
Andra terus naik menggunakan lift ke lantai dua tepatnya di kamar nya, sembari menggendong Laras ala bridal style. Sesampainya di kamar nya, Andra merebahkan tubuh Laras keatas kasur dengan lembut.
Andra berjongkok tepat di depan wajah Laras " Tidur yang nyenyak sayang... Selamat tidur, terimakasih. I love you ". Ucap Andra lalu mengecup kening Laras turun ke kedua mata Laras, lalu beralih ke hidung sampai yang terakhir ke bibir ranum merah Laras.
Setelah mengatakan nya ia bangkit dari jongkoknya dan masuk kedalam kamar mandi, membersihkan badannya yang lengket.
Sedangkan di bawah....
Mereka berempat duduk di atas sofa di ruang tamu. Empat!? Iyya empat ada mama Ani, papa Rangga, Alan dan yang terakhir ada Rasya yang ikut numpang makan rupanya.
" Oh yah Alan kata Angga kau sebentar lagi akan melamar kekasihmu ". Papa Rangga membuka suara. Angga, kalian tahu kan dia adalah papa Alan sekaligus sekretaris papa Rangga.
" Heheh iya tuan besar ". Nyengir kuda. Rupanya papanya sudah menebar kebahagian nya lebih dulu.
'apa melamar!!! Jangan-jangan Alan ingin melamar Mai!!'. Ada raut kesedihan terlihat dari wajah Rasya. Walau bagaimanapun ia tetap sedih mendengar sendiri jika orang yang dicintainya akan di lamar seseorang.
" Wah... Siapa tuh perempuan yang beruntung ". Mama Ani ikut menimpali. Oh.. mama Ani tidak akan ketinggalan sedikit pun.
" Ada nyonya besar. Dia seorang dokter temannya nyonya muda ". Katanya lagi, sungguh senyumannya tidak bisa lepas dari bibirnya.
Deg...
Lagi jantung Rasya sekali lagi mendengarnya, benar itu Mai. Ahhh padahal baru seminggu mereka menjalin kasih tapi sudah mau lamaran. 'Alan beneran hebat, gak kaya aku yang bisanya cuman diam-diam suka doang. Pantas ajah aku bisa ditikung dengan mudah'.
" Wah!! Temannya Laras!! Jadi kamu garep temannya Laras ".
" Yaelah tuan besar, kok di garep sih... Tapi iyya juga sih yah ".
" Hahahha ". Tawa mereka semua terkecuali Rasya.
" Oh yah Rasya kamu kapan nih bisa nyusul. Lihat Dilan udah lama dia nikah, noh lihat Ardi udah punya anak, itu Andra istrinya udah bunting, sekarang Alan udah mau lamaran. Nah kamu udah punya kekasih belum?? ".
Jleb...
Kata-kata mama Ani langsung nusuk ke ulu hati. Benar apa yang di katakan oleh mama Ani, cuman dia sendiri yang tidak punya istri. Kekasih saja tidak ada bagaimana mau punya istri. Rasanya malu kalau ketemu Ardi yang bahkan sudah punya anak.
" Haha aku baru saja di tolak seminggu yang lalu nyonya besar. Dan sekarang rasanya masih trauma mau jalin hubungan ". Ucapnya sambil melirik Melihat Alan yang terlihat Terkejut mendengar apa yang dikatakan Rasya baru-baru. Sepertinya ia belum tahu.
'Apa Rasya udah nembak Mai!! Seminggu yang lalu!!!! Itukan hari jadian kami!!!'.
" Yang sabar itu artinya dia bukan yang terbaik untuk mu ".
" In Sya Allah, aku coba buat melupakannya ". 'yah Walaupun gak gampang sih'.
" Assalamualaikum... ". Andra datang dari arah lift dan langsung duduk di sofa samping Alan.
" Wa'alaikum salam... ". Jawab mereka serentak.
" Wissss sih jagoan turun nih ". Goda papa Rangga.
" Jagoan? Jagoan apaan? ".
" Kami cuman bangga melihat mu tadi di tv. Itu baru gentle ". Jawab mama Ani.
" Oh... Asal Laras jadi senang dan aman itu bukanlah sesuatu hal yang besar ". Mungkin biar laut akan tetap di sebrangi.
" Enaknya yang udah punya bini ". Ucap tiba-tiba Rasya. Rasanya iri melihat pasangan Andra dan Laras.
