
━━•⊰❁🌸 Mutiara Hikmah.🌸❁⊱•━━
"*KEDEWASAAN seseorang akan terlihat jika ia mengucapkan JANJI ia akan BERKOMITMEN. Bukan KATA MANIS tapi KEPASTIAN, bukan HARTA tapi TANGGUNG JAWAB, bukan GAYA tapi KEPRIBADIAN, bukan GELAR tapi ILMU, bukan USIA tapi KEDEWASAAN
__Quotes of the day__
━━━━━━━━•⊰❁🌸❁⊱•━━━━━━━━*
Mendengar Adnan menyebut Hani dengan lembut. Ternyata membuat Kirana salah paham. Karena ternyata yang terdengar oleh Kirana adalah Honey. Dan karenanya ia menjadi ingin membatalkan, keinginannya untuk berbicara pada Adnan.
Apalagi saat ia memasuki ruangan Adnan dan melihat meja yang berada diantara sofa penuh dengan makanan. Membuat ia berpikir kalau suaminya baru saja makan bersama dengan wanita tersebut. Membuat hatinya semakin tidak karuan, antara sakit dan panas.
"Pak Fadhil, saya pulang saja deh, karena sepertinya Pak Guru sedang sibuk jugakan? Jadi saya nggak enak karena sudah mengganggunya, " dalih Kirana, untuk mengalihkan perasaannya yang sebenarnya mulai tumbuh rasa cemburu.
"Apakah tadi Nyonya tadi mendengar perkataan Bos Adnan? Kalau Anda di suruh menunggunya sebentar. Jadi maaf Nyonya, saya tidak bisa membiarkan Anda pulang. Jadi saya harap Anda menunggulah sebentar disana. Dan bila Anda lapar Anda bisa memakan, makanan yang ada di atas meja itu" kata Fadhil, yang sepertinya ia bermaksud menghalangi Kirana yang ingin pergi.
"Tapi Pak..."
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa membantah keputusan Bos Adnan, jadi mengertilah Nyonya!" tegas Fadhil, memotong perkataan Kirana. Membuat Kirana akhirnya tidak bisa mencari alasan lagi. "Kalau begitu saya permisi Nyonya" lanjut Fadhil yang kemudian ia langsung beranjak dari ruangan kantor Adnan.
Tinggallah Kirana seorang diri di ruangan yang terlihat begitu luas. Dan nampaknya ia begitu enggan untuk duduk di sofa. Dia memilih mendekati jendela kaca dan melihat pemandangan luar dari sana. Pada awalnya Kirana terlihat kagum dengan pemandangan diluar dari tempatnya berdiri yang terlihat begitu indah itu.
Namun seketika pandangan itu kosong saat Kirana teringat lagi pada Adnan dan wanita yang bersamanya. Kirana menghelakan nafasnya, lalu ia berjalan menuju sofa. Saat melihat makanan yang diatas meja, ia menelan silvanya. Karena sebenarnya ia sangat lapar sekali, karena ia tak jadi makan tadi. Dan sekali lagi rasa laparnya kembali hilang, karena ingatannya saat di lift tadi kembali muncul.
"Huh! Bodo amat akh! Ngapain juga gue nungguin orang pacaran! Lebih baik gue pulang sajalah kerumah Bunda. Sabodo dah sama Pak Guru!" gumam Kirana terlihat kesal hingga ia menyentakkan kakinya, lalu ia pun mulai melangkah menuju pintu. Saat hendak membuka pintu, Kirana kaget karena ternyata pintu di kunci dari luar.
"Eh! Kenapa pintunya terkunci?" sentaknya sambil berusaha menarik pintu tersebut. "Woy.. yang ada diluar tolong bukakan pintunya dong!" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu ruangan Adnan.
********
__ADS_1
Sementara disisi lain, disebuah ruangan yang tidak berapa jauh dari ruangan Adnan. Nampak dua orang pria sedang duduk sambil melihat layar laptopnya. Dan dua pria itu yang tak lain adalah Adnan dan Fadhil. Melihat Bosnya yang sejak tadi tersenyum-senyum sendiri saat melihat layar laptop tersebut. Yang ternyata ia sedang melihat Kirana dari kamera Cctv yang ada diruanganya.
Fadhil menggelengkan kepalanya. "Mau sampai kapan, Lo ngerjain bini Lo sih? Kasian tau, dia seperti kebingungan gitu!" tegur Fadhil, yang sebenarnya nggak tega melihat Kirana sejak ia terlihat sedih saat melihat Adnan membawa seorang wanita.
"Diam aja Lo, gue lakukan ini juga ngikutin saran Lokan! Kenapa sekarang Lo yang protes sih!" balas Adnan ketus.
"Iya sih, tapikan seharusnya Lo sudah tahu dong. Saat dia melihat Lo sama cewek tadi. Dan seharusnya Lo juga sudah menilai, saat melihat bini Lo cemburukan? Yang artinya dia sudah mulai suka sama Lo. Tapi jangan kelewatan juga dong! Gue rasa ini sudah cukup bro! Sekarang pergilah temui dia, sebelum bini Lo mendobrak pintu ruangan Lo deh, Lokan tahu bini Lo bukan wanita lemah bro," kata Fadhil yang juga mengingatkan Adnan Kalau Istrinya bukan wanita yang lemah.
"Iya iya, ya sudah gue kesana sekarang!" kata Adnan sembari ia bangkit dari duduknya. "Matiin Cctvnya awas aja Lo nonton ya!" ancamnya pada Adnan Sebelum ia keluar dari ruangan Fadhil.
