KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI

KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI
PELIT BANGET SENYUMNYA.


__ADS_3

┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah.🤍❀◆•✾••┈


"𝙆𝙚𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙙𝙪𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙞. 𝙎𝙖𝙩𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙝𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙪 𝙙𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙩𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙞 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙬𝙖𝙣𝙢𝙪. 𝙈𝙖𝙠𝙖 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙥𝙞𝙝𝙖𝙠 𝙠𝙚𝙥𝙖𝙙𝙖𝙢𝙪, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣𝙡𝙖𝙝 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙜𝙚𝙜𝙖𝙗𝙖𝙝, 𝙙𝙖𝙣 𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙖 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙬𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙨𝙖𝙗𝙖𝙧𝙡𝙖𝙝. 𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙪𝙟𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙢𝙪."


~𝘈𝘭𝘪 𝘣𝘪𝘯 𝘈𝘣𝘪 𝘛𝘩𝘢𝘭𝘪𝘣


•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•


"Mengapa kamu senyum-senyum begitu hm?"


Mendengar suara bariton yang mengagetkannya, seketika Billa langsung menoleh kebelakang, dan terlihatlah, Fadhil, yang ternyata sudah mengganti pakaiannya dengan setelan jas kerjanya yang berwarna hitam.


"Eh, ng-nggak papa kok, Kak," balas terlihat sedikit gugup. "Hum..Kakak mau pergi ya? Kok, ganti pakaian?" tanyanya penasaran, dan masih terlihat canggung.


"Aku mau cek kantor dulu ya Sayang, soalnya sudah dua Minggu lebihkan, aku tinggalkan. Kamu nggak papakan, dirumah sama mbok Inah? Nanti kalau bosen, istirahat atau jalan-jalan sama Mbok Inah juga nggak papa kok," ujar Fadhil, terdengar lembut. Dan tanpa rasa canggung ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Billa. Padahal pembantunya masih ada disana.


"Eh!" Billa terlihat kaget, saat Fadhil mengecup dirinya di depan Mbok Inah, membuat ia jadi sedikit malu pada perempuan itu. "I-iya Kak, nggak papa kok, Kakak hati-hati dijalan ya," balas Billa, sambil tersenyum lembut pada Fadhil.


"Baiklah Sayang kalau gitu aku pergi ya." ucap Fadhil sambil mengusap lembut kepala Billa, yang masih tertutup hijab. "Oh iya Mbok titip, istriku ya," katanya lagi pada Inah.


"Tentu, Den, in shaa Allah Mbok jagain kok, bidadarinya Aden," balas Inah sembari ia mengedipkan sebelah matanya. Membuat Fadhil tersenyum, begitu juga dengan Billa.


"Terimakasih Mbok, Ya sudah aku pergi ya, Assalamu'alaikum" pamit Fadhil.


"Wa'alaikumus salam," balas Billa dan Inah, secara bersamaan. Setelah mendapatkan jawaban, Fadhil pun melangkah pergi meninggalkan ruang keluarganya dan pergi melangkah keluar rumah.


"Maa shaa Allah, Den Adhil, benar-benar sudah berubah banget ya Neng. Dia sekarang jadi orang yang romantis, dan juga hangat. Sudah nggak ada lagi Pria dingin dirumah ini Neng," ujar Bi Inah sembari menatap kepergian majikannya. Terlihat sekali ia amat senang melihat perubahan anak asuhnya itu.


"Alhamdulillah Bi, Billa juga senang, melihat Pria Es, sudah mencair," balas Billa yang tanpa sadar ia keceplosan dengan mengatakan Pria Es.

__ADS_1


"Pria Es?" Inah mengulangi perkataannya Billa, dengan dahi yang terlihat mengerenyit.


"Eh, maksudnya kak Fadhil, Mbok, hehehe maaf Mbok," ucap Billa sambil cengengesan sedikit malu pada Mbok Inah.


"Nggak papa kok Neng, bukan Neng aja yang bilang seperti itu. Ya sudah, Neng Billa, pasti lelahkan? Ayo Neng, Mbok antar kekamarnya Den Adhil," ajak Inah, sembari ia menggandeng tangannya Billa tanpa rasa canggung.


"Baiklah Mbok," balas Billa, lalu keduanya pun langsung berjalan menuju ke anak tangga. Karena memang kamar Fadhil berada dilantai dua.


Setibanya, di kamarnya Fadhil, Billa terlihat amat kaget dengan nuansa yang terdapat di kamar suaminya itu. "Ini Kamarnya Kak Fadhil Mbok?" tanyanya terlihat sedikit, bergidik.


"Iya Neng, kenapa Neng?"


