
.... Happy Reading...
waktu terus bergulir, hari demi hari berlalu bulan demi bulan terlawati. Di ruangan yang bernuansa putih ini, suara rintihan terus terdengar dari mulut Laras. Sedari tadi Andra hanya bisa menenangkan dan menyemangati Laras.
Yap hari ini adalah hari kelahiran baby nya, dimana tadi subuh setelah makan sahur Andra benar-benar dibuat panik saat tiba-tiba Istri nya mengeluh kesakitan pada perutnya, dan tanpa aba-aba sebuah cairan kental berwarna merah keluar dari alat ******** sang istri.
Dengan sigap Andra langsung membopong tubuh Laras, rumahnya dibuat ribut subuh-subuh. Pak Supri dengan cepat menyalakan mesin mobil, bi Siti mempersiapkan barang alat keperluan sang bayi saat telah lahir yang memang sudah di siapkan jauh hari, Milea dan Dilan sibuk mengabari mama Ani, papa Rangga, Alan, Ardi, dan juga Rasya.
Di luar ruangan sudah ada Nisa, Ardi, mama Ani, papa Angga, Rasya dan Alan. Namun sayang Mai tidak diperbolehkan pergi sama Alan dikarenakan janin dalam kandungan Mai masih lemah, yah setelah menjalani pernikahan nya selama hampir 3 bulan, Mai diberikan kepercayaan untuk mengandung.
Mereka hanya bisa mendoakan dari luar ruangan, berharap agar yang maha kuasa melancarkan persalinan Laras. Sebenarnya Rasya ingin membantu, ia juga bisa kalau hanya membantu seseorang dalam persalinan. Tapi, Andra melarang nya, ia hanya ingin agar Istri nya di sentuh oleh dokter wanita saja.
Kita kembali ke dalam ruangan yang penuh ras tegang.
" Hiks.. hiks.. sakit mas... ". Air mata Laras tidak berhenti mengalir.
" Sabar yah sayang ". Rasanya sakit melihat wajah Laras yang nampak menahan sakit yang luar biasa. Jika dirinya bisa menggantikan Laras merasakan rasa sakit itu, pasti sudah ia lakukan. Yang bisa dilakukan nya sekarang hanya mendoakan dan menyemangati Laras di samping tempat tidur.
" Kenapa kalian lama sekali!! Apa kalian tidak melihat istriku sedang kesakitan!!! ". Entah sudah berapa kali Andra membentak para perawat dan dokter disitu dengan kata-kata yang sama.
Seorang perawat wanita melangkah dengan hati-hati dan memeriksa pembukaan Laras, satu detik serasa satu jam. Ia gugup, bagaimana tidak! Seorang nyonya muda dari keluarga Ansari, keluarga yang sangat dihormati akan melahirkan keturunannya di masa depan dengan disaksikan olehnya bahkan ia turut membantu.
" Dokter pembukaannya sudah sempurna ". Seru sang perawat
" Alhamdulillah ". Sang Dokter pun mulai melangkah dan memberi instruksi pada Laras " ayo nyonya muda edankan dan dorong ".
Laras mengangguk, ia menarik nafas dan membaca basmallah dilanjutkan membaca doa nabi Yunus semoga Allah SWT. memperlancar dan selamat dalam persalinan.
" Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin ".
Artinya : "Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".
Setelah membacanya, Laras mulai mengedan " Bismillahirrahmanirrahim Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin, eeee ". Keringatnya bercucuran, cengkraman tangannya semakim kuat mencengkram tangan suaminya.
" Ayo nyonya muda ... Sedikit lagi, kepalanya sudah terlihat ". Sang dokter kembali menyemangati.
" Maaf sayang... Maaf.. ayo kamu pasti bisa, demi mas dan anak kita ". Sungguh air mata Andra tak tahan untuk jatuh, imejnya sudah ia tidak perdulikan.
Jika seandainya ia bisa menggantikan posisi Laras saat ini, maka dengan senang hati ia akan melakukan nya.
" Bismillahirrahmanirrahim.... Eeeee ".
Oeeeeek.. oeeeek.. oeeeek..
" Alhamdulillah... Bayinya sudah keluar tuan muda. Laki-laki ". Ujar sang dokter sembari menggendong bayi yang baru saja keluar dari rahim Laras.
Andra menghela nafas lega " Alhamdulillah ". Ia menoleh sekejap ke arah bayinya dan kembali ke Laras. Ia mengecup seluruh wajah Laras dengan masih menyisakan air matanya. " Anak kita laki-laki sayang, makasih yah udah berjuang untuk anak kita dan mas ". Laras hanya mengangguk menanggapi.
Andra mendekati sang dokter dan mengambil alih bayinya, ia meng-azan-i baby boy nya setelah nya barulah di kembalikan ke perawat agar di bersihkan.
Andra kembali ke istri nya " makasih sayang... ". Kembali mencium wajah Laras " maaf yah ". Sungguh jika tahu Laras akan sesakit ini, ia akan memilih untuk tidak punya anak saja.
Laras mengangkat tangannya, ia mengusap pipi suaminya " jangan minta maaf mas, Laras senang bangat anak kita udah lahir ". Andra membalasnya dengan senyuman, ia melap keringat di wajah istrinya menggunakan tangan.
__ADS_1
" Tuan muda nyonya muda... Ini baby boy nya, sebaiknya di berikan ASI eksklusif ". Seorang perawat datang membawa baby boy yang sudah di bersihkan dan di kain-ni.
Andra menerimanya dengan senang hati, lalu memberikannya pada Laras " sayang coba liat anak kita ganteng kan ".
Laras menerima baby boy " iya mas ganteng, tapi kok mirip mas semua sih ". Mengerucutkan bibirnya, walaupun seperti itu ia tetap memberikan ASI nya.
" Namanya juga anak Daddy nya, iyakan boy ". Seru Andra seperti meminta persetujuan sang baby. " Ulululu lahap bangat minum susu mommy nya, kaya Daddy yah. Enak kan boy ". Celetuk Andra sembari memegang tangan sang baby yang sedang menggenggam jempolnya.
" Astaga mas... Itu mulut di filter dong ". Andra yang mengatakannya Laras yang kena malu. Padahal di sana masih ada seorang perawat dan juga dokter.
Mereka yang ada disitu hanya geleng-geleng kepala, tidak menyangka kalau rupanya seorang Andra bisa begitu hangat di depan sang istri. Karena tidak ingin mengganggu kebahagiaan orang tua baru tersebut, dokter dan perawat itu pun memilih keluar.
" Assalamualaikum... ". Ucap serentak rombongan yang menunggu di luar ruangan tadi.
Andra menoleh " Wa'alaikum salam ". Jawab Laras dan Andra. Untung Laras sudah memperbaiki posisinya dan sudah memberikan ASI pada baby boy. Jadinya sekarang ia hanya menggendong anaknya.
Mama Ani dan Nisa langsung berlari menghampiri Laras, menggeser posisi Andra tadi
" Laras.. kamu gak pa-pa kan ". Tanya Nisa
" Sayang... Gimana? Udah gak ada yang sakit kan ". Mama Ani menimpali
" Alhamdulillah udah baikan ". Membalas dengan senyuman.
Para pria pun di abaikan. Sedangkan doktet Rasya langsung kembali ke kamar pasien yang membutuhkan penanganan.
" Selamat yah Andra ". Papa Rangga menepuk pundak Andra
" Iya pah ". Senyuman tak henti-hentinya terukir dari bibir Andra.
" Selamat bos ". Alan dan Ardi juga ikut menyelamati. Andra hanya membalasnya dengan senyuman.
" Oh yah Andra.. namanya baby boy nya udah ada? ". Mama Ani berbalik sembari menggendong baby boy.
Andra tersenyum " Muhammad Ramadhan Ansari, gimana sayang? ". Ucapnya dengan senyuman
" Bagus mas. Apalagi sekarang memang bulan Ramadhan ".
" Ramadhan yah... Hmm ulululu sepertinya Adhan suka yah namanya ". Menghujani Ramadhan dengan ciuman, apalagi saat Adhan tersenyum saat sang daddy mengatakan namanya.
