
Setelah turun dari mobil Adnan, Kirana berlari cepat menuju ke sekolahnya. Tanpa menoleh kebelakang lagi. Ia terus berlari bahkan sampai memasuki gerbang sekolah TB. Namun disaat ia hendak memasuki kelasnya, tiba-tiba seseorang menarik tas dari belakang. Hingga hampir saja ia jatuh kebelakang. Dan Kirana langsung menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang menariknya.
"Lo Bil! Sialan Lo! Hampir aja gue jatuh! Seenaknya aja Lo main tarik gue!" hardik Kirana, dengan nafas yang ngos-ngosan, karena ia berlari tadi. Dia nampak pada orang yang menarik tasnya yang ternyata sahabatnya Salsabila.
"Ya sorry.. tadi gerbang sekolah, gue udah manggil Lo Boi. Tapi Lo tetap aja lari kaya di kejar-kejar setan. Emang ada apa sih? Muka Lo juga merah banget dari tadi?" tanya Billa terlihat ia juga ngos-ngosan, karena ternyata bisa ikut berlari mengejar Kirana.
"Nggak ada apa-apa! Emang ada apa Lo panggil gue hah?" tanya Kirana mengalihkan pertanyaan Bila.
"Gue cuma mau tau keadaan Lo aja, Lo udah tau belum kalau pacar Lo masuk penjara?" tanya Billa, dengan tatapan menyelidik.
"Eh! N-nggak tau gue emang kenapa?" balas Kirana terlihat gugup.
"Katanya sih terlibat pelecehan seksual. Dan seingat gue malam itu lukan lagi sama Pasha. Makanya gue jadi berpikir, kalau yang di lecehkan itu Lo, di tambah lagi Lo kemarin Nggak masuk sekolah, guekan jadi tambah cemas brai" jelas billa yang memang terlihat sekali ada kecemasan di raut wajahnya.
"Oooh.." balas Kirana yang hanya beroh ria, membuat wajah Billa, spontan berubah, ia terlihat heran melihat sahabatnya yang biasa-biasa saja.
"Haaa? Hanya Oh saja? Pashakan pacar lu, masa nggak ada penasaran gitu lu ama dia hah?" protes Billa yang terlihat Nggak paham dengan sifat sahabatnya itu.
Jadi gue harus apa? Harus bilang wow gitu? Lagian ngapain mikirin laki-laki bejat kaya gitu! Rugi banget gue, musingin cowok gitu mah."
"Ya iya sih, tapi ya sudahlah emang dia pantas disana kali" balas Billa yang akhirnya pasrah, dan ikut nggak mau musingin masalah Pasha.
"Nah itu baru benar. Ya sudah ayo kita masuk, sebentar lagi bakalan bel nih" ajak Kirana, yang kemudian ia pun memasuki kelas mereka. Dan diikuti oleh Billa di belakangnya.
"Oh iya lo kemarin kemana? kok nggak masuk sekolah sih? Gue juga kemarin pulang sekolah, kerumah lu nggak ada. Gue pikir Lo kerja, lalu gue samperin ke minimarket Pak Haji. Tapi kata Pak Haji lu Nggak masuk kerja. Karena gue cemas malamnya gue datang lagi kerumah lu eh rumah lo gelap, lu sebenarnya kemana si Boi?" tanya Billa saat mereka sudah berada kursi didalam kelas mereka.
"Eh, g-gue, gue.. kemarin gue kerumah saudara gue Bil" kata Kirana terlihat bingung memberikan jawaban pada sahabatnya itu. Ia juga nampak gugup kala Billa menatapnya begitu instens.
"Saudara? Bukannya Lo nggak punya saudara ya? Karena seingat gue almarhum nyokap Lo bilang, kalau kalian nggak punya saudara disini, bagaimana sekarang ada?"
Mendengar pertanyaan Bilka Kirana nampak kikuk dan bingung untuk menjawabnya. Namun tiba-tiba ia teringat waktu dihari pemakaman Ibunya kalau Ibunya Adnan selalu memeluknya sampai proses pemakaman selesai.
__ADS_1
"Umm... itu.. lo ingat nggak ibu-ibu yang waktu di pemakaman nyokap gue?" tanya Kirana, masih terlihat gugup.
"Iya ingat, emang kenapa?"
"Nah i-ibu itu te-temannya nyokap gue dan beliau sudah menganggap gue sebagai anaknya. Makanya tadi malam gue nginap di rumahnya" kata Kirana gugup karena berbohong.
