Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant

Ku Panjatkan Doaku : Kesayangan CEO Arogant
Kebahagiaan yang Sempurna ( The End )


__ADS_3

Laras hanya menurut saat di rias, ia serahkan semua pada MUA.


Tak lama kemudian....


" Sekarang anda bisa pakai gaunnya nyonya ". Laras menangguk, lalu masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya.


Setelah nya Laras pun keluar. Sungguh para MUA terkagum-kagum melihat penampilan Laras, bagai putri di kerajaan dongeng. Tak akan ada yang bisa berpaling darinya.


" Wah nyonya sangat cantik ".


" Iya benar ".


" Benarkah? ". Tanya Laras


" Iya nyonya. Sangat cantik, memang dari sananya sudah cantik. Dipoles dikit jadi makin cantik ". Ujar sang MUA semangat.


" Terimakasih ". Jawab Laras dengan wajah yang bersemu. " Ini semua juga berkat kalian ". Lanjut Laras.


Para MUA yang mendengarnya sangat senang, mereka hanya bisa tersenyum menanggapi.


Tok.. tok.. tok...


" Siapa? ". Sedikit mengeraskan suara


" Saya Nyonya. Milea, sudah waktunya kita berangkat ". Sahut Milea dari luar.


" Oh baiklah. Sebentar, tunggu aku di bawah ".


" Baik ". Tak lama terdengar suara kaki Milea yang menjauh.


...***...


Laras turun dengan iring-iringan para MUA di belakangnya. Gaun panjang yang menutupi Laras sangat bagus melekat di tubuhnya, memperlihatkan keelokan tubuh Laras.


Dengan langkah anggun Laras turun, Milea tertegun di ujung tangga melihat Laras. 'bidadari'.


" Milea ayo, kenapa malah bengong ". Menepuk pundak Milea. " Kamu cantik Milea ". Lanjut Laras. Yap Milea juga memakai gaun dan sangat cantik, walaupun Laras lebih cantik. Yah keduanya cantik lah.


" Maaf nyonya, anda sangat cantik, saya kira tadi anda bidadari yang kesasar ". Goda Milea, dan sesuai kenyataan.


" Haha ada-ada ajah kamu. Ayo kita berangkat ". Menggandeng tangan Milea. Milea hanya diam dan mengikuti langkah nyonya nya.


Sesampainya di luar terlihat Dilan sudah siap dengan mobilnya. Ia berdiri di samping pintu penumpang yang sudah terbuka, jas yang dikenakan Dilan membuat nya tambah tampan nan gagah. Selama ini Dilan hanya memakai pakaian khusus koki, jadi ia sangat jarang menggunakan yang namanya jas.


'cantik. Wah istri ku juga tak kalah cantik'. Batin Dilan.


" Silahkan nyonya ". Menunduk dan mempersilahkan Laras masuk.


Laras tersenyum. " Terimakasih ". Ucapnya dan masuk.


Sedangkan Milea duduk di samping kursi kemudi. Setelah dua wanita itu masuk, giliran Dilan yang masuk dan duduk di belakang kemudi. Setelah semuanya siap, Dilan pun melajukan mobil menuju tempat tujuan, yang bahkan Laras sendiri tidak tau dimana.


Sebenarnya Laras sedikit heran saat melihat Milea dan Dilan yang menggunakan gaun dan jas rapi seperti itu. Apa acara yang akan hadirnya sangat penting dan istimewa? Kira-kira siapa orang yang mempunyai acara tersebut?. Apakah ia orang sangat penting? Sampai-sampai pelayan juga harus ikut dan memakai pakaian bagus?. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala Laras, tapi ia sama sekali tidak ingin menanyakan salah satu dari pertanyaan di kepalanya.


Mobil terus melaju hingga mereka sampai di sebuah hotel berbintang. Sangat mewah dan besar. Terlihat karpet merah terbentang dari pintu masuk sampai keluar.


Dilan turun lalu membukakan pintu untuk Laras. " Silahkan nyonya ". Laras turun. Ia sempat risih melihat hotel di depannya. Ia terbengong. 'orang-orang kaya semua ada didalam. Semangat Laras!'.


" Ayo nyonya ". Milea memecah lamunan Laras.