" Ma.. jangan terlalu mencium Adhan, nanti gak bisa nafas lagi. Mama kan juga puasa! ". Tegur papa Rangga mendekati mama Ani.
" Isshh iya-iya ".
" Mirip bangat sama kamu Andra, cuman warna matanya yang beda ". Ujar sang papa Rangga sembari mengelus wajah sang cucu.
" Iya yah pah, warna matanya mirip Laras. Hitam pekat ". Mama Ani turut memperhatikan. Andra mempunyai warna mata coklat, sedangkan Laras berwarna hitam pekat.
Nisa turut melihat " iya yah, tapi tatapannya jadi tajam gitu kan, wah pasti kalo udah besar nih tatapan nya bakalan luluhin kaum hawa deh ". Celetuk Nisa
" Benar katamu Nis, Adhan lebih ganteng dari daddy nya yah ". Goda Mama Ani.
Baby Adhan langsung tertawa sembari memukul-mukul kan tangannya di ke udara, sepertinya ia setuju dengan perkataan sang oma.
__ADS_1
" Hahah Adhan setuju yah ".
" Haisss terserah kalian ajah ". Andra memilih untuk duduk di sofa bersama Ardi dan Alan.
" Hahah sabar bos ". Menepuk bahu Andra
Huhh!
Papa Rangga ikut duduk ke sofa
" Kok kesini pa, gak mau puas-puasin sama cucu papa ".
" Maunya sih gitu, tapi noh liat para perempuan nguasain ". Terdengar helaan nafas di akhir kalimat nya. Biarlah nanti setelah Laras pulang dari rumah sakit, maka ia akan memuaskan dirinya bersama sang cucu.
" Tante kita foto bareng sama Adhan yuk ". Ajak Nisa, yang sudah mengeluarkan ponselnya
" Ayo. Kamu juga ikutan Ras ". Laras hanya mengangguk.
" Bun, gak sopan! ". Ardi menegur, dapat keberanian dari mana Istri nya itu. Ia sampai berdiri.
" Apaan sih Di, kalian ajah tuh yang kaku. Udah Nis gak usah peduliin suami mu yang kaku itu ". Tegas mama Ani.
Jleb..
Kena! Ardi langsung diam seriba bahasa, ia kembali duduk. " Iya Di lu ajah yang kaku. Iyakan nyonya besar ". Alan menimpali, seolah-olah dirinya benar.
" Kamu juga Lan sama ajah! Panggil tante kek, bibi kek, aunty kek ". Sewot mama Ani
Hahahahahaha
Mereka semua menertawakan Alan, kalau ingin mengomentari seseorang sebaik nya bercermin dulu. Belum tentu kamu lebih baik daripada orang yang kau komentari. Mungkin kata-kata itulah yang cocok disandingkan dengan Alan sekarang.
" Nah benar tuh! Mulai sekarang gak ada lagi tuan besar nyonya besar lagi! Panggil om atau tante atau terserah kalian!! Dan ini tidak bisa dibantah!!! ". Papa Rangga mendukung perkataan sang istri
" Benar tuh ". Andra juga ikut mendukung.
Alan dan Ardi saling pandang lalu menelan salivahnya nya. Sekarang mereka benar-benar tidak bisa membantah lagi. Mereka hanya bisa mengangguk menanggapi.
" Ayo tante kita berfoto ". Nisa kembali mengingatkan. Mereka pun mengambil gambar dengan mama Ani di samping Laras sedang menggendong Adhan, Laras yang masih tetap di atas tempat tidur, dan Nisa di samping mama Ani yang sedang memegang ponselnya.
Cekrek.. cekrek.. cekrek...
Entah sudah berapa puluh mereka mengambil gambar, sampai tak terasa sudah hampir imsak. Mama Ani papa Rangga, Ardi, Nisa dan juga Alan memilih untuk pulang masing-masing ke rumahnya.
" Kami pulang dulu yah. Nanti datang lagi ". Seru Alan
" Iya ".
" Assalamualaikum ".
" Wa'alaikum salam ".
TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya