
Ting.. ting.. ting...
Suara klakson mobil terdengar memasuki halaman Mansion. Tidak lama setelah nya keluarlah seorang pria tempan nan gagah, dilihat dari body luarnya saja sudah bagus, bagaimana dalamnya yah. Dengan wajah kesalnya, entah kenapa dia kesal padahal seharusnya senang karena malam ini akan menjadi malam pertamanya, dia berjalan menuju pintu lebar berdaun dua.
" Woi... Tungguin napa, gue ketinggalan ". Teriak Alan berlari kecil mendekati Andra.
" Cik, lo masih disini rupanya. Udah pulang sana ". Cara mengusir nya benar-benar kasar, padahal sudah disupiri.
" Mentang-mentang udah punya istri, bawaannya pen pulang cepat ". Sindirnya. Apakah Andra akan marah, kita baca selanjutnya saja.
" Ya, iyalah. Udah sono pulang lu. Capek gue, kerjaan kok bisa sebanyak itu sih ". Memijit-mijit keningnya.
" Yaelah, lu yang ninggalin kan waktu itu, malah salahin gue ". Bosnya sungguh tidak sabaran. " Udah deh, gue pulang dulu ". Berjalan mendekati telinga Andra " buatin gue ponakan yang banyak. Oke! ". godanya dengan membisikkan ditelinga Andra. Dan segera berlari menuju mobilnya.
Inginnya Andra marah, tapi mengingat persahabatan bagai kepompong nya dan hari ini juga hari yang baru untuk nya dimana didalam kamarnya ada seorang wanita yang sangat dicintainya, membuat Andra mengurungkan niatnya untuk marah.
Andra kemudian berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju pintu nya " selamat datang tuan muda ". Sambut pak Rin dan beberapa pelayan sesaat saat pintu telah dibuka. Sama halnya waktu Laras datang. Para pelayan juga menunduk memberi hormat tidak berani melihat wajah tuan muda nya.
" Istriku dimana pak ". Melonggarkan dasinya. Pertanyaan pertama yang harus dikatakan nya.
" Nona muda sedari tadi berada di dalam kamar tuan muda ". Ucapnya
" Apa!! Hanya di dalam kamar? Sedari tadi? ". Terlihat wajahnya yang panik dan membuat pak Rin ikut panik ditambah ketakutan. Semua pelayan juga begitu.
" I.. iya tuan muda ". Gugupnya
Andra terkejut mendengarnya, dia sangat tahu bagaimana sifat istrinya itu. Bahkan para pembaca juga tahu kalau Laras itu seorang pekerja keras yang pasti tidak suka jika dirinya hanya berdiam diri saja.
Dengan cepat Andra berlari kecil kedalam lift dirumahnya dan diikuti oleh pak Rin dan juga bi Siti. Semua pelayan ketakutan, bagaimana jika tuan mudanya itu marah? Sudah tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Baru kali ini mereka melihat wajah Andra panik ditambah marah. Sikapnya yang tenang seperti nya tidak berlaku jika dihadapkan dengan istrinya.
Andra kemudian keluar lift masih dengan berlari kecil yang masih diikuti oleh pak Rin dan juga bi Siti. " Panggil dokter ". Ucapnya buru-buru. Bagaimana jka Laras sakit? Oh, sudah tidak bisa dia bayangkan.
Tanpa bertanya lagi, dengan sigap pak Rin langsung menghubungi dokter pribadi keluarga Ansari.
" Saya ambil air putih dulu tuan ". Bi Siti juga ikutan panik.
" Iya bi, cepat ". Masih dengan berlari kecil, Andra dengan buru-buru langsung membuka pintu kamarnya. Hatinya sudah dia persiapan dengan kondisi didalam.
Ceklek...
" Ah.. pak Andra sudah pulang ". Terlihat Laras sedang merapikan sajadah dan mukenanya.
Lega, satu kata yang mewakili perasaan Andra sekarang. Dia pun berjalan mendekat Laras dan memegang kedua bahunya. 'ada apa nih?'.
" Assalamualaikum ".
__ADS_1
" Waalaikum salam ". Refleks Laras menjawab, dan entah keberanian dari mana, Laras langsung mengambil tangan kanan Andra yang berada di bahunya dan menciumnya. Mengingat kata-kata ibu nya, kalau surga nya sekarang berada di suaminya.
Andra dibuat kaget dengan tingkah Laras, tapi tidak luput dia tersenyum. " Kau tidak apa-apa kan? ".
" Eh.. saya tidak apa-apa pak ". 'memangnya kenapa?'. Kata-katanya tertahan. Ingin dilanjutkan takut.
" Haaahh Alhamdulillah, syukurlah ". Helaan nafasnya benar-benar panjang. Kepanikan nya juga sia-sia, salah sendiri sih langsung berasumsi bahwa Laras sakit.
" Permisi tuan, ini air minumnya ". Bi Siti datang dengan tergopoh-gopoh.
" Mana Bi ". bi Siti pun menyodorkan sebuah gelas yang berisi air minum. Terlihat sekali jika bi Siti khawatir.
'ini ada apa sih'
" Istri saya tidak pa-pa bi ". Seperti mengetahui kekhawatiran bi Siti. Helaan nafas lega keluar dari mulut bi Siti. Wah.. panggilan 'istri' ini seketika membuat Laras terharu plus tersipu.
" Kalau begitu saya permisi tuan, assalamualaikum ". Akhirnya dia mengingat harus mengatakan salam.
" Iya Bi, waalaikum salam ". Ucap bersamaan Laras dan Andra. Tak lama kemudian...
