
Adnan terlihat begitu tegang saat melihat pria berjas putih itu memulai pemeriksaannya pada Kirana. Namun saat pria berjas putih hendak menyentuh tubuh Kirana, dengan spontan Adnan langsung menepisnya.
"Lo mau ngapain Ren? Bisa nggak jangan main sentuh sembarangan?" ujar Adnan dengan tatapan tajam pada pria berjas putih itu.
"Nah ini, makanya Lo gue suruh keluar, karena Lo akan mempersulit gue dan melambatkan jalannya pemeriksaan!" tegur Reno kesal karena Adnan selalu menepis tangannya bila ia ingin memeriksa keadaan Kirana. "Lagian siapa sih gadis ini? Lo kok segiu mencemaskan dia banget sih?"
"Dia bini gue! Kenapa apa ada yang salah?"
Mendengar pengakuan Adnan, Reno tersentak kaget. "Apa! Kapan Lo nikahnya hah? Kok gue nggak di undang sih? Tapi bentar ini benaran bini Lo? Kenapa gue merasa gadis ini masih muda banget ya?" kata Reno sambil ia memandang instens wajah Kirana.
"Woy! Jaga mata Lo! Dan jangan banyak omong cepat priksa dia!" bentak Adnan yang terlihat ia tak memperdulikan pertanyaan Reno.
"Haiiis.. nih orang yaa! Tapi benaran dia bini lo Nan?" tanya Reno lagi yang sepertinya ia masih belum percaya dengan perkataan Adnan.
"Iya emang ngapa hah?"
"Ya nggak papa sih, cuma kok bisa ya, gadis kecil ini mau sama bujang lapuk kayak Lo!" ledek Reno, membuat Adnan yang mendengarnya menjadi kesal.
"Sialan Lo! Kayaknya yang lebih pantas di bilang itu lo deh! Karena sudah pasti umur Lo lebih tua dari gue tau!"
"Eh jangan salah Bro, gue gini juga bentar lagi mau Marry tapi ceweknya sesuai, nggak kayak Lo, cewek masih cencen dah Lo nikahi."
"Ah berisik Lo! Sekarang gimana hasil pemeriksaan bini gue hah?" bentak Adnan terlihat tidak sabaran.
"Ayo keruangan gue, biarkan para suster membawa bini Lo keruangan rawatnya" ajak Reno sembari ia melangkah keluar dari ruangan UGD. Dan tanpa bicara Adnan pun mengikuti langkah Reno yang ternyata adalah sahabat Adnan, sedari mereka bersekolah di SMA.
Sesampainya di ruangan Dokter, Reno mempersilakan Adnan untuk duduk di depan mejanya, dan Adnan pun langsung duduk.
__ADS_1
" Gue udah duduk! Sekarang cepat katakan bagaimana hasil pemeriksaan Lo?" tanyanya to the poin.
"Sebelumnya gue mau tanya? Apa Lo kalau mau berhubungan harus memberikan dia obat gitu?" tanya Reno dengan tatapan penasaran pada Adnan.
"Gila apa gue ngasih obat sembarangan sama dia. Cuma dia tadi di jebak pria brengsek! Tapi dia nggak papakan?" tanya Adnan, masih cemas.
"Ooh.. tadi dia sudah gue kasih obat penetralnya sih, semoga saja tubuhnya baik-baik saja. Tapi gue salut juga sama bini Lo bro, padahal obat itu sangat berbahaya bila tidak tersalurkan, tapi dia masih bisa bertahan ya? Tapi gue pringatkan setelah ini Lo harus benar-benar menjaganya, karena bila itu terjadi lagi, maka akan fatal jadinya." ujar Reno memberikan penjelasan pada Adnan.
Mendengar perkataan Reno, Adnan terdiam dan entah mengapa hatinya terasa sakit, karena teringat saat menyaksikan Kirana masih berada dalam pengaruh obat tersebut.
"Jadi sekarang dia sudah tidak apa-apakan?" tanya Adnan lirih namun masih terdengar oleh Reno
"Untuk saat ini dia sudah tidak apa-apa, Lo tenang aja, besok pagi in syaa Allah dia akan kembali normal kok" kata Reno lagi sembari ia melangkah pergi dari ruang rawat Karina.
"Syukurlah kalau begitu, ya sudah gue mau keruangannya. Gue pamit ya" kata Adnan yang kemudian ia pun beranjak pergi tanpa menunggu balasan Reno.