Laras mengangguk dan mulai melangkah dengan anggun. Sedangkan Dilan dan Milea berjalan di belakang Laras dengan bergandengan. Laras berjalan duluan dari kedua pasangan di belakangnya, tak mungkin kan ia menjadi nyamuk di kedua orang di belakangnya.


Mereka masuk dan terua berjalan, hingga mereka sampai di depan pintu berdaun dua besar. Dilan berjalan mendahului Laras untuk membuka pintu tersebut dan kembali kebelakang bersama sang Istri. Setelah mempersilahkan Laras masuk.


Dengan hati-hati dan perasaan yang gugup Laras melangkahkan kakinya. Entah mengapa ia merasa perasaan yang aneh dan mengganjal.


Saat masuk di dalam, ruangannya sangat gelap. Tidak ada cahaya setitik pun. Laras mengerutkan keningnya. " Ini benar tempatnya Milea, Dilan? ". Tanya Laras tanpa berbalik.


Namun, tak ada jawaban. Laras pun berbalik, betapa terkejutnya ia saat tidak mendapati Milea dan Dilan di belakang, bahkan pintu pun sampai tertutup rapat. Laras mulai kalang kabut, ia takut di jebak dan malah merepotkan suaminya!, Yah malah mikir kesana.


Sreek..


Tiba-tiba sebuah lampu panggung menyoroti Laras, sontak Laras berbalik. Ia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu. Setelah matanya berhasil terbuka lebar, dirinya semakin di landa kebingungan. Ini dimana? Tempat apa ini? Dari mana datangnya lampu ini?!! Pikir Laras.


Hingga...


Sebuah lampu menyoroti tepat jauh di depan Laras dan terlihat suaminya yang sedang tersenyum manis kepada Laras. " Mas Andra ". Gumam Laras.


Andra memberi kode agar Laras mendekat, tanpa aba-aba lagi Laras segera mendekat dengan berjalan pelan, karena gaunnya Memang yang menjuntai sampai ke lantai. Sangat pelan dan anggun.


'gila! Istri gue cantik bangat! Ini bidadari nih.... Ahhkk nyesal gue memperlihatkan wajah cantik istri gue'. Sungut Andra, tapi ia tetap memperlihatkan senyuman manis.


Hingga Laras sampai tepat di depan Andra. Andra menjulurkan tangannya dan di sambut dengan senang hati oleh Laras. " Ini di mana mas? ". Belum sadar akan keadaan karena tempatnya yang memang sangat gelap, hanya kedua orang itu yang dosoroti lampu.


Andra tersenyum mendengar pertanyaan Laras. Langsung saja Andra berlutut dengan bertumpu di satu kakinya, ia tetap memegang tangan Laras.


" Eh! Mas kamu ngapain?! ". Heran Laras. Ia mencoba untuk membantu Andra berdiri.


" Sayang.... ".


Laras mengurungkan niatnya untuk membantu Andra berdiri. Ia terdiam mendengar perkataan Andra, ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan agar tidak memotong perkataan Andra.


" Mungkin saya belum bisa memberikan pernikahan yang kamu impi-impikan selama ini, memakai gaun pengantin, diberi selamat oleh teman-teman, malam pertama, atau mungkin bulan madu. Bahkan saya juga banyak membuat mu menangis. Jujur saya benar-benar minta maaf ". Ucap panjang lebar Andra dengan tatapan penuh cinta pada sang istri.


Laras yang mendengarnya hanya menggeleng kan kepalanya. Ia tidak setuju dengan apa yang dikatakan sang suami. Menurut nya ia sangat bahagia setelah menikah dengan Andra.

__ADS_1


" Walaupun begitu, saya ada satu permintaan. Walaupun itu sangat egois, dan saya harap kamu mau menerimanya ". Lanjut Andra. Larad diam mendengar nya.


'permintaan apa? Ehh tunggu dulu! Ini ada acara apa sih!!!?'. Yah baru sadar. Tapi Laras tetap mendengar perkataan Andra.


" Saya tidak bisa melamar mu dengan acara romantis. Haha bahkan kita sudah menikah. Jadi karena itu. Bukan kata-kata will you married me yang akan mas Katakan. Tapi.. ". Andra sejenak mengambil nafas, lalu menghembuskan nya. Ia kembali tersenyum menatap sang istri. Andra juga sama sekali tidak merasa pegal berlutut seperti itu.


" Kamu mau menemani saya hidup sampai akhir hayat? Bahkan kelak hingga di surga-Nya ".


Sungguh hati Laras sangat senang mendengar perkataan Andra. Ia sangat-sangat terharu dengan perkataan Andra. Laras langsung mengangguk. " In Syaa Allah mas... Aku mau ".


Andra tersenyum senang. Ia merogoh kantong jas yang di kenakan, di ambilnya sebuah kotak kecil ia membuka nya dan ternyata ada cin-cin pasangan yang sangat indah didalam. Cin-cin yang pernah ia pesan khusus pada desainer yang di rekomendasikan oleh papa Rangga.


Andra memakai kan di jari manis sang istri, lalu mencium tangan Laras. Ia bangun dan memberikan cin-cin sebelahnya agar Laras bisa memakaikan untuk Andra. Setelah mereka masing-masing memakai cincin tersebut.


Laras langsung memeluk Andra. Ia menangis terharu. Kebahagiaan nya sungguh tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Andra membalas pelukan Laras sembari menciumi kepala Laras.


Tiba-tiba...


Lampu menyala dan menampakkan seluruh ruangan yang rupanya sudah sangat amat banyak orang. Mereka bertepuk tangan dan tersenyum bahagia melihat Laras dan Andra. Di antara mereka juga ada orang-orang terdekat Laras dan Andra. Bahkan Aisyah dan Rasya juga ikut pulang hanya untuk menghadiri acara ini. Milea dan Dilan juga sudah ada di antara para tamu.


Baby Adhan terlihat di gendong oleh mama Ani.


" Mas... Ini.. ". Laras tidak bisa berkata apa-apa lagi.


" Ini untuk mu sayang... ".


Lagi dan lagi air mata Laras keluar, sungguh ia merasa kebahagiaan nya di dunia sudah sempurna. Dia hanya bisa berdoa agar ibunya ikut senang melihat ia di atas sana.


" Husstt jangan nangis lagi. Nanti cantik nya pudar loh ". Goda Andra mengedipkan sebelah matanya.


" Mas.. ah! Genit ". Memukul dada Andra pelan.


" Pukul lagi sayang ". Laras mengerutkan keningnya.


" Ha!!? Kok minta di pukul lagi sih ".


" Yah kan itu pukulan cinta sayang ". Godanya lagi.


" Mas ihhhh ".


Para tamu yang melihat mereka hanya tersenyum malu. Mereka ikut baper melihat adegan bak di film romantis di depan mereka.


" Tapi mas ini semua untuk apa? ". Keluar lah pertanyaan yang sedari tadi di tampung.


" Untuk apa lagi sayang, yah untuk memberikan yang memang seharusnya mas berikan dari dulu ". Jelas Andra. " Gimana? Kamu suka kan? ". lanjutnya


Laras mengangguk dengan cepat. ". Suka! Aku suka mas ". Memperlihatkan senyuman manis.


" Jangan tersenyum sayang! ".


" Eh! Memangnya kenapa? ".


Laras hanya mengangguk saja, padahal dirinya juga tak tahu kalau rupanya senyuman yang ia kembangkan bisa manis. Dan bagaimana caranya tersenyum agar tak terlihat manis?. Suaminya ada-ada saja, malah menyuruh Laras jangan tersenyum, jadi dia harus apa!? Tak mungkin kan Laras harus cemberut di acara ini.


Mama Ani dan papa Rangga datang menghampiri kedua pasutri yang seperti pengantin baru. " Kalian ini. Ingat udah punya anak ". Sahut tiba-tiba mama Ani


" Haisss mama ganggu ajah ". Gurutu Andra. Laras langsung menyiku lengan Andra.


" Wah anak mommy. Sini sayang ". Mengambil baby Adhan dari gendongan mama Ani.


" Gak pa-pa mah. Kan memang kesannya mereka seperti pengantin baru. Bahkan bulan madu ajah gak pernah ". Sindir papa Rangga, ekor matanya melihat Andra yang sedang melihatnya dengan tatapan kesal.


" sindir ajah terus... ". Sahut Andra.


" Selamat bos ". Ardi datang bersama Nisa dan juga Rani.


" Thanks Di ".


" Makasih Ardi, Nisa. Dan Rani juga ". Mencubit pipi Rani yang sedang berdiri di samping Ardi


" Aunty Lalas akit ih... ". Keluh gadis cantik kecil itu, sembari mengusap pipinya. Dengan menggembung kan pipinya.


" Haha gemas bangat sih Rani. Pengen ku cubit lagi deh ". Goda Laras.


" Aunty Lalas gitu telus... ". Rani semakin bersungut-sungut.


" Hahaha cucu oma yang satu ini jangan cemberut ah, coba liat de Adhan diam ajah ". Mama Ani ikut gemas melihat tingkah Rani.


Rani hanya memajukan bibirnya. Sungguh setiap bertemu dengan Laras pasti pipinya jadi bulan-bulanan. Semua yang melihat nya hanya terkekeh geli melihat wajah cemberut Rani yang menurut mereka sangat menggemaskan.


" Selamat yah sayang... ". Bukannya melihat Laras, Nisa malah bermain dengan baby Adhan di gendongan Laras.


" Udah kan, kami mau duduk ". Andra langsung menggandeng tangan Laras menjauh dari sekumpulan orang-orang yang pasti selalu menganggu kebersamaan keluarga kecilnya. Untung Alan tidak memperhatikan mereka, ia hanya fokus dengan Mai yang perutnya sudah sangat besar. Karena kini usia kandungan Mai sudah memasuki 8 bulan.


Tapi baru juga Andra dan Laras duduk, Rasya dan Aisyah langsung datang menghampiri mereka.


" Assalamualaikum ". Salam mereka.


" Wa'alaikum salam ". Jawab keduanya. 'ck susah bangat sih cari tempat yang aman dari gangguan'.


Laras langsung berdiri. " Aisy, kapan kamu pulang ke tanah air? ".


" Kemarin kak. Khusus buat kak Laras, aku datang buat hari ini ".


" Wah makasih yah sayang... Ahk makin sayang deh sama kamu ". Wajah Andra langsung berubah cemberut mendengar penuturan Laras.

__ADS_1


" Honey duduk yuk. Jangan berdiri terus hon. Kandungan mu masih lemah ". Ucap lembut Rasya, ia menuntun Aisyah untuk duduk.


" Kamu juga sayang ". Andra tak mau kalah.


Akhirnya kedua wanita itu pun duduk. Sedangkan baby Adhan hanya mengikuti apa yang di lakukan sang mommy, karena sedari tadi dia hanya di gendong sang mommy.


" Tunggu dulu! Dokter tadi kamu bilang apa!! Aisy kamu hamil? ".


" Alhamdulillah iya kak ". Tersenyum manis.


" Alhamdulillah semoga lancar selalu yah ".


" Aamiin ". Ujar Aisyah dan Rasya.


" Ras jujur nih yah, kamu cantik bangat sumpah ". Sahut tiba-tiba Rasya.


" Lu udah gak sayang nyawa lu yah ". Belum sempat Laras menjawab, Andra sudah membuka mulutnya.


" Yee emang benar. Nah coba liat tatapan para tamu Melihat istrimu. Mendambakan, tau gak ". Dan yang di katakan Rasya benar sekali. Sedari Laras masuk kedalam ruangan itu, tatapan mata para tamu tak lepas dari wajah Laras. Hal itu sungguh membuat Andra marah.


" Iya sih benar juga ". Aisyah ikut menimpali. " Tapi kak Laras Memang sangat cantik ". Puji Aisyah.


" nah benar tuh ". Timpal Rasya.


" Ngomong lagi. Gue tabok lu Rasya ". Tatapan sinis Andra menusuk Rasya.


" Mas... ". Tegur Laras.


" Hahah udah deh kami gak mau ganggu kalian. Kami pergi dulu. Assalamualaikum ". Rasya menarik tangan Aisyah. Sebenarnya Aisyah masih belum rela untuk pergi dari situ, tapi tahu maksud dari Rasya akhirnya Aisyah pun ikut.


Huhhff..


" Akhirnya mereka pergi juga ".


