
Mobil memasuki halaman rumah Andra. Di depan pintu sudah ada seorang wanita yang sedang duduk menunggu seseorang.
Saat ia melihat mobil datang, Laras langsung berdiri dan segera menghampiri mobil tersebut.
Dengan secepat mungkin Andra keluar dari mobilnya.
" Sayang jangan lari-lari ". Teriak Andra sembari berlari menghampiri Laras. Namun Laras tidak mendengarkan, ia tetap berlari ke arah Andra. Untung Andralah yang duluan sampai ke Laras.
Saat sudah sampai di depan Andra, Laras langsung memeluk erat suaminya itu sembari terisak di dada suaminya. " Hiks.. hiks.. terima kasih mas.. ". Andra membalas pelukan Laras.
" Mas juga mau berterima kasih pada Istri mas yang cantik ini ". Mengelus punggung Laras
" Udah jangan nangis... ". Melerai pelukannya. Andra berjongkok sedikit menyetarakan wajahnya dan wajah Laras. Andra memegang kedua pipi Laras, dengan telunjuknya ia menghapus lembut air mata Laras yang jatuh.
Cup..
Andra mencium sekilas bibir Laras. " I love you ".
" Hiks.. I love you too ". Memeluk leher Andra. Laras sungguh-sungguh bahagia, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini bisa mendapatkan suami yang sangat sempurna menurutnya.
Tapi siapa sih yang tidak bahagia dengan pernyataan cinta yang dilakukan seorang pria di dalam tv, semua orang tahu bahwa ia sangat mencintai wanitanya.
Setelah acara pelukan mereka. Andra dan Laras masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju ke kamar mereka. Tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Sesampainya di kamar, Laras masih betah memeluk Andra. Rasanya tidak ingin ia melepaskan nya.
" Sayang.. mas mau mandi dulu ya ". Mencoba melepas pelukan Laras. Ia benar-benar merasa gerah. Apalagi sekarang sudah tengah malam.
Laras mendongak " kita mandi bareng ajah ". Memperlihatkan wajah polosnya. Entahlah Laras seperti tidak mau jauh-jauh dari Andra.
Andra tertegun. Ia mematung, mandi bersama!!!!. Wahhh durian runtuh!. Seringai licik Andra menghiasi wajahnya " oke.. ayo kita mandi bersama ". Menggendong Laras ala bridal style
" Asiiikkk ". Girang Laras. Ia sama sekali tidak menyadari akan masuk ke kandang harimau.
" Jangan menyesal! ". Menatap wajah istrinya dengan tatapan nakal.
Laras yang melihatnya terdiam, ia bergidik. 'hah!!! Habis aku!'. " Ehmm.. mas.. kayanya ga..__ ".
" Husstt sudah terlambat ". Dan benar saja, Andra sudah membuka pintu kamar mandi lalu menguncinya.
Laras semakin bergidik saat Andra menyeringai dan menatapnya dengan senyuman nakalnya, dan semakin mendekat ke arah Laras.
" Ehmm m.. mas ". Mencoba menahan dada Andra yang sudah tidak ada jarak dengannya. Bahkn Andra sudah memeluk pinggang Laras menempelkan nya dengan dirinya.
" Hmm ada apa sayang? Bukannya kau ingin mandi bersama? ". Mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan menggoda.
" I.. iya memang tapi hanya mandi bersama ".
" Kita memang hanya mandi bersama ".
" Beneran? ". Laras tidak terlalu percaya
Andra mengangguk " iya ". Tersenyum manis, bukan tersenyum licik seperti tadi.
" Haha bilang dong mas.. ". Menggaruk kepalanya yang tak gatal. " Yaudah ayo mandi ". Laras sudah melupakan kejadian tadi.
'yes berhasil'. Semakin menyeringai. Walaupun di dalam hatinya sedang kan di luar ia masih memasang wajah pura-pura polos.
Laras langsung membuka atasannya yang memang dia memakai daster selutut. Saat membukanya kedua gunung nya langsung terlihat karena kebetulan Laras Memang tidak memakai bh.
Glek...
__ADS_1
Jakun Andra naik turun melihat pemandangan di depannya. Perut Laras yang semakin hari semakin membesar, membuat nya semakin seksoy di pengelihatan Andra. Apalagi sekarang Laras hanya memakai cd.
Dengan cepat Andra membuka satu persatu kancing kemejanya. Setelahnya ia juga membuka celananya, dan tinggal memakai boxer.
Andra Langsung memeluk Laras dari belakang ia membenamkan wajahnya di leher Laras.
" Mas.. lepas kita mau mandi kan ". Menggoyangkan pundaknya.
Andra tidak mendengarkan nya ia malah mencium dan menggigit eher Laras dan meninggalkan bekas merah di sana.
" Ah.. mas.. ". Lenguhan berhasil keluar dari mulut Laras yang semakin membuat birahi Andra semakin naik.
" Ahk mas.. yang di bawah ". Rasanya sangat aneh. Ada yang menonjol di bokong Laras. 'ahh dia bangun'.
Andra semakin menarik bokong Laras untuk merasakan nya. " Kau merasakannya sayang.. dia sudah bangun, kau harus bertanggung jawab ". Ucapnya dengan suara parau.
Wajah Laras sudah memerah " ta.. tapi mas.. ".
Andra langsung membalikkan tubuh Laras dan langsung me****** bibir Laras, menyesap nya lembut. Laras juga membalasnya. Lama-kelamaan ciuman itu semakin hot dan menuntut. Ciuman Laras semakin turun ke leher Laras, tangannya tak tinggal diam untuk meremass gunung kembar Laras.
" Ah.. ". Suara laknat Laras memenuhi kamar mandinya.
" Keluarkan suara indah mu sayang.. ". Me****** choco chips Laras..
" Ah.. mas.. ja.. ah.. jangan disitu ah.. ". Suara laknat Laras semakin terdengar saat tangan Andra bermain di lembah sempit Laras.
" Ini sudah basah sayang.. ". Andra mengarah kan adiknya yang besar nan panjang ke arah lembah Laras.
Dan yap terjadilah yang memang harus terjadi. Suara-suara laknat mereka berdua memenuhi kamar mandi. Menyalurkan cinta dan hasrat nya masing-masing.
.........
Alan mendudukkan bokong nya di sofa " apa Mai masih merawat pasiennya yah ". Membuka ponselnya dan memainkannya sembari menunggu kekasih hatinya.
Tak lama kemudian..
Ceklek..
Alan langsung beralih ke sumber suara. Ia tersenyum dan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu berdiri.
" Assalamualaikum.. ". Salam Mai
" Wa'alaikum salam ". Alan langsung memeluk Mai.
" Ahh aku kangen .... ". Ucap Alan sembari masih memeluk Mai.
Mai hanya geleng-geleng. Ada-ada saja kekasihnya. Padahal mereka baru bertemu dua hari yang lalu.
" Ayo kita duduk dulu ". Mai angkat bicara. Dari pada mereka harus berpelukan sambil berdiri terus. Ia sangat lelah hari ini.
" Ah ayo.. ". Menarik tangan Mai dan mendudukkan Mai di sofa samping nya. Mai membuka jasnya lalu menggantung nya di sandaran sofa.
" Terimakasih atas kerja kerasnya ". Ucap Alan, saat melihat wajah kekasihnya yang sepertinya sangat lelah.
" Hmm kamu juga. Aku udah nonton acara nya tadi, beruntung nya jadi Laras ".
Alan memanyunkan bibirnya " hei.. apa perlu aku juga seperti itu ".
'ah salah ngomong'. " Enggak.. gak perlu. Aku juga udah beruntung bangat, bisa di cintai oleh tuan tampan seperti mu ". Mai mencoba merayunya, walaupun wajahnya yang memang tidak bisa di kondisikan.
" Iyalah.. kau harusnya bangga ". Ucapnya bangga. Kalau di kartun-kartun pasti hidung Alan sudah memanjang layaknya Pinokio.
__ADS_1
Mai geleng-geleng melihat nya.
" Oh yah setelah acara tadi, seharusnya asa jumpa pers kan ".
" Hm iya ".
