Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Martabak Keju


__ADS_3

Rina, Aisyah, Kevin beserta Alan sudah kembali ke kantornya. Walaupun tadi mereka sempat berbincang-bincang sedikit.


Kini tinggal Laras dan juga Andra di ruang tamu. Laras masih asik dengan cemilannya.


" Mas mau? ". Menyodorkan satu cemilan ke mulut Andra.


Andra membuka mulutnya " Aaaa ". Wah ... Pacaran ala ank abg nih.


" Gimana, enak? ". Memperlihatkan wajah berbinarnya.


" Iya enak.. apalagi yang nyuapin istriku, tambah enak ".


" Ihhh mas... Bisa ajah ". Tersenyum malu-malu. Malu-malu kucing tepatnya. Untung tidak jadi kucing sungguhan


Andra mencubit gemas pipi Laras


" Isssh... Sakit mas~ ". Yap, kelebaian Laras akhirnya keluar, padahal Andra tidak mencubit nya dengan keras.


" Iya... Iya... Maafin mas... ". Mengatupkan kedua tangannya, sembari memperlihatkan wajah memelasnya.


Suami istri yang sangat suka ber-akting. " Iya.. aku udah maafin ".


" Makasih sayang... ". Mengecup pipi Laras.


" Mas.. aku pengen nonton ". Ucap tiba-tiba Laras. Nonton? Nonton apa? Ingin ke bioskop?


Andra sudah mengambil ancang-ancang ingin menelpon bawahannya untuk mengosongkan sebuah gedung bioskop, agar Istri nya bisa menonton sepuasnya, tanpa harus mengantri atau berdesak-desakan terlebih dahulu.


" Emangnya mau nonton film apa sayang? ".


" Biasalah mas.. ayo kita ke ruang tv ". Perkataan Laras berhasil membuyarkan semua rencana Andra yang sudah di susun nya tadi.


" Jadi cuman mau nonton tv? ".


" Iya.. emang nya mau nonton apa lagi? ". Tidak mungkin kan, Laras ingin menonton yang ehemm.. ehemm..


" Yaudah ayo.. ". Berdiri lalu menggandeng tangan Laras. Setidaknya ini lebih baik dari pada harus keluar rumah yang pasti akan membuat Laras lelah.


Laras berdiri mengikuti langkah suaminya, sedangkan toples cemilannya sudah berpindah tangan ke tangan Andra.


Sesampainya di ruang tv...


Seperti biasa, Laras duduk selonjoran di lantai beralaskan karpet dan Andra juga ikut duduk di samping Laras.


Dengan sangat hati-hati Andra membantu Istri nya untuk duduk, seperti Laras sudah hamil besar saja.


" Mas.. kandungan ku belum besar-besar bangat, sampai harus seperti ini ". Laras jengah melihat tingkah suaminya, bukannya ia terlalu di manja. Sedangkan Laras Memang tidak biasa di manja.


" Ini tugas mas sayang... Terserah mas, mau bagaimana oke?! ". Lembut Andra.


Laras hanya bisa pasrah, tidak ada yang bisa membantah perkataan suaminya. Padahal biasanya wanita lain akan senang dimanja, nah Laras ia malah terlihat tidak enak dimanja. Aneh bukan?


Setelah perdebatan singkat tentang perlakuan, akhirnya mereka menonton bersama. Iyya, harusnya sih seperti itu. Tapi Laras malah sibuk menyuapi Andra dengan cemilannya.


" Hmmgggghh udah sayang.. udah penuh nih ". Menahan tangan Laras agar tidak memasukkan cemilan lagi.


" Lagi dong mas... ".


" Tunggu dulu... Biar mas telan dulu keripiknya ". Bersusah payah menelan cemilan yang di berikan Laras.


Setelah Laras melihat semua cemilan yang ada di mulut suaminya sudah masuk ke dalam perut, Laras kembali menyuapi Andra.


" Kamu juga makan sayang... ". Padahal yang tadi turun gara-gara cemilan kan, Laras. Kenapa malah Andra yang memakannya, mana di paksa lagi. Kan cemilannya jadi tidak enak. Malah menyiksa. Bahkan toples cemilan itu sudah lewat setengah nya, dan yang memakan nya cuman Andra sendiri karena paksaan Laras.


" Gak mau ah.. lebih enak liat mas makan hehe ". Menyuapi Andra kembali.


Andra membuang nafas nya halus.. pasrah, di perlakukan seperti itu 'mungkin faktor kehamilan'.


Tv nya menyala begitu saja tanpa ada yang menonton nya. Mungkin tv nya sekarang yang berbalik menonton mereka, sembari memberikan semangat pada Andra.