" Mas.. mas.. ada-ada ajah ". Laras hanya bisa geleng-geleng Melihat tingkah suaminya.


Andra memeluk Laras dari samping, ia menaruh kepalanya di pundak Laras. " Habisnya mas mau berduaan ajah sama kamu ". Manja Andra. Para tamu yang melihatnya seperti melihat sesuatu yang langkah. Walaupun di antara mereka ada yang tak heran lagi dengan tingkah Andra.


Tiba-tiba Plak..


Sebuah tangan kecil menampar dagu Andra. Yap Siapa lagi kalau bukan baby Adhan. Sepertinya ia tidak terima dengan kata-kata sang daddy.


" Aduh.. boy.. kok Daddy di pukul sih ". Keluh Andra masih dengan nada manja.


" Hahah kamu sih mas, bukan berdua tapi bertiga ". Melarat perkataan Andra.


" Hahaha iya boy dasar ". Mencubit gemas pipi baby Adhan.


Dari kejauhan terlihat Alan dan Mai melambaikan tangan kepada keluarga kecil itu. Andra dan Laras membalas lambaian tangan mereka, bahkan baby Adhan juga tak mau kalah.


" Kira-kira nanti anak nya Mai sama Alan laki-laki apa perempuan yah? ".


" Emangnya kenapa sayang? ".


" Gak papa cuman penasaran ajah. Lagi pula Alan sama Mai gak mau kasih tau ". Mengingat perkataan Alan dan Mai yang menolak memberi tahukan jenis kelamin dari calon bayi nya, katanya biar surprise.


" Gak usah dipikirin. Nanti kalo lahir juga tau ". Dan itu benar. Andra semakin memeluk Laras bahkan sekali-kali ia mencium pipi Laras, terkadang baby Adhan bahkan seperti resah melihatnya.


" Haha mas... Jangan gini terua ah. Malu! ".


" Kenapa harus malu, kita gak buat zina tuh ".


" Aisssh terserah mas ajah ". Membiarkan Andra sesukanya.


" Sayang, kamu tau gak bedanya kamu sama pelangi ". Ucap Andra namun kepalanya ia tenggelamkan di leher Laras.


Laras mengerutkan keningnya. " Gak tau, emang nya apa mas? ".


Mengangkat kepalanya ia menatap Laras penuh cinta. " Pas pelangi datang akan mewarnai dunia. Tapi pas kamu datang mewarnai dunia dan hidup mas ". Gombanya dengan mengedipkan sebelah matanya.


Blussh..


" Ih haha mas... Kamu bisa ajah deh ". Wajah Laras sudah memerah.


" Cie.. cie.. ada yang tersipu nih ". Menoel pipi Laras yang memerah.


" Ih mas... ". Wajah Laras semakin memerah.


" Hahahaha ". Tawa Andra pecah bahkan baby Adhan juga ikut tertawa.


" Haha ". Laras pun ikut tertawa.


Orang-orang yang melihat keluarga kecil itu tertawa ikut bahagia melihat nya. Mereka berharap agar hubungan mereka langgeng Sampai ajal menjemput.


'bu.. ibu liat sekarang Laras udah bahagia. Bu semoga ibu juga bahagia di atas sana'. Sungguh lagi dan lagi Laras merasa wanita paling beruntung di dunia ini.


Hidup memang butuh kesabaran, keikhlasan, ketabahan untuk menjalani hidup ini. Jatuh, sakit hal itu sudah biasa dalam hidup. Namun jangan berkecil hati dan berprasangka buruk pada Tuhan, yakinlah dalam kesedihan dan perjuangan ada kebahagiaan di akhir perjuangan itu.


Saat menjalani hari dengan pikiran positif, maka hal-hal positif pasti akan menghampiri. So tetap optimis jalani hari


~End~


Aku sebagai Author ingin berterimakasih pada teman-teman readers yang selalu setia membaca karya amatiran aku🙏.


walaupun pembacanya sepi tapi author tetap lanjut sampai tamat, karena menurut author asal ada yang nanti karya ku pasti aku lanjut 😉.

__ADS_1


Jadi sekali lagi Thanks buat kalian yang selalu tunggu karya ku ini☺️.


see you next time ✌️


__ADS_2