
Kirana terlihat kaget saat Suaminya menyinggung kata berbulan madu. Membuat ia teringat dengan perkataan sahabatnya dulu, yang juga pernah menyebutkan kata bulan Madu. Melihat istrinya kaget Adnan, mengerenyitkan dahinya.
"Mengapa kamu kaget seperti itu Kana?" tanya Adnan penasaran.
"Tadi Pak Guru bilang apa? Bulan Madu?" Bukannya menjawab pertanyaan suaminya. Kirana malah memberikan pertanyaan pada suaminya kembali.
"Iya emangnya kenapa? Bukankah kamu ingin jalan-jalan hm? Ya sudah sekalian saja kita berbulan madukan? Kita akan pergi kepantai, di kepulauan kecil, daerah A, yang disekitarnya dikelilingin pantai. Atau kamu ingin kepantai di luar negeri hm?" balas Adnan, sembari ia memberikan pilihan pada Istrinya, yang sejak tadi masih mencerna kata bulan Madu.
"Kana dimana saja mau Pak Guru, yang pentingkan pantai. Tapi hmm.. benaran kita mau bulan madu Pak?" tanya Kirana terlihat ragu, dengan wajah yang terlihat sudah berbeda.
"Iya, kenapa Kana? Kamu tidak suka, berbulan madu sama Mas hm?" tanya Adnan terlihat heran, saat melihat wajah istrinya sedikit memucat.
"Ti-tidak, Pak! Hmm, tapi apakah bulan madu itu, akan melakukan itu lagi?" tanya Kirana lirih, sembari ia menyatukan kedua jari telunjuknya, sebagai isyarat. Karena sepertinya, ia sudah memahami arti bulan madu dari sahabatnya itu.
Degh..
Jantung Adnan langsung berdegup kencang, tatkala Kirana berkata seperti itu. Apalagi saat melihat wajahnya, yang terlihat ada ketakutan disana. "Oh ya tuhan, semoga Kana tidak trauma, kalau sampai ia trauma, maka akan menjadi sulit," batin Adnan terlihat ada kecemasan di mimik wajahnya.
"Sayang, bukankah waktu itu kamu menginginkan anak kita lima? Lalu bagaimana caranya dia akan hadir pada kita bila tidak melakukan itu hm?" tanya Adnan dengan sangat berhati-hati sekali. Sembari ia membelai rambut Istrinya yang masih basah, akibat berenang tadi.
"Humm.. tapi Kana nggak mau itu Pak, sakit banget tau Pak," balas Kirana lirih, yang kini wajahnya terlihat sendu.
Adnan meraih wajah istrinya, lalu ia tatap dengan tatapan kelembutan. "Sayang, kamukan tahu hari itu hari pertamanya kita. Jadi wajar dong akan sakit, sama hal dengan kamu, Mas juga merasakan sakit kok. Tapikan itu sudah menjadi kewajiban kita Sayang, untuk menyempurnakan agama kita dan rumah tangga kita. Dan kamu juga jangan khawatir, setelah itu kamu tidak akan merasakan sakit yang amat sangat lagi. Mas janji itu" jelas Adnan sembari ia memberikan kecupan lembut pada dahinya Kirana.
"Benarkah nggak akan sakit lagi?" tanya Kirana dengan tatapan penasaran pada suaminya.
"Benar Sayang, apa perlu kita buktikan sekarang hm?" balas Adnan, seraya ia mengedipkan sebelah matanya. Membuat mata Kirana langsung membulat.
__ADS_1
"Eh, tidak-tidak! Kana mau mandi akh!" ujar Kirana, sembari ia mendorong tubuh Adnan begitu kuat sehingga ia tercebur ke dalam kolam renang. Setelah itu ia berlari masuk, meninggalkan Adnan yang masih berada di kolam renang.
"Huh! Dasar gadis nakal, awas kamu yaa!" gumam Adnan, yang kemudian ia tersenyum melihat tingkah lucu istrinya yang terlihat ketakutan itu. Lalu ia pun naik, dari kolam renang tersebut. Dan kemudian ia pun meninggalkan area kolam renang, setelah ia mengambil handuk yang sudah tersedia disalah satu meja, didekat kolam renang itu.
***
Sedangkan Kirana yang tadi berlari, sehabis menceburkan suaminya, kini sudah berada di dalam kamarnya. Dan kemudian ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, didalam kamar mandi.
"Huh! Kebiasaan deh nih jantung! Selalu aja berdebar kencang, kalau didekat Pak Guru!" gerutu Kirana, sembari ia masuk kedalam bathtub, yang telah ia isi dengan Air hangat serta Bath Foam, setelah bathtub dipenuhi dengan buih ia pun merendamkan dirinya.
"Kalau begini terus, jantungku, bisa-bisa meledak kali yaa?" gumam Kirana, sambil memainkan buih-buih yang ada disekitar tubuhnya.
"Kata siapa bisa meledak hm? Jantung berdegup kencang, itu menandakan kamu sedang jatuh cinta pada Mas, Sayang."
Mendengar suara bariton seorang Pria, membuat Kirana, kaget dan langsung menolehkan wajahnya kearah sumber suara. "Hah! Pak Guru kok masuk sih!" seru Kirana, yang terlihat amat kaget saat melihat suaminya yang baru saja masuk.
"Siapa suruh nggak dikunci hm? Lagian nggak ada larangankan kalau seorang suami ingin mandi bersama dengan istrinya?" balas Adnan sembari menaik turunkan alisnya, menggoda Kirana.
"Kata siapa nggak boleh hm? Sayang, mandi bareng itu bagian dari Sunnah loh." ucap Adnan, sembari menangkap tangan istrinya yang sempat mendorong tubuhnya.
"Sayang, tradisi ini pun juga telah dicontohkan Nabi Muhammad ﷺ terhadap istri-istrinya.
Sebagaimana diriwayatkan Hadist Riwayat. Bukhari no. 316, Muslim no. 321. ‘Aisyah berkata,
“Aku dan Rasulullâh mandi bersama dalam suatu wadah yang sama sedangkan kami berdua dalam keadaan junub.” (HR. Bukhari dan Muslim)
"Kamu tahu Sayang? Mandi bersama bisa menimbulkan rasa kasih sayang dan bermain-main bersama istri, saling siram-siraman atau saling berebut gayung itukan sangat menyenangkan Sayang.
__ADS_1
Sebagaimana hadits Nabi dan ‘Aisyah saling berebut air ketika mandi bersama. (HR. Muslim I/257 no 321)
Imam Muslim Rahimahullahu Ta’ala menyampaikan sebuah riwayat agung dari Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar ash-Shiddiq.
“Aku mandi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dari satu bejana. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mendahuluiku sampai aku berkata, ‘Tinggalkan untukku. Tinggalkan untukku."
Dalam kelanjutan riwayat yang dikutip oleh Salim A Fillah dalam Bahagianya Merayakan Cinta ini disebutkan, “Waktu itu, keduanya berjanabat (mandi wajib).”
Bukan sekali saja Rasulullah ﷺ diriwayatkan mandi bareng istrinya. Dalam riwayat lain oleh Imam Abdurrazaq dan Ibnu Abi Syaibah Rahimahumallahu Ta’ala, dikisahkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Aku biasa mandi bersama dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dari satu bejana. Kami terbiasa memasukkan tangan kami bersama-sama ke dalam satu bejana.”
Rasullulah yang mulia telah memberi contoh terbaik. Mandi berdua. Saling rebut air dan alat mandi, hingga terbit senyum dan tawa renyah dari keduanya.
"Nah Inilah sunnah yang tidak hanya bisa menautkan hati saja bahkan membuat cinta di antara pasangannya semakin bertambah, tapi juga dijanjikan pahala yang agung di dunia dan akhirat. Dengan kata lain kamu tidak bisa melarang Mas ingin mandi bersama kamu. Emang kamu nggak ingin dapat pahala hm?"
Mendengar penjelasannya Adnan dengan penuh kelembutan. Membuat Kirana, tak punya pilihan lain, selain membiarkan suaminya masuk kedalam bathtub tempat ia berendam saat ini.
"Nah gitu dong Sayang, kan seru kalau mandi bareng, iyakan?" goda Adnan sembari ia mengedipkan sebelah matanya.
"Iiis, apaan sih Pak Guru, makin genit deh!" cetus Kirana dengan memasang wajah cemberutnya. Membuat Adnan gemas melihatnya.
"Hahahaha,"
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
__ADS_1
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