
Malam itu akhirnya Kirana pergi ke klub malam, bersama Billa, Pasha dan Roy. Di sepanjang jalan mereka, Pasha selalu melirik Kirana dari kaca spion tengah mobilnya. Dan ternyata Kirana menyadari itu, membuat ia menjadi kesal. Karena Pasha menatapnya dengan tatapan yang berbeda menurut Kirana.
"Lo kenapa sih! Natal gue kayak gitu hah?" tanya Kirana ketus.
"Maaf sayang, Aku hanya pangling saja, melihat kamu berbeda banget malam ini Kamu cantik sekali sayang," balas Pasha sambil tersenyum, dengan tatapan terlihat mesum. Membuat Kirana semakin kesal melihatnya.
"Hey! Kalau elo masih sayang sama mata Lo! Berhenti menatap gue!" seru Kirana geram, membuat Billa dan Roy kaget mendengar seruannya Kirana.
"Iya iya.. gue nggak lihat lagi," balas Pasha, yang akhirnya ia berhenti melirik Kirana dari kaca spionnya. "Huh! Dasar cewek arogan! Hari ini kamu boleh saja sombong! Tapi lihat saja nanti, setelah malam ini. Apakah kamu masih bisa sombong, cewek arogan?" batin Pasha, walaupun mereka menyangka Pasha sedang melihat keluar jendela. Namun sebenarnya ia sedang memandang Kirana lewat bayangan di kaca jendela mobil. Tatapannya begitu sinis seakan ingin menerkam Kirana.
Billa yang melihat sikap temannya yang terlalu kasar pada Pasha. Membuat ia tak tahan, hingga ia pun menegurnya. "Boi, lo ini nggak ada feminim-feminimnya banget ya? Pashakan pacar Lo, bisa nggak sih, jangan kasar begitu? Elo tuh cewek tau! Jadi bersikap lembut sedikit kenapa sih! Lagian dia nggak salah kok, yang dia katakan benar. Kalau Lo tuh malam ini cantik banget tau!" tegurnya dengan suara berbisik
"Ah bodo amat! Pokoknya gue nggak suka dia melihat gue dengan cara begitu! Itu namanya mesum tau!" cetus Kirana sambil menatap dingin pada Billa.
"Haiiis... terserah Lo aja dah!" balas Billa yang terlihat kesal melihat sikap Kirana yang terlalu kasar bagi seorang wanita. Ditambah lagi saat melihat kecuekannya, yang seakan tidak terjadi apapun, membuat Billa semakin geram padanya.
Setelah perdebatan kecil tadi, suasana mobil begitu hening. Mereka hanya memandang kesisi jendela masing-masing. Hanya Roy saja yang masih fokus kedepan karena ia yang mengemudikan mobilnya. Dan tiga puluh menit kemudian, mobil mereka pun memasuki area perparkiran di sebuah klub malam. Setelah mobil mereka terpakir dengan sempurna mereka berempat pun langsung turun.
"Boi, kamu gandeng tangan Pasha ya, biar kamu tidak di ganggu laki-laki hidung belang" ujar Billa yang terlihat ia sudah menggandeng tangan Roy.
"Iyaa!" balas Kirana singkat dan mau tak mau ia pun menggandeng tangan Pasha. "Cih! Kalau bukan karena ingin anak buah si killer melaporkan kebosnya gue nggak sudi dah gandeng tangan lo!" Tapi nggak papalah semoga setelah ini, gue langsung mendapatkan surat cerai dari si Keller itu." batin Kirana, terlihat ogah-ogahan menggandeng tangan Pasha.
Sedangkan Pasha terlihat senang, dan itu terlihat dari senyumannya yang tersungging penuh kemenangan. Karena pada akhirnya, Kirana mau melingkarkan tangannya di lengannya. Dan mereka berempat pun memasuki klub malam tersebut.
Setibanya didalam, Kirana sedikit kaget. Karena memang baru kali ini memasuki tempat maksiat itu. Yang terlihat begitu berisik, belum lagi saat melihat pengunjungnya, yang terlihat bebas antara laki-laki dan perempuan. Sehingga mereka tidak memiliki rasa malu sama sekali.
__ADS_1
"Hah! seperti ini club malam, sungguh tempat yang menjijikkan! Para pria dan wanita di sini tak memiliki rasa malu ya? Mereka berciuman begitu bebas, gila! Dan itu para wanita disini seperti tidak punya harga diri ya?" batin Kirana yang terus memperhatikan sekitar tempat mereka duduk. Sehingga ia tak menyadari saat Pasha menaruh sesuatu di minumanya.
"Sayang, apa yang kamu lihat sih?" tanya Pasha setelah dia berhasil mencampurkan sesuatu di dalam minumannya Kirana. Dan setelah itu ia berpura-pura melihat apa yang di lihat Kirana.
"Eh, ternyata kamu sedang melihat orang berciuman yaa? Apakah kamu ingin mencobanya hm?" bisik Pasha, membuat mata Kirana terbelalak marah.
"Jangan macam-macam kamu ya! Gue akan menghajar Lo habis-habisan. Kalau Lo melakukan itu! Jadi camkan itu!" ancam Kirana dengan tatapan yang begitu dingin.
"Haiiis... seram banget sih ancaman kamu sayang? Akukan tadi hanya bercanda sayang" dalih Pasha, yang sebenarnya ia sudah tidak sabar ingin menaklukkan Kirana.
"Heh, bisa nggak jangan panggil gue sayang? Gue enek tau dengarnya!" cetus Kirana, terlihat kesal.
"Salah mulu dah gue? Sebenarnya gue ini pacar Lo bukan sih Dhit? Kayak gue merasa Lo belum sepenuhnya deh menerima gue?" tanya Pasha, dengan wajah terlihat sedih.
"Ooh begitu.. ya sudah kalau begitu kita sampai disini saja! Maaf gue bukan cowok yang suka dibuat aji manfaat saja. Karena cinta yang aku punya, adalah cinta yang tulus, jadi gue juga ingin memiliki pacar yang memiliki cinta yang sama kayak gue" ujar Pasha yang kali ini ia memasang wajah kecwa dan sedih.
"Ya sudah gue pulang ya, semoga kamu bisa dapat cowok yang kamu inginkan" lanjutnya lagi dan ia pun bangkit dari duduknya, dan bermaksud pergi. Namun langkahnya langsung terhenti karena tangan Kirana menahan tangannya. Pasha pun tersenyum penuh kemenangan lagi.
" Maaf Sha, gue hanya belum terbiasa, jadi gue berharap Lo mau memakluminya" kata Kirana, yang terlihat ada keterpaksaan ia melakukan itu. "Sialan! kalau bukan karena sebuah rencana, gue nggak sudi memegang tangannya!" batin Kirana terlihat kesal.
"Baiklah aku akan memakluminya. Ya sudah untuk merayakan hari jadinya kita ayo kita bersulang" kata Pasha sembari ia mengambil gelasnya dan berharap Kirana ikut mengambilnya.
"Baiklah ayo kita bersulang" kata Kirana yang kemudian ia pun mengambil gelasnya yang sudah di isi minuman. Lalu mereka pun mendekati gelas keduanya hingga terdengar dentingan suara gelas lalu keduanya pun meminum air di dalamnya. Sekali lagi Pasha tersenyum, melihat Kirana menghabiskan isi di dalam gelasnya.
Sepuluh menit kemudian, Kirana merasakan pusing pada kepalanya. dan ia pun memijat pelipisnya, berharap pusingnya akan berkurang. Melihat itu Pasha kembali tersenyum, dan ia pun mengeset duduknya agar Kirana bisa bersandar di bahunya.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa?" tanyanya berpura-pura tidak tahu.
"Nggak tahu nih, kepala gue tiba-tiba pusing," balas Kirana masih memijat-mijat pelipisnya.
"Ya sudah kalau begitu ayo aku antar pulang saja, aku takut nanti tambah parah lagi" ujar Pasha yang terlihat penuh perhatian dan lembut.
"Ya sudah ayo, tapi bagaimana dengan Billa dan Rio nanti?"
"Gampang, kan taksi banyak, suruh saja mereka naik taksi. Sudah jangan pikirkan mereka, ayo cepat kita pergi dari sini" ajak Pasha sambil merangkul bahu Kirana. Dan sempat di tepis oleh Kirana, namun malah ia hampir terjatuh. Alhasil ia pun pasrah saat Pasha membawanya. Bahkan kesadarannya mulai hilang.
Setelah Kirana sudah tak sadarkan diri, Pasha pun membawanya kesebuah Hotel terdekat dari klub malam tersebut. Setelah mendapatkan kunci dari resepsionis hotel, Pasha pun langsung membawa Kirana ke kamar yang ia pesan. Setibanya di dalam kamar, ia langsung meletakkan Kirana di atas ranjang hotel.
Pasha tersenyum seringai, melihat Kirana yang sudah tak berdaya itu. Matanya begitu berbinar melihat tubuh Kirana yang terlihat mengiurkan di matanya.
"Heh! Akhirnya gadis yang hebat pun bisa terjebak juga. Dan bersiaplah sayang, karena aku akan memuaskanmu."
____________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..ππ₯°
Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya Authorπ.
Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys ππ Syukron π.
__ADS_1