
Tak berapa lama... Andra pun datang sembari membawa sebuah kantong plastik yang pastinya berisi martabak keju yang di tunggu-tunggu Laras.
" Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam... ". Laras membalas " mana mas martabaknya ". Mendekat ke arah Andra.
Andra menyodorkan kantong plastik yang ia bawa " ini.. gak sabaran bangat sih sayang ".
" Habisnya mas lama ". Membuka kantong tersebut.
Matanya langsung berbinar melihat isi kantong plastik tersebut. Ia mengangkat salah satu potongan martabak itu, dengan senyuman yang tidak lepas dari bibir nya.
Laras langsung memakan martabak kejunya, bahkan sampai luber kemana-mana.
Andra tertawa geli, ia mengambil tisu di depan kemudi lalu me-lap bibir Laras yang belepotan gegara keju dari martabak yang ia makan.
" Mas mau? ".
Andra menggeleng " enggak.. kamu ajah yang makan ".
" Ayolah mas... ". Nah.. akhirnya sifat pemaksaannya keluar.
Karena sudah di paksa, akhirnya Andra menerima suapan dari Laras. 'hmm enak juga rupanya'. Yah memang enak, dirimu saja yang terlalu takut.
" gimana mas? Enak? ". Tanya nya dengan wajah berbinar
" Iya enak ". Tersenyum manis. Semanis martabak yang sekarang di makannya. Eh! Bukannya martabak keju yah, berarti asin dong.
Laras memakan dengan lahap martabak tersebut sembari tangannya yang mengelus-elus perutnya. " Makan yang banyak yah nak ". Ucapnya melihat perutnya.
Andra Terkekeh dan ikut mengelus-elus perut Laras " iya mommy ". Menirukan gaya anak kecil berbicara. Biasanya calon ibu yang seperti itu. Ini, malah calon ayahnya.
Setelah martabak tersebut habis di makan berdua. Barulah Andra menjalankan mobilnya.
" Sudah jam berapa sayang? ". Tidak membawa jam tangannya karena terburu-buru keluar.
Laras melihat ponselnya " Astaghfirullah udah jam lima lewat mas.. kalo sampe dirumah pasti waktu Subuh nya udah habis ". Menggerutu. Menyalahkan dirinya sendiri.
" Gak pa-pa... Kita sholat di masjid sekitar daerah sini saja ".
" Maaf yah mas.. ". Menunjukkan wajah menyesalnya. Gara-gara permintaan nya, mereka terlambat melaksanakan tugas wajib nya kepada sang rabb.
Andra mengelus rambut Laras " enggak kok sayang.. jangan menyalahkan dirimu sendiri.. ini juga bukan karena kamu mau kan ".
" Iya mas.. tapi tetap ajah Laras merasa bersalah. Laras udah gak mau minta apa-apa lagi deh ".
" Jangan gitu... Ini juga permintaan dari calon anak kita.. nanti anak kita ileran loh kalo permintaan nya gak dituruti ". Laras diam mendengarkan penjelasan suaminya, apa yang di katakan Andra masuk akal menurut Laras.
" Baiklah kalo mas gak keberatan hehe.. tapi jangan marah loh yah kalo aku suapin mas makan-makan yang aku ngidam ". Ingat! Ini permintaan anak mu.
Andra meneguk salivahnya, sudah ia bayangkan apa yang akan terjadi pada nya. Bukan hanya bumil nya yang akan gendut, tapi dirinya juga akan ikut gendut 'gue kayanya harus ngejym nih'.
" Iya... Mas gak akan marah kok. Lagian, kayanya anak kita juga tidak ingin terlalu menyiksa daddy nya ". Ucapnya, padahal selama ini ia cukup tersiksa. Tapi, siksaan itu ia anggap adalah kenyamanan nya juga.
" Maksudnya? ".
" Iyya.. anak kita gak mau kalo daddy nya kelaparan, sedangkan mommy dan dirinya kenyang. Kan kamu yang selalu ingin melihat suami mu ini makan apa yang kamu makan ". Dan itu benar. Laras sangat suka melihat suaminya yang makan apa yang ia suapkan padanya.
Walaupun hal itu akan menyiksa Andra yang harus cepat-cepat menelan semua makanan yang di suapkan Istri nya padanya. Tapi, Laras seperti gelap mata yang tidak melihat Andra yang susah-susah menelan makanannya. Jadi, apakah calon anaknya memang tidak ingin menyiksa daddy nya atau sebaliknya? 'apa gue salah mengerti yah'.
Ah.. sudah lah tidak perlu di pikiran. Anaknya saja masih di dalam perut, sudah di terka-terka sifatnya. Padahal kan belum tentu seperti itu.
Mereka singgah di sebuah mushola dan melaksanakan sholat subuh.
Setelah mengerjakan sholat subuh, Andra melajukan kembali mobil nya pulang ke rumahnya. Langit yang gelap, sudah terlihat terang. Matahari mulai mengambil alih bumi.
Mobil sampai di rumahnya. Di depan pintu terlihat bi Siti, Dilan, Milea, dan pak Supri tengah berdiri memperlihatkan wajah khawatirnya.
Saat mereka ber-empat melihat mobil berwarna hitam memasuki pekarangan rumahnya, dengan cepat ke-empat orang itu mendekat ke mobil tersebut.
Andra keluar dan di ikuti oleh Laras " Assalamualaikum semuanya.. ". Salamnya tanpa sadar akan situasi.
__ADS_1
" Waalaikum salam.. ". Mereka menjawab dengan serentak.
" Tuan muda.. nyonya muda.. kalian dari mana? Kami khawatir ". Bi Siti langsung mengeluarkan kekhawatiran nya.
" Khawatir kenapa bi? Kami gak kemana-mana kok ". Jawab polos Laras
" Iya bi, istriku tadi cuman mau martabak. Jadinya harus pergi deh ". Timpal Andra tak kalah polosnya. Mereka belum sadar akan kekhawatiran pelayan-pelayan nya.
" Kenapa tidak suruh saya saja yang membelinya tuan muda ". Pak Supri ikut angkat bicara.
" Istriku ngidam, pengen di beliin langsung sama suaminya ".
Mereka ber-empat mengangguk " oh.. ". Sambil ber-oh ria.
" Memangnya kenapa bi? ".
" Kami khawatir, karena tiba-tiba tuan muda dan nyonya muda tidak ada di kamar anda tuan. Apalagi pintu kamar anda terbuka begitu saja ". Milea ikut andil dalam perbincangan ini.
Andra menepuk jidat nya " ah! Saya lupa menutup nya ".
" Hahah dasar mas Andra. Masih muda tapi sudah pikun ". Mungkin saat Laras hamil, ke pekaan nya yang memang hanya sebutir debu, kini terbang terbawa angin.
" Hmm udah berani yah.. ". Mencubit hidung Laras
" Hmmm mas.. lepasin.. udah ah aku mau masuk. Aku duluan semuanya Assalamualaikum ". Masuk ke rumahnya dengan wajah tanpa dosanya.
Mereka bengong " waalaikum salam ". Tapi tetap saja salamnya harus di jawab.
Andra hanya bisa geleng-geleng " kalo gitu saya juga masuk. Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". Setelah mendapat jawaban, Andra pun masuk.
Oke kita skip
...----------------...
Pagi harinya
Andra sudah bersiap-siap akan ke kantornya. Tinggal menggunakan dasi dan jas nya saja.
Andra mendekati Laras yang ada di atas ranjang yang sedang duduk dan memperhatikannya. " Jangan melakukan sesuatu yang membuat mu capek yah ". Mengelus kepala Laras.
Laras mengangguk lalu mengambil dasi yang ada di lengan Andra. " tunduk sedikit mas ". Andra yang mengerti pun menurut apa yang di katakan Laras.
Laras berdiri dan bertumpu pada lututnya. Lalu mulai memakainnya pada Andra.
" Mas.. kapan mama sama papa pulang? ".
" Mungkin sebentar lagi, apalagi saat mendengar menantunya hamil. Pasti mama sudah buru-buru mau pulang ". Mama Ani dan papa Rangga Memang sedang berada di luar negeri. Saat Andra mengabarkan tentang kehamilan istrinya. Karena pasti saat mendengar menantunya hamil, mama Ani lah yang akan duluan ke rumah Andra.
" Oh... ". Menarik dasi Andra, agar kuat. Setelah nya ia melepaskan tangannya dan merapikan kembali dasi Andra.
" Nanti mas pulang pas makan siang oke? ".
" Gak usah mas.. pasti capek kan pulang jauh-jauh untuk makan siang doang ". Tolak Laras
" Gak pa-pa mas akan datang ".
" Hmm terserah mas ajah ". Pasrah Laras, lagi pula siapa sih yang bisa menolak perintahnya.
Andra menangkup wajah Laras lalu menghujani nya ciuman. " Kalo gitu mas pergi dulu ". Laras mengangguk.
" Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". Laras mencium dan mengalami tangan kanan Andra.
Setelah itu, Andra pun keluar setelah mencium kening Laras.
...****...
Terlihat dua orang wanita dan satu pria sedang berlutut di lantai seperti memohon. Sedangkan Andra duduk di kursi kebesarannya, dan melihat ketiga orang tersebut dengan tatapan dingin nan datar.
__ADS_1
" Jadi kalian yang sudah menumbuhkan rumor tidak jelas itu ". Suara dingin Andra memecah keheningan.
