
Kirana dan Pasha duduk, tak berapa jauh dari meja tempat Adnan yang sedang melakukan pertemuan pada rekan kerjanya. Kirana sengaja menunjukkan kemesraannya pada Pasha di depan Adnan. Bahkan ia sengaja meminta Pasha agar menyuapi ia dengan makanannya. Begitu juga dengan Kirana, yang dengan mesranya menyuapi Pasha.
Kirana menyangka Adnan akan kesal melihat kemesraan. Namun justru Kirana yang menjadi kesal karena Adnan malah tak merespon sedikit pun. Bahkan ia seakan tidak memperdulikan kemesraan antara Kirana dan Pasha. Membuat sifat arogan Kirana muncul, pasalnya Adnan malah pergi begitu saja seperti tidak mengenalnya.
"Hah? Pak Guru mengabaikan gue? Huh! Dasar Guru killer! Dia pergi begitu saja tanpa melihat gue!" gumam Kirana lirih. Sangat terlihat jelas dari wajahnya ia amat kesal sekali karena terabaikan oleh Adnan.
Pasha yang sejak tadi selalu mengambil kesempatan, saat Kirana bersandiwara. Ia masih mengira kalau Kirana melakukannya dengan tulus karena merasa Kirana menyukainya juga. Sehingga ia terlihat begitu senang dengan perlakuan Kirana, dan juga ingin memanjakannya juga.
"Sayang, apa yang kamu lihat? Ini bukalah mulutmu Sayang," ujarnya sembari menyodorkan sebuah sendok berisi makanan kearah mulut Kirana bermaksud menyuapimya lagi.
Kirana yang masih dalam keadaan kesal dengan Adnan. Menjadi tambah kesal saat mendengar Pasha memanggilnya sayang. Sehingga Pasha menjadi pelampiasan kemarahannya. Sampai-sampai sendok yang disodorkan oleh Pasha langsung ditepis oleh Kirana. Hingga sendok pun terjatuh dan isinya berserakan ke mana-mana.
"Sayang... Sayang? Kepala Lo peyang! Jangan pernah memanggil gue dengan kata menjijikkan itu! Lo Paham!" pungkas Kirana, dan ia langsung bangkit dari duduknya. Lalu tanpa basa-basi ia langsung meninggalkan Pasha yang masih terlihat tercengang. Karena heran melihat Kirana yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat itu.
"Hah? Ada apa dengan pacar gue sih? Perasaan tadi baik-baik aja dah, kenapa dia sekarang berubah menjadi macan lagi sih?" gumam Pasha masih terlihat bingung dengan perubahan sikapnya Kirana. Lalu tanpa sengaja Pasha melihat orang di sekitarnya, yang ternyata seisi restoran tersebut sedang memperhatikannya.
"Huh! Gara-gara pacaran sama cewek aneh, gue mendapatkan malu seperti ini! Lihat saja nanti gue akan memberi pelajaran pada cewek aneh itu! Huh! sebaiknya gue secepatnya pergi dari sini saja" gumam Pasha dengan lirih. Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan restoran tersebut dengan wajah yang terlihat kesal yang amat sangat.
*******
Sementara itu Adnan yang lebih dulu keluar dari restoran, tempatnya melakukan pertemuan. Ternyata tidak langsung pergi, ia sengaja memarkirkan mobilnya agak sedikit jauh dari restoran. Karena ia masih ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh istri kecilnya. Dan tidak berapa lama ia memarkirkan mobilnya. Kirana pun keluar dari restoran tersebut juga.
Adnan tersenyum lucu saat melihat wajah istrinya yang terlihat sedang kesal. Hingga ia merancau di sepanjang jalannya. Sambil menendangi apapun yang berada di dekat kakinya. Membuat Fadhil yang ikut melihatnya ikut tersenyum lucu.
"Hihihi... lucu juga ya bini Lo, sepertinya dia lagi merutuki Lo deh, hehehe.." ujar Fadhil sambil terkekeh melihat tingkah Kirana.
"Diam Lo! Ikuti saja dia, dan buka jendela mobilnya gue mau dengar, apa yang sedang ia rutuki!" titah Adnan dengan tegas, sembari ia memindahkan posisi duduknya dengan mendekati jendela mobil yang sudah terbuka sedikit. Hingga ia bisa mendengar omelan Kirana di sepanjang jalan pulangnya.
