
Di dalam mobil nya, Mai dibuat kepikiran dengan kondisi ibu sahabatnya itu.
Ia tidak tahu harus bagaimana. Mau memberitahu Laras yang sebenarnya? Dirinya sudah berjanji untuk tidak mengatakan nya.
" Memangnya suaminya Laras itu baik yah ". Atau hanya pura-pura baik.
Mai sudah di beri tahu oleh papa nya tentang Andra. Sesama orang yang bergerak di bidang yang sama, tentu mereka tahu siapa Andra dan bagaimana kekuasaannya yang membuat orang-orang yang mengetahui kekuasaan nya bergidik ngeri.
Bukan lagi sifatnya yang sangat Arogant dan dingin.
Tatapan matanya saja dapat membuat lawannya tidak bisa berkutik.
Bahkan Mai mendapatkan informasi kalau kemungkinan besar Andra ikut dalam kelompok mafia.
" Dan dengan bodohnya Laras menerima lamaran dadakan dari orang berbahaya sepertinya hahhh ". Memukul setir mobil.
Tidak ada yang berani menyinggung seorang Andra.
Mereka tidak mau harus kehilangan kehidupannya begitu saja.
Laras memang tidak mengetahui kekuasaan suaminya itu seperti apa. Kebanyakan orang-orang yang dari kalangan bawah memang tidak mengetahui nya, tapi kalau mengingat namanya tentu mereka tahu.
Tapi bagi orang-orang kalangan atas, tentu tahu bagaimana kekuasaan keluarga Ansari, apalagi sekarang di pegang oleh penerus yang sangat jenius namun arogant.
Hanya dengan jentikan jarinya ia bisa membuat para musuhnya kehilangan jejak nya di muka bumi ini.
********************
Mobil berhenti di parkiran rumah sakit. Dengan sigap, pak Supri membukakan pintu untuk nyonya muda dan tuan mudanya.
Andra keluar lalu segera menggandeng tangan Laras masuk kedalam rumah sakit.
Di sepanjang lorong rumah sakit, mereka berdua benar-benar jadi pusat perhatian. Yang membuat Laras menjadi tidak nyaman.
" Mas... Ini gak pa-pa, kita jalan sambil gandengan? ". Sedikit berbisik.
Andra melirik melihat Laras yang seperti sedang was-was.
" Apa salahnya ".
" Mas, kalo sampai ada berita gak jelas gimana? ". Kalo hanya Laras yang kena sih tidak apa-apa, tapi kalau kena sampai ke Suaminya. Laras sungguh tidak mau itu terjadi.
" Emangnya apa salahnya punya skandal dengan istri sendiri ". Semakin mempererat genggaman nya, bahkan Andra menarik pinggang Laras dan mendekatkan nya pada dirinya.
" Ishh mas.. ". Wajah Laras lagi-lagi dibuat memerah.
" Haha gak pa-pa. Alan pasti bisa mengatasi nya ". Dan mulailah Andra membebani Alan dengan masalah yang ia buat.
" Hacccuhhhh ". Mengusap hidung nya
" Kenapa Lan? ".
" Ada yang ngomongin aku nih ". Ardi hanya geleng-geleng mendengarnya. Ia tidak menyangka rupanya masih ada yang percaya dengan mitos seperti itu.
Padahal Alan memang sedang di bicarakan.
Kita kembali...
" Ohh Alan benar-benar bisa di andalkan ". Puji Laras. Dia memberikan dua jempol untuk Alan yang bisa bertahan di sisi suaminya sebagai babunya, eh! Ralat maksudnya asistennya.
" Cik. Jangan memuji pria lain ". Dengus kesal.
'ehhhh masa gitu ajah marah, salah bicara lagi'. Menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Jangan digaruk kaya gitu, kalo kulitnya terkelupas gimana ". Menarik tangan Laras dan memegangnya lembut. Sedangkan rambut Laras bekas garukannya, ia elus-elus sayang.
" Hehehe ". Nyengir dengan wajah yang memerah. Suaminya benar-benar perhatian
Saat tinggal beberapa meter dari pintu ruangan bu Aminah. Mereka berdua melihat Rasya yang terlihat buru-buru memasuki ruangan bu Aminah.
Sepertinya keadaan bu Aminah sedang gawat.
Andra terkejut dan sontak melihat Laras yang sama terkejut nya. Telapak tangan istrinya langsung berkeringat.
Dengan langkah cepat mereka berdua menghampiri salah satu perawat yang akan masuk.
__ADS_1
Laras sudah tidak sabar dan segera berlari sedangkan Andra masih tetap dengan langkah cepat nya.
" Apa yang terjadi dengan ibu saya sus hiks.. ". Sudah tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh.