" M.. maaf p.. pak k.. kami tidak tau kalau Laras.. ".
Brakk
Meja yang sebagai penghalang Andra dan juga ke tiga orang tersebut jatuh ke depan. Semua berkas-berkas nya jatuh begitu saja.
Hal itu membuat ke-tiga orang itu dilanda keringat dingin. Badannya gemetar, tidak ada yang berani mengangkat bicara, bahkan mengangkat wajahnya saja terlalu berat bagi mereka. Menyesal! Satu kata yang dapat mewakili mereka.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada ketiga orang itu.
" Panggil nama istriku sekali lagi! Mulut mu yang jadi taruhannya!! ". Suaranya pelan, tapi mampu membuat nyali ketiga orang itu menciut.
" Ma.. maafkan sa.. ".
" Jangan banyak bicara! Jelaskan kesalahan kalian! ". Bentakan Andra membuat ketiga orang itu tambah takut.
" Kau! ". Menunjuk seorang wanita di situ.
Wajah wanita yang ditunjuk itu berkeringat dan sudah tidak seperti manusia. Make up nya yang memang hanya ber-label tanah abang dan online, plus cod luntur gara-gara keringat. Membuat wajahnya sudah tidak seperti manusia. Sekitar matanya berwarna hitam, sebelas dua belas dengan panda. Bedak nya yang setebal lima centi luntur yang membuat wajah nya seperti lelehan ice cream.
Kalau tidak sedang dalam kondisi seperti ini, sudah di pastikan Alan beserta semua orang di dalam ketawa. Bagaimana tidak, wajahnya lebih menakutkan dari pada mbak-mbak yang tinggal di pohon. Andra tidak menyangka kalau ada karyawan nya yang bermodelkan seperti itu.
" Jelaskan apa kesalahanmu! ". Walaupun sebenarnya Andra sudah tahu, lewat dari cctv. Tapi ia tetap ingin menanyakan nya.
" Sa.. saya membentak dan memojokkan nyonya muda.. ". Ucapnya dengan wajah bergetar.
" Selanjutnya ". Andra masih bisa mengontrol dirinya agar tidak lepas dan mengamuk.
Seorang wanita lain di samping wanita tadi langsung bergidik saat Andra membuka suara. Kita sebut saja wanita yang pertama tadi sebagai si A dan wanita selanjutnya si B dan pria di samping nya sebagai C. Mereka tidak terlalu penting untuk di ingat.
Wajah si B, yang memang polesan make up nya tidak terlalu banyak. Menyebabkan wajahnya menjadi pucat bak mayat gara-gara make up nya luntur.
Bibir nya bergetar seperti habis tenggelam. " Sa.. saya mempro.. memprovokasi, kalau nyonya muda sedang h.. hamil anak ha.. har ".
Brakk...
" Jaga mulut mu! Anak ku bukan anak haram! ".
Sekarang kursi yang jadi pelampiasan. Andra berdiri lalu beralih ke sofa untuk duduk. Tidak beraniat untuk memperbaiki kursi yang di tendang nya.
" Ma.. maaf kan.. ".
" Selanjutnya! ". Ucapnya memotong perkataan si B.
Sekarang kita beralih ke pada seorang pria atau alias si C yang berlutut di lantai bersama si A dan si B.
" Saya dendam kepada nyonya muda ". Katanya tanpa terbata-bata.
" Lanjutkan ".
" Lalu saya me.. megang ta.. tangan ".
" Alan! Potong tangannya yang sudah menyentuh istriku! ".
" Baik tuan muda! ".
Keringat si C bertambah. Punggung nya sudah basah, tubuhnya kembali bergetar. " Tuan muda.. sa.. saya mohon maaf.. tapi tolong.. jangan potong tangan saya ". Memohon dengan mengatup kedua tangannya. Air matanya tak luput keluar untuk permohonan nya.
Andra menatap nya dengan tatapan tajam " kalian bertiga di pecat, keluar dan ambil pesangon kalian ". Ucapnya.
" Tu.. tuan muda saya.. mohon ".
" Tuan muda.. tolong jangan pecat saya ... "
" Saya juga tuan muda.. saya mohon ".
" Keluar!! ". Bentaknya.
Alan berjalan kearah mereka bertiga " keluar! ".
__ADS_1
Dengan langkah gontai nya, mereka bertiga keluar. Mereka sudah tahu nasibnya akan seperti apa jika berurusan dengan seorang Andra, sayang mereka tidak tahu kalau tindakan nya membangkitkan sifat iblis Andra. Mereka sudah tidak mau taju bagaimana kehidupan yang akan mereka jalani kedepannya. Karena memikirkan nya pun tidak akan ada habisnya.
TBC