__ADS_1
" Makanya cari pasangan, di luar sana ada 7 milyar loh manusia di bumi ini, dan lu cuman berpatok ama satu wanita. Ck ck ck... ". Alan geleng-geleng kepala. Sudahlah Alan tidak akan sadar diri kalau dirinya juga seperti itu.
" Kamu kira cari wanita itu bisa di beli di supermarket ". Sinisnya 'kalo bisa udah aku borong dari dulu'.
" Anggap ajah kaya gitu ". Timpal Andra. Yang berhasil membuat wajah Rasya jadi murung, di tambah dengan bibirnya yang maju lima senti.
" Hahahha " seketika ruang tamu itu penuh dengan suara ketawa dari lima orang itu. Bahkan Rasya yang di kerjai ikut ketawa juga. Biarlah karena walau bagaimanapun ini memang hanya candaan.
" Oh yah Andra kapan kalian pergi honeymoon, perasaan rencananya udah agak lama ". Tanya mama Ani saat sudah berhenti tertawa.
Andra yang mendengarnya berhenti tertawa " hmmm kayanya setelah Laras lahiran deh mah. Soalnya kalo masih hamil kaya gini saya takut kalo ada kejadian yang tak terduga ". Jawab Andra. Dan perkataan Andra ada benarnya, secarakan Andra itu penarik perhatian banyak orang. Dia sudah beristri atau tidak pasti akan di ganggu oleh yang namanya wanita tak tahu malu.
" Benar juga ". Ucap Papa Rangga yang memang menurutnya perkataan Andra benar.
" Tapi, apa Laras setuju? ". Tanya Rasya
" Iya Laras sudah setuju, dia juga tidak terlalu mempermasalahkan nya ".
" Baguslah... Asalkan Laras tidak keberatan, yah kami juga tidak masalah dengan usul mu ". Seru mama Ani. " Oh yah kalian udah tau jenis kelamin calon anakmu Andra? ". Lanjut mama Ani.
Andra menggeleng " enggak kami belum tau ". Jawabnya.
" Kenapa? Padahal kan seharusnya udah bisa di USG ". Kata Rasya yang mewakili suara dari orang-orang disitu, kecuali Alan dan Andra.
" katanya supaya jadi surprise gitu loh... ". Sekarang Alan yang menjawab. " Tapi memang kayanya menarik deh kalo jadi surprise gitu ". Lanjutnya. Sepertinya Alan memang setuju dengan rencana Andra.
" Hmm iya juga sih ". Seru mama Ani.
" Yah terserah saja sih, mau laki-laki atau perempuan asal bayinya sehat ". Timpal papa Rangga.
" Laraskan Lahirannya tinggal 5 bulan lagi yah, kalo dihitung.... Laras bakalan lahiran tepatnya....__ ". Mama Ani nampak berfikir.
" Nah benar ". Sahut mereka berempat bersama.
" Udah ada namanya? ". Tanya papa Rangga
" Alhamdulillah udah... ".
" Siapa namanya? ". Mama Ani terlihat penasaran, bukan hanya mama Ani sih semua orang disitu terlihat penasaran, bahkan Alan juga penasaran.
" Eitssss rahasia lah.... Entar tunggu 5 bulan lagi ". Yah Andra langsung mempupus harapan mereka yang ada disitu.
" Yah.... ". Seru mereka berempat. Sungguh kompak.
..........
Kini di ruangan ini. Semuanya sedang membicarakan tentang hal yang sangat serius. Karena hal yang di bicarakan mengenai masa depan dari anak-anak mereka.
Yap hari ini juga tepat nya lima hari setelah jumpa pers yang sangat-sangat heboh dan pasti mengguncang negara, ah berlebihan. Alan langsung mempersiapkan acara lamaran nya.
Alan dan kedua orang tuanya sudah ada di rumah Mai. Terlihat mereka sedang duduk di atas sofa bersebrangan dengan papa Mai dan di sampingnya ada Mai.
" Jadi, ada apa gerangan tuan Angga dan Nyonya Anggi beserta nak Alan datang kesini? ". Papa Mai langsung to the point. Walaupun sebenarnya ia sudah tahu karena Mai sudah memberitahu kannya.
'semalam udah aku kasih tau padahal'. Mai
" kami tidak akan bertele-tele langsung ke intinya saja. Kami datang kesini untuk melamar Mai anak pak Rasyad ". Ucap papa Angga formal. Biarlah mereka ber akting seperti itu, agar terlihat lebih meyakinkan.
__ADS_1
'wah sempat-sempatnya mereka ber akting. Biarlah biar langsung ajah'. Alan, asal tidak rugi yah tidak apa-apa bukan.