"Huh! Dasar Guru killer sialan nggak punya akhlak! Pakai Pura-pura nggak melihat gue lagi! Gue sumpahin Lo nggak bakalan laku seumur hidup Lo! Dan Lo akan menjadi duda sampai Lo mati!" umpat Kirana geram, sambil menendang sebuah kaleng bekas minuman dengan kesal.
"Pokoknya gue tidak akan menyerah, sebelum gue mendapatkan surat cerai dari Guru killer itu! Dan gue akan melakukan apapun sampai dia menyerahkan sendiri surat cerai itu!'' gerutu Kirana lagi yang masih menendangi kaleng bekas minuman tersebut, dan kemudian ia memijak kaleng itu hingga penyet, karena kekesalannya.
__ADS_1
Sementara Adnan yang masih di dalam mobilnya terlihat masih tersenyum lucu. Mendengar umpatan dan gerutuan istri kecilnya. Hingga timbullah sebuah ide untuk menggoda Kirana.
"Fadhil, ada kertas dan pulpen?' tanya Adnan pada Fadhil.
"Ada bos tunggu sebentar" Fadhil langsung memberikan sebuah kertas HVS dan sebuah pulpen pada Adnan.
Setelah HVS dan pulpen di tangan Adnan pun langsung menulis kertas tersebut, dan entah apa yang ia tuliskan di atas kertas tersebut dan tak berapa lama kertas itupun ia lipat dan kemudian ia langsung memasukinya kedalam sebuah amplop berwarna coklat.
"Fadhil, berikan amplop ini pada bini gue, kalau dia bertanya katakan saja itu surat keinginannya" ujar Adnan sembari ia menyerahkan amplop berwarna coklat tersebut pada Fadhil.
"Eh, keinginannya? Apa itu artinya Lo akan menceraikan bini Lo Bos?" tanya Fadhil, karena yang ia tahu kalau istri Bosnya itu menginginkan surat perceraian mereka.
"Apa menurut Lo, bikin surat cerai segampang itu hah?"
"Eh, enggak juga sih."
"Ya udah, jangan banyak protes! Cepat serahkan saja amplop itu!" bentak Adnan, terlihat kesal.
"Permisi Nyonya, bisakah kita bicara sebentar?" sapa Fadhil, setelah ia sudah berada didekat Kirana.
Mendengar sapaan Fadhil, sontak Kirana menoleh kearahnya dengan tatapan yang tajam. Karena memang dasarnya ia sedang emosi. Jadi mendengar Fadhil memanggilnya nyonya, membuat ia semakin kesal dan marah.
"Apa Lo bilang?! Nyonya? Emang gue punya tampang Nyonya-nyonya hah?!" bentak Kirana dengan tatapan dingin pada Fadhil. Membuat Fadhil bergidik melihatnya.
"Buju buset! Suami istri sepertinya memiliki sifat yang sama ya? Sangat menakutkan!." batin Fadhil yang masih tercengang melihat Kirana.
"Kenapa Lo diam?"
"Eh, maaf, Anda memang tidak punya tampang seorang Nyonya. Tapi kenyataannya Anda adalah istri Bos saya, maka dari itu saya tetap akan memanggil Anda dengan sebutan Nyonya" jelas Fadhil.
"Istri Bos Lo? Siapa bos Lo? Karena gue merasa tidak pernah menikah dengan Bos Lo!" tanya Kirana ketus.
__ADS_1
"Bos saya, bernama Adnan Rayyan Salim. Apakah Anda mengenalnya?"
"Huh! Ternyata Guru killer itu!" balas Kirana sambil memutar bola mata malasnya.
"Iya itu, dan ia menyuruh saya untuk menyerahkan ini pada Anda Nyonya" ujar Fadhil sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada Kirana.
"Apa ini?" tanya Kirana dengan ketus.
"Sesuatu yang Anda inginkan Nyonya"
Mendengar kata keinginannya, Kirana pun tersenyum tipis, seakan ia tahu isi dari amplop itu.
"Apakah ini surat cerai?"
Bersambung lagi yeee....
_______________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.
Oh iya guys, sambil menunggu author update kembali. Yuk kepoin novel teman Author paling kece yuk milik Author Julia Fajar. Ceritanya keren abis loh. cus akh kunjungi, dan jangan lupa berikan dukungannya juga oke 😉
Jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 🙏🥰.
__ADS_1