__ADS_1


" Gak nonton sayang? ". Mengalihkan perhatian Laras, agar Laras berhenti menyuapi nya. Bukannya ia tidak senang di suapi, hanya saja kalau seperti ini caranya mending tidak usah deh. Dari pada tersedak karena di paksa, sudah itu tidak ada air minum lagi.


Laras mengalihkan pandangan nya ke tv yang masih menyala dari tadi. " Astaga! Aku lupa! ". Menepuk jidatnya. " Padahal tadi pengen nonton tv, kok malah pindah haluan sih ". Akhirnya berhenti juga menyuapi Andra dengan cemilan.


Andra yang melihatnya akhirnya bisa bernafas lega dan tersenyum melihat tingkah Laras yang sedikit ceroboh akhir-akhir ini.


Beberapa saat mereka asik menonton tv, yang menampilkan istri-istri yang terzolimi. Bukan lagi oppa-oppa ganteng. Itu sih kalo Laras. Sedangkan Andra, ia lebih memilih melihat istrinya yang sangat lucu saat melihat setiap adegan di tv. Apalagi kalau sudah ada pelakor nya di dalam, Laras tidak henti-hentinya memaki-maki pelakor tersebut, padahal kan aktris nya tidak salah apa-apa. Salah kan penulis skenarionya. Istrinya lebih cantik dari pada aktris yang ada di tv.


Andra menidurkan kepalanya di pangkuan Istri nya. Ia memiringkan tubuhnya mengarah ke perut Laras sembari memeluk perut Laras.


Laras tersentak kaget, tapi dia langsung tersenyum dan mengelus-elus rambut Andra.


" Mas gak nyangka... Akhirnya Andra junior udah ada di dalam ". Mengecup perut Istri nya yang dilapisi piyama Laras.


" Aku juga.... Gak nyangka... ". Bahkan Laras tidak menyangka kalau dia adalah istri kesayangan dari orang terkaya di kotanya.


" Makasih sayang... Kamu sudah mau menerima benih mas ". Mengusap pipi Laras di atasnya


" Gak usah berterima kasih mas... Laras malah senang. Tapi maafin Laras yah kalo selama ini Laras selalu merepotkan mas ". Menatap Andra dengan wajah sendunya.


Andra bangun dari tidurnya lalu menatap wajah istrinya. Ia memegang pipi Laras sebelah kanan. " Kamu gak ngerepotin mas kok. Malah mas senang di repotin sama istri manis mas ini ". Mencium sekilas bibir Laras.


" Makasih mas... Aku sayang sama mas ". Ucapnya lalu memeluk Andra.


'ahhk tahan Andra... Istri lo lagi hamil, jangan di makan sekarang! Tunggu penjelasan dari Rasya dulu.. tahan.. tahan..'. membelas pelukan Laras.


" Mas juga sayang sama kamu dan calon anak kita ".


...----------------...


Jam menunjukkan pukul tiga pagi dini hari. Laras bangun dari tidurnya. Ia melihat tangan kekar suaminya yang sedang memeluknya. Laras melepas pelan tangan suaminya dari pinggang nya.


Ia terduduk, sembari mengalihkan pandangannya. Meneliti kamarnya. Sepi... Hanya suara jam dinding yang terdengar. Keadaan di luar jendela masih gelap.


Setelah puas memperhatikan suasana di kamarnya, ia beralih melihat suami nya yang sedang tertidur pulas.


Hatinya ragu untuk membangunkan suaminya. Tapi pikiran nya mengatakan agar segera membangunkan nya.


" Sayang.. ada apa? Kenapa bangun? ". Suara serak khas bangun tidur terdengar dari arah samping Laras.


Laras menoleh dan mendapati suaminya yang sudah duduk sembari menyandarkan tubuhnya di pan ranjang.


" Ada apa sayang hmm? ". Mengulang pertanyaan nya, dengan mengelus kepala Laras.


" Mas.. aku.. ". Ragu Laras


" Iya? Kenapa? Bilang ajah ".


" Tapi janji jangan marah ". Tenang saja, Andra tidak akan marah


" Iya janji ". Menjawab sembari mengangguk.


" Hmm aku pengen martabak keju ".


" Hah? Apa? ". Memastikan


" Martabak keju.. ". Menunduk, apalagi saat melihat perubahan wajah suaminya yang terkejut, membuat nya menyesal mengatakan nya.


" Ngidam sayang? ". Laras mengangguk


" Tapi aku maunya mas yang beliin ". Lanjut nya setelah mengangguk tadi.


Andra berdiri dan turun dari ranjang. Laras hanya memperhatikan apa yang di lakukan suaminya. Andra mengambil Hoodie, lalu mengganti celananya.


" Mas mau kemana? ". Laras bertanya, yang membuat Andra menghentikan aktivitas nya.


" Beli martabak keju ". Kenapa malah bertanya.


Laras langsung turun dari ranjang dan menghampiri Andra " aku ikut mas ". Antusias Laras

__ADS_1


" Gak perlu sayang.. di luar dingin ". Menolak dengan nada lembut.


" Gak pa-pa, pokoknya aku ikut ". Laras tetap kekeh.


Andra menghembuskan nafasnya pelan, lalu beranjak menuju lemari. Andra membuka lemari itu dan mengambil hoodie nya, setelah nya ia memakai kannya untuk Laras.


Karena hoodie berwarna nafi tersebut milik Andra, jadinya jika di gunakan Laras panjang nya sampai ke lutut Laras. Sungguh besar. Bahkan tangan Laras sudah tidak terlihat lagi.


" Ayo kita pergi ". Menggandeng tangan Laras, walaupun sebenarnya Andra hanya memegang Hoodie nya karena tangan Laras sudah tenggelam.


Laras mengikuti langkah suaminya.


Karena memang masih dini hari, keadaan di dalam rumah Sangat sepi. Begitu pun keadaan di luar yang masih gelap, tapi itu tidak mengurungkan niat Laras untuk membeli mertabak keju.


Mereka berdua pun naik ke mobil nya. Karena pak Supri sedang tidur, maka Andra memutuskan untuk membawa sendiri mobilnya.


Andra melajukan mobilnya di jalan yang sepi nan gelap tersebut.


" Kok gak ada yah ". Sudah lama mereka berkeliling tapi tidak ada satu warung atau retoran yang menjual martabak buka.


" Mungkin karena masih gelap sayang... ". Dan itu benar, siapa sih yang mau jualan di dini hari. Ada, tapi sayang bukan manusia.. tapi dedemit.


" Haisssh kalo gini terus bisa hilang selera aku huh! ". Mendengus kesal.


" Sabar sayang... ". Mengelus rambut Laras.


Mobil terus melaju, dan tidak terasa mereka sudah ada di ujung kota. Dan rupanya disitu ada pedagang kaki lima yang jualan martabak.


" Mas.. berhenti mas.. itu di sana ada yang jualan martabak ". Antusias Laras sembari menunjuk sebuah gerobak bertuliskan 'Bermacam-macam Martabak'. Terlihat juga di atas gerobak ada lampu-lampu gantung.


" Kamu yakin sayang, beli disitu? ". Sebenarnya Andra sudah capek, dan asal ada yang jual martabak pasti akan di beli nya. Tapi, saat ia melihat pedagang kaki lima, ia mengurungkan niatnya untuk membeli martabak tersebut. Takutnya martabak nya tidak higienis. Biasalah horang kaya.


" Iya mas... Cepat turun! Beli martabak keju nya ". Mendorong Andra.


" Tapi kan.. ".


" Issh mas.. cepatan aku udah gak sabar ".


" Iya... Iya... ". Mau tidak mau Andra harus turun untuk beli martabak nya. Andra membuka pintu mobilnya.


" Martabak keju yah mas.. ". Teriak Laras dari dalam mobil. Andra hanya mengajungkan jempol nya.


Andra keluar dari mobilnya dan berjalan menuju gerobak martabak tersebut. Dimana sudah terlihat seorang lelaki paru baya.


" Martabak keju nya satu pak ". Pria tersebut tersenyum lalu mengangguk.


" Untuk Istri nya mas? ". Pria paruh baya tersebut mendengar teriakan Laras dari dalam mobil tadi.


" Iya pak ". Singkat Andra.


Dan percakapan pun berakhir.


Pria paruh baya itu membuat kan martabak keju untuk Andra. Andra melihat semua langkah-langkah yang di lakukan pria tersebut membuat martabak kejunya.


" Istrinya hamil mas? ".


" Eh! Iya.. kenapa bapa bisa tau? ".


" Itu mudah mas... Di jam segini, siapa sih yang akan beli martabak.. apalagi di ujung kota seperti ini. Mana mas nya juga terlihat bukan dari sini ". Pria tersebut menjelaskan.


" Oh.. ". Andra ber-oh ria 'kalo gitu kenapa buka di jam segini coba'. Tidak bisa ia katakan secara langsung.


Setelah semuanya selesai, Andra membayar martabak tersebut. Apalagi ia tidak melihat ada yang aneh saat pria tersebut membuat nya, dan juga terlihat higienis.


" Kembaliannya mas.. ".


" Ambil saja pak ". Ucapnya dan pergi dari situ, tanpa mendengar perkataan pria tersebut.


" Masyallah, semoga rezeki mas selalu berlimpah dan selalu di lindungi oleh yang maha kuasa ". Ucap pria tersebut mendoakan, walaupun orang yang di doakan sudah masuk kedalam mobil nya.

__ADS_1


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya


__ADS_2