" tunggu disini nyonya, kami akan segera memeriksa nya ". Sopan suster itu. Dia tahu siapa yang sedang ia hadapi saat ini. Jika sampai perkataan nya menyinggung nyonya muda Ansari itu, mungkin besok dirinya sudah tidak ada di dunia ini.
" Tunggu disini dulu sayang... ". Memegang pundak Laras " biar mereka memeriksa ibu dulu ". Sekali lagi Andra tidak ingin melihat air mata Istri nya.
Laras mengangguk, ia berbalik lalu mendongak memperlihatkan wajahnya yang sudah di basahi air mata
" Mas... ". Lirih Laras
Andra yang melihatnya langsung mendekap tubuh Laras dalam pelukannya " tenang saja, ibu pasti baik-baik saja ". Memeluk erat Laras.
Laras membalas pelukan Andra, ia menangis di dada suaminya. Terisak pelan.
Dengan sabar Andra membawa Laras duduk di kursi tunggu depan ruangan.
Ia kembali memeluk Laras yang masih terisak. Hatinya sakit melihat istrinya itu menangis seperti itu.
Dirinya bersyukur telah menikahi Laras, walaupun ia mengutuk caranya melamar. Tapi, berkat itu kini Andra leluasa memeluk Laras disaat seperti ini, tanpa harus memikirkan dosa.
Andra juga bersyukur karena telah menyatakan cinta nya, dengan begitu sudah tidak ada dinding gengsi yang menghalanginya untuk menyayangi dan memanjakan Istri nya itu.
" Tenang sayang, semuanya pasti baik-baik saja ". Sekali lagi Andra menanangkan Istri nya
" Aamiin... ". Ucap Laras serak. Karena telah menangis membuat suaranya seperti itu.
" Perasaan terakhir kali kita liat kondisi ibu sudah baik-baik saja, kenapa tiba-tiba bisa gawat lagi hiks... Hiks.. " mulai terisak lagi
Andra hanya bisa mengusap-usap punggung serta kepala Laras dengan lembut, untuk menenangkan nya.
Tak lama kemudian...
Ceklek...
Rasya keluar, ia tidak terkejut melihat kedua pasangan yang sedang ada di depannya itu. Suster yang telah bertemu mereka tadi, sudah mengatakannya pada Rasya.
" Dokter Rasya.. kenapa dengan ibu saya? ". Laras langsung berdiri saat melihat Rasya keluar.
" Baik dok, terimakasih ". Ucap Laras dan langsung masuk begitu saja.
Sedangkan Andra mengekori nya dari belakang, saai ia tepat berpapasan dengan Rasya, Andra sempat mengatakan sesuatu padanya " gue tunggu penjelasan lo ". Ucapnya dan langsung berlalu.
" Huufhhh ". Helaan nafas, terdengar keluar dari mulut Rasya. Ia sudah tahu kalau hari ini akan datang.
Ditariknya nafasnya yang panjang, lalu di hembusan. Sebelum akhirnya ia masuk kedalam mengikuti tuan mudanya. Memantapkan hatinya dulu.
" Ibu gak pa-pa kan? ". Lega rasanya Laras, saat melihat bu Aminah duduk di atas kasur dengan tersenyum kepada nya.
" Iya, ibu gak pa-pa ". Lembut bu Aminah
Andra menyerngitkan dahinya, walaupun mertuanya itu mengatakan baik-baik saja, Tapi yang dilihatnya nampak tidak sedang baik-baik saja.
Lain halnya dengan Laras yang langsung senang saat Bu Aminah mengatakan dirinya baik-baik saja. Kan .... Emosi dan otak Laras benar-benar tidak karuan saat menghadapi kondisi kesehatan ibunya.
" Maaf bu, kami datang tidak sempat bilang dulu ". Kini Andra yang berbicara
" Tidak apa-apa nak Andra. Ibu malah senang kalian datang kesini ".
" Iya bu ".
" Ibu mau makan apa? Biar Laras suapin ". Kata Laras antusias.
" Bubur ajah deh ". Dengan sigap Laras mengambil kannya bubur, yang entah sejak kapan sudah ada disitu.
Laras duduk di kursi samping ibunya, sedangkan suami nya setia berdiri di samping.
Andra tersenyum melihat wajah istrinya yang senang dan ceria seperti itu. 'semoga senyuman mu tidak akan pudar sayang'. Doa Andra
Ia kemudian melirik melihat Rasya yang sedari tadi hanya diam saja.
Andra memberikan kode pada Rasya dengan matanya agar mengikuti nya keluar. Sangat jelas apa yang akan dikatakan oleh Andra.
Glek...
__ADS_1
Lagi-lagi Rasya harus menelan susah salivahnya. Rasya sudah menyusun kata-kata apa saja yang akan dikatakan nya nanti, saat ditanya.
Andra kemudian melirik kembali melihat istrinya yang seperti nya sudah melupakan keberadaannya, karena sudah fokus dengan ibunya.