Acara lamaran nya pun di mulai, seperti yang kita tahu. Acara nya berjalan lancar tanpa hambatan yang seperti di sinetron-sinetron, pasti ada saja gangguan yang tidak jelas.
Tentu lamaran Alan di terima dan di sambut baik oleh Mai dan papanya. Lagi pula mereka memang sudah merencanakan nya. Acara lamaran ini hanya untuk sebuah keformalan.
" Alhamdulillah... ". Ucap mereka serentak, sesaat telah mendengar perkataan iya dari mulut Mai
" Jadi kapan pernikahan nya akan di laksanakan ". Tanya mama Anggi.
" Menurut kalian yang mau nikah, kapan Bagus nya? ". Walau bagaimanapun bukan para orang tua yang akan menikah dan menjalani kehidupannya, tapi tentu yang Mai dan Alan lah yang akan menjalani nya.
" Kalo aku terserah orang tua ajah ". Jawab Alan.
Mereka semua manggut-manggut, lalu beralih Melihat Mai yang masih bermua datar, tapi terkadang senyum tipis terlukis di bibirnya.
" Kalo kamu sayang? Maunya kapan? ". Tanya mama Anggi dengan lembut. Ia sangat bahagia saat mengetahui calon mantunya adalah seorang dokter, mana cantik lagi. Yah walaupun wajahnya selalu datar, tapi itu tidak menjadi masalah.
" Aku juga sependapat dengan Alan, terserah saja ". 'ujung-ujungnya juga nikah kan'. Pemikiran yang simpel.
Dan mulailah para orangtuanya itu berunding untuk memutuskan kapan baiknya di adakan acara pernikahan anak mereka.
Setelah berunding beberapa saat, mereka pun memutuskan akan mengadakan acara pernikahan anak mereka 3 bulan lagi. Yah masih lama, katanya supaya mereka bisa menjalin hubungan yang lebih akrab dulu.
Berbesan dengan orang yang tak pernah di temui sebelumnya itu tidak gampang untuk membangun sebuah hubungan yang akrab, biasanya mereka hanya terhubung karena hubungan pernikahan anak mereka. Dan jika misalnya pernikahan anak mereka tidak lancar pasti hubungan berbesan nya juga tidak lancar.
Dan acara nya pun selesai, walaupun hanya di hadiri oleh mereka-mereka saja ditambah para pelayan yang melihatnya. Tetap membuat acara lamaran tersebut menjadi hari yang bersejarah bagi Alan dan juga Mai. Tentu para orangtua mereka masing-masing, bagaimana tidak! Karena kan Mai dan Alan itu anak tunggal.
Acara nya akan di susun langsung oleh kedua orang tua Alan. Semua perlengkapan pernikahan mereka yang akan membayarnya, sedangkan papanya Mai tidak kebagian apapun. Maunya di tolak tapi langsung di tahan oleh mereka, yah sudahlah.
Setelah berpamitan, Alan berserta kedua orang tuanya pun pulang.
Di dalam mobil
Tak henti-hentinya Alan tersenyum. Seperti kalau Alan hanya punya satu ekspresi.
" Acie... Acie... Acie... Yang bakalan melepas masa lajangnya... ". Goda mama Anggi.
" Cie.... Yang bakalan punya mantu~ ". Alan tak mau kalah, karena sedari tadi mama Anggi dan papa Angga selalu senyum. Kenapa harus Alan sendiri yang di goda, padahal kedua orangtuanya juga sama saja.
" Hehe mama gak nyangka kalo kamu benaran serius dengan ucapan mu waktu itu ".
" Iya benar, apalagi Mai juga cantik dan berbakat. Kamu nemu di mana Lan? ". Dikira barang yah.
" Yah di rumah sakit lah ". Jawab enteng Alan. " Mai juga temannya nyonya muda, jadi sudah tidak di ragukan ke ori-annya lagi ". Nah.. nah..
" Wah.. jadi Mai temannya nyonya muda? ".
" Iya ".
" Alhamdulillah... Untung deh, jadinya kita gak perlu cari-cari latar belakang nya yah ".
" Gak usah pah.. kan tadi aku udah bilang kalo pasti terjamin ". Ucap Alan.
" Benar pah. Lagian kenapa sih mantu mama di bilangin terjamin-terjamin, udah kaya barang ajah ". Timpal mama Anggi.
" Hahaha iya juga yah ".
__ADS_1
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya