
"Sanaaa! Kana benci Pak Guru! huhuhu..hiks..hiks..!" seru Kana, yang masih terlihat kesal pada suaminya. Karena, akibat ulahnya ia harus merasakan sakit yang luar biasa. Makanya ia tak henti-hentinya menangis.
Mendengar perkataan Kirana, Adnan memakluminya. Karena ia tahu kalau Istrinya sedang kesakitan. Adnan kembali berusaha mendekati Kirana.
"Sayang, maafin Emas yaa, karena Mas memaksakannya. Tapi sayang ini demi kebaikan kamu nantinya. Kalau Mas tadi mengikuti keinginan kamu, akan semakin sakit nantinya. Makanya Mas paksakan tadi, agar nanti nggak kamu tidak merasakan sakit lagi Sayang. Sekarang Maafin Mas ya?" jelas Daffin, lembut, sembari ia menarik tubuh Kirana kedalam pelukannya.
"Huhuhu, Nggak Mau, Pak Guru jahat! Hiiks... hiks.. Kana benci pak Guru! Hiks.. hiks..." balas Kirana sambil memukul-mukul dada bidang Adnan, sambil menangis. Namun ia seperti tidak ada tenaga lagi untuk menggeser tubuhnya dari pelukannya Adnan. Akhirnya ia hanya membiarkan tubuhnya didalam pelukan sang Suami.
"Cup Sayang, jangan nangis lagi, Maafkan Mas sayang," ucap Adnan, yang selalu memberikan kecupan lembut didahi Istrinya, sembari tangannya mengelus punggung dan kepala Kirana, sesekali ia juga menghapus air mata Kirana yang tak kunjung kering.
"Heuheuheu.. Nggak mau Kana Benci Pak Guru.. hiks..hiks...!"
"Iya nggak apa-apa kamu benci Mas, yang penting Mas selalu menyayangi kamu sayang."
"Bohong, Pak Guru, bohong! Pak Guru nggak sayang Kana, Pak Guru jahat sama Kana! Heuheuheu.." balas Kirana, yang sudah seperti anak kecil, menangis tiada henti.
Adnan yang paham, keadaan istrinya saat ini, makanya dengan Sabar, ia terus menenangkan istrinya. "Tidak Sayang, justru saking sayangnya emas, sama kamu, makanya mas Melakukan ini, Karena Mas inginkan kamu jadi milik emas seutuhnya, Sayang, pahamlah Sayang," jelasnya dengan sabar.
"Tapi ininya Kana sakit banget tau!, heuheuheu.." keluh Kirana, sambil menunjuk area bagian intimnya, tanpa rasa malu sedikitpun.
"Ya Sayang Mas tahu kok, nanti Mas belikan obatnya biar nggak sakit lagi. Sekarang kamu tidur dulu ya Sayang, biar sakitnya nggak terasa," rayu Adnan sambil mengusap-usap kepalanya Kirana agar ia secepatnya terlelap.
"Hu'um, hiks...hiks....hiks..." bales Kirana, yang kini sudah memejamkan matanya. Dan mungkin karena kelelahan bertempur, ditambah lelahnya menangis, akhirnya Kirana pun terlelap juga.
Melihat nafas istrinya mulai teratur, menandakan ia lelah terlelap. Adnan pun melepaskan nafas leganya karena pada akhirnya istri kecilnya tertidur juga. "Alhamdulillah, akhirnya kamu tertidur juga Sayang. Selamat tidur sayangku Semoga kamu bermimpi indah" batin Adnan, yang kemudian ia mengecup dahi istrinya.
__ADS_1
Setelah itu Adnan bangkit dari tidurnya dan kemudian membenarkan selimut istrinya, Karena saat ini tubuh Kirana masih dalam keadaan polos. Lalu ia pun beranjak kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dan tak berapa lama ia keluar dari kamar mandi, dengan tubuh yang sudah memakai handuk kimononya, serta rambut yang terlihat basah.
Setelah itu Adnan mengambil benda pipihnya. "Sepertinya aku harus segera mendapatkan obat pereda nyeri, sebelum Kana terbangun" gumam Adnan, yang kemudian ia membuka aplikasi google nya, berharap ia mendapatkan petunjuk disana.
Setelah apa yang dicari ketemu Adnan pun langsung menelpon, Fadhil, untuk membelikan obat untuk pehilang rasa nyeri untuk Istri. Setelah itu, ia kembali menaruh handphonenya ke atas nakas. Baru saja ia meletakkan handphonenya, tiba-tiba benda itu pun berbunyi. Adnan mengerenyit saat melihat nama yang tertera di layar handphone.
"Fadhil?" katanya lalu ia langsung menerimanya.
"Ada apa hah?" tanyanya setelah sambungan terhubung.
"Obatnya sudah gue beli, apa gue antar langsung kekamar Lo aja nih?" jawab Fadhil di seberang.
"Hah, lo beli di mana Kok cepet banget?" tanya Adnan heran.
"Yakan waktu Lo telepon gue emang, posisi gua lagi di apotek ya udah sekalian dah gue beli obat lo" jelas Fadhil.
"Lo sakit apa sih? Kenapa beli obat kayak ginian ini kan untuk wanita?" tanya Fadhil heran.
"Bising banget sih lu! Udah sono pergi!" bentak Adnan sambil ia merampas Kantongan plastik yang di pegang oleh Fadhil.
"bukannya Terimakasih malah membentak lagi!" protes Fadil.
"Ah! berisik Lo!" ucapnya dan langsung, menutup kembali pintu kamarnya dan langsung menguncinya
Setelah itu Ia pun menaruh obat yang diberikan Fadhil ke atas nakasnya. setelah itu ia kembali membaringkan tubuhnya disisinya Kirana. dan kembali memeluknya. Setelah Iya memberikan percobaan sayangnya di dahi Kirana. Adnan pun ikut memejamkan matanya juga. Karena memang tubuhnya sangat kelelahan, membuat ia langsung terhanyut ke dalam mimpinya dengan hitungan detik saja.
__ADS_1
***
Baru, dua puluh menit Adnan tertidur, tiba-tiba saja terdengar suara jeritan Kirana. Membuat ia langsung tersentak dan dengan cepat ia pun membuka matanya.
"Ada apa Sayang?" tanyanya saat melihat Kirana, yang sedang duduk di tepi ranjangnya, dengan tubuh berbalutkan selimut.
"Kana kepingin pipis tapi nggak bisa jalan, hiks . hiks.." balas Kirana manja, yang kini air matanya kembali mengalir.
"Oh ya sudah sini Mas gendong ya" ujar Adnan lembut, sembari ia menghampiri istrinya. Lalu ia pun menggendong Kirana kekamar mandi.
"Nanti kalau sudah pipis kamu berendamlah dengan air hangat, biar itunya nggak sakit lagi ya" kata Adnan lagi, setelah mereka didalam kamar mandi. Setelah menurunkan Kirana, dengan sabar Adnan juga menyiapkan air hangat kedalam bathtub juga memberikan obat cair yang tadi diberikan Fadhil.
"Sekarang berendamlah Sayang, nanti kalau sudah siap panggil Mas ya" katanya lagi begitu lembut. Dan dibalas Kirana dengan anggukannya saja.
Setelah mendapatkan balasan dari Kirana, Adnan pun melangkah keluar, dan langsung menuju ketempat tidurnya lagi. Karena memang matanya masih amat mengantuk. Namun setibanya di ranjang mereka, Adnan begitu kaget, saat melihat banyaknya bercakan merah diseprai putihnya.
"Astaghfirullah! Pantas saja ia menangis tak henti-henti. Ternyata yang aku lakukan sangat menyakitinya. Pantas saja juniorku juga begitu sakit, ternyata Kirana memiliki selaput dara yang tebal makanya akan seperti ini" gumam Adnan, seperti ada penyesalan di wajahnya. Ia pun terbayang akan teriak Kirana saat ia membobol selaput daranya.
"Maafkan aku Kana" ucapnya lirih, dengan mata mengarah ke pintu kamar mandi yang sedang tertutup.
┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
__ADS_1
dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