KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI

KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI
CINTA TUMBUH KARENA TERBIASA.


__ADS_3

Pasha yang sudah seperti serigala yang sudah siap memangsa buruannya itu, terlihat begitu tergesa-gesa ingin membuka bajunya. Bahkan saking tidak sabarannya ia menarik, begitu saja bajunya. Sehingga kancing bajunya terlepas dari bajunya. Lalu dengan cepat juga ia langsung keatas ranjang yang di atasnya terdapat Kirana yang masih belum sadarkan diri.


Pasha memandang wajah Kirana dengan pandangan mesumnya. Lalu ia menciumi leher Kirana yang terlihat begitu putih, sambil tangannya membuka kancing bajunya Kirana, dan baru dua yang berhasil ia buka tiba-tiba Kirana membuka matanya. Dan ia terlihat kaget saat melihat Pasha yang sedang berada di atas tubuhnya.


"Lo mau apa!" sentak Kirana begitu kaget.


"Eh kamu sudah bangun Sayang?" tanya Pasha terlihat senang, melihat Kirana telah sadar. "Tapi baguslah kamu sudah sadar, jadi tak merasa bermain dengan kedebong pisang," lanjut Pasha ingin mencium lehernya Kirana.


"Jangan gila Lo Pasha! Menyingkir dari tubuhku! Kalau tidak, gue hajar Lo!" teriak Kirana, sambil ia berusaha melepaskan tangannya yang sudah terkunci dengan tangan Pasha. Dan anehnya ia seperti tidak bisa melawannya.


"Ada apa dengan gue? Kenapa gue berasa tidak memiliki tenaga? Ah gawat kalau seperti ini, gue.." Batin Kirana yang terlihat berusaha memberikan perlawanan pada Pasha namun selalu gagal karena ia merasa kekuatannya seperti hilang.


"Aak! Hentikan Pasha... dasar bajiangan Lo!" teriak Kirana, yang terlihat semakin panik karena Pasha sudah membuka sebagian bajunya.


"Tidaaak! hiks... brengsek lo..! Jangan lakukan ini Pasha! Toloooong! ukh..." teriak Kirana yang seluruh tubuhnya sudah gemetaran.


"Ah sayang.. kamu minta tolong? siapa yang akan menolong kamu hm?" kata Pasha. Namun saat bersamaan.


GUBRAAAK!!! terdengar suara hantaman dari luar pintu kamar hotel membuat pintu tersebut langsung terbuka lebar. Dan disertai munculnya seorang pria berjas hitam, dengan wajah yang terlihat begitu marah. Pasha langsung kaget melihat ke munculan Pria yang ia kenali.


"Pak Guru Adnan?!" sentaknya dengan posisi ia masih berada di atas tubuhnya Kirana.


Tanpa basa-basi lagi Pria itu yang ternyata Adnan itu langsung menarik tubuh Pasha yang sudah setengah tanpa busana itu dari tubuh Kirana.


"Berani sekali kau menyentuh dia!" katanya sambil melayangkan satu pukulan keras pada bibirnya Pasha. Sehingga darah segar muncrat dari bibirnya, karena Adnan tadi sempat melihat ia menciumi leher Kirana.

__ADS_1


Adnan yang terlihat begitu geram pada Pasha, bukan hanya sekali saja ia melayangkan pukulannya. Tetapi berkali-kali, pukulan yang bertubi-tubi itu mendarat kewajah dan tubuh Pasha. Bahkan ia tak memberikan kesempatan sedikit pun pada Pasha untuk melawannya. Sehingga wajah Pasha sudah tidak dapat dikenali lagi. Untungnya Fadhil dan anak buahnya segera datang sehingga Pasha terlepas dari amukan Adnan.


"Stop Bro! Hentikan! Lo bisa membunuhnya nanti!" seru Fadhil sembari menahan tubuhnya Adnan agar Ia tidak keterusan menghajar Pasha.


"Gue nggak peduli! Dia pantas mati! Berani sekali ia menyentuh bini gue!" seru Adnan, yang kemudian ia kembali hendak menendang Pasha. Namun Fadhil kembali menahannya dengan sekuat tenaga. Karena memang tenaga Adnan sangatlah kuat hingga ia sulit menahannya.


"Sadar Nan! Kalau dia mati, Lo bakalan di penjara! Lalu bagaimana dengan istri Lo hah?!" bentak Fadhil terlihat hampir kualahan menahan Adnan. "Lihat bini Lo sekarang Nan! Apa Lo akan membiarkan dia seperti itu hah!" serunya lagi pada Adnan, sembari ia memaksa wajah Adnan agar menoleh kearah Kirana.


Adnan pun spontan melihat istrinya yang masih terbaring yang terlihat begitu menyedihkan. Dengan wajah yang terlihat yang sudah di penuhi air mata. Serta baju yang bagian depannya terbuka manampakan bra yang berwarna pinknya terlihat jelas. Adnan pun langsung melepaskan diri dari pegangan tangan Fadhil, dan langsung membuka baju jasnya, dan dengan cepat ia menutup tubuh Kirana dengan jasnya.


"Tenanglah, sudah tidak apa-apa, ada aku disini" ucapnya sambil ia membangkitkan tubuh Kirana agar duduk, dan ia pun langsung memeluk tubuh Kirana yang terlihat masih gemetaran. Sedangkan Kirana tidak dapat mengeluarkan kata-katanya, yang terdengar hanya tangisnya saja yang pecah di dalam pelukan Adnan.


"Huhuhu..hiks.. heuheuheu..hiks...hiks..huhuhu.."


"Sssth... kamu sudah aman Dhita, dia tidak akan berani mengganggumu lagi. Sekarang diamlah, jangan menangis lagi ya?" ujar Adnan dengan lembut, sembari ia membelai rambut Kirana yang tergerai panjang.


"Hiks..ini semuanya karena Pak Guru! Hiks.. semuanya gara-gara Pak Guru...hiks.. huhuhu.. hiks.." rancau Kirana yang masih berada di pelukan Adnan, sambil ia memukuli dada bidang Adnan.


"Iya saya salah, saya minta maaf. Sekarang kita pulang ya," kata Adnan yang tak mau mempermasalahkan perkataan Kirana. Bahkan ia langsung menggendong tubuh Kirana dan membawanya keluar dari kamar hotel. Namun sebelum ia melangkah keluar ia kembali melihat tubuh Pasha yang terlihat mengenaskan itu, dengan tatapan kebencian.


"Bawa dia langsung kepada pihak yang berwenang. Pastikan ia mendapatkan hukuman yang setimpal."katanya pada salah satu anaknya.


"Baik Bos!" balas anak buahnya itu.


"Ayo Fadhil kita secepatnya pergi dari sini!" titah Adnan pada Fadhil. Lalu ia pun melangkah keluar dari kamar hotel tersebut, dengan masih menggendong Kirana yang saat ia wajahnya sedang di sembunyikan di dada bidangnya Adnan.

__ADS_1


Setelah mereka berada di luar hotel, Adnan langsung membawa Kirana masuk ke dalam mobilnya. Dengan posisi Kirana duduk di pangkuannya. Setelah Fadhil ikut masuk mobil pun mulai melaju dengan perlahan meninggalkan area perparkiran hotel.


"Kita kemana Bos?" tanya Fadhil di dalam perjalanan mereka.


"Menurut Lo kemana?" tanya Adnan balik dengan nada datarnya.


"Lah mana gue tahu? Habis Lo sih aneh, bisa gitu ya suami, istri, tinggal terpisah. Udah gitu setiap bertemu kayak tikus dan kucing, berantem mulu," ujar Fadhil yang terlihat bingung dengan kehidupan rumah tangga Bosnya yang baru seumur jagung.


"Kenapa jadi Lo yang protes hah?"


"Bukannya protes Bos, cuma heran aja gue. Biasanya yang gue tahu tuh, kalau pengantin baru tuh enak tau, setiap hari pasti ayang-ayangan. Nah Lo berdua saban bertemu pasti ribut. Mana tinggal secara berpisah lagi. Gimana cinta akan tumbuh kalau seperti itu Bro" ujar Fadhil panjang lebar.


Mendengar perkataan Fadhil Adnan mengerutkan keningnya. "Apa maksud Lo?" tanyanya yang sepertinya tak paham dengan perkataan Fadhil.


"Maksudnya gue, seharusnya Lo tinggal bersama sama bini Lo, biar cinta akan tumbuh pada kalian berdua. Kan ada tuh pepatah Jawa mengatakan. "Tresno Jalaran Soko Kulino" yang artinya adalah "Cinta Tumbuh Karena Terbiasa." Nah makanya coba kalian tinggal bersama, siapa tahukan akhirnya bini Lo nggak minta cerai lagi" jelas Fadhil.


Adnan terdiam setelah mendengar penjelasan Fadhil, ia hanya memandangi wajah istrinya yang terlihat seperti sedang tertidur. Namun tiba-tiba saja tangan Kirana memeluk tubuhnya, sambil wajahnya ia gesekan ke lehernya Adnan.


"Ukh..panas..uhmm..di sini dingin..uhmm.." rancau Kirana membuat Adnan dan Fadhil yang melihatnya dari kaca spion saling pandang.


___________


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..πŸ™πŸ₯°


Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya AuthorπŸ˜‰.

__ADS_1


Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys πŸ™πŸ˜‰ Syukron 😊.


__ADS_2