
" Ck tuh pasangan dua orang gak punya rasa bersalah sama sekali ngacau di pesta pernikahan orang ". Gerutu Alan yang kini sudah ada di atas pelamin bersama Mai bak raja dan ratu
" hehe mereka lucu kan Alan ". Mai menimpali gerutuan Alan.
" Lucu dari mananya beb, mereka malah bikin kacau ". Rengek Alan sambil bergelayut di lengan Mai.
Mai hanya bisa geleng-geleng melihat suaminya yang sangat menja padanya " biarlah lagian sifat tuan Andra kan emang kaya gitu ". 'suke seenaknya'.
" Iya suka seenaknya ". Ujar Alan. Pemikiran Mai dan Alan sama. Yang beda hanya cara pengucapan nya.
" Ckckck nih orang... Langsung bawa ke kamar ajah Lan bini lu kalo udah gak tahan. Jangan disini dong mesra-mesraan nya, kan gak ada yang berani buat naik ngasih selamatan sama lu ". Andra tiba-tiba datang bersama Laras.
" Ck ganggu lu. Lihatkan lu itu sikap seenaknya ". Kesal Alan
" Sudahlah.. gue kesini mau ngasih selamatan sama lu. Selamat atas pernikahan nya bro ". Mengulurkan tangannya, dengan sigap Alan menerima uluran tangan Alan
" Hehe makasih bro ". Mereka pun berpelukan..
" Jangan lupa minum obat kuat, buat malam pertamanya ". Goda Andra sambil berbisik
" Ck gak perlu gue udah kuat ". Balas Alan berbisik.
" Selamat yah Mai. Aku gak nyangka loh kamu nerima Alan ". Ucap Laras sesaat mereka melepas pelukannya, walaupun tangan mereka masih saling genggam.
" Hehe aku juga gak nyangka sih sebenarnya, bisa jatuh cinta sama Alan ".
" Mai yang berwajah datar udah gak ada nih, dari tadi senyum mulu ".
" Yee gak mungkin kan aku berwajah datar di hari pernikahan ku, entar dikatanya aku gak bahagia lagi ama pernikahan ku ".
" Iya juga yah ". Laras membenarkan, ia mendekat ke arah telinga Mai " jangan lupa saat malam pertama, bilang sama Alan biar pelan-pelan ". Bisiknya.
Blushhh..
" Ras.. ih kamu ". Gerutu Mai " kata Nisa sakir yah ". Tanyanya
" Iya, sakit bangat malahan. Kaya bagian itu tuh, serasa sobek ".
" Ihh kok aku jadi takut yah ". Mai melirik kearah Alan yang masih asik berbicara dengan Andra. Mai meneliti dari arah kepala sampai berhenti tepat di golok Andra. Mai menelah salivahnya. " Gak bakalan sobek kan?! ".
" Hahaha enggak lah, tapi kalo kebesaran mungkin ". Laras sengaja menggoda Mai, apalagi saat melihat wajah sahabatnya yang baru kali ini takut campur panik.
" Sayang... Udah? Ayo kita turun, tamu yang lain juga mau ngasih selamatan sama mereka ". Panggil tiba-tiba Andra. Laras melihat suaminya dan kemudian beralih Melihat kebelakang nya, dan benar saja ada banyak tamu yang antri, sudah seperti mau ambil sembako.
" Yaudah yah aku turun dulu ". Mai mengangguk.
" Selamat yah Alan ". Laras tidak menjabat tangan Alan, ia hanya mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya. Dan Alan mengerti kenapa Laras melakukan nya, siapa lagi kalau bukan suruhan dari Andra sih CEO pencemburu. Alan membalas nya dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya juga.
Setelahnya Andra langsung menarik tangan Laras dan mereka pun turun.
" Wah... Tuan muda, dan.. nyonya muda kan ". Tiba-tiba mama Anggi dan papa Angga datang ke hadapan Laras dan juga Andra.
" Paman, bibi apa kabar? ". Ucap Andra
" Alhamdulillah baik... ". Jawab mereka.
Sedangkan Laras hanya diam memperhatikan mereka, ia ingat jika kedua pasangan paruh baya di depannya itu berada di samping Alan saat ijab qobul dimulai. Pertanyaan yang menghampiri Laras. Siapakah mereka? Pikir Laras.
" Oh yah sayang.. kenalin ini paman Angga dan bibi Anggi, mereka orang tua Alan ". Andra memperkenalkan mereka
" Eh! ". 'orang tua Alan'. " Salam kenal paman, bibi aku Laras ". Sedikit membungkuk.
" Eh! Jangan membungkuk seperti itu nyonya muda... Seharusnya kamilah yang memberi hormat pada nyonya muda ". Ucap papa Angga.
" Gak pa-pa paman, kalian lebih tua dari Laras. Jadi Laras harus hormat sama paman dan bibi ". Balas Laras sopan.
Papa Angga dan Mama Anggi hanya tersenyum senang mendengarnya. Tuan muda nya tidak salah pilih dalam mencari pasangan.
" Yaudah paman, bibi kami mau kembali duduk dulu, kasian istri saya berdiri terus ".
" Oh iya silahkan ".
Laras dan Andra pun kembali ke tempat duduknya semula.
" Mau makan sayang? ". Tanya lembut Andra pada Laras saat ia sudah mendudukan Laras di tempat duduk, tepatnya di sofa khusus untuk Laras, dan yang meminta sofa tersebut harus disitu siapa lagi kalau bukan Andra. Apalagi mereka membawa ikut serta kursi roda. Merepotkan jika harus pakai kursi roda, pikir Laras.
" Hmm apa yah ". Menaruh telunjuknya di dagunya sembari mengetuk-ngetuk nya. Laras sedang berfikir ingin memakan apa, terkadang Laras memang masih mengidam.
" Hmm apa sayang? ". Membelai pipi Laras
" Terserah ajah deh mas... Yang penting Laras mau makan ". Ucapnya.
__ADS_1
" Yaudah kamu tunggu disini dulu, mas mau ambil makanan dulu. Oke!! ".
" Iya ".
" Ingat!! Jangan pergi kemana-mana tanpa seizin mas. Oke!! ". Ucap lagi Andra
" Oke!! ". Laras menjawab sembari membentuk angka nol di ibu jari dan telunjuknya.
Setelahnya barulah Andra meninggalkan tempatnya untuk mengambil makanan untuk Istri kesayangan yang sedang mengandung besar.
Sambil menunggu suaminya datang, Laras memilih untuk memainkan ponselnya. Saat Laras asik memainkan ponselnya tiba-tiba...
" Laras kan!!... ". Seorang pria tiba-tiba datang menghampiri Laras dan langsung duduk di sebelah Laras tempat Andra tadi.
Laras menoleh kearah sumber suara " kak Fadil!! ". Pekik Laras. Bukan karena apa, Kakak kelas yang ia kagumi sewaktu SMA kenapa bisa ada disini!!.
" Nah benar Laras, tadi aku liat disana kaya kenal jadi ku samperin deh. Eh beneran kenal rupanya ". Ucapnya sembari tersenyum.
" Hehe kak Fadil apa kabar? Kapan pulang ke tanah air? ". Seingat Laras, saat lulus SMA Fadil melanjutkan sekolahnya di luar negeri.
" Alhamdulillah baik.... aku pulang ke tanah air sekitar dua bulan yang lalu, disuruh buat lanjut alih perusahaan bokap ". Katanya lagi. Fadil beralih Melihat Perut Laras yang besar, ia baru sadar ada yang aneh.
" Kenapa kak? ".
" Itu perutmu.. ". Menunjuk perut Laras.
Laras tersenyum sembari mengelus-elus perutnya " Alhamdulillah anak pertama kak ". Ucapnya sembari tersenyum manis.
Fadil tercengang, ia terkejut. Anak!! Hamil!!?? 'berarti Laras udah...___'. ia tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
" Ada apa kak? ". Tanya Laras saat melihat Fadil hanya diam, tidak memberikan reaksi apapun.
" K.. kamu udah nikah Laras? ". Tanyanya gugup. Bagaimana bisa cinta yang ia pendam selama ini harus pupus begitu saja!!.
" Iya dia sudah nikah, bahkan mengandung anak kami ". Tiba-tiba Andra datang dan langsung menarik tangan Laras, sembari menatap tajam nan dingin kearah Fadil dan juga Laras.
" Eh! Mas.. ".
Sontak Fadil berdiri " tuan Andra!!! ". Terkejut Fadil saat melihat siapa yang datang tiba-tiba dan mengklaim bahwa Laras adalah Istri nya.
" Ada apa!! ". Ucap Andra dengan nada dingin dan datarnya. Untuk sekian lamanya Laras melihat ekspresi wajah arogan Suaminya.
'aduh mas Andra marah besar nih'.
" Oh.. perkenalkan saya suami Laras dan ayah dari kandungan Laras ". Andra menekankan perkataan nya di kata-kata suami dan ayah.
Fadil masih diam, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apa yang telah dilakukan Laras sampai seorang Andra bisa menjadi suami Laras. Pikir Fadil. Ia memang sempat mendengar rumor tentang istri kesayangan sang tuan muda Andra, tapi ia tidak menyangka kalau Laras lah sang istri kesayangan itu, sih cinta pertama nya. Ia kalah sebelum berperang.
Andra langsung berbalik dan pergi begitu saja sambil menarik Laras, meninggalkan Fadil yang masih mematung di tempatnya.
" M.. mas.. pelan-pelan.. ".
Andra tidak mengubrisnya, ia masih kesal saat melihat istrinya tersenyum dan berbicara akrab dengan pria lain.
" Mas... Pelan-pelan.. aduh__ ahhk ".
Sontak Andra berhenti dan langsung berbalik melihat istrinya yang sudah mau menangis. " Kenapa sayang? Mana yang sakit? Maafin mas.. ".
" Apa!! Mas gak liat tangan Laras jadi merah gara-gara mas tarik-tarik!! Mas juga mengabaikan Laras!! ". Tangisan Laras tak terbendung lagi, walaupun ia menangis tak bersuara. Hormon kehamilan membuat nya menjadi cengeng, apalagi kalau suaminya mendiamkannya pasti langsung menangis.
" Maaf yah.. mas gak sengaja ". Andra langsung mendekap tubuh istrinya. Dan berkali-kali mengatakan kata-kata maaf yang tulus.
" Aku mau makan ". Lirih Laras
" Iya ada apa sayang? ". Menangkup pipi Laras
" Hiks.. aku mau makan ". Ucapnya dengan mata yang masih memerah dan hidung yang juga memerah, membuatnya menjadi menggemaskan.
" Haha maaf yah, makanannya tadi mas tinggal ". Mau bagaimana lagi, saat asik mengambil makanan tiba-tiba ia disuguhi pemandangan yang membuat api cemburu di dalam dirinya terbakar, yah tentu makanannya jadi tak penting lagi.
" Gimana dong, aku lapar ". Duduk di salah satu kursi disitu.
" Yaudah tunggu disini biar mas pergi ambil makanan lagi. Tapi ingat!! Jangan mengulagi hal yang tadi ".
Laras cemberut. Bibirnya sudah ia monyong-monyongkan " padahal kak Fadil yang datang sendiri ". Gumam Laras
" Hmm Kenapa? ".
" Enggak. Aku gak bakalan ngulangin lagi!! Yaudah sana mas ambilin makanan ".
Andra mengangguk lalu bergegas mengambil kembali makanan yang sempat di taruh di piring. Kejadian yang tadi ia anggap tidak pernah terjadi, selama itu tidak merugikan bagi Istri nya maka ia tidak akan bertindak berlebihan.
__ADS_1
Sekarang tinggal Laras sendiri lagi, ia sibuk memperhatikan Suaminya mengambil makanan.
" Assalamualaikum.. nyonya muda... ". Laras beralih melihat sumber suara.
" Rina, Aisy, Kevin... wa'alaikum salam ". Laras langsung berdiri " kalian apa kabar? ". Tanyanya
" Nyonya muda.. sebaiknya anda duduk saja ". Rina langsung kembali menuntut Laras untuk duduk.
Laras pun kembali duduk " panggil kaya biasa ajah ".
Kevin, Rina, dan Aisyah saling pandang. Mereka gugup, apakah mereka harus mengikuti apa yang dikatakan Laras atau tidak?. Mereka takut jika berperilaku tidak sopan pada Laras yang sekarang adalah nyonya muda di keluarga Ansari.
" Gak pa-pa, aku lebih senang kalian memanggil ku dengan nama, dari pada nyonya muda... Kedengaran asing di telinga ku ". Sahut Laras, ketika melihat keraguan di wajah ketiga orang di depannya.
" Mau bagaimana lagi, kalo itu mau mu yah kami harus turuti ". Kevin menjawab
Rina manggut-manggut " benar ". Ucapnya.
" Kak Laras apa kabar ". Aisyah buka suara
" Alhamdulillah sehat ". Jawab Laras sembari tersenyum
" Kandungan mu udah berapa bulan Ras? ". Tanya Rina
" Kalo gue tebak pasti udah 6 atau 7 bulanan kan ". Timpal Kevin
" Hahaha benar bangat! Kandungan ku udah masuk 7 bulan, tinggal dua bulan lagi dia lahir ke dunia ". Mengelus-elus perutnya
" Semangat yah kak, semoga kakak sama bayinya sehat-sehat selalu dan lancarkan saat persalinan ".
" Aamiin ". Ucap mereka semua serentak
" Ada apa ini rame-rame ". Andra datang dan langsung duduk di sebelah Laras. Ia heran, saat istrinya di tinggal sebentar, pasti langsung ada yang hinggap ke istri nya.
" Eh tuan muda ". Gumam ketiga orang itu
" Gak ada apa-apa mas, kami hanya ngobrol biasa ajah. Kan udah lama gak ketemu ". Laras ingin mengambil makanan yang di pegang Andra, tapi ditepis oleh Andra.
" Biar mas yang suapin ". Katanya setelah menepis tangan Laras.
Ketiga orang yang masih mematung disitu salin pandang, lalu sama-sama mengangguk.
" Yaudah Ras... Kami duluan yah ". Rina membuka suara
" Kalian udah mau pergi? ". Memakan suapan dari suami nya.
" Iya, yaudah kami pergi yah Assalamualaikum ". Ucap ketiga orang itu saat salam.
" Yaudah, wa'alaikum salam ". Ketiga orang tersebut pun pergi dari sana, mereka tidak ingin mengganggu Andra dan Laras. Apalagi pasti mereka hanya akan jadi nyamuk jika terus berada disitu.
" Mas gak makan? ". Tanya Laras
" Ini makan ". Memakan makanan yang dipegangnya, padahal itu makanan Laras.
" Itukan makanan ku mas ".
" Gak pa-pa lah, kita makan sepiring berdua Kan gak pernah kita makan sepiring berdua ".
" Benar juga yah. Baiklah Aaaa lagi mas ". Membuka mulutnya
" Hehehe gemes bangat sih ". Menyuapi makanan pada Laras, dan diterima baik-baik oleh Laras " istri siapa sih ini. Kok gemes bangat ".
" Istrinya seorang Muhammad Andra Ansari, CEO dari perusahaan Anastasia Corp, tuan muda dari keluarga Ansari dan pria paling tampan hehe ". Memperlihatkan senyuman yang manis.
" Wah... Udah pintar yah ".
" Iya dong ".
Acara makan siang mereka sungguh menjadi tontonan para tamu undangan. Sangat jarang melihat seorang Andra tersenyum seperti itu, bahkan ia sama sekali tidak pernah memperlihatkan wajah datarnya di depan istri nya. Romansa mereka benar-benar membuat orang-orang yang menontonnya menjadi baper.
" Cih, ini acara nikahan gue. Kok sih Andra yang banyak ambil perhatian ". Gerutu Alan
" Sabar... Lagi pula kan Alhamdulillah, jadi nya kita leluasa melakukan apapun ". Mengedipkan sebelah matanya
" Iya juga yah, nah jadi kita mau apa nih ". Tanyanya antusias
" Yah duduk lah, mau apa lagi ". Raut wajah antusias Alan langsung hilang dan menjadi kecewa. Dikira nya istrinya akan mencium atau memeluk nya. Harapannya terlalu tinggi
Huh!
TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya