dan putrinya terlihat sudah rapih. "Tapi Pah, Fadhil mana? Kok belum nongol batang hidungnya tuh anak?" tanya Sari lagi dengan mata, seperti melihat sekeliling mencari keberadaan Fadhil.


"Lah Iya kemana tuh Anak, waktu sudah mepet begini malah ngilang dia?" sela Rizwan yang matanya ikut mencari anak angkatnya itu.


"Astrid, apa kamu tidak lihat Abang kamu Nak?" tanya Rizwan pada putrinya.

__ADS_1


"Tadi Astrid lihat sih bang Fadhil dikamarnya Pah," balas Astrid, yang memang kamarnya Fadhil dan Ratih bersebelahan. Namun Fadhil jarang sekali menempatinya karena ia lebih suka tinggal dirumah ayahnya.


"Ya sudah biar Papa lihat kekamarnya," ujar Rizwan yang kemudian ia pun pergi menuju kamar Fadhil. Setibanya di sana, Rizwan mengerutkan keningnya.


"Loh Nak, kenapa kamu belum memakai baju pengantinnya hm? Apakah kamu mulai menciut Nak?" ujar Rizwan, sedikit menggoda. Karena ia tahu kalau hati Fadhil mulai meragu.


"Eh, Pah, bukan seperti itu, Fadhil..." balasnya namun langsung di potong oleh Rizwan.


"Jadi seperti apa hm? Papa tidak ingin mendengar alasan kamu! Jadi Papa harap kamu tidak berbuat sesuatu yang membikin Papa malu, Nak. Dan jadilah laki-laki sejati, kamu paham Nak?" potong Rizwan membuat Fadhil merasa tidak enak.


"Tapi Pah, Fadhil takut membuat kecewa gadis itu, karena ini kesannya kok memaksa Pah. Apalagi kami tidak mengenal satu sama lainnya," ungkap Fadhil, yang terlihat bingung.


"Nak, kamu lihat Adnan dan Kiranakan? Mereka juga sama seperti kamu. Mereka menikah begitu mendadak, tanpa saling mengenal, tapi lihatlah sekarang, bahkan mereka saat ini sedang berbulan madu. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu Nak, in shaa Allah cinta kalian juga akan tubuh seiringnya waktu," tutur Rizwan, memberikan contoh kisah Adnan dan Kirana pada Fadhil.


"Sudahlah, Nak terlalu banyak berpikir, waktu kita sudah mepet sekali, jadi cepatlah pakai baju pengantin kamu," lanjut Rizwan sembari ia membantu Fadhil memakaikan baju Koko berwarna putih, dengan bagian depan di hiasi Payet mutiara putih juga.


Setelah semuanya bersiap mereka satu persatu pun menaiki mobil milik Rizwan, dengan disupiri oleh Rizwan sendiri, tadinya Fadhil bersikeras ia yang ingin menyetir namun perkataan Rizwan sangat sulit dibantah, dan akhirnya ia hanya mengikuti keinginan sang ayah angkatnya itu.


Satu jam kemudian, mobil Rizwan pun memasuki gerbang Rumah Billa, yang terlihat sudah ramai dengan para undangan, yang ingin menyaksikan pernikahan Fadhil dan Billa. Setelah mobil terparkir mereka satu persatu turun dari mobil, dan langsung disambut oleh Ayahnya Billa, yaitu Herman.


"Assalamu'alaikum, calon besan," ucap Rizwan ramah, semabri ia memeluk Herman, sebagai ungkapan rasa senangnya.


"Wa'alaikumus salam Pak Rizwan," balas Herman ikut menyambut pelukan Rizwan. "Ayo silahkan masuk, kita juga sudah ditunggu oleh ustadz yang akan menikahi anak bapak dan putri saya" lanjut Herman setelah pelukan mereka berakhir.


"Baiklah Pak Herman, mari Nak, kita masuk" ujar Rizwan, sembari ia merangkul pundak Fadhil. Yang akhirnya Fadhil mengikuti langkah Rizwan yang memasuki rumah Billa.


Setibanya di dalam, ternyata sudah ramai juga dengan para saksi, dan ditengah-tengah ruangan juga terlihat sebuah meja untuk acara ijab qobul dengan seorang pria berpeci hitam, yang sudah pasti, dialah Ustadz yang akan menikahi Fadhil.

__ADS_1


"Silahkan Pak Rizwan, Nak Fadhil, kita duduk disana," ujar Herman sembari tangannya mempersilakan Rizwan dan Fadhil mengarah ke meja tersebut.


"Baik Pak," balas Rizwan, yang kemudian mereka pun menghampiri meja tersebut, lalu langsung duduk di Hadapan Pria berpeci tersebut.


"Baiklah, karena pengantin laki-laki sudah datang, maka acara Ijab kita mulai saja ya Pak Herman," ucap pria berpeci itu.


"Silahkan Ustadz," balas Herman yang kini ia sudah duduk juga dihadapannya Fadhil.


"Alhamdulillah, tapi sebelum acara dimulai boleh saya bertanya pada calon mempelai prianya?" tanya pria berpeci itu lagi.


"Silahkan Ustadz," balas Fadhil, yang terlihat wajahnya, begitu tegang.


"Apakah Nak, Fadhil sudah siap, menjadi suaminya Salsabilla, putrinya pak Herman?" tanya Pria yang dipanggil Ustadz itu. Karena ia melihat di wajah Fadhil seperti ada keraguan.


Fadhil, tak langsung menjawab, ia justru semakin terlihat bingung, membuat para saksi mau pun para keluarga begitu tegang menanti jawaban dari Fadhil.


"Saya.. Saya..."


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2