
┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah🤍❀◆•✾••┈
"Waktu seperti roda yang permukaannya kasar, menggelinding di tempat yang juga tak rata. Terasa lambat dan tak menyenangkan. Namun tahu-tahu, sudah terlewat begitu saja.
Begitu juga dengan kehidupan. Ada sedih ada gembira. Bagaikan jalan berliuk menuju puncak gunung. Sepanjang perjalanan kita menemukan berbagai hal cobaan. Namun bila kita menjalaninya dengan penuh rasa syukur. In shaa Allah, semuanya terlewati dan berganti kebahagiaan.
Karena kunci hidup itu adalah dengan menjalani, menikmati, dan mensyukuri
So jangan lupa bersyukur hari ini ya Guys 😉
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•
"Pak Guru, Cium bibir Kana dong. Soalnya Kana juga ingin merasakan berciuman," pinta Kirana terdengar polos. Membuat Adnan tersentak kaget, setelah mendengar permintaannya.
"Apaaa!" sentaknya dengan mata yang langsung terbuka dan langsung menatap wajah istrinya yang polos itu.
"Cium Kana Loh, Pak" ucap Kirana masih dengan wajah polosnya.
"Jangan bertingkah yang aneh-aneh deh! Cepat tidur saja!" titah Adnan yang kemudian ia malah merubah posisinya, dengan membelakangi Kirana.
"Kok, aneh sih? Iss jangan membelakangi Kana Pak!" protes Kirana sambil menarik bahu Adnan, dan otomatis posisi Adnan pun menjadi telentang.
"Kana, aku sudah ngantuk! Kalau kamu tidak ingin aku membelakangi kamu, sebaiknya sekarang kamu tidur ya," rayu Adnan, yang akhirnya mengalah. Dan kembali menghadap ke arah istrinya.
"Iya loh Kana akan tidur, tapi cium dulu dong Pak," pinta Kirana dengan tatapan mata melasnya.
"Tolong Kana jangan minta yang aneh-aneh ya, karena takutnya aku tidak bisa menahan diri lagi Kana, pahamilah" ujar Adnan, yang nampak mulai bingung, Karena sepertinya, tubuhnya mulai beraksi, lagi, Karena melihat tingkah Kirana, yang semakin menggemaskan.
"Kok Aneh sih Pak? Salah emangnya ya kalau istrinya minta dicium? Lagian apa sih yang Pak Guru tahan? Ngapain ditahan, Kanakan istri Pak Guru?" tanya Kirana kembali terlihat polos.
"Haiis, susah banget ya bilangi kamu? Iya kamu tidak salah tapi kamu apa paham akan hubungan suami istri hah? Asal kamu tahu, kalau kita berciuman, otomatis aku akan meminta yang lebih. Dan itu akan membuat kamu akan menyesal, apa kamu paham?!" tanya Adnan sudah mulai kesal kembali.
__ADS_1
"Kenapa harus menyesal? Pak Gurukan akan tanggung jawabkan?" balas Kirana terlihat santai.
"Tapi Kana, kamu masih sekolah, aku nggak mau nantinya..."
"Pak Guru ingatkan kewajiban suami nomer lima?" potong Kirana, membuat mata Adnan spontan membulat, agak sedikit kaget.
"Kana, apakah paham apa yang kamu katakan hm?" tanya Adnan, sambil ia bangkit dan duduk. Tak lama pun Kirana juga ikut duduk.
"Paham? Apa maksudnya pak Guru?" tanya Kirana yang terlihat bingung.
"Tadi kamu mengingatkan saya tentang kewajiban suami nomor limakan? Nah aku tanya apakah kamu paham apa yang dimaksud isi nomor lima itu hm?" tanya Adnan lagi.
"Lah, emang Pak Guru lupa ya? Kelima itu Menyenangkan istri di atas ranjang Pak," kata Kirana yang masih terlihat polos.
"Iya saya tahu? Tapi apakah kamu tahu, artian menyenangi istri diatas ranjang itu, hm?"
"Memberikan nafkah batinkan?"
"Ya enggak sih, emangnya apa Pak?" tanya Kirana yang wajahnya benar-benar terlihat polos.
Adnan yang melihat itu langsung menepuk jidatnya sendiri. "Haiis, Kana!" ucapnya sambil menggretekkan giginya geram. "Kana, dengar ya? Nafkah batin yaitu nafkah yang diberikan kepada istri berupa kebahagiaan dan menggauli istri hingga kebutuhan akan seksualnya terpenuhi. Kamu paham sekarangkan? Jadi kalau kamu belum siap untuk melakukan itu, sebaiknya jangan berlaku yang aneh-aneh oke?"
Setelah mendengar penjelasan dari suaminya, untuk sesaat Kirana terdiam, seperti sedang mencerna sesuatu. Dan tak lama ia kembali menatap Suaminya seraya berkata.
"Kana siap kok Pak Guru!" ucapnya dengan tegas, membuat Adnan terkejut mendengarnya.
"Kamu yakin mau melakukan itu Kana? Apakah kamu tidak takut dengan saya hm?" tanya Adnan dengan wajah yang ia sengaja dekatkan pada wajahnya Kirana. Untuk menyakinkan Kirana, bila ia takut pasti akan mundur. Namun diluar dugaan Kirana malah mendekati juga malahan terlihat menantang.
" Yakin kok Pak! Lagian apa yang harus di takutkan Pak Gurukan suaminya Kanakan? Yang penting Pak Guru, nanti Ajarin Kana ya?" katanya, membuat Adnan semakin bingung, apalagi melihat wajah istrinya yang terlihat ada pengharapan.
"Astaghfirullah, mengapa aku jadi begini? Ya Allah bukan maksudku untuk mengabai kewajibanku. Tetapi sebenarnya aku hanya ingin melakukan itu, setelah ia menyelesaikan pendidikannya dulu. Tapi kalau sudah begini aku harus apa? Apakah ini artinya sudah menjadi kehendak-Mu ya Rabb?" batin Adnan dengan wajah terlihat sedang kebingungan.
Melihat sang Suami hanya diam, Kirana menjadi kesal. "Iiss Pak Guru kok malah melamun sih? Nggak mau ya ngajarin Kana?" cetusnya dengan mulut terlihat dimanyunkan karena kesal.
__ADS_1
Adnan langsung tersadar, setelah mendengar ocehan istrinya. "Eh, Maaf Kana! Hmm Apakah kamu benar-benar yakin ingin melakukan itu dengan saya Kana?" tanya Adnan Ingin memastikan lagi keinginan istrinya itu.
"Yakin seratus persen Pak Guru! Apakah masih kurang jelas Pak?!" tanya Kana tegas.
"Ya sudah, kalau itu keinginan kamu, kita sholat sunah dulu ya?" ajak Adnan dan dengan cepat Kirana Langsung mengangguk kepalanya.
"Ya sudah ayo kita berwudhu dulu" ajak Adnan lagi.
"Ayoo Pak!" balas Kirana penuh semangat. Adnan yang melihatnya hanya tersenyum tipis, sembari ia menggelengkan kepalanya saja.
Setelah itu keduanya pun pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Dan tak berapa lama kemudian, mereka kembali keluar dengan wajah yang terlihat sudah dibasahi oleh air wudhu. Lalu mereka berdua pun langsung melakukan sholat sunah dua Rakaat. Dengan Adnan sebagai Imamnya.
Setelah shalat Sunnah selesai, Adnan membalikkan tubuhnya menghadap Kirana, lalu ia pun mengulurkan tangannya pada Kirana dan di sambut oleh sang istri dan langsung di cium oleh Kirana. Setelah itu Adnan meletakkan tangan kirinya ke ubun-ubun Kirana, sedangkan tangan kanannya menengadah keatas. Lalu ia pun berdoa.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
Latin:
Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan atasnya dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekan atas yang Engkau ciptakan." (HR Abu Dawud, Ibnu Majah).
Setelah mengucapkan, "Aamiin" Adnan pun menyapukan tangan kanan kewajahnya. Lalu ia meraih kedua pipinya Kirana dengan kedua tangannya, setelah itu ia mendekati wajahnya ke dahi Kirana, dan ia pun mengecup lembut kening sang istri dengan penuh kasih sayang. Dan kemudian ia menyatukan dahinya ke dahi Kirana. seraya bertanya.
"Apakah kamu benar-benar sudah siap Kana?"
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Jangan pelit dong untuk Bonusin Author dengan VOTE nya. Biar Author semakin semangat nih 🥺
dan berikan LIKE , seta Hadiahnya juga ya 😁😁 dan jangan lupa juga KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏
__ADS_1