
" Cik, Mai sekali lagi aku pamit yah Assalamualaikum ". Pergi dari ruangan itu. Kalau bukan karena Rasya benar-benar mempunyai jadwal yang mengejarnya, pasti ia tak akan keluar dari ruangan itu.
" Wa'alaikun salam ". Jawab mereka serentak.
Setelah Rasya benar-benar pergi dari situ, Alan langsung mendaratkan bokong nya di sofa ruangan tersebut.
" Akhirnya pergi juga dia ". Membuka bekal makan siangnya
" Mai ayo kita makan siang ". Ajaknya. Alan belum mengetahui kalau sebenarnya Mai sudah makan siang tadi.
" Aku masih kenyang ".
" Masih kenyang? Tapi ini udah siang loh ". Melirik melihat jam, dan benar saja sudah lewat jam makan siang.
" Aku baru sudah makan bersama senior tadi ".
" Apa!? Sama Rasya?! ". Dan Mai mengangguk
'sialan nih Rasya. Sepertinya dia sudah mulai mendekati Mai. Gue gak boleh kalah nih'. Semangat nya membara
" Kamu makan saja disitu, aku mau pergi periksa pasien ku ". Mai berdiri. Karena sudah biasa Alan datang ke rumah sakit tersebut, Mai tidak takut lagi jika harus meninggalkan Alan sendiri. Bahkan ia pernah mengunci Alan di dalam ruangannya, karena Alan kekeh ingin ikut dan melihat Mai memeriksa pasien.
" Apa! Tapi aku baru datang ". Wajahnya sendu
" Kau yang lambat datang ". Mai tetap pada pendiriannya, ia tidak akan luluh hanya karena wajah sendu pria di depannya. Apalagi ia memang ingin memeriksa pasiennya.
" Huuufhh baiklah aku akan menunggu mu ". Alan mengerti kalau menjadi seorang dokter, pasti akan sangat sibuk.
" Apa kau yakin ingin menunggu ku? Mending kamu kembali bekerja, kalau tidak ingin tuan muda Andra marah ". Sebenarnya Mai heran Kenapa bisa Alan selalu datang saat jam makan siang, padahal ia bekerja sebagai asisten pribadi seorang CEO yang sangat kaya dan pasti sibuk.
" Huh! " Lagi-lagi Alan membuang nafasnya " Baiklah aku akan pulang, tapi setelah kamu pergi dari ruangan ini ".
" Terserah kamu saja ". Mai tidak terlalu ingin memikirkannya, lagi pula tidak mungkin Alan mencuri di ruangannya.
Mai mengambil jas berwarna putih yang di gantung, lalu segera memakainya. Setelah nya ia pun melangkah " Assalamualaikum ". Tak lupa mengucapkan salam
" Wa'alaikum salam ". Alan menjawab. Ia menatap sendu kepergian Mai dari ruangan tersebut. 'kapan kau menerima gue Mai'. Sudah hampir tiga bulan Alan mengejar Mai, dan tak pernah ia absen bertemu Mai setiap makan siang.
" Huuufhh... semangat, Mai itu masih ori belum ada sentuh tangan dari pria lain. Makanya dia sangat berharga, jadi gue harus semangat ". Ucap Alan menyemangati diri nya.
Mai memang belum pernah pacaran selama hidupnya. Bukannya ia tidak laku, tapi ia tidak mau. Apalagi pasti orang yang berpacaran dengannya tidak akan tahan dengan sikap datar Mai.
Alan menyantap makan siangnya sendiri. Membayangkan dirinya bersama Mai selalu membuatnya bersemangat.
.........
Rasya yang baru saja memeriksa pasiennya, kini duduk di bangku ruangan nya.
Ia kembali mengingat saat Mai yang tidak peka terhadap perasaannya. Menurut Rasya, perasaan seseorang tidak harus selalu di katakan lewat kata-kata. Karena itu Rasya hanya menunjukan lewat perilakunya.
'apa Mai akan sadar yah...'.
" Haaaah ". Helaan nafasnya berhasil keluar.
Asistennya yang kebetulan ada disitu mendengar helaan nafas Rasya yang sangat jarang keluar. Ia bahkan mendapati wajah Rasya yang benar-benar kusut.
" Ada apa dokter? ".
" Haaah bukan apa-apa ". Bicaranya sih memang seperti itu, tapi helaan nafas sempat terdengar di awal.
'bukan apa-apa tapi wajahnya kusut kaya kain jemuran'.
__ADS_1
" Cerita saja dokter, dari pada nambah beban pikiran. Semoga dengan dokter bercerita akan terasa lebih ringan ".
Rasya menatap wanita di depannya, benar apa yang dikatakan nya. " Sebenarnya... ". Rasya pun mulai menceritakan kisa cintanya. Dari A sampai Z, bahkan di lanjut sampai angka ke- 9. Tidak ada yang di tutupinya. Entahlah sekarang sepertinya ia memang butuh teman curhat.
" Oh seperti itu yah ". 'masalah cinta toh'.
" Bagaimana menurut mu? ".
" Kalau menurut saya yah dok, sebaiknya anda jujur saja perasaan anda kepada nya. Biasanya dalam wanita ". Ia menjeda, mengambil nafas " satu kalimat akan sangat berharga dari pada seribu perbuatan ". Lanjutnya.
Kemudian melihat reaksi Rasya " benar bukan dok? ".
Rasya manggut-manggut " kau benar, selama ini aku memang hanya mengatakan nya lewat perbuatan, tidak pernah mengatakan nya langsung. Itu pun biasanya secara tidak langsung aku mengatakan nya ".
" Jadi, menurut dokter apa yang harus di lakukan sekarang? ".
" Tentu aku akan mengungkapkan perasaan ku, tapi... ". Ucapnya menggantung, sudah seperti sinetron. Terlihat raut wajah khawatir di wajah Rasya.
Dan tentu asistennya itu mengerti " kalau soal di terima atau tidaknya, itu di pikirkan belakangan saja dok. Setidaknya anda sudah mengungkapkan perasaan anda ". Dan itu bisa membuat hati lebih tenang dan lega.
" Benar juga! Baiklah ". Sumringah " terimakasih atas sarannya Nana ".
" Sama-sama dok ". Ucap asisten nya atau Nana dengan senyuman manis.
...---...
Malam pun tiba, Mai sudah bersiap-siap untuk pulang. Ia mengecek ponselnya dan apa yang di harapkan nya tidak ada.
" Astagfirullah... Sejak kapan aku menantikan chat-an dari Alan ". Ia menggeleng kan kepalanya cepat seraya memasukkan benda pipih tersebut kedalam tasnya dan melangkah keluar ruangan nya.
Mai berjalan menyusuri lorong rumah sakit, sampai ia terhenti di sebuah ruangan yang bertuliskan dok. Aulia.
" Masuk ". Sahutan dari dalam terdengar membuat Mai segera membuka pintu.
" Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda tersenyum menis melihat Mai masuk. " Duduklah Mai ".
Mai mengangguk dan duduk di kursi tepat di depan wanita paruh baya tersebut.
" Jadi, ada apa Mai? ". Wanita itu membuka suara " apa kau ingin memeriksa nya lagi? ". Lanjutnya sembari tersenyum.
Mai mengangguk " iya tante Aulia ". Jawab Mai.
" Alhamdulillah.. baiklah katakan keluhan mu ".
" Seperti biasanya tante. Apa wajah ku ini bermasalah yah? Kenapa sangat sulit hanya untuk tersenyum ". Frustasi Mai, tapi masih dengan wajah datarnya.
Dokter Aulia Terkekeh " masalahnya bukan dengan wajah mu, tapi hati mu. Lupakanlah kejadian yang lalu, dan lepas sugesti mu ". Jelas dokter Aulia
Mai menghembus kan nafas panjang nya " aku juga berharap seperti itu tante, tapi tidak semudah itu. Aku sangat iri dengan orang-orang yang bisa mengeluarkan ekspresi yang bermacam-macam, sedangkan aku... Hahhhh ". Mai selama ini selalu berkonsultasi dengan dokter psikiater terhadap dirinya yang selalu menampakkan wajah datar, tanpa sepengetahuan orang lain.
Dokter Aulia bahkan tidak mengerti dengan penyakit Mai. Karena menurut pemeriksaan medis semua nya baik-baik saja, maka dari itu ia mengambil kesimpulan bahwa psikologi Mai yang sedikit terganggu.
" Jangan bilang seperti itu, ada banyak di luar sana orang yang selalu memakai wajah fake nya. Mereka pura-pura tersenyum padahal sebenarnya mereka ingin menangis. Dan seharusnya kau bersyukur setidaknya tidak akan jadi seperti mereka, tidak gampang loh menyembunyikan perasaan mu ". Tutur dokter Aulia.
Mai diam sejenak " tapi jujur saja aku juga merasa tersiksa tante. Kalau yang kau maksud dengan wajah fake, maka selama ini aku juga memakai nya, dengan topeng wajah datar ku ini ". Jawab Mai dengan nada senduh, tapi masih dengan wajah datarnya.
Dokter Aulia yang mendengar dan melihat nya menjadi bingung. Ingin terharu dan sedih mendengar penuturan Mai, tapi ia juga ingin tertawa melihat ekspresi Mai yang tidak sesuai dengan apa yang di katakan nya.
" Baiklah, tapi jika dengan anak-anak kau bisa tersenyum bahkan tertawa kan ". Mai mengangguk.
__ADS_1
" Aku juga heran kenapa bisa seperti itu ".
" Gampang saja, itu karena kau sangat menyukai anak-anak ". Bahkan sampai jadi dokter spesialis anak.
" Oh.. jadi maksud nya kalau aku ingin tertawa atau tersenyum, tinggal pikirkan apa yang aku sukai. Gitu? ".
" Bisa di bilang seperti itu, tapi juga tidak. Bukan sesuatu melainkan orang yang kau sukai ". Dokter Aulia menjelaskan.
" Orang? Oh seperti anak-anak ".
Dokter Aulia mengangguk " iya, tapi bisa juga dengan pria yang kau sukai ". Goda dokter Aulia. Ia akhir-akhir ini mendengar rumor tentang keponakan nya itu, kalau seorang pria sedang mengejar-ngejar nya.
Mai mengangguk.
" Baiklah sekarang cobalah ". Mai lagi-lagi membalas nya dengan anggukan.
Ia mulai memejamkan matanya, dan mulai memutar memori nya untuk mengingat siapa orang yang di sukai nya.
" Maimunah ku... ". Lambai seorang pria tampan kepada nya.
Tak lama senyuman manis Mai mengembang, dokter Aulia yang melihatnya juga turut tersenyum, bahkan ia memotret Mai diam-diam.
Lama sampai akhirnya Mai menyadari nya. Mai segera membuka matanya, ia terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.
'kenapa bisa Alan yang tadi aku liat'.
" Jadi bagaimana? ".
" Apanya ". Kembali lagi mode datarnya.
" Apa yang tadi kau lihat... Cie... Keponakan Tante, tadi liat siapa tuh ". Goda dokter Aulia
" Bukan siapa-siapa ". Elak Mai
" Bukan siapa-siapa? tapi tadi pas mengingat nya senyumanmu manis bangat ".
" Eh! Emang benar? ". Tidak mungkin kan Mai senyum mengingat wajah Alan.
" Gak percaya? Nih liat ". Menyodorkan ponselnya. Dan Mai mengambilnya.
" Ini benar aku? ". Mai terkejut melihat senyumannya, ia bahagia dan terharu. Dirinya rupanya bisa tersenyum manis. Tapi, kenapa harus wajah Alan.
" Pastinya. jadi, siapa yang kau lihat? ".
" Bukan urusan tante. Aku pulang dulu yah tante. Assalamualaikum ".
" Ishh main rahasian lagi! Yaudah deh Wa'alaikum salam ".
Setelah mendengar Jawaban, Mai pun keluar dan langsung pulang menuju apartemennya.
Dalam mobilnya, Mai selalu memikirkan Kenapa dia harus Alan! Kenapa bukan orang lain?.
" Ahhkk apa aku sudah jatuh cinta sama Alan?! Haha mana mungkin kan! ". Menepis pemikiran nya.
Mai mengambil ponselnya, dan hal pertama yang dilihatnya adalah pesan dari Alan, tapi sayang tidak ada pesan yang masuk. " Kok gak ada, biasanya sudah ada seribu ". Heran Mai.
" Astaghfirullah... Kenapa aku jadi tunggu pesan Alan ". Lagi-lagi menepis pemikiran nya.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya
__ADS_1