" Andra mana yang sakit ". Suara nya memenuhi kamar itu. Baru datang sudah teriak-teriak.
" Gak ada, gak ada yang sakit ". Jawabnya santai
" Hah?? Gak ada? ". Tiba-tiba tubuhnya mematung, sudah capek-capek datang malah sia-sia.
" Kamu gak apa-apa kan ras ". Tanya dokter Rasya. Dia pun mendekat.
" Gak apa-apa dok, tapi kenapa dokter Rasya bisa disini ". Akhirnya terlontar pertanyaan yang memenuhi kepalanya tadi.
" Dia sahabat saya ". Andra menggantikan Rasya menjawab.
" Apa?? Sahabat? ". Terkejut Laras. Tapi kenapa waktu di rumah sakit mereka seperti tidak saling mengenal, pikir Laras.
" Iya, dia yang menyuruh ku pulang ke Indonesia buat mengobati bu Aminah ". 'untuk mengganti kan dokter Ilham yang punya rasa sih'. Rupanya dokter Ilham terpaksa pergi bukan karena ada urusan tapi karena gara-gara Andra.
Dokter Rasya adalah dokter pribadi di keluarga Ansari, tetapi dia harus ke Belanda saat itu karena ada urusan yang harus diselesaikan nya. Setelah urusannya selesai, bukan nya kembali malah keasikan di negara orang. Andra tahu itu, tapi tidak terlalu dipikirkan nya, walau bagaimanapun dia juga butuh refreshing bukan.
'eh... Tapi kenapa, bukannya dokter Ilham ada?'. Hanya bisa di tanyakan dalam batinya.
" Udah, lu pulang sana ". Benar-benar tidak tahu berterima kasih.
" Udah datang jauh-jauh, pas datang sia-sia. Setidaknya tawarin air gitu kek, ini malah disuruh pulang ". Entah kesalahan apa yang telah diperbuatnya di masa lalu, hingga kini dia berteman dengan orang seperti Andra.
" Mau air kolam? ". Memperlihatkan senyuman yang mengerikan nya.
__ADS_1
" Cik, iya-iya gue pulang ". Melangkah keluar, " Assalamualaikum ". sebelum keluar donter Rasya baru mengingat mengatakan salam.
" waalaikum salam ". jawab keduanya
sedangkan pak Rin sedari tadi hanya di ambang pintu melihat interaksi ketiga orang itu. 'syukurlah nona Laras tidak apa-apa'.
Setelah kedua orang tadi keluar dari kamar, kini tinggallah Laras dan Andra. " Kamu habis sholat yah? ". Meletakkan air minum yang sedari tadi dipegangnya di atas nakas.
" Iya pak ". Masih memeluk mukenanya.
" Oh... Saya juga mau sholat, tapi mending mandi dulu yah ". Melangkah pergi ke kamar mandi.
" Mau saya siapkan air mandinya pak? ". Harus melayani suami. Ingat! Jangan sampai lupa.
Andra kembali medekat ke arah Laras yang membuat Laras gugup sendiri. " Sekarang saya suamimu, jangan panggil saya pak lagi ".
" Jadi, saya harus panggil apa? ". Tidak mungkin sayang kan, kalau itu benar-benar memalukan sih bagi Laras.
" Yah terserah kamu ". Pergi begitu saja ke dalam kamar mandi. Dan meninggalkan Laras yang mematung.
'apa-apaan sih, jadi harus panggil apa coba?'. Laras yang masih fokus memikirkannya, tiba-tiba di kagetkan dengan suara Andra.
" Turunlah, kau belum makan bukan?. Tunggu saya di bawah ". Katanya dan langsung menutup kembali pintu kamar mandi.
Laras pun menyimpan kembali mukenanya di dalam lemari dan turun. Ini pertama kalinya Laras keluar kamarnya sesaat dia tiba di mansion ini. Rasanya aneh kan, kalau langsung sok menjadi nona di rumah itu. Walau kenyataan nya memang seperti itu. Laras menggunakan lift untuk turun, karena hanya itu jalan turun yang dia tahu.
Setelah lift terbuka, Laras pun berjalan keluar. Matanya asik melihat kesana-kemari, tetap saja walau dilihat berapa kalipun mansion itu benar-benar megah.
Sampai-sampai Laras tidak sadar kalau sedari tadi ada banyak pelayan yang sedang membersihkan melihatnya. Ada yang melihat kagum, bahagia, iri dan kecewa juga ada. Karena tuan mudanya sudah ada yang punya.
" Ah.. nona muda ada yang bisa saya bantu? ". Tergopoh-gopoh pak Rin datang. pak Rin langsung bergegas menghampiri Laras saat mendapat laporan kalau nona mudanya itu sedang turun menggunakan lift.
" Pak Rin aku mau ke meja makan, tapi dimana yah? ". Mansion itu terlalu luas.
" Oh... Lewat sini nona ". Menunjukkan jalannya. Laras pun hanya mengikuti pak Rin yang sedang membawa nya ke meja makan.
Sesampainya di meja makan, Laras benar-benar terkejut melihat pemandangan makanan yang ada didepannya. Makanannya benar-benar banyak, mungkin bisa untuk acara makan besar tuh.
" Silahkan nona ". Menarik kan tempat duduk dan mempersilahkan Laras untuk duduk. Dengan perasaan terkejut dan canggung Laras pun duduk.
" Pak, siapa saja yang akan makan disini? ".
" Tuan muda dan anda nona ".
" Oh.. ". Itu sih di luar nya, tapi di dalamnya 'apa! Hanya kami berdua, mana mungkin kan bisa menghabiskan ini semua'.
__ADS_1
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen dan juga vote nya