
Masih diruang kantornya Adnan.
Adnan tahu kalau istrinya masih salah paham padanya. Sehingga kini istri kecilnya itu sedang diselimuti rasa cemburu. Dan itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang terlihat kesal pada dirinya.
"Kana, dengarlah, wanita yang kamu lihat tadi, dia bukan pacar saya. Dan dia hanya sekertaris saya Kana" kata Adnan dengan lembut. Sembari ia menduduki Kirana di sampingnya.
"Cih! Bukan pacar kok manggilnya Honey!" gumam Kirana lirih. Namun masih terdengar oleh Adnan, dan ia pun tersenyum.
"Kamu salah Kana, aku tidak memanggilnya honey, tapi Hani, karena namanya memang Hani. Kalau kamu tidak percaya, biar saya panggil dia" kata Adnan yang kemudian ia bangkit dari duduknya. Lalu ia melangkah ke meja kerjanya.
"Pak Guru mau apa?" tanya Kirana terlihat penasaran.
"Mau panggil Hani, bukankah kamu penasaran sama diakan?" kata Adnan sembari ia menekan tombol tablephonenya. "Hani, keruangan saya!" katanya, lalu ia pun kembali ke sofa dan kembali duduk di sebelah Kirana.
"Siapa juga yang penasaran sama dia? Pak Guru kali ah!" balas Kirana terdengar ketus.
" Kok saya? Jelas-jelas kamu jugaan, bahkan kamu sampai cemburukan sama dia?" sindir Adnan yang nampak senang, karena melihat Kirana yang sudah tidak begitu membatasi dirinya lagi.
"Yee, siapa bilang saya cemburu? Pak Guru mah ke ge'eran mah," protes Kirana, dan diwaktu bersamaan terdengar ketukan pintu.
"Masuk!" seru Adnan, dan tak berapa lama masuklah seorang wanita cantik, yang tadi sempat dilihat oleh Kirana.
"Permisi Pak, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan sopan.
"Iya, perkenalkan diri kamu pada istri saya secara lengkap," balas Adnan datar.
Mendengar kata Istri dari mulut Adnan, wanita itu tersentak kaget. "Eh, Istri?!"
"Ada apa? Kenapa kamu kaget begitu?" tanya Adnan sambil mengerutkan keningnya, saat melihat wajah wanita itu kaget.
"Eh, nggak papa Pak, saya hanya kaget saja ternyata Bapak, sudah memiliki istri" kata Wanita itu, dan sekilas ada kekecewaan yang terpancar dari raut wajahnya.
"Sudah jangan lama-lama, cepat kenalkan dirimu!" ketus Adnan.
"Baik Pak... Hai Nyonya, perkenalkan nama saya Rahanidah, biasa di panggil Hani dan saya sekertarisnya Pak Adnan," kata wanita itu yang biasa di panggil Hani.
"Eh, salam kenal kak, saya Kirana Ardhita, biasanya di panggil Dhita kak" balas Kirana sedikit malu.
"Wah, nama yang indah ya, Nyonya juga masih terlihat muda banget ya?" ujar Hani dengan memasang senyum keterpaksaan.
"Sudah selesai sesi perkenalannyakan? Sekarang kamu boleh pergi sekarang!" cetus Adnan, dengan wajah datarnya.
"Oh baiklah Pak, kalau begitu saya permisi Pak, Nyonya" balas Hani, terlihat tidak senang karena Adnan mengusirnya dengan tangan yang di lambaikan, berkesan ia sedang mengusir bintang.
__ADS_1
"Gimana, Sudah jelaskan? Kalau dia bukan siapa-siapanya saya, jadi jangan cemburu lagi oke" ujar Adnan setelah kepergian Hani.
"Iiss.. dibilang saya nggak cemburu jugaan!" dalih Kirana, yang terlihat ia sedikit kesal dan malu.
"Iya iya deh, kamu nggak cemburu, sekarang makanlah, atau apakah kamu ingin saya suapin hm?"
"Ti-tidak, tidak! Saya bisa makan sendiri Pak Guru!" kata Kirana sedikit canggung. Dan ia pun langsung melahap makanannya, yang memang kebetulan ia juga sudah sangat lapar sekali. Melihat Adnan yang hanya memperhatikan dirinya saja, membuat Kirana semakin canggung.
"Kenapa Pak Guru tidak makan? Apakah melihat saya akan kenyangkah?" tanya Kirana dengan mulut yang sedang dipenuhi makanannya
"Kamu makanlah yang benar, saya memang kenyang melihat kamu makan yang seperti itu," kata Adnan sambil ia meminum tehnya.
"Emang kenapa dengan makan saya Pak? Apa ada yang aneh dengan cara makan saya?" tanya Kirana yang terlihat makannya terburu-buru, sehingga mulutnya begitu penuh. Membuat Adnan tersenyum lucu melihatnya.
"Ya untuk ukuran cewek sangat aneh. Masa anak cewek makan kayak orang kelaparan yang belum makan beberapa hari sih gitu sih?"
"Emang saya kelaparan! Ini jugakan salah Pak Guru!" kata Kirana yang terlihat cuek dengan cara makannya yang sudah seperti laki-laki.
Adnan mengerutkan dahinya, mendengar Kirana yang menyalahkan dirinya. "Eh, kok gara-gara saya sih? Emang saya kenapa?" tanyanya terlihat penasaran.
"Ya iyalah gara-gara Pak Guru! Kenapa coba nggak pulang-pulang? Jadikan saya cuma bisa makan mie instan dong jadinya Pak! Pokoknya Pak Guru harus tanggung jawab!" kata Kirana asal yang sepertinya ia tak menyadari akan perkataannya sendiri.
Adnan tersenyum melihat tingkahnya yang terlihat polos itu. "Hmm... Jadi saya harus tanggung jawab nih ceritanya?"
"Iya dong! Emang Pak Guru mau lepas tanggung jawab ya? Dosa loh Pak! Kata Pak Haji begitu Suami itu memiliki 5 kewajiban tanggung jawab yaitu..
Dalam surat Al-Baqarah pun dijelaskan tentang kewajiban seorang suami yang harus memberikan nafkah ke istrinya, yakni:
"Dan kewajiban bapak memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya."
Menjaga dan melindungi istri
"Sudah kewajiban seorang suami melindungi keluarga, termasuk sang Istri. Dalam artian melindunginya dari hal apapun, mulai dari menjaga harga diri, kehormatan, memperlakukannya dengan baik hingga menjunjung derajat tinggi istri. Segala hal yang berkaitan dengan keamanan istri pun merupakan kewajiban dan tanggung jawab suami."
__ADS_1
membimbing istri ke jalan yang benar
Kewajiban lain dari seorang suami, yakni bisa membimbing istri ke jalan yang benar. Sebagai kepala keluarga, suami harus membimbing istri ke jalan Allah SWT dan menjalani segala ajaran agama.
Hal ini juga telah dijelaskan dalam surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi, yaitu:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."
Memberikan kasih sayang dan cinta yang tulus kepada istri.
"Suami bisa memperlihatkan perhatiannya ke istri melalui tutur kata lembut serta mampu mengekspresikan rasa cintanya. Dengan memberikan rasa cinta kepada istri, rumah tangga akan semakin rukun dan harmonis.
Hal ini juga dijelaskan di Alquran dalam surat Ar-Rum ayat 21, yaitu:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
"Yang Kelima.." Kirana tiba-tiba terhenti saat ia menyebutkan yang Kelima dan Bahkan ia langsung menutup mulutnya.
Adnan sempat tersenyum senang, saat mendengar Kirana tanpa rasa canggung menjelaskan tentang tanggung jawab seorang suami yang di ketahuinya dari bosnya bekerja. Adnan langsung mengerenyit saat melihat istrinya menutup mulutnya. Dan Sebenarnya Adnan mengetahui yang kelima. Namun ia sengaja pura-pura tidak mengetahuinya.
"Kenapa tidak di teruskan? Apa yang kelima tanggung jawabnya Suami hm?" tanyanya dengan memasang wajah yang penasaran.
"Eh.. Lupakan saja pak! Nggak jadi!" katanya terlihat ingin mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa harus dilupakan? Ayolah Sayang sebutkan apa Kelimanya hm?" tanya Adnan sambil ia mendekati wajahnya ke wajahnya Kirana.
DEGH!!!
___________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..ππ₯°
Jangan pelit juga dong untuk Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya Authorπ.
__ADS_1
Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys ππ Syukron π.