"Ooh, enak dong lo? Ibu itu orang kayakan? Soalnya kelihatan banget dari baju dan perhiasannya" tanya Billa lagi, membuat Kirana semakin bingung untuk menjawabnya. Karena sebenarnya ia tak pernah tahu rumah Sari, karena ia selalu tak pernah mau bila diajak oleh Sari untuk kerumahnya.
"Eh, i-iya.." balasnya, namun langsung terhenti, Karena tiba-tiba seorang pria berseragam sama memanggil Kirana.
"Boi, Lo di panggil Pak Kepsek tuh,Lo di suruh datang ke kantornya sekarang juga" kata pria itu, membuat Kirana bernafas lega, Karena ia bisa terhindar dari pertanyaan Billa.
"Oke kesana sekarang," kata Kirana dan langsung bangkit dari duduknya. "Bentar ya Bil, gue di panggil Pak Kepsek" pamit Kirana dan langsung berlalu tanpa menunggu balasannya.
"Huh! Main ngacir aja tuh Anak, biasanya juga kalau di panggil kepsek dia selalu minta antarin. Hari ini dia juga rada aneh deh," gerutu Billa, yang terlihat heran dengan perubahan sikapnya Kirana.
"Aneh gimana maksud Lo Bil?" tanya pria yang tadi memanggil Kirana yang kebetulan masih berada disana
"Huh! Bilangin si Boi aneh, yang ada Lo kali yang aneh" protes Riyan yang kemudian ia pun pergi menuju ke mejanya.
"Bomat! Emang gue pikirin!" balas Billa ketus. Dan tak berapa lama wali kelas mereka pun datang, dan mereka pun mulai memasuk jam pelajarannya.
********
Sementara di Kantor Kepsek.
Kirana yang telah sampai di depan pintu kantor kepsek langsung mengetuk pintunya. Dan tak berapa terdengar seruan dari dalam untuk menyuruhnya masuk.
"Permisi Pak. Apakah benar Bapak memanggil saya?" tanya Kirana setelah berada ada di ruangan kepsek.
"Ya benar, silakan duduk Dhita," balas pak Kepsek, sambil tangannya mempersilakan Kirana duduk.
__ADS_1
"Terima kasih Pak" Kirana pun langsung dudukk tepat didepan meja kerja Kepsek.
"Maaf Pak. Sebenarnya ada apa ya Bapak memanggil saya?" tanya Kirana terlihat penasaran.
"Begini Dhita, bulan depan ada turnamen Taekwondo antar sekolah. Nah Bapak bermaksud akan mengirim kamu serta beberapa teman kamu sebagai perwakilan dari sekolah kita. Gimana Nak, apakah kamu setuju?" tanya Kepsek, terlihat sekali ia begitu mengharapkan Kirana bersedia ikut dalam turnamen tersebut.
Kirana terdiam, ada perasaan ragu dihatinya. Ditambah lagi, ia teringat saat ia dikalahkan oleh Adnan, membuat ia semakin ragu karena takut akan terkalahkan lagi.
Melihat Kirana terdiam, Kepsek nampak heran. Karena biasanya Kirana langsung bersemangat, menerima setiap ia ditugaskan untuk mengikuti setiap turnamen dalam seni bela diri. Namun tidak pada hari ini, ia terlihat seperti orang yang bingung.
"Ada apa Nak? Kenapa kamu diam? Apakah kamu sedang sakit Nak?" tanyanya, terlihat penasaran.
"Eh, Ti-tidak Pak, saya tidak sakit, cuma bisakah saya pikirkan dulu Pak?" jawab Kirana terlihat gugup.
"Ooh baiklah kalau begitu, tapi Bapak, tetap mengharapkan sekali kesediaan kamu Nak, untuk mengharumkan kembali nama sekolah kita. Jadi pikirkanlah dengan baik, dan Bapak berharap juga besok kamu sudah mempunyai jawabannya, oke!" ujar kepsek terlihat penuh harap.
"In shaa Allah Pak, Kalau begitu saya permisi ya Pak" pamit Kirana yang terlihat tak ingin berlama-lama disana.
"Baiklah, Dhita silahkan." Setelah mendapatkan balasan dari Kepsek Kirana langsung beranjak meninggalkan kantor kepsek. Di dalam perjalanan menuju ke kelasnya. Nampak bersih jelas kalau Ia sedang kebingungan.
"Huuft..! Sepertinya Gue nggak usah ikut aja deh, dari pada entar gue kalah lagi, mau di taruh dimana muka gue." batin Kirana
____________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..ππ₯°
Jangan pelit juga dong untuk Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya Authorπ.
Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys ππ Syukron π.
__ADS_1