KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI

KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI
CINCIN PERNIKAHAN.


__ADS_3

*┈┉━❖❀🌸 Mutiara Hikmah 🌸❀❖━┉┈*


"Jadilah wanita yang sulit didapatkan namun beruntung saat dimiliki."


Jangan mudah memberi hati karena cintamu tak seperti instagram ngasih hati tinggal klik 2x


sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ


*┉━❖🌸◌⑅●♡⋆♡LOVE♡⋆♡●⑅◌🌸❖━┉*


"Pak Guru!" sentak Kirana, saat ia melihat seorang Pria dengan gagahnya berjalan kearahnya. Dan Kirana juga melihat sekelilingnya banyak para wanita terlihat terkagum-kagum saat melihat suaminya, yang memang terlihat penuh kharisma.


"Huh! Dasar Pria tebar pesona! Bikin wanita-wanita ganjen pada ijo tuh matanya!" umpat Kirana terdengar lirih, dengan wajah yang terlihat kesal.


"Kenapa kamu terlihat kesal begitu? Apakah mereka berduakah yang membuat kamu kesal hm?" tanya Adnan, setelah ia sudah berada di dekat sang istri.


"Tau dah! Mungkin kesal sama orang yang sedang tebar pesona kali!" cetus Kirana masih terlihat kesal, sambil ia melangkah keluar dari lobby perusahaan, setelah kedua security itu menyingkir disaat Adnan telah datang.


Adnan mengernyitkan dahinya setelah mendengar perkataan Kirana. Lalu iapun menoleh ke sekitarnya dan terlihatlah semua mata wanita memang sedang mengarah kepadanya sehingga akhirnya ia paham asal kekesalan istrinya.


"Waduh kayaknya my lady kumat lagi nih cemburunya," batin Adnan yang kemudian ia pun mengejar istrinya yang sedang di Landa cemburu.


"Kana kamu mau kemana?" panggil Adnan saat melihat Kirana yang sepertinya ia hendak menunggu taksi.


"Iya pulanglah Pak!" jawab Kirana ketus.


"Kalau begitu ayo naik mobil saya, ngapain kamu disini Kana?" ajak Adnan yang langsung meraih tangan Kinara. Namun langsung ditepis.


"Nggak mau Pak! saya mau naik taksi saja!"


"Kana, kamu masih ingatkan isi ketujuh kewajiban istri nomer satu, hm?" tanya Adnan. Mendengar perkataan Adnan, tanpa ingin membalas perkataannya, Kirana dengan spontan, langsung berbalik dengan sedikit menghentak kakinya, dan dengan wajah yang masih mengambek, ia pun berjalan menuju mobil Adnan yang sedang terparkir di depan lobby.


Adnan tersenyum lucu saat melihat istri kecilnya, yang sedang mengambek. "Hehehe, istri labilku memang selalu bikin orang gemas ya?" gumamnya sambil ia mulai berjalan menuju mobilnya. Menyusul sang istri yang lebih dulu masuk kedalam mobilnya.


Setelah Adnan sudah berada didalam mobilnya, ia sempat melirik, Kirana yang masih memasang wajah juteknya. Adnan malah tersenyum kembali melihatnya. Lalu Adnan pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Untuk sesaat suasana didalam mobil begitu hening, Adnan sesekali masih melirik istri yang terlihat masih memasang wajah ngambeknya. Karena tak tahan merasa didiami, Adnan akhirnya pun buka suara.

__ADS_1


"Kana, adakah yang ingin kamu kunjungi?" tanya Adnan dengan lembut. Namun hanya dibalas Kirana dengan dengusannya saja.


"Huum!" dengusnya, sambil ia membuang wajahnya kearah kaca jendela kiri mobilnya Adnan.


"Ooh, masih ngambek yaa? Padahal tadi aku sudah senang banget loh. Karena tadi ada seseorang yang berani mencium pipiku. Tapi kenapa sekarang jadi berubah seratus delapan puluh derajat ya?" sindir Adnan, sambil matanya melirik kearah istrinya yang sedang merajuk.


Habis mendengar perkataan Adnan, dengan spontan Kirana langsung mengelapkan bibirnya, sambil melepeh-lepeh. Adnan yang melihat itu ia malah semakin tertawa. Karena Kirana malah terlihat semakin lucu dimatanya. Melihat Adnan tertawa, Kirana semakin kesal.


"Hahahaha, kamu kok lucu sekali sih Kana!"


"Huh! Jangan ketawa! Nggak lucu tau! Sana Pak Guru tebar pesona saja sana! Jangan pedulikan saya!" seru Kirana yang semakin kesal karena merasa ditertawakan.


"Tebar pesona? Siapa yang tebar pesona Kana?" tanya Adnan, dengan memasang wajah polosnya, untuk mengisyaratkan bahwa dirinya tidak paham.


"Ya Pak Gurulah! Lihat saja tadi, para karyawati di perusahaan bapak pada hijau mata mereka, saat melihat Pak Guru! Apa coba namanya kalau bukan tebar pesona!" seru Kirana, yang akhirnya ia ungkapkan kekesalan yang sebenarnya.


"Ooh ternyata istri labilku sedang cemburu toh?" kata Adnan, dengan nada meledeknya.


"Enak saja Pak Guru mengatakan saya labil! Lagian siapa juga yang cemburu! Pak Guru ge'er banget sih jadi orang!" dalih Kirana, sembari ia membuang wajahnya kembali.


"Uhmm gombal!" ketus Kirana yang sebenarnya ia sangat senang mendengar perkataan suaminya tadi.


"Kok gombal sih? Itu Fakta Sayang. Lihat ini, kalau aku memang mau berbuat yang macam-macam sama mereka. Untuk apa aku memakai cincin pernikahan kita." kata Adnan sembari ia melihatkan cincin di jari manis tangan kirinya. "Dan kamu tahu, cincin ini tidak pernah lepas sekali pun sedari aku mengijab kamu dua bulan yang lalu. Asal kamu tahu itu artinya, aku tidak akan pernah mau melepaskan kamu walau apapun yang terjadi. Kamu paham Sayang."


Mendengar perkataan Adnan, Kirana sedikit kaget dan juga merasa tersindir. Karena memang sejak ia menikah, sekalipun ia tak pernah memakai cincin pernikahannya itu. Dan bahkan ia sampai lupa keberadaan cincin tersebut. Makanya tadi ia sempat tersentak saat mendengar kata Cincin.


"Kenapa kamu kaget seperti itu hm? Apakah kamu tidak percaya dengan perkataanku ini hm?" tanya Adnan yang ternyata ia sempat melihat wajah Kirana yang tersentak tadi.


"Tidak Pak Guru, bukan saya tidak percaya," dalih Kirana yang wajahnya terlihat masih tegang.


"Lalu kenapa wajah kamu menjadi tegang seperti itu?"


"Hmm itu.. saya lupa menaruh Cincin yang kayak punya Pak Guru itu," balas Kirana sambil ia menyatukan kedua jari telunjuknya.


"Ooh, berarti kamu niat banget ya ingin melepaskan saya?" sindir Adnan, terdengar datar.


"Yeee, kan waktu itu memang saya, tak menginginkan pernikahan ini Pak. Makanya saya menaruh kesembarangan cincin itu." jelas Kirana dengan raut wajah yang berubah-ubah, membuat Adnan yang melihat tak lepas dari senyumannya.

__ADS_1


"Ya sudah, lupakan saja itu, dan tidak usah dipikirkan lagi. Nanti saya akan memesannya kembali yang mirip seperti cincin itu lagi" kata Adnan sambil mengusap kepala Kirana.


"Eh, kalau diganti kesakralannya jadi berbeda dong Pak." protes Kirana.


"Terus mau kamu bagaimana Kana?"


"Ya mau saya tetap cincin itu Pak."


"Tapikan Cincin itu hilangkan?"


"Kata siapa hilang?"


"Kan kamu sendiri yang bilang Kana?"


"Enggak ah, orang Kana cuma bilang lupa kok. Dan kayanya masih dirumah Bunda deh pak Guru. Boleh nggak Kana kerumah Bunda, Pak?"


Adnan kembali tersenyum senang, saat mendengar Kirana mulai menyebutkan dirinya dengan nama kecilnya. "Ya sudah kalau begitu Sekarang kita kerumah Bunda, dan mencari cincin itu bersama-sama." katanya sambil kembali ia mengusap kepala istrinya penuh kasih sayang.


"Eh, biar Kana saja Pak guru yang kerumahnya Bunda, Kana naik taksi saja."


"Sssth..! Nggak boleh bantah ingatkan..."


"Iya iya, ingat! Bisa nggak sih jangan pakai jurus itu!" potong Kirana dengan wajah terlihat kesal. Membuat Adnan semakin gemas melihatnya.


"Hahahaha, kamu bisa saja, tapi seharusnya kamu senang dong sayang. Karena suami kamu ini selalu mengingatkan, agar kamu tidak berdosakan? Jadi seharusnya kamu terima kasih dong Sayang," balas Adnan, sembari ia mengedipkan matanya.


"Huh! Dasar Pak Guru genit!"


___________


Author Update lagi nih, 😉


Hayoo yang minta Author Update lagi jangan lupa Kasih bonus VOTE yaa 😜 Biar Author semangat nih.😉🥰


Pokoknya dukung author terus ya guys 🙏😘


Jangan lupa tinggalkan jejaknya oke 🙏🥰 Syukron 🙏 🥰.

__ADS_1


__ADS_2