"Kok seram ya Mbok? Terlihat dingin, persis banget sama orangnya," kata Billa, yang berkata apa adanya. "Masa cat kamarnya Warna hitam dan abu-abu sih Mbok, sudah kayak kamarnya Mbah dukun deh? Billa nggak mau akh istirahat disini Mbok, seram," lanjutnya lagi, dan sekali lagi ia bergidik, setiap melihat sekeliling kamar Fadhil, yang besar namun, nuansanya terlihat gelap dan menyeramkan.


"Ooh, ya sudah kalau begitu, Eneng istirahat di kamar almarhum orang tua Den Adhil aja ya? Disana, kamarnya lebih terang dan nyaman kok," balas Inah, dan dengan cepat Billa langsung mengangguk kepalanya, seraya berkata.


Inah pun langsung membawa istri majikannya menuju ke kamar orang tuanya Fadhil, yang masih berada di lantai dua juga, Namun terlihat lebih tersudut dilantai dua. Namun saat kamar itu dibuka oleh Inah.


"Wah, ini baru kamar Bi, terang banget ya dan indah lagi," ujar Billa dengan mata terlihat berbinar saat melihat kamar orang tuanya Fadhil, yang bernuansa putih. Apalagi disana begitu banyak jendela kacanya dan ada balkonnya juga membuat kamar itu terlihat terang.


"Alhamdulillah, kalau neng suka, sekarang istirahatlah. Nanti, koper Neng Mbok akan pindahkan kesini ya," ujar Inah terlihat lega, karena akhirnya Billa menyukai kamar orang tuanya Fadhil.


"Iya Mbok, terimakasih ya Mbok," ucap Billa sembari ia tersenyum lembut pada Inah.


"Sama-sama Neng, ya sudah Mbok permisi ya Neng, selamat Istirahat,"


"Iya Mbok, makasih."


setelah mendapatkan jawaban dari istri majikannya Inah pun meninggalkan kamar tersebut. Tinggallah Billa, seorang diri di sana. Billa terlihat, senang berada di sana apalagi saat ia melihat dikamar tersebut, ternyata banyak figura-figura foto, membuatnya menjadi penasaran. Sehingga ia pun langsung menghampiri foto-foto tersebut.

__ADS_1


"Wah, Inikah foto orang tuanya kak Fadhil? Hum, Ternyata Kak Fadhil mirip dengan ayahnya ya? Tampan," gumam Billa saat melihat foto seorang pria yang sedang merangkul seorang wanita cantik, yang sudah pasti itu adalah ibunya Fadhi.


"Ibunya Kak Fadhil juga cantik, bahkan senyumnya manis sekali. hum berati senyuman Kak Fadhil yang manis itu, berasal dari ibunya toh? Hmm, tapi sayang Kak Fadhil pelit banget senyumnya, padahal kalau tersenyumkan manis banget," gumamnya lagi, yang terlihat ia begitu fokus memandang foto-foto yang terpanjang di dinding kamar tersebut.


Sehingga ia tak menyadari, kalau pintu kamarnya telah dibuka oleh seseorang. Bahkan orang tersebut, berjalan dengan perlahan mendekati dirinya.


"Benarkah yang kamu katakan hm?"


Bagai disengat listrik, tubuh Billa langsung tersentak kaget, saat mendengar suara bariton yang baru saja muncul. Hingga tanpa terasa ia berteriak.


"Kyaaa!" pekiknya.


"Hei Sayang, ini aku!" ujar Pria tersebut yang ternyata Fadhil.


"Eh, Kak Fadhil! Ikh Bikin kaget aja sih!" bentak Billa, sambil memukul Fadhil dengan spontan.


"Maaf Sayang," ucap Fadhil sambil memeluk istrinya, untuk menenangkannya.


"Loh tapi katanya mau ke kantor? Kok sudah kembali kak?" tanya Billa heran.


"Tidak jadi Sayang, Aku tak sanggup menahan rinduku padamu," ucap Fadhil, yang kemudian ia langsung meraih bibir ranumnya Billa.


"Uhmm!" Billa terlihat kaget mendapatkan serangan secara mendadak dari Fadhil. Akan tetapi ia tidak akan berdaya lagi, kalau sudah mendapatkan ciuman dari Fadhil, yang juga sudah menjadi candunya juga. Bahkan ia langsung terlena dalam tautannya. Sehingga ia tak menyadari kalau Fadhil sudah membopongnya, dan membawanya, ketempat tidur bersepraikan putih tersebut.


Setelah itu Author nggak tahu lagi, karena author nggak mau ngintip yaa..


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dengan VOTEnya Dong biar semangat nih. 😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah serta komentarnya ya guys 😉.

__ADS_1


__ADS_2