
┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah.🤍❀◆•✾••┈
"𝐖𝐚𝐡𝐚𝐢 𝐚𝐧𝐚𝐤𝐤𝐮, 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐧𝐚𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡, 𝐭𝐚𝐩𝐢 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐮𝐥𝐢𝐭 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐦𝐞𝐧𝐮𝐡𝐢𝐧𝐲𝐚. 𝐊𝐡𝐮𝐬𝐮𝐬𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠-𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐢𝐤𝐮𝐭𝐢 𝐡𝐚𝐰𝐚 𝐧𝐚𝐟𝐬𝐮, 𝐧𝐚𝐬𝐞𝐡𝐚𝐭 𝐛𝐞𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐩𝐚𝐡𝐢𝐭. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐤𝐚𝐫𝐚-𝐩𝐞𝐫𝐤𝐚𝐫𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐥𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐝𝐢𝐠𝐞𝐦𝐚𝐫𝐢 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝐡𝐚𝐭𝐢 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚."
__[ 𝐈𝐦𝐚𝐦 𝐀𝐥-𝐆𝐡𝐚𝐳𝐚𝐥𝐢 ]__
صَلَّی اللّٰـهُ عَلَی مُحَمَّدْ صَلَّی اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
••┈••✾•◆❀◆•✾••┈•🤍•┈••✾•◆❀◆•✾••┈••
Disore harinya.
Setelah mengantar Adnan dan Kirana pulang, Fadhil langsung mengarah kerumah orang tuanya. Semenjak Ia memiliki istri ia tak lagi ingin berlama-lama dikantornya, seperti dahulu, setiap ia mengantar Adnan, ia selalu kembali kekantornya. Namun kali ini, jam berapa pun Adnan pulang maka ia pasti akan pulang juga.
Seperti saat ini mobil Fadhil, sudah mendekati rumahnya. Namun saat ia sudah mendekati gerbang rumahnya, tiba-tiba matanya menangkap sosok wanita yang ia kenali, sedang duduk santai di sebuah bangku batu di dekat pinggir jalan tepat di seberang jalan di depan gerbang rumahnya.
__ADS_1
"Bukankah itu Billa? Ngapain dia disana?" gumamnya sambil mengerutkan keningnya. Dengan menajamkan penglihatannya pada sosok wanita, yang ia yakini itu adalah istrinya.
Karena begitu penasaran, Fadhil pun memarkirkan mobilnya, tepat didepan pintu gerbang rumahnya. Setelah itu ia pun langsung turun dari mobilnya. Dan langsung berjalan dan menyebrangi jalan untuk menghampiri wanita tersebut. Disaat ia sudah mendekati, Fadhil terlihat sedikit kaget, saat melihat wanita itu yang terlihat sedang makan sesuatu.
"Billa?" panggilnya dan seketika wanita itu pun menoleh ke arahnya.
"Kak Adhil? Sini kak, makan cilok enak banget loh," kata wanita itu yang ternyata dia benaran Salsabillah.
"Hah! Makanan apa itu Billa? Kenapa kamu jajan dipinggir jalan begini sih? Kan banyak debutnya, dan kotor lagi Billa!" ujar Fadhil, yang sepertinya ia tak suka, melihat istrinya, jajan di pinggir jalan.
"Iss, Kak Fadhil belum ngerasain sih, padahal kalau sudah ngerasain pasti jadi ketagihan. Coba deh kak, ini enak banget, sumpah deh," balas Billa, sembari ia menyodorkan satu tusukan sebuah cilok kearah mulutnya Fadhil.
"Iiikh..! Cobain dulu Kak, ini enak banget tau! Aaa Kak, cepat buka mulutnya!" ujar Billa, masih berusaha memaksakan Fadhil, untuk memakan cilok yang ia sodorkan.
Karena melihat, ada kekesalan pada wajah istrinya, mau tak mau, Fadhil akhirnya membuka mulutnya. Karena ia tak ingin mengecewakan istri kecilnya. Namun baru saja ia mengunyahnya sekali, Fadhil sudah langsung melepehnya.
__ADS_1
"Peuh! Ini tdak enak Billa! Makanan ini bisa membuat kamu sakit perut Sayang!" ucap Fadhil sembari ia merebut pelastik kecil yang berisikan jajanan cilok dari tangannya Billa, lalu dengan segera ia membuangnya ke sebuah comberan.
Melihat makanannya direbut, dan dibuang, seketika Billa langsung menangis, bak seorang anak kecil, yang makanannya direbut oleh orang lain.
"Huaaaaa... heuheuheu.. Kak Fadhil jahat! Heuheuheu... Cilokku dibuang..! Huaaaaa... Sana! Jangan dekat-dekat sama Billa! Huhuhu...!" seru Billa, yang tangisannya pecah, sembari ia mendorong tubuh Fadhil dengan kuat. Ia terlihat begitu kesal pada suaminya, sampai-sampai tatapannya terlihat dipenuhi dengan amarah dan kebencian.
Fadhil yang melihat itu begitu kaget, dan heran. Karena ia tidak pernah-pernahnya melihat istrinya bertingkah aneh seperti itu.
"Sayang, itu makanannya tidak enak! Kalau kamu mau makan itu, kenapa tidak minta mbok Inah, membuatkannya sih? Kan lebih enak dan higienis Sayang," kata Fadhil, sembari ia kembali mendekati istrinya.
"Nggak mau! Heuheuheu...Billa cuma mau yang itu! Huhuhu.. Billa Benci Kak Fadhil!" bentak Billa, yang kemudian ia langsung berlalu meninggalkan Fadhil yang masih bingung melihat tingkah laku istrinya yang benar-benar sangat aneh menurutnya.
"Hah! Apa yang terjadi pada Billa? Masa hanya karena sebukus cilok nggak enak, dia sampai menangis seperti anak kecil sih? Bahkan sampai dia mengatakan membenciku?" gumam Fadhil heran, sembari menatap kepergian istrinya yang terlihat sedang memasuki gerbang Rumahnya dan masih terlihat menangis seperti anak kecil.
"Haiis, bikin pusing saja sih! Ah, sudahlah biarkan saja! Dari pada nanti dia kenak penyakit karena makan-makanan nggak enak gitu! Nanti gue juga yang bakalan repot! Biar saja dia marah sakarang nanti juga setelah gue kasih Rayuan maut pasti meleleh lagi," gumamnya sambil ia melangkah menuju mobilnya kembali.
__ADS_1
...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA Guys..🙏🥰 Bonusin author dong dengan VOTEnya, jangan pelit yaa😉 dan jangan lupa juga ya berikan LIKE, Hadiah, Bintang 🌟 serta komentarnya ya guys Biar novel ini bisa bersinar 😉 Oke guys 🥰 Syukron 🥰😘.