Adnan langsung menuju keruangan kirana. Sesampainya di sana ia langsung masuk dan langsung menghampiri ke sebuah ranjang yang diatasnya terdapat Kirana yang terlihat sedang tertidur begitu tenang.
Sesaat ia kembali memandangi wajah teduh Kirana, dan kembali mengelus kepalanya, dan setelah itu ia melangkah menuju sebuah sofa yang berada di ruangan tersebut. Lalu Adnan membaringkan tubuhnya di atas sofa itu, karena sebenarnya ia sudah amat lelah sekali, sehingga dalam sekejap ia pun terlelap.
*********
Keesokan paginya.
Nampak Kirana mulai membuka matanya, dan ia juga nampak sedikit kaget saat melihat sekitar ruangannya.
"Eh! Gue ada di mana ini?" gumam Kirana, hingga akhirnya ia merasakan sakit pada tangannya yang masih tertanam jarum infus di sana. "Eh, apa yang terjadi pada gue? Kenapa gue di infus?" gumamnya lagi dan saat bersamaan, seorang wanita berpakaian putih masuk.
__ADS_1
"Selamat pagi Nyonya? Syukurlah Anada sudah bangun" sapa wanita itu sambil tersenyum pada Kirana.
"Apa yang terjadi pada saya Suster, mengapa saya ada disini? Dan siapa yang membawa saya?" tanya Kirana terlihat penasaran.
"Tadi malam Suami Anda yang membawa Anda Nyonya. Senang ya, Nyonya memiliki suami yang begitu perhatian dan kalau saya perhatikan ia amat menyayangi Nyonya ya? Sehingga ia begitu panik saat melihat Anda tidak sadarkan diri" kata Suster tersebut sembari ia hendak mengganti botol infus Kirana yang terlihat sudah habis.
"Suami? Apakah itu Pak Guru?" batin Kirana terlihat bingung. " Oh iya, lalu di mana dia sekarang sus?" tanya Kirana semakin penasaran.
"Tadi katanya ia pergi sebentar, untuk mengurus sesuatu di kantor polisi Nyonya. Dan beliau menyuruh saya untuk menjaga Nyonya" kata suster itu lagi.
"Kantor polisi? Ada apa sebenarnya? Mengapa gue nggak ingat apapun?" gumam Kirana yang terlihat ia sedang berusaha mengingat apa yang telah terjadi.
"Baiklah Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu ya, kalau ada apa-apa, Anda tinggal menekan tombol hijau di sana ya Nyonya, nanti saya akan segera datang" kata sang suster yang terlihat ia telah menyelesaikan tugasnya. Dan hanya di balas oleh Kirana dengan anggukan kepalanya saja.
Setelah kepergian sang Suster nampak Kirana tersentak. Karena tiba-tiba bayangan wajah Pasha muncul, seketika tubuhnya menjadi bergetar. Dan ia juga ingat kalau Adnanlah yang telah menyelamatkannya. Kejadian itu Samar-samar muncul dalam ingatan Kirana. Membuat ia menjadi kesal pada Pasha bahkan ia semakin benci bila ingat itu.
"Lihat saja nanti! gue akan membuat si brengsek itu hancur hingga berkeping-keping!" gumam Kirana geram saat teringat pada Pasha. Dan tiba-tiba lagi ia teringat saat ia di tolong oleh Adnan dan ia juga teringat saat ia berada di dalam mobilnya Adnan ia pun merasa malu.
"Haiiis.. apa yang sudah aku perbuat sih? Akh aku malu kalau bertemu dengan Pak Guru, apa sebaiknya aku pergi aja ya dari sini? Akh ya sudahlah sebaiknya aku pergi dari sini! Gue malu kalau ketemu pak guru," gumam Kirana yang kemudian ia pun melepaskan jarum infus yang masih menempel pada tanggalnya.
Setelah ia melepaskan jarum infus, Kirana langsung mengambil taplak meja segi empat yang berada di depan sofa, dan kemudian ia pun memakainya sebagai hijabnya. Setelah itu ia pun segera keluar dengan sedikit menutup wajahnya dengan pucuk hijab. hingga akhirnya ia berhasil pergilah dari rumah sakit tersebut.
_____________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..ππ₯°
Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya Authorπ.
__ADS_1
Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys ππ Syukron π.