
Kirana tercengang saat mendengar penjelasan tentang yang 7 kewajiban seorang istri dari Adnan. Bahkan ia tak tak mampu mengeluarkan kata-katanya lagi. Karena sebenarnya ia juga sudah di beritahu juga oleh Bosnya seperti ia diberitahu kewajiban seorang suami. Cuma ia tak menyangka kalau Adnan ternyata telah mengetahuinya. Dan akhirnya ia terjebak dalam perangkapnya sendiri.
"Kenapa diam? Apakah penjelasanku tidak sesuai dengan apa yang kamu ketahui hm? Karena sudah pasti Bos kamu itu, sudah menjelaskannya juga bukan?" tanya Adnan dengan wajah seriusnya.
mendengar perkataan dari Adnan Kirana tersentak kaget. "Eh! Dari mana Pak Guru tahu?" tanyanya heran.
"Ya tahulah! karena tidak mungkin bos kamu hanya memberitahukan tentang kewajiban seorang suami sajakan? Jadi sudah pasti beliau akan menjelaskan kebalikannya. Benarkan yang aku katakan hm?"
Sekali lagi Kirana tidak dapat berkata apapun, karena apa yang dikatakan Adnan benar adanya. Bahkan rasanya ia ingin pergi karena merasa malu.
"Bagaimana Kana? Apakah kamu bersedia juga, memenuhi kewajiban kamu sebagai istri hm?"
DEGH!!
Jantung Kirana kembali berdetak kencang, tatkala ia mendekati pertanyaan Adnan. Sehingga ia bingung harus menjawab apa.
"Kenapa diam? Ayolah dijawab, apakah kamu bersedia hm? Kamu sudah tahukan hukumnya? Emang kamu mau mendapatkan dosa hm?" tanya Adnan dan dengan spontan Kirana menggelengkan kepalanya.
"Nah kalau nggak mau berdosa, seharusnya kamu bersedia dong memenuhi kewajiban kamu? Dan itu artinya mulai malam ini kita harus tidur satu kamar, gimana kamu setujukan?" lanjut Adnan lagi. Sembari ia mengedipkan sebelah matanya. Membuat mata Kirana membulat kaget.
"Eh! Tidak tidak! Saya tidak mau Pak! Lagian sayakan masih dibawah umur dan masih sekolah Pak! Saya nggak mau cita-cita saya terhalang karena saya hamil! Soalnya kata Bunda kalau tidur berdekatan sama Pria bisa hamil! Makanya Bunda menyuruh saya jangan berdekatan sama Pria apalagi tidur bareng," ujar Kirana terlihat polos. Membuat Adnan seketika tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, kenapa kamu polos sekali sih? Kana kalau hanya tidur bareng saja, itu tidak akan membuat kamu hamil, tanpa ada percintaan didalamnya. Jadi kamu tidak usah takut, selagi kamu belum siap melakukan percintaan denganku. Makanya aku tidak akan menyentuhmu. Lagian kamukan sudah berada di semester akhir, ya nggak papa dong kalau aku sentuh," jelas Adnan sambil menaik turunkan alisnya saat kalimat terakhir.
"Iiis apaan sih Pak Guru! Mesum banget sih!" kata Kirana sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Adnan gemas melihatnya. Seakan ia ingin meraih bibir itu namun ia tahan. Karena ia juga memang tak ingin menyentuh Kirana dulu sebelum, Kirana memang memberikannya dengan ikhlas.
"Hahaha.. kamu lucu sekali ya Kana? Tapikan aku mesum itu hanya pada istriku saja, jadi nggak ada larangan sayang,'' kata Adnan sambil tertawa kekeh melihat wajah istrinya yang semakin lucu saat melihat dirinya mentertawakannya.
__ADS_1
"Huh! Nggak lucu Pak Guru!" cetus Kirana kesal.
"Oke, sorry sorry. Oh iya kata Fadhil bukankah kamu ingin berbicara? Sekarang katakan, apa yang ingin kamu bicarakan denganku kana?" tanya Adana terdengar lembut.
Mendengar perkataan Adnan, seketika Kirana langsung teringat niat awal ia ingin menemui Adnan. "Hah iya! Bukankah gue kesini mau minta maaf? Tapi melihat Pak Guru seperti ini, apa itu artinya dia sudah tidak marahkan sama gue?" batin Kirana yang nampak bingung. Apakah ia harus mengutarakan niat awalnya.
Melihat Kirana terdiam Adnan mengerutkan dahinya seraya berkata. "Mengapa kamu diam? Dan apa yang sedang kamu pikirkan hm?" tanyanya terlihat penasaran.