Ia memegang pundak Laras " sayang, mas mau bicara sebentar dengan dokter Rasya. Kamu tunggu disini yah ". Ucap lembut Andra.
" Iya mas ". 'aku baru sadar, kalo rupanya mas Andra jug ada disini'. Rutukilah kebodohan mu yang melupakan suami mu sendiri.
" Saya keluar dulu bu ".
" Iya nak ". Jawab Bu Aminah. Seperti yang di duga, anak menantunya itu memang sangat baik dan sepertinya sangat mencintai putrinya.
Ia semakin enggan untuk mengatakan kondisi kesehatan nya yang sebenarnya.
Andra mengecup pucuk kepala Laras tanpa malu di depan ibu mertuanya dan Rasya.
Setelahnya berulah ia keluar dan diikuti oleh Rasya di belakang. Sempat Rasya menundukkan kepalanya kepada Laras dan juga bu Aminah barulah ia keluar.
Sekarang, ditempat ini. Andra tengah duduk di sofa dengan santainya, dan kakinya yang ia lipat.
Sedangkan di seberang, Rasya susah-susah menahan gugupnya.
" Jadi. Lo bisa jelasin yang sebenarnya kan? ". Andra mulai berbicara dengan suaranya yang dingin nan menusuk.
" Emm.. emm.. i.. iya ".
" Gak usah gugup, gue gak bakalan makan lo. Santai ajah dan jelasin!! ". Katanya santai, namun penuh penekanan.
" Iya, aku akan katakan yang sebenarnya ". Pasrah Rasya. Sebenarnya ia enggan mengatakan nya, apalagi dirinya sudah berjanji pada bu Aminah. Tapi yang dihadapinya sekarang adalah tuan muda Arogant nya, yang sangat hebat dalam mengintimidasi.
" Lanjutkan ". Melipat tangannya di atas pahanya
Rasya pun menceritakan semuanya, tidak ada yang ia lewatkan. Tentang kondisi sebenarnya dari kesehatan bu Aminah sampai janji yang mereka berdua sepakati.
Setelah mendengar nya, Andra langsung berdiri dan mengobrak meja.
" Kenapa kau tidak memberitahu nya!! ". Kesal Andra.
Walau bagaimanapun bu Aminah sudah menjadi ibu mertua nya, hal sekecil apapun harus di beritahukan kepada nya. Tapi, apa yang dilakukan Rasya sungguh membuat nya marah.
" Aku ingin memberi tahukan mu, hanya saja bu Aminah melarangnya memberi tahukan nya pada orang lain. Dan juga aku adalah dokter, sudah menjadi kewajiban ku untuk merahasiakan kondisi pasienku ".
" Ahkkk sial... ". Lagi-lagi mendobrak meja.
Brak..
Brak...
Tentu Rasya yang melihatnya hanya bisa mengusap dadanya.
'Laras baru saja bahagia akhir-akhir ini bersamaku, kalau seperti ini terus bisa-bisa dia jadi sedih lagi'. Frustasi Andra
" Memangnya tidak ada yang bisa dilakukan agar, ibu mertuaku bisa disembuhkan? ".
" Kalau memang ada cara, sudah dari dulu aku lakukan ". Rasya menunduk, ia sudah gagal sebagai doktet. Itulah dipikirkan Rasya
" Hahhhh ". Helaan nafas panjang berhasil keluar dari mulut Andr. Ia menyenderkan kepalanya di sandaran sofa lalu memijit hidungnya.
" M.. mas ". Ucap tiba-tiba Laras yang sudah ada di ambang pintu.
Membuat kedua orang itu kaget, dan sontaj berdiri.
" Sa.. sayang ada apa? ". Andra mendekati Laras
" Hmm itu ".
" I...iya kenapa? ". 'duh semoga Laras gak dengar apa yang kami bicarakan'. Gugup Andra, dan ini kali kedua dia dibuat gugup oleh Laras. Yang pertama tentu saat proses ijab qobul, dan yang kedua yah sekarang ini.
Rasya juga tidak kalah gugupnya 'kalo sampe Laras dengar apa yang kami bicarakan. Bisa habis aku, pasti aku yang disalahin nih'. Bersabarlah menghadapi sifat tuan muda mu. Karena tidak semudah itu untuk di ubah.
" Hmm mas.. apa kau masih sibuk? ". Tanya Laras, dan tentu membuat kedua orang itu bengong.... Lalu menghela nafas
" Tidak, Ada apa sayang? ". 'kayanya Laras gak dengar'. Lega Andra dan juga Rasya. Rupanya Laras sama sekali tidak mendengarkan pembicaraan mereka. Walaupun suaminya yang bicara, Laras pasti tidak akan menguping. Biar bagaimanapun ia adalah wanita yang di didik dengan baik.
TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan vote nya