" Oh.. pasti sibuk bangat yah ". Sebenarnya Mai tidak tega jika melihat Alan harus selalu ke rumah sakit untuk menemuinya, padahal Alan sendiri sibuk. Terlihat di bawah mata Alan yang berwarna hitam.
'pasti kurang tidur'.
" Hmm gitulah ". Jawab Alan seadanya.
Mai membelai lembut pipi Alan " tidak usah di paksakan... Pasti kamu juga lelahkan. Tidak perlu selalu datang ke rumah sakit, mending gunakan waktu mu untuk istirahat. Oke!? ". Tatapan sendu dari Mai dapat terlihat jelas di mata Alan.
Alan memegang tangan Mai yang ada di pipinya. " Gak pa-pa, lelah ku hilang hanya dengan melihat mu ". Ucapnya lembut. Karena memang yang di katakan nya benar, lelahnya langsung hilang saat melihat wajah Mai.
" Dasar gombal ". Mai mengulum bibirnya, menahan senyum. Benar apa yang di katakan dokter Aulia, kalau Mai pasti akan selalu tersenyum jika bersama orang yang dicintainya. Buktinya sekarang, Mai harus menahan senyumannya akibat gombalan Alan.
Alan terkekeh, ia memegang kedua pipi Mai dan menempelkan dahinya dan dahi Mai. " Kalau nanti semuanya sudah selesai. Aku janji akan membawa orang tua ku ke rumah mu untuk melamar mu ".
Mai sedikit terkejut mendengarnya. Melamar!! Yang benar saja, mereka baru satu Minggu yang lalu meresmikan hubungan nya.
" Kenapa cepat sekali ".
" Aku tidak mau kamu ada yang ambil. Kau tau Mai kau itu sangat cantik dan manis, pria manapun yang melihat mu pasti langsung jatuh cinta. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan mu ".
Mai menjauhkan kepalanya " ada apa? ". Tanya Alan.
" Kau salah Alan, tidak ada pria yang menyukaiku karena kepribadian ku. Dan aku yang seharusnya berterima kasih dan beruntung bisa di cintai orang seperti mu ".
" Hahaha apa-apaan itu. Bukan kepribadian mu yang salah, tapi mata para pria di luar sana yang harus di periksa ".
" Haha ada-ada ajah kamu ". Mai sedikit tertawa.
Alan yang melihatnya tentu senang dan tidak ingin buang kesempatan ia langsung memotret wajah Mai yang menurutnya sangat langkah.
" Persiapkan dirimu. Karena Minggu depan aku dan orang tuaku akan melamarmu ". Mengedipkan sebelah matanya.
" Apa tidak terlalu buru-buru ". Mai masih ingin mengenal Alan jauh lebih dalam. Walaupun ia tahu kalau pria di depannya ini adalah pria yang baik.
" Hei.. pacaran setelah menikah itu lebih baik tau. Tidak akan ada fitnah ataupun zina. Apa pun yang dilakukan tidak akan berbuat dosa, kita bebas ". Dan itu benar.
" Coba lihat Andra sama Laras, mereka bahkan tidak pacaran tapi langsung nikah, dan lihatlah.. rumah tangganya baik-baik saja, bahkan sebentar lagi buah cinta dari mereka akan menyempurnakan keluarga nya ".
Mai berfikir sejenak. Ia membenarkan apa yang di katakan Alan. Akan lebih bebas mereka nanti saat setelah menikah.
'ayolah Mai. Aku gak tahan harus nahan diri terus melihat mu!! Apalagi kalo ada pria yang mendekati mu'.
Mai mengangguk yakin " baiklah.. datang lah. Nanti aku beritahu papa ".
'yes!'.
" Alhamdulillah... ". Kembali memeluk Mai, Mai membalas pelukannya.
'akhirnya bisa nikah juga. Nikah.. nikah.. nikah.. " sorak-sorak Alan di dalam hatinya. Kalau di dunia ini tidak ada malu, sudah jingkrak-jingkrak Alan. Eh! Sejak kapan Alan punya malu.
Mai juga ikut berbahagia.. tidak di sangkanya akan ada orang yang akan mencintai nya setulus ini, bahkan ingin langsung mengajaknya ke pelaminan.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya
__ADS_1