"Tidak ada Pak,"
"Lalu kenapa tidak kamu katakan, yang kamu ingin bicarakan? Apakah sebenarnya Fadhil berbohong padaku yang mengatakan Kamu ingin berbicara hm?"
"Tidak Pak, dia tidak berbohong, saya memang tadi Ingin berbicara pada Pak Guru" balas Kirana, masih terlihat ada keraguan.
"Ya sudah, sekarang katakanlah?" desak Adnan.
Adnan tersenyum tipis, mendengar mengungkapan permintaan maaf Kirana. "Meminta maaf? Minta maaf untuk apa?" tanyanya yang sebenarnya ia tahu arah perkataan Kirana.
"Itu Pak, hmm.. soal desakan saya, yang selalu meminta cerai dari Pak Guru. Tapi sebenarnya saya minta cerai juga, biar Pak Guru bisa bebas memilih istri, yang benar-benar pilihan Pak Guru. Bukan seperti sekarang Pak Guru melakukan pernikahan dengan saya karena keterpaksaankan? Saya tahu, Pak Guru melakukan itu, karena ingin membalas Budi pada ibu sayakan? Karena Bunda yang sudah menyelamatkan ibunya Pak Guru, iyakan?" ungkap Kirana, yang masih menundukan wajahnya dalam-dalam, karena sebenarnya ia sudah menahan air matanya sejak tadi.
"Kana?" panggil Adnan lembut.
"Hmm?"
"Lihat saya! Kalau sedang diajak bicara seharus melihat ke orang yang mengajak kamu bicara Kana!" tegas Adnan.
"Tidak Pak, saya tidak mau!" balas Kirana yang masih Keukeh menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kana?" panggil Adnan lagi, sambil ia menaikkan wajah Kirana dengan kedua tangannya, lalu dihadapkan dengan wajahnya. Dan otomatis pandangan Kana pun mengarah ke wajahnya Adnan.
"Kana dengarlah," ucap Adnan begitu lembut.
"Saya tidak pernah merasa terpaksa untuk menikahi kamu, Kana. Dan bukan juga karena Bunda telah menyelamatkan Mamah. Tetapi saya, benar-benar tulus, ingin menjadi Imamnya kamu, Ingin membimbing kamu, ingin beribadah karena Allah bersama kamu. Jadi jangan pernah berpikir aku menikahi kamu karena terpaksa." tutur Adnan lagi yang masih terdengar lembut di pendengaran Kirana.
Mendengar ungkapan Adnan, akhirnya air mata Kirana yang sejak tadi ia tahan, akhirnya tumpah begitu saja. Dan ia juga tak mampu mengeluarkan kata-katanya, ia hanya memandangi mata Adnan seperti ingin mencari kebenaran disana.
Melihat Air mata Kirana membasahi pipinya, Adnan langsung mendekati wajah Kirana, dan ia pun menghapus air matanya Kirana dengan mulutnya, yang sepertinya air mata itu ia hisap dan ditelannya. "Jangan menangis Kana, hatiku terasa sakit bila melihat air matamu mengalir seperti ini," katanya setelah ia membersihkan air mata sang istri dengan mulutnya.
"Kana? Kamu maukan, seterusnya menjadi istriku? Yang selalu berada disisiku, dan tidak akan pernah berpisah, hingga Allah sendiri yang memisahkan kita? Kamu Maukan, menjalankan ibadah ini karena Allah bersamaku, kana?" tutur Adnan begitu lembut, dengan tangan yang masih memegang wajah Kirana, dan dengan tatapannya, yang begitu tulus menatap mata Kirana.
Mendengar ajakan Adnan yang begitu tulus, Kirana tak mampu membalasnya dengan perkataannya. Namun ia hanya membalas perkataan Adnan dengan cara memeluknya begitu erat, dan kembali menangis didalam pelukan sang Suami.
"Aku, berjanji akan selalu mencintaimu karena Allah Kana, Ana Uhibbuki Fillah sayang," ucap Adnan dalam posisi mereka Yang masih berpelukan, dan ia pun mengecup puncak kepala Kirana dengan penuh kasih sayang.
Sedangkan Kirana, masih belum mampu mengeluarkan suaranya, hanya isakannya saja yang masih terdengar ditelinga Adnan. "Terima kasih Bunda, karena bunda sudah menitipkan Kana pada Pak Guru, hiks.. hiks... terima kasih Pak Guru," ucap Kirana yang hanya diungkapkan di dalam hatinya saja.
_________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..ππ₯°
Jangan pelit juga dong untuk Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya Authorπ.
Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys ππ Syukron π.
__ADS_1