KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI

KISAH CINTA SI GADIS TOMBOI
MENIKAH DENGAN PRIA ES?


__ADS_3

┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah.🤍❀◆•✾••┈


"Seseorang yang kuat bukanlah mereka yang selalu menang. Melainkan mereka yang tetap tegar ketika mereka terjatuh. Dan bangkit kembali menjadi seseorang yang lebih baik lagi."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•


"Saya ingin mengatakan, bahwa yang dikatakan anak bapak benar adanya!" ujar Fadhil dengan tenang. Padahal wajahnya sudah babak belur akibat ditinju oleh Herman.


"Apa maksud kamu?" tanya Herman, dengan tatapan masih garang pada Fadhil.


"Sebentar Pak, mungkin Anda tidak akan percaya bila saya hanya berkata-kata saja tanpa ada bukti. Untuk itu saya akan meminta pada anak buah saya untuk mengirimkan hasil rekaman CCTV di gudang tua," balas Fadhil masih terlihat tenang, lalu ia pun mengambil benda pipihnya dikantong celananya, lalu dengan sekejap ia menghubungi salah satu anak buahnya dan meminta dari mereka untuk mengirimkan rekaman CCTV.


Tidak membutuhkan waktu lama, dan sebuah rekaman telah terkirim ke handphone Fadhil. Setelah itu Fadhil menyerahkan handphone miliknya pada Herman.


"Silahkan Bapak lihat hasil rekaman CCTV ini," ujar Fadhil sambil ia menyerahkan benda pipihnya pada Herman.


Herman langsung mengambil benda pipih tersebut dan langsung melihat isi rekaman video tersebut. Yang memperlihatkan aksi perbuatan kotor Rasyah pada putrinya. Bahkan ia juga melihat bagaimana aksi Fadhil dalam menyelamatkan putrinya.


Melihat hasil rekaman itu, timbullah rasa malu pada diri Herman. Bahkan ada perasaan bersalah, karena ia telah salah memukul orang.


"Ma-maaf Nak! Maafkan saya, karena telah memukuli kamu tanpa bertanya kebenarannya terlebih dahulu," ujar Herman sedikit gugup karena rasa malu dan bersalahnya.


"Tidak apa-apa Pak, saya memakluminya. Tidak ada orang tua yang akan tinggal diam bila melihat anaknya seperti itu," ujar Fadhil dengan wajah yang terlihat Ikhlas. "Baiklah Pak, karena sudah clear saya pamit pulang dan untuk permintaan Anda, agar saya menikahi putri Bapak, akan saya terima, Anda cukup kabarkan saya saja, kapan saya harus menikahinya," ujar Fadhil, sembari ia berdiri dari duduknya.


"Tapi Nak, bukankah kamu bersih dari perbuatan tercela itu, jadi rasanya saya tidak berhak untuk meminta kamu menikahi putri saya lagi," ujar Herman, terlihat malu, karena tadi ia sempat memaksa Fadhil untuk menikahi putrinya.

__ADS_1


"Bapak tidak usah sungkan pada saya, karena saya bukan tipe orang yang suka menarik perkataan yang sudah saya keluarkan. Jadi Bapak tinggal tentu saja harinya, maka saya akan menikahi putri Bapak dihari itu juga!" tegas Fadhil, membuat Herman maupun temannya yang mendengar perkataan Fadhil menjadi kagum padanya.


"Maa shaa Allah, saya benar-benar kagum pada kamu Nak, jarang sekali ada laki-laki seperti kamu. Apalagi Herman, aku rasa kamu jangan abaikan pemuda yang penuh tanggung jawab ini, jadi segeralah tentukan hari terbaik untuk mereka menikah," ujar Dhenis, mensuport sahabatnya itu.


"Baiklah, kalau sudah begitu saya juga tak ingin, menyia-nyiakannya kesempatan yang begitu berharga untuk putriku. Dan untuk itu nikahilah putriku dalam satu Minggu lagi dari sekarang. Apakah kamu bersedia Nak?" tanya Herman terlihat, antusias setelah mendengar perkataan Dhenis.


"Baiklah Pak, sesuai keinginan Anda, dalam satu minggu saya akan menikahi putri Anda!" balas Fadhil begitu lugas.


"Alhamdulillah, terimakasih Nak," ucap Herman, yang kemudian ia memeluk tubuh Fadhil penuh rasa syukur.


"Sama-sama Pak, kalau begitu saya permisi Pak," Pamit Fadhil sembari ia menyalami tangan calon mertuanya itu dan tidak lupa juga ia menyalami tangan Dhenis, setelah itu ia pun beranjak setelah mengucapkan salam pada mereka.


"Luar biasa, kamu sangat beruntung Herman, memiliki calon mantu seperti dia. Bahkan anakku tidak sebanding dengannya," ujar Dhenis, tatkala mereka menyaksikan kepergian mobil Fadhil dan menghilang setelah keluar dari gerbang rumahnya Herman.


"Tapi tunggu dulu, kenapa tadi kita tidak menanyakan dia tinggal dimana, dan kerja dimana ya? Kalau ternyata dia menipu kita bagaimana?" ujar Herman, yang mulai ada keraguan dalam dirinya, tatkala ia menyadari ia tidak memiliki info lengkap indentitasnya Fadhil.


"Sudah jangan berburuk sangka, aku yakin kok, anak itu tidak akan membohongi kamu," ujar Dhenis. Membuat Herman hatinya sedikit tenang.


"Baiklah in shaa Allah, kamu hati-hati ya"


"Sip, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumus salam." Setelah mendapatkan jawaban salamnya dari Herman Dhenis pun beranjak menuju mobilnya, dan pergi meninggalkan rumahnya Herman.


Sementara, Herman yang masih ada rasa penasaran pada Fadhil, ia pun beranjak menuju ke kamar putrinya. Sesampainya didalam kamar sang putri nampak Billa, yang sudah berpakaian lengkap, sedang, menangis diatas Ranjangnya.


"Billa, boleh Papa bicara Nak?" tanya Herman yang kini suaranya terdengar lebih lembut.

__ADS_1


"Mau bicara apa lagi Pah? Bukankah Papa tidak percaya dengan perkataan Billa hah?" balas Billa sembari ia mengusap air matanya dengan kasar.


"Maafkan Papa Nak, Papa tadi khilaf, dan Papa juga sudah minta maaf dengan nak Fadhil kok," ucap Herman sembari ia duduk di tepi ranjangnya sang Putri.


"Baguslah kalau begitu," balas Billa terlihat ia bernafas lega, namun tetap saja ia masih kesal pada sang Ayah karena udah memukuli orang yang tak bersalah.


"Tapi Papa mau bertanya, apakah kamu mengenal dia?" tanya Herman penasaran.


"Iya Pah, dia itu Asistennya suaminya Kirana Pah," jawab Billa apa adanya.


"Apa! Kirana sudah menikah?" tanya Herman terlihat kaget.


"Iya Pah, Kirana sudah menikah ketika ibunya meninggal, dan itu permintaan terakhirnya Almarhum Bundanya Kirana," jelas Billa.


"Ooh, gitu, hmm Lalu apakah Fadhil itu sudah mempunyai istri?" tanya Herman lagi.


"Belum Pah, Pria dingin kayak gitu mana ada cewek yang mau mendekatinya, bisa-bisa tuh cewek beku didekat pria dingin seperti Fadhil itu," ujar Billa terlihat bergidik, tatkala ia teringat saat berada di dekatnya.


"Bagus, itu yang Papa suka! Kalau begitu, kamu persiapkanlah diri kamu, karena seminggu lagi kamu akan menikah dengannya!" ucap Herman, sembari ia bangkit dari duduknya dan hendak beranjak dari kamar Putrinya.


"Apa Pah?! Menikah dengan pria Es itu?"


...┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈...


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.

__ADS_1


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏


__ADS_2