"Iya iya, ngapain juga gue nonton Lo! Yang ada gue rugi!" balas Fadhil ngasal sambil ia mematikan layar laptopnya.
"Iyalah rugi orang Lokan jomblo akut, jadi kalau melihat gue mesraan ma bini gue, Lo mau melampiaskan kemana bro? hahaha," ejek Adnan, sebelum ia benar-benar menutup pintu ruangan Fadhil.
"Huh! Sudah bisa nyombong dia ya! Padahal juga dia mantan jomblo akut jugakan, mendingan gue pernah pacaran. Nah dia nggak pernah sama sekali!" gerutu Fadhil setelah Adnan menghilang dibalik pintu ruangannya.
********
Kirana yang masih terjebak didalam ruangan Adnan. Masih berteriak-teriak, berharap seseorang datang untuk menolongnya. Namun teriaknya seperti tiada artinya, karena ternyata ruangan tersebut, memiliki kedap suara.
"Huh! Apakah kuping karyawan di perusahaan ini bermasalah? Mengapa tidak ada yang mendengar teriakkan gue sih!" gerutu Kirana, yang terlihat kini ia sedang duduk dilantai, bersandar di dinding, tepat di samping pintu ruangan Adnan.
"Bukan kuping mereka yang bermasalah, tapi memang ruangan ini memiliki kedap suara. Sehingga kamu berteriak sekuat tenaga pun mereka tidak akan mendengarnya"
Mendengar suara bariton seorang Pria yang ia kenali. Kirana spontan berdiri dari duduknya dengan begitu tergesa-gesa. Sehingga ia tak menyadari kalau kakinya memijak roknya sendiri, membuat keseimbangannya hilang, alhasil tubuhnya oleng dan hampir saja ia terjatuh. Untung saja Adnan dengan sigap menangkap tangannya dan langsung menariknya kedalam pelukannya.
"Sebegitu senangnyakah melihat saya datang hm?" bisik Adnan, membuat Kirana bergidik karena nafasnya menerpa ke telinganya Kirana. Hingga tanpa terasa ia mengeluarkan suara aneh menurutnya dari mulutnya.
"Ukhm.." Adnan tersenyum saat mendengar suara lenguhan istri kecilnya. Namun Kirana langsung menyadari senyuman yang terlihat mesum di matanya. Dengan spontan Kirana langsung mendorong tubuh Adnan. "Lepaskan saya Pak Guru!" sentaknya dengan spontan.
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah kamu kangen sama saya, hm?" kata Adnan, terdengar begitu percaya diri.
"Cih Pak Guru PD banget sih! Siapa juga yang kangen sama pacarnya orang!" cetus Kirana yang terlihat, ia sedikit kesal dan canggung. Ditambah lagi jantungnya sejak tadi begitu bergejolak. Membuat ia bingung mengambil sikapnya.
"Pacar orang? Siapa yang pacarnya orang, Kana?" tanya Adnan, yang sebenarnya ia tahu arah perkataannnya Kirana.
"Ya Pak Gurulah!" balas Kirana ketus, dan terlihat juga dari wajahnya, kalau ia sedang kesal.
Adnan tersenyum melihat tingkah wajah istrinya, yang terlihat tidak bersahabat. "Oh'hoo.. sepertinya istri kecilku sedang cemburu ya?" sindirnya sembari ia mendekati wajahnya kewajah Kirana. Membuat Kirana kaget, karena Adnan melakukannya secara tiba-tiba.
"Eh! Apaan sih bapak! Lagian siapa juga yang cemburu, Pak Guru mah mengada-ngada!" kata Kirana sembari ia mengalihkan pandangannya.
"Hmm.. Ya sudah kalau tidak cemburu, sekarang temani saya makan saja," ajak Adnan sambil ia menarik tangan Kirana menuju kesofa yang terlihat makanan masih utuh.
"Kenapa kamu tidak memakan makanannya sih? Apakah kamu tidak laparkah?" tanya Adnan saat mereka sudah berada di sofa.
"Tidak! Saya tidak lapar kok Pak!" kata Kirana masih bernada ketus. Namun saat bersamaan terdengar suara kruyuk, yang berasal dari perut Kirana, membuat wajahnya langsung memerah menahan malu. Sedangkan Adnan yang mendengar itu spontan tertawa.
"Hahahaha.. ternyata perut kamu lebih jujur ya hahaha" ledek Adnan yang masih tertawa kekeh melihat wajah Kirana yang begitu merona.
Mendengar ledekan dari suaminya, spontan Kirana langsung berdiri dari duduknya. "Saya mau pulang Pak!" katanya dengan ketus. Dan hendak melangkahkan kakinya, namun langsung di tarik oleh Adnan sehingga Kirana langsung terduduk di pangkuannya Adnan.
"Apaan sih Pak, lepaskan saya!" bentak Kirana sambil berusaha melepaskan diri dari jeratan tangan Adnan yang kini sudah melingkar di pinggangnya.
"Kenapa kamu sangat pemarah sekali sih Sayang? Emang salah ya seorang suami memeluk istrinya hm?" bisik Adnan lagi, dan kembali Kirana bergidik. Bahkan jantungnya semakin berdetak kencang saat Adnan menyebutnya sayang. Namun seketika ia teringat pada wajah wanita yang tadi berjalan dengan Adnan.
"Lepaskan Pak! Kalau ada yang pacar Pak Guru melihatnya pasti ia akan salah paham Pak!"
____________
__ADS_1
Terima kasih ya guys 🙏😘
Atas VOTEnya. Semoga kalian semua masih tetap memberikan dukungannya Pada novel ini. Sekali lagi SYUKRON